Tentang Perempuan : Cerita dari Yang Sudah Menikah
Tentang Perempuan : Cerita dari Yang Sudah Menikah

"Dulu, di awal menikah itu kami gak settle. Perjuangkan kita dari bawah, Bik. Tapi, aku gak pernah menyesal memilih untuk menikah."

Tutupnya di pembicaraan kami siang itu. Saya sedang duduk dengan seseorang yang senasib dalam urutan keluarga ataupun kendala yang secara garis besar ada kesamaan. Saya baru menyadari itu kemarin.

Pembahasan kami kemarin lebih kepada sharing bagaimana pernikahan di usia muda. Bukan dini, tapi sudah dalam range pernikahan. Si Mbak menikah di usia 24 tahun dan suami di usia 25 tahun. Sekarang sudah berusia 30 tahun, dan suami berusia 31 tahun.

Si Mbak ini merupakan salah satu rekan kerja saya, yang pada saat dipinang, sudah bekerja di sini. Suami adalah seorang programmer lepas. Dibilang settle, kata si Mbak, lebih tepatnya bisa dibilang sudah memiliki pendapatan masing-masing yang mencukupi.

Dan cerita si Mbak ini mengalir...

Aku, pada akhirnya tinggal bersama orang tuaku...

"Aku dari awal sudah diminta orang tuaku tidak meninggalkan rumah. Jadi, di awal kami dekat, Ibuku sudah bilang padanya bahwa aku harus tinggal di rumah itu.

Ibu dan Bapakku tinggal di rumah yang sama. Tapi, rumahku berbentuk panjang, depan rumah utama dan belakang adalah kosan. Aku, semenjak menikah tinggal di rumah belakang. Ibu Bapak tinggal di rumah depan."

Suamiku pekerja lepas...

"Suamiku pekerja lepas, dia programmer, tapi tidak mau berada dalam naungan instansi. Jadi, dia bekerja dengan kawannya mencari project. Karena pekerja lepas, income dari suami pun tidak tentu, seperti kita yang bekerja di instansi.

Programmer lepas memang terlihat akan mendapatkan income yang besar, tapi nanti akan terpotong dengan lain-lain. Dan pembayaran ini dicicil. Jadi, mungkin akan sama saja jika dipikir-pikir. Jadi, akan ada suatu hari, dia tidak mendapatkan project dan income kami berasal dariku seorang."

Beratnya masa pernikahanmu, hadapi dengan suami...

"Aku pernah di masa hanya mendapatkan income dari sisiku, karena suami sedang tidak dapat proyek. Jadi, untuk membutuhi hidup, kami hidup dari hutang dan aku bayar ketika aku gajian. Di tengah bulan, aku hutang lagi, lalu aku bayar lagi ketika gajian. Itu berlangsung sampai 6 bulan di awal pernikahan kami.

Aku pernah di suatu hari, aku bahkan sampai bingung besok akan makan apa. Karena hanya ada uang 5000 atau 10000 yang itu hanya bisa untuk biaya transportasi. Aku dan suamiku pernah di masa itu. Aku tinggal bersama orang tuaku, tapi aku berusaha orang tuaku tidak mengetahui permasalahanku."

Di suatu hari yang berat...


"Punya tabungan sebelum nikah itu memang penting. Tapi, aku dulu tidak ada tabungan sama sekali. Sampai di suatu titik aku tidak punya uang bahkan untuk melahirkan. Untung saja, aku ikut arisan yang total sekitar Rp 12jt.

Itu sangat membantuku.

Di suatu hari, aku pernah juga sampai tidak beli susu untuk anakku. Waktu Ibuku bertanya kenapa aku tak beli susu untuknya, aku hanya jawab bahwa 'aku masih belum sempat, Buk'. Padahal, di saat itu aku memang tidak memiliki uang."

Pembicaraan hari itu diakhiri karena memang sudah waktunya kami pulang. Dan dengan wajah tersenyum, dia mengakhiri, "Pernikahan itu jangan dianggap berat, Bik. Aku tidak pernah menyesal memilih untuk menikah. Jangan pernah takut menikah."



Salam dari rumah,

sambil nonton debat Cawapres 2019


Source: https://www.foxnews.com/lifestyle/bride-divides-opinion-over-cringy-maths-quiz-at-wedding
Tentang Mimpi yang Seringkali Hadir - nenghepi.com
Tentang Mimpi yang Sama
Di usia saya yang terbilang dewasa ini, saya masih seringkali bermimpi saat tertidur. Entah tertidur lama, entah tertidur sebentar, sejauh sudah terlelap, seringkali mimpi itu muncul. Beberapa orang yang saya ceritakan, berpendapat mungkin karena saya cenderung imajinatif, juga ada yang bilang karena saya tipe pemendam.

Jadi, di sini saya ingin share mimpi-mimpi yang sering menghantui dalam waktu lama dan bagaimana saya menghilangkan mereka. Semoga bisa menjadi pembelajaran juga buat temen-temen yang seringkali didatangi mimpi yang sama ~(^  ^)~

1. Mimpi di Kejar Kucing

Saya memang memiliki phobia pada kucing, entah kucing itu mendekat, berlari mengejar, berjalan di bawah kaki, atau hanya sekedar mengeluskan badannya di kaki. Rasanya geli sekali. Bukan geli yang biasanya, tapi entahlah, memang tidak berani berkontak langsung dengan kucing.

Mungkin juga karena saya punya pengalaman buruk di bangku SMA. Dulu, kamar tidur saya terletak di bagian depan yang berhubungan langsung dengan garasi. Saat tidur siang, hampir setiap hari saya buka jendela kamar dan memang tidak pernah ada kejadian kucing tiba-tiba masuk ke kamar. Hingga suatu hari, seekor kucing yang kedinginan masuk ke kamar dan tiba-tiba membuat saya berteriak kaget. 

Bagaimana mimpi itu mulai reda?
Saya mulai belajar untuk berani dengan kucing, walaupun tidak sepenuhnya berani. Hanya sekedar mengelus saja dan tidak berlari ketika kucing mulai mendekat. Rasanya, langkah itu lumayan membantu untuk mengurangi phobia saya. Setidaknya, saya sudah lama sekali tidak bermimpi dan berteriak dalam mimpi perihal kucing.

2. Bertengkar dengan Seorang yang Sama

Saya sering pula bermimpi bertemu dengan orang yang sama dan bertengkar dengan hebat. Semacam memiliki emosi yang saya miliki di masa lampau. Yang cepat sekali meledak dan tanpa kontrol. Saya sempat menjadi yang semacam itu, hingga entah sejak kapan, bisa lebih mengontrol diri.

Di mimpi yang seringkali sama, saya bertemu dengan "mereka" di masa lampau ataupun di masa sekarang, dengan orang yang sama. Baru belakangan ini, akhirnya saya bisa bermimpi dengan "mereka" dan tidak dalam kondisi amarah. Saya juga mulai tidak lagi memimpikan mereka.

Bagaimana mimpi itu mulai reda?
Sepertinya, saya memang belum bisa memaafkan atau menyimpan keganjalan pada "mereka". Walaupun dalam kondisi sadar, saya sudah mulai tidak lagi memikirkan mereka. Tapi, tidak dengan alam bawah sadar saya. Sampai pada titik, saya memang harus bisa berkompromi dengan yang namanya "memaafkan secara ikhlas". Tidak mudah, tapi pasti bisa! Dan saya pun sudah sangat jarang memimpikan mereka.

---

Oh, ya, beberapa kali, saya juga di posisi bingung membedakan apakah ini mimpi atau bukan. Misal, saya pernah merasa bercerita panjang lebar ke kawan saya, di suatu hari, saya menanyakan kembali, "Kamu udah tak ceritain, kan, kemarin?" dan dengan santai, dia menjawab, "Belum". Jadi, ditarik kesimpulan, kemarin saya bercerita di dalam mimpi -,- .

Di balik itu semua, ada beberapa mimpi yang sering terjadi berulang-ulang. Semacam menjadi mimpi buruk yang terus terjadi dan dalam waktu lama, akhirnya mulai menghilang secara bertahap. Dan ini memang membutuhkan waktu.

Dari semuanya, yang saya pahami untuk menghilangkan mimpi buruk itu adalah mencoba bersahabat dengan "mereka". Memaafkan penyebabnya. Karena melupakan saja tidak akan menghilangkan mimpi itu, yang terpenting adalah bersahabat dan bekompromi dengan mereka.

Sebagai kesimpulan, jika kamu termasuk seseorang yang seringkali bermimpi sama, mungkin kita bisa saling memberi masukan. Untuk saya, salah satu cara agar bisa mulai menghilangkan mimpi tersebut adalah mencari penyebab mengapa mimpi itu terjadi, memaafkan, dan melupakan. Melupakan saja tidak cukup jika tidak dicari penyebabnya, kan~

Yah, seenggaknya bermimpi lain hal yang baik akan lebih menyenangkan daripada terus berdampingan dengan mimpi yang sama dalam kurun waktu lama, gitchu. Baiklah, sekian cerita akhir pekan saya di hari ini. Semoga memberi manfaat untuk pembaca :)

Pst, I miss home so much :")

Source pic: http://www.fanpop.com/clubs/daydreaming/images/19683613/title/dreaming-girl-photo
Dokumen untuk SKCK, Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN), dan Surat Keterangan Dokter

Artikel ini murni untuk pengingat saya pribadi dan semoga bermanfaat untuk para pembaca, ya. Sebab, ini bukan pertama kali saya urus Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), Surat Keterangan Dokter (SKD), dan Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN). Namun, tetap saja bingung perihal dokumen dan alur pengurusannya.

Jadi, here we go! Sebagai catatan, saya mengurus SKD dan SKBN di Kota Probolinggo, sedangkan SKCK di Posek Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Jika memang ada perbedaan, mungkin tidak terlalu banyak, dan menyesuaikan kebijakan instansi terkait.

1. Pengurusan Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN) dan Surat Keterangan Dokter (SKD)

Alur Pengurusan :
Saya mengurus SKBN di Poliklinik Bhayangkara, Polres Probolinggo. Lokasinya dekat alun-alun kota Probolinggo. Alur pengurusannya cukup mudah : isi administrasi, tes urin, dan menunggu dokumen selesai.

Dokumen yang Dibutuhkan: 
fotokopi ktp 1 lembar, foto 4x6 (2 lembar)

Biaya: 
untuk SKBN komplit, seharga Rp 150.000,- dan untuk yang tidak komplit (kalau ndak salah) seharga Rp 75.000,-. Biaya untuk SKD seharga Rp 20.000,-. 

2. Pengurusan SKCK di Polsek (untuk Melamar Kerja Swasta)

Alur Pengurusan untuk Pembuatan Baru:
Mengurus surat pengantar di balai desa, dilanjut surat pengantar di kecamatan, dan barulah ke Polsek. Lumayan butuh seharian. Tapi, jika sudah memiliki SKCK sebelumnya, tinggal perpanjang ke Polsek dan dengan catatan maksimal jangka waktu dari masa berlaku tidak lebih dari 1 tahun. 

Dokumen yang Dibutuhkan: 
-Di balai desa, cukup setor data diri dari fotokopi KTP untuk pengisian oleh petugas administrasi saja.
-Di kecamatan, butuh foto 4x6 (1 lembar).
-Di Polsek, butuh foto 4x6 (4 lembar) dengan latar belakang merah, fotokopi KTP (1 lembar), surat pengantar desa dan kecamatan, ijazah terakhir, dan fotokopi kartu keluarga (KK).

Biaya:
-Di balai desa dan kecamatan gratis. Sedangkan di Polsek seharga Rp 30.000,- 
---

Sebenarnya, kalau sudah mengetahui dokumen yang dibutuhkan, pengurusan bisa hanya 1 hari saja tanpa bolak-balik. Namun, karena beneran lupa dan gak kepikiran searching dokumennya, saya harus kembali di hari esoknya. Pertama, karena masa berlaku SKCK sudah mati terlalu lama dan tidak bisa diperpanjang. Kedua, ternyata foto yang saya bawa kurang banyak.

Semoga membantu :)


Credit image: https://kreditgogo.com/artikel/Informasi-Umum/Kegunaan-dan-Cara-Mengurus-SKCK.html
Tentang Perempuan : Sebagaimananya Perempuan Menjadi

"Bik, kamu loh jadi kok bisa cewek lemah lembut, ya."

Obrolan sore itu dimulai dengan celetuk salah satu rekan kerja di samping saya. Saya memang tipe ambivert, tidak mudah membuka diri dengan orang baru. Jadi, mungkin itu alasan beberapa orang yang sering bertemu dengan saya, tapi tidak terlalu dekat mungkin menganggap seperti itu. Haha.

Jadi perempuan itu seharusnya seperti apa, sih?

Masih sedang berbincang dengan orang yang sama, beberapa benang merah yang bisa saya tarik adalah:

1. Perempuan hardworker dan berpenghasilan, it's ok. Karena....

"Kamu tidak harus bergantung ke pasanganmu untuk penghasilan. Kamu gak tau nanti dapat pasangan yang kayak gimana. Iya kalau dia setia, tiba-tiba gak berpenghasilan, tiba-tiba kecantol sama cewek lain. Ya oke aja, sih, kalau kerja."

Dari pendapatnya, sebenernya dari sisi saya terkesan agak menusuk, tapi memang ada benarnya juga. Saya pribadi memang tipe perempuan yang ingin tetap bekerja selama dalam usia produktif dengan alasan ingin memberi orang tua banyak hal dan mandiri secara finansial. Haha.

Untuk alasan secara rinci, setiap perempuan yang bekerja pasti berlandaskan. Entah karena memang tulang punggung, kebutuhan ekonomi, ingin membahagiakan orang tua, belanja, apapun. Intinya, kalau dirangkum, mandiri secara finansial memang ada kenikmatan tersendiri yang harus disyukuri.

2. Jadi perempuan lembut boleh, lemah jangan.

Bener banget ini, mah. Jadi perempuan lembut boleh, karena memang tutur kata dan perilaku adalah cerminan dari agama, pendidikan, ataupun latar belakang keluarga. Jadi, kelembutan akan membawa nama baik dari aspek-aspek yang melingkupi tersebut.

Lemah jangan. Konotasi lemah ini macam perempuan yang tidak bisa berbuat apa-apa jika tertindas. Hanya berdiam diri dan tak ada perlawanan sama sekali. Pemikiran ini ada benarnya juga, walaupun saya pun merasa masih sering lemah kepada orang lain yang saya anggap lebih 'menang' dalam omongan.

Lembut dengan ketegasan, namun tidak lemah dalam pengambilan keputusan. Bukan penjajahan.

3. Love yourself first, be Smart and Beautiful.

Masih banyak pula yang menilai perempuan dari standar kecantikan, yang harus putih, tinggi, kurus, mancung, rambut panjang hitam lurus, mata belok, bibir tipis, dan alis tebal. Ataupun standar kecantikan sesuai role mode yang sering diiklankan.

Namun, apa iya setiap perempuan akan dilahirkan seperti itu? Tentu tidak, bukan. Nah, ini yang kemarin akhirnya menjadi pembahasan kami. Bahwa mencintai diri sendiri dengan cara merawat diri itu penting. Menjaga kesegaran dan kebersihan tubuh ataupun wajah bukanlah hal yang harus diabaikan.

Tentang siapa manusia lain yang akan menerima kecantikan kita, itu urusan Tuhan. Perempuan diciptakan untuk pria secara berpasangan. Dan jika kamu merasa tidak terlalu cantik dari segi penampilan -dengan role mode yang terbangun-, maka jadilah pintar dan cantik dari sisi lainnya.

You are your own role mode. Ciptakan role mode sendiri untuk tampil percaya diri. Ini yang sulit untuk perempuan macam saya yang memang cenderung tertutup, pemalu, dan tidak terlalu suka mengekspose wajah :(. I have to learn to love myself more.

4. Perjuangkan apa yang berhak didapatkan, bukan sekedar tentang keegoisan.

Tidak semua perempuan memiliki kesempatan untuk memperjuangkan hak yang seharusnya didapatkan. Pendidikan tinggi, penyamaan kedudukan di suatu posisi, ataupun di segi masyarakat. Saat ini, kaum feminisme seringkali menggaungkan hal ini dan ini tidak ada salah pula.

Saya, karena tipe yang adem ayem mlempem (hah), memang jarang yang memperjuangkan hak dengan 'nggetu' karena bagi saya pertimbangan dengan keluarga besar dan pasangan adalah keutamaan. Haha. Jadi, kembali lagi, kalau memang hak yang ingin diperjuangkan bertentangan dengan keluarga, maka yang saya pilih tetaplah keluarga.

Kesimpulannya, jika memang memungkinkan untuk memperjuangkan hak sebagai perempuan dan selama tidak memperburuk keadaan, menurut saya itu adalah baik. Namun, kembali, jika memang tidak memungkinkan pun karena alasan yang logis, bukanlah hal yang buruk pula.

Terkadang, berkompromi dengan sebuah keputusan bukanlah pertanda kekalahan, bukan. Dan bukan pula sebuah kepasrahan. Totally different.

5. "Aku bukan tipe perempuan yang bisa memanjakan pria dengan tutur kata halus."

Itu katanya dengan tertawa dan kami tergelak bersama. Mungkin, di matanya, saya adalah tipe yang memanjakan pria, yang setiap lelah dipijeti, yang setiap makan selalu dilayani, atau lainnya. Nyatanya, memang tak selamanya begitu. Haha.

Kataku padanya, "Yah, kita kan ada cara sendiri buat treat ke pasangan. Tidak selalu sama antar pasangan, kan."

Dan dengan angguk, mengiyakan pendapat saya. Memang, ada beberapa perempuan yang terlihat jelas bagaimana memanjakan, menampilkan pasangannya di hadapan umum, tertutup dengan topik pasangan, atau terlihat adem ayem, tapi dalamnya bergemuruh.

Memang, perempuan bukanlah 'objek' pemuas nafsu belaka. Menjadi diri sendiri dengan tetap berkompromi dengan pasangan tentang how to treat, tetap selalu menjadi jalan keluar yang baik. Tidak harus sama.

--

Sampai paragraf ini, sepertinya saya tidak bisa menilai secara objektif bagaimana baiknya menjadi perempuan. Bagi saya, setiap perempuan punya alasan sendiri mengapa mereka menjadi seperti mereka sekarang. Memiliki latar belakang yang akhirnya membentuk pribadi yang sekarang.

Ada salah satu perempuan yang saya nilai kurang baik di mata saya dan kadang membuat kesabaran saya diuji. Tapi, di lain sisi, saya sering mencoba meredam dan mengatakan, "Oh, mungkin dia seperti itu karena ini karena itu." Pada akhirnya, yang saya nilai kurang baik, tidak lagi dalam ranah saya menilainya.

Just it. Perempuan dari sisi perempuan. Perempuan dari saya yang pemalu dan susah berkata banyak hal. Perempuan dari saya yang selalu mengutamakan keputusan bersama dari keluarga.

Salam cantik,


dari kita yang memang lagi syantik
--

Sumber gambar : https://www.girlup.org/#sthash.XnLtBbgI.dpbs
"Journey from May 2009 and still counting down. People come and go, parents don't, memories don't." - hf
Blogger Perempuan