Assalamu'alaikum.

Setelah artikel Surabaya dalam Bingkai, saya memutuskan untuk membuat "dalam Bingkai" selanjutnya. Artikel ini khusus hasil belajar jepretan saat saya berlibur di Pantai Payangan Jember, 13 November 2016. Sedangkan, cerita lengkapnya, tetap saya bikin di artikel lain. I really like a telling stories moment 😂.

Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai

"Eh, Fib, habis ini tulisanmu ganti genre, donk, ya. Kan bakal jarang jalan-jalan lagi?"

Beberapa waktu lalu, saat saya menghadapi sesi wawancara HRD, saya bertemu dengan pewawancara yang ternyata memiliki kegemaran ngeblog. Antara senang dan ada perasaan interested juga bertemu dengan sehobi.

Kalimat pembuka tersebutlah yang menjadi pokok pembicaraan kami di saat itu. Kebetulan, beliau adalah seorang wanita paruh baya yang bijaksana. Beliau mengatakan bahwa saat ini, tulisan beliau lebih ke share masakan atau makalah penelitian.

Hm. Apa iya, saya nantinya akan mengalami masa ganti genre tulisan?

Sepertinya, masa itu memang akan terjadi, sih. Jangankan ketika saya berada dalam posisi sekarang, dulu pun, dari masa sekolah hingga kuliah, entah berapa kali saya berganti genre. Yap, blog ini sebenarnya memanglah "Another Journey and Women's Story" - of me. Haha.

Dari dulu yang semasa sekolah saya sukanya curhat tentang cinta monyet yang entah ketika saya baca ulang, seringkali, "Ya Allah, how alay I was". Pada awal kuliah, saya menjadi sedikit berjiwa perjuangan mahasiswa. Pertengahan awal kuliah, saya mulai, nih, agak aktif kegiatan dan jalan-jalan.

Sekarang, sih, hingga tulisan ini saya tulis, saya belum kepikiran genre blog ini ke depannya seperti apa. Kalau tentang make up, rasanya bukan saya banget. Tips mencari pacar? Em, Google has so many answers about it, ya. Jadi, sesuai konsep awal blog, tulisan saya tetaplah media refleksi bagi saya.

Eits, saya tentu tak akan lagi sembarangan menuliskan tentang kehidupan sehari-hari, kok. InshaAllah, selalu ada makna yang bisa diambil oleh pembaca artikel 😍. Saya bukan anak raja, yang bisa saya berikan untuk dunia adalah melalui tulisan. Bukan begitu?

Welcome to new me.

*) Pst. karena waktu udah mulai teratur, sepertinya saya mulai konsen menulis untuk media cetak. Ih, wacana apa bukan ya ini. Haha
Selamat Berjuang, Para Fresh Graduate! - nenghepi.com

Assalamu'alaikum.

Sebenarnya, tulisan kali ini sudah diagendakan cukup lama sekali dan memang menunggu waktu yang tepat (dalam versi saya). Bukan hal besar, sih, sebenarnya, hanya semacam rasa syukur dan sedikit pelajaran hidup yang semoga bisa diambil hikmahnya pula buat pembaca 😄. Juga, sebagai catatan pribadi dan pengingat betapa Tuhan Maha Baik 😘.

Jika ada yang mengatakan bahwa perjuangan mahasiswa sebenarnya adalah ketika meninggalkan gerbang 'perkuliahan', saya rasa, perkataan tersebut ada benarnya. Saya adalah lulusan teknik dengan gelar diploma IV, setara dengan S1. Rancu, ya, sebenarnya lulusan ini benar-benar disetarakan dengan sarjana atau diploma III. Hehe.

Saya awali dengan, "Selamat berjuang, para fresh graduate!". Ini sedikit catatan perjuangan saya, saya harap, perjuangan kalian juga tak kalah mengasyikkannya.

Fase: Pasca Graduation (October)

Sebenarnya, graduation adalah moment yang tidak terlalu mewah, menurut saya. Bukan moment terbesar, ya, tapi memang patut dirayakan karena ibaratnya telah menamatkan salah satu fase hidup. Kuliah 4 tahun di bawah bendera teknik, lumayan berat juga, Vroh.

Saat fase ini, saya memang sudah dalam posisi jobseeker. Dalam artian, saya memang telah menaruh lamaran di beberapa perusahaan yang menurut saya "MasyaAllah". Tahap tes juga pernah saya alami, namun kuasa Allah belum menempatkan saya di posisi tersebut.

Note: Biasanya, mahasiswa semester akhir memang diperbolehkan menaruh lamaran dengan menyertakan surat keterangan sedang mengerjakan tugas akhir. Atau jika sudah keluar Surat Keterangan Lulus (SKL), bisa pula menggunakan surat tersebut. Jadi, mencari pekerjaan sebelum wisuda pun, sangat disarankan. 

Pasca wisuda, yang namanya 'jetlag' benar-benar terasa. Dari yang dulunya mahasiswa dengan segudang tugas dan kegiatan, kini menjadi manusia persiapan menjadi ibu rumah tangga -read: mengerjakan pekerjaan rumah saja.

Fase: 1 Bulan Pasca Graduation (November)

Satu bulan pasca graduation, yang namanya kebosanan karena minimnya aktivitas, benar adanya. Setiap hari, yang saya lakukan lebih sering membuka sosial media, email, telegram, line, dan beberapa situs pencari kerja. Berharap ada kabar baik, yang akan turun dari langit. Terasa sedikit membosankan, memang.

Dibilang menganggur, tidak juga, sih. Saya dulu (agak) aktif menulis di salah satu website teknologi dan seringkali mengisi waktu dengan bikin vector art. Setidaknya, ada hal produktif yang saya lakukan selama masa penantian tersebut. Haha.

Sesekali, saya juga ke tanah perantauan untuk tes kerja ataupun mengikuti job fair. Ini masa dimana saya seringkali berkata "Ah, coba saja trabas jurusan, kali aja bisa." Ya, di fase ini. Walaupun, saya tetap tebang pilih untuk pemilihan tempat kerja :).

Oh, ya, salah satu teman saya pernah memberi saran pada saya bahwa setiap pencari kerja memang diharuskan memiliki kriteria pekerjaan ideal menurutnya. Memiliki standart, tidak ada salahnya. Memang diperbolehkan untuk keukeuh, nanti akan adakalanya, diharuskan melunak. Saya saat itu, berada di fase "masih ingin keukeuh".

Note: Biasanya juga, beberapa jurusan, terutama teknik, saya dan teman-teman seringkali terabas jurusan, misal lulusan Jurusan Teknik Komputer yang coba melamar di bidang Jurusan Informatika. Semacam, 'barangkali aja lolos'. Memang ada yang berhasil lolos hingga tahap akhir, tapi ada juga yang tahap administrasi pun belum rejeki.

Fase: 2 Bulan Pasca Graduation (December)

Saya mulai bimbang dengan keteguhan hati saya dalam memilih lapangan pekerjaan. Kebosanan mulai merayap di berbagai relung kegelisahan. Di bulan ini, saya tidak hanya satu kali keluar dari tanah perantauan untuk mengikuti tes kerja. Saya sangat bersyukur bahwa keluarga saya mendukung setiap pilihan saya. Walaupun, saya tahu, sebenarnya beliau juga tak kalah cemasnya dengan saya yang masih berjuang.

Orang tua memang sahabat terbaik dalam hidup. Ini memang benar sekali! Saya percaya, tak ada perjuangan yang tak ada maknanya jika saya niatkan untuk membahagiakan beliau.

Di entah fase ke berapa, saya juga merasa hubungan saya dan orang tua semakin intens, loh. Kami jadi sering berlibur bersama, sekedar melepas penat. Piknik. Atau apapun. Itu mengapa, alasan menjadikan orang tua sebagai motivasi hidup adalah alasan yang paling mujarab untuk tidak cepat mengeluh dan menyerah.

Fase: 3 Bulan Pasca Graduation (January)

Ini, nih, yang namanya kebosanan, rasanya sudah di ujung ubun-ubun. Kebosanan menunggu yang lebih menjemukan ketimbang menunggu pacar datang membawakan hadiah. Eh, skip!

Di fase ini, saya mulai bisa menilai, mana-mana orang yang memang ingin tetap menjaga silahturahmi. Mana yang tiba-tiba hilang. Mana yang tiba-tiba jadi beda. Dan dari semuanya, yang tak akan pernah hilang memang orang tua. Haha.

Saya memiliki beberapa saudara di tanah rantau yang hampir tiap minggunya, kami selalu bertatap muka melalui video call. Dari pasca wisuda, kami memang berkomitmen, untuk setidaknya menyambung tali silahturahmi melalui voice or video call group. Dan seringkali, kami melebihi 'komitmen' kami. Haha. Ya, kalau kangen, langsung telpon group aja, gitu. Btw, kami masih sering meet up juga 😍.

Mereka juga yang seringkali menguatkan saya karena kami sama-sama berjuang. Salah satu di antara kami, memang telah bekerja dan persiapan keberangkatan ke luar negeri. Sahabat ter-entah-lah yang pernah ada! Salah satu di antara kami, bersamanya pula. Mereka dalam bendera yang sama dan dia yang kedua ini baru saja menyelesaikan amanahnya sebagai mahasiswa. Yeay! Can't wait your graduation, Vroh!

Juga, saudara lainnya, yang kami seringkali bertemu hanya untuk makan bersama atau cuap-cuap masalah kerjaan atau minta tebengan ke terminal 😂. Memang, sih, kalau mahasiswa di tanah rantau, biasanya cenderung punya saudara banyak. Hehe. Senasib seperjuangan, gitu.

Note: Perkuat silahturahmi. Kamu, akan tahu mana saudaramu sebenarnya saat kamu sedang dalam masa berjuang. Mereka yang pergi, doain saja, jangan diumpatin. Kamu akan menemukan yang benar-benar memperjuangkan persaudaraan kalian 😎.

Fase: 4 Bulan Pasca Graduation (February)

Fase yang saya rasa, Allah benar-benar memberi kemudahan bagi saya. Beberapa tahap tes yang saya lalui di bulan Januari, mendapatkan jawaban. Alhamdulillah, sampai saat ini, saya berada dalam pekerjaan yang inshaAllah saya dan orang tua saya syukuri.

*Saya juga mulai membuka hati buat perkenalan baru dengan lawan jenis. Yang 'sana' udah punya yang baru juga, sih. Semoga pertemanan saya dengan yang sekarang, berjalan lancar tanpa kendala.💕

Perjalanan mencari kos pun terasa sangat dipermudah. Saya mendapatkan keluarga baru di sini. Ibu dan Bapak kos yang alhamdulillah juga dekat dengan Allah. Eh, sedikit cerita, sih. Dulu, waktu pencarian kos juga tidak langsung bertemu dengan kos yang sekarang mashaAllah enaknya. Haha.

Selama 2x survey, saya memang memusatkan pencarian di sekitar kantor dan diusahakan tidak melewati jalan besar. Dalam pencarian itupun, saya sempat menemukan yang murah, tapi sedikit kurang pencahayaan; bagus, murah, deket masjid, sayangnya campur dengan pria; bagus, murah, khusus putri, sayangnya pemiliknya taat agama (yang kebetulan beda agama); bagus, bersih, khusus putri, eh sayangnya mahal.

Yah, intinya, mencari kos ini memang hal yang susah-susah mudah. Saya sebenarnya mencari yang khusus putri, harga terjangkau, ventilasi ok (ventilasi hal yang utama), dan agama pemilik kos juga jadi pertimbangan. Bukan rasis, tapi saya suka sungkan kalau mau membaca Al-Quran dalam lingkungan beda agama :").

Dan survey kedua, sudah mulai give up mendapatkan kos yang sesuai kriteria. Ingat betul, saya saat itu di ambang "Ah, sudahlah, cari saja lain kali". Hingga akhirnya adzan Ashar menuntun saya untuk menuju masjid yang berada di sekitar tempat saya berkendara. Entah dari mana kuasa Allah datang, setelah sholat ashar, saya menuju kos saya yang sekarang. Notabenenya memang lebih jauh dari lokasi pencarian saya sebelumnya. Tapi, mashaAllah benar-benar sesuai yang saya inginkan. Haha.

Jadi, dari semua fase dalam perjuangan mencari rejeki keduniawian ini, saya sarankan, perbanyak sedekah dan terus tingkatkan keimanan pada Sang Pencipta. Sejatinya, memang rejeki sudah ada yang mengatur dan akan datang pada saat yang tepat. Jangan menyerah, tetap berjuang dan percaya bahwa semakin dekat dengan Sang Pemilik Segalanya, semakin dekat pula Ia padamu.

Dan memiliki standar tersendiri dalam mencari lapangan pekerjaan, bukanlah hal yang sepenuhnya salah, loh! Saya menyarankan, untuk tetap memiliki standar awal, terlebih dahulu. Pernah baca, sih, "Karir pertama akan menentukan karir Anda selanjutnya". Entah itu benar atau tidak, karena saya masih belum lama dalam dunia perkariran 😜.

Well, saya dulu juga pernah, kok, dalam tahap, "Duh, yang lain udah dapat pekerjaan" dan saya pernah pula berada dalam, "Alhamdulillah, saya tidak mengambil pekerjan tersebut".

Ya, gitu itu, hidup. Kadang asem, kadang manis. Asyikin aja, ya. Jangan banyak mengeluhnya, perdekat komunikasinya dengan Yang Maha Esa. Masak iya, komunikasi kamu dengan doi aja yang dibanyakin. Eh, skip!

Selamat berjuang, bagi kalian yang sedang berjuang!
Jogja di hari ketiga.

Assalamu'alaikum.

Masih di hari yang sama dengan perjalanan ke hutan pinus Imogiri, kami menuju Puncak Kebun Buah Mangunan. Kalau dari Google Maps, jarak antara kedua tempat tersebut sekitar 5,7 km dengan waktu tempuh kurang lebih 15 menit.

Buahnya Mana, sih, Mbak?

Begitu sampai di kawasan itu, saya penasaran mengapa dinamakan kebun buah Mangunan, tapi sama sekali tak terlihat buahnya. Dua di antara kami berenam pernah ke tempat ini sebelumnya. Mereka mengatakan, sebenarnya, memang tak terdapat buah yang terlihat secara kasat mata. Nama "kebun buah" dimaksudkan karena pohon yang ditaman di kawasan tersebut adalah pohon-pohon yang menghasilkan buah. Hm, oke.

Pertama kali datang, kami berhenti di semacam pos masuk dimana dulunya teman saya memarkirkan sepeda motor di sana dan melanjutkan dengan berjalan kaki ke kebunnya. E, ndelalah, baru saja mau parkir, beberapa pengendara sepeda motor tampak terus melanjutkan perjalanan hingga ke puncak kebun. Jadilah, kami mengikuti mereka. 😖

Santailah Sejenak di Gazebo dan Pandang Hijaunya!

Tiba di puncak kebun buah, kami diharuskan memarkirkan sepeda motor dan berjalan ke kawasan yang memang dikelola untuk wisata. Untung saja, kami tidak memarkirkan motor di pos pertama tadi, lumayan juauh pol jika benar harus berjalan hingga puncak kebun.

Kami berhenti sejenak di "pintu masuk" puncak kebun buah Mangunan. Terdapat beberapa gazebo, deretan warung kecil, penjual pentol bakar, dan gardu pandang yang terletak di atas pohon. Kami pun memilih melepas dahaga sejenak di gazebo dengan sebungkus pentol bakar dan sebungkus es degan. Di bawah ini adalah apa yang kami dapat dokumentasikan di sekitar tempat kami beristirahat 😃.
Kebun Buah Mangunan - nenghepi.com
Gazebo, Tempat Kami Beristirahat
Ini Kebun Buah Mangunan Jogja, Mana Buahnya, to?
Ketauan Istri Sah (?) Lol
Puncak Kebun Buah Mangunan - nenghepi.com

Jalan Lagi, Bro, Masih Agak Jauh!

Setelah beristirahat, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi wisata utamanya. Lumayan jauh, sih, dan tidak terlalu berat karena jalanan yang menurun. Tapi, jangan tanya bagaimana kembalinya, ya. Bagi saya yang jarang berolahraga, beneran capek. Eits, semuanya bakal kebayar, kok, dengan pemandangan segar yang bisa kamu lihat ketika tiba di lokasi utama. 💕
Puncak Kebun Buah Mangunan - nenghepi.com
Hijau yang Terlihat ketika Tiba di Lokasi Utama
Puncak Kebun Buah Mangunan - nenghepi.com
Biar Dikata Kaki Hitz
Puncak Kebun Buah Mangunan - nenghepi.com
Sendirian Aja, Mbak?
Over all, perjalanan terakhir di liburan Jogja usai sudah dan ditutup dengan hamdalah. Haha. Untuk sementara ini, Jogja masih belum membuat saya bosan. Rasanya, masih banyak yang bisa saya kunjungi dan bisa jadi dengan kawan perjalanan lainnya. Kamu, gimana, sudah bosan dengan daerahmu sekarang, belum? 😚

Jogjakarta, 18 Desember 2016