"Jadi, nih, jalan-jalannya? Anak-anak pada belum bangun, deh," katanya sembari menyentuh layar HP, berharap ada balasan dari teman-teman pria di asrama lain.

Antara semangat dan kelelahan, kami paksakan raga untuk melangkah keluar asrama putri. Bandung sedang mendung kala itu, menyisakan semburat lembut matari pagi. Masih sangat dingin, ketika kami mandi dan jelas sangat berbeda jika dibandingkan dengan Surabaya. Tak ada kipas yang harus menyala 24 jam di sini, kalaupun ada, mungkin milik mahasiswa yang sedang mencoba membenarkannya. Kami jetlag dengan kenyamanan yang tidak kami rasakan di Surabaya ini.

Sepatu yang basah kuyup akibat hujan di hari sebelumnya, tak menyurutkan langkah kami untuk menyusuri jalanan Bandung. Dimulai dari asrama putri -yang berada 'pedalaman'- menuju asrama pria -di  dekat jalan masuk gang-. Sudah ada tiga pria yang menunggu kami di sana dengan kaos oblong mereka dan muka-muka kelaparan. Jalanan yang tak sepadat Surabaya menjadi pemikiran pertama saya ketika angkot yang membawa kami mulai memasuki jalanan besar.

Dalam imaji saya, Bandung memang semacam bunga tidur yang indah jika dapat berlibur di sana. Desas desus yang mengatakan, baik pria ataupun wanita, memiliki paras yang rupawan, rasanya saya akui dengan segenap hati. Memang tidak semuanya. Jika pandangan 'paras rupawan' kita relatif sama, mungkin kamu pun akan memiliki pendapat yang sama dengan saya. Haha. Dan di sanalah saya, mencoba membenarkan isu tersebut dengan mata sedikit malu-tapi mau- melirik pada muda mudi yang mulai beraktivitas.

Imaji saya lainnya mengatakan bahwa Bandung, entah bagaimana, alamnya memiliki panorama yang bak sayang sekali dilewatkan barang sekedipan mata. Histori yang berada di beberapa sudut kota atau cuaca yang mendukung, namun tak bergelayut awan gelap. Pernah pula saya mengimpikan untuk menetap sementara di kota ini.

Sebagian besar imaji saya, benar adanya. Hanya, mungkin kesesalan saya pada Bandung, adalah cuaca yang selalu terhiasi awan gelap. Saya takut gelap dan tanpa alasan pula, saya jadi merasa hidup di dunia 'hitam' ketika Bandung mulai hujan -__-"

Untunglah, semesta sedang sedikit bersahabat pada kami berenam kala itu. Membiarkan kami untuk mengunjungi beberapa tempat sebagai tanda bahwa kami pernah berada di Bandung. Sepanjang perjalanan, saya tak hentinya mengagumi bagaimana Bandung di tata dengan apik, versi saya.

Alun-alun berumput sintesis yang sangat besar dan memungkinkan masyarakat untuk berolahraga, masjid yang berada di dalam area, dan beberapa sitje yang berbaris rapi. Alasan yang baik untuk berlama diri di tempat ini.

Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Alun-Alun Kota Bandung

Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Masjid Raya Bandung

Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Barisan Kursi Merah Berbaris Keheningan

Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Penjual Balon di Lantai Bawah
Perjalanan berlanjut ke Jalan Braga, dekat lokasi Konferensi Asia Afrika (KAA), yang karena itu pulalah terdapat beberapa tempat yang mengabadikan kegiatan tersebut. KAA sendiri berlangsung pada tanggal 18 April-24 April 1955 di Gedung Merdeka. KAA bertujuan untuk mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika, serta melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.(wikipedia)

Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Bandung Penuh Quote Bijak
Seingat saya, langkah kami pertama kali adalah ke Monumen Solidaritas Asia Afrika (diresmikan pada tanggal 24 April 2015) dan barulah mengunjungi lokasi lain di sekitarnya. Sepanjang trotoar di Jalan Braga, terlihat jejeran bola-bola semen yang bertuliskan negara peserta KAA. Konsep yang dapat dijumpai pula pada hiasan Kota Surabaya, namun tentu saja tanpa nama negara. Menoleh ke atas, tampak lampu jalan berdesain etnik dengan ujung hiasan berbentuk hewan, semacam harimau. Masih mendung, memang, membuat kami antara berbetah diri ataupun bersegara diri agar terlindung dari rintikan hujan.

Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Monumen Solidaritas Asia Afrika
Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Batuan Semen di Satu Pojok Jalan Braga
Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Lampu Etnik Penghias Kota

Kami masih pula di trotoar, mengambil beberapa gambar diri di depan Gedung Merdeka, Perpustaan Museum Konperensi Asia Afrika, dan Menara BRI Bandung. Design art WPAP Bapak Ridwan Kamil pun tak luput menjadi tujuan kami untuk berfoto, yah, pengobat hati karena tak mampu bertemu langsung dengan beliau. Hehe.

Dan hujan siang itu menjadi penanda kami untuk segera kembali pulang ke penginapan Asrama Bumi Ganesha. Tempat pertemuan dan perpisahan bersama kawan lama saya terjadi. Mengisi perut setelah penundaan makan pagi yang cukup lama dan segera bergegas mengejar transportasi menuju stasiun kereta api. Membawa kami menuju perantauan kami yang sebenar-benarnya. Surabaya. Kota pahlawan yang panas, namun nostalgia indah tak pernah menjemukan. Sampai bertemu lagi, Bandung :)

Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Tempat Sampah pun Lucu XD

Surabaya,


Mengingat kembali perjalanan ke Bandung, 9 November 2015

Menjadi seorang freelancer, baik itu di media online ataupun media cetak, adalah salah satu impian saya. Bukan hanya sekedar mencari rupiah, namun belajar di bawah naungan editor, membuat tulisan saya dinilai dan saya jadi lebih banyak belajar.

Flashback ke belakang, sebenarnya saya pernah mengikuti seleksi untuk menjadi freelancer di dua media lumayan bagus, di mata saya. Sekitar 2 tahun lalu dan dengan dua seleksi yang berbeda. Di kampus dan di luar kampus. Untuk keduanya, saya sama-sama gagal. Namun, dari keduanya pula saya belajar untuk lebih berbesar hati.

Seleksi di media cetak, dulu membuat saya sempat bimbang ketika dikatakan tentang target artikel dalam seminggu. Keluarga dan kerabat berkali-kali mengatakan untuk kembali menimbang apakah benar ini tidak akan mengganggu aktivitas saya di kampus. Hingga menjelang h- sekian menit menuju meja wawancara, akhirnya keraguan saya memuncak dan saya sadar tidak memberikan jawaban yang cukup baik, saat itu.

Tahun ini, tepat setelah semua perihal skripsi selesai, Tuhan melalui semesta dan tangan-tangan kebaikan manusia, mendatangkan kabar bahagia itu pada saya. Masih berupa tawaran untuk melamar, memang, tapi rasanya semacam jawaban atas pinta selama ini.

Saya dengan bahagia mencapai ubun-ubun menerima telepon itu, kebetulan suara penelepon bak suara customer service (dalem bener), langsung mengabarkan pada Mama. Prinsip saya adalah pantang melangkah tanpa restu kedua orang tua. Dan pucuk dicinta ulampun tiba, kedua orang tua merestui langkah saya menjadi freelancer.

Berlebihan? Bagi saya, tidak juga. Saya memang menginginkan menjadi freelancer sejak lama. Entah, rasanya ingin saja menjadi penulis lepas tidak hanya di blog ini. Yang amburadul judulnya, yang entah tidak terlalu peduli SEO, yang gimana susunan katanya, menjadi nomor sekian yang saya perhatikan.

Pada titik ini, saya tak pernah tahu bagaimana cara Tuhan menjawab setiap doa hamba-Nya. Selalu dengan cara yang teramat romantis dan bermakna. Dan saya percaya, doa kedua orang tua sayalah yang lebih banyak berjasa di balik semua ini. Semoga panjang umur, Kesayangan :')
Ingin memanfaatkan waktu libur dan weekend yang berkualitas dan beda dari biasanya? Olahraga bisa jadi salah satu solusinya. Tak usah bingung-bingung, bagi warga Jakarta dan sekitarnya sekarang ada pilihan aktivitas dan olahraga menarik di Bounce Street Asia. Di tempat ini, kamu akan menikmati keseruan dengan bermain trampoline sepuasnya. Yeay, that’s cool and fun!

Sekilas Bounce Street Asia

Nah, yang perlu digarisbawahi di sini, siapapun boleh menikmati permainan ini, baik dewasa maupun anak-anak bisa mencobanya. Selain asyik, suasana di area ini juga sangat atraktif untuk bouncing dan climbing, pas sekali buat memicu semangat kamu. Ruangannya dipenuhi dengan warna-warna cerah yang semakin menambah keceriaan. Khusus hari Jumat dan Sabtu, suasana makin berbeda karena ada live music-nya.

Bounce Street Area | Melepas Kepenatan di Trampoline Park Jakarta
Bounce Street Area[1]

Selain seru dan asyik, tempat permainan ini juga tergolong salah satu pusat kebugaran, tapi dengan konsep kekinian dan berbeda dari tempat lainnya. Ada banyak manfaat juga lho yang bisa diperoleh, salah satunya bisa untuk membakar kalori dan juga bisa menguatkan otot kaki.

Bahkan hasil penelitian NASA menunjukkan bahwa permainan trampoline ini lebih efektif membakar kalori dibandingkan dengan lari.

Bounce Street Asia memang masih terbilang baru karena diresmikan sejak bulan Februari tahun ini dan merupakan trampoline park dengan desain indoor yang telah di standarisasi secara internasional, lho. Nah, dengan melihat luasnya area taman ini tentu banyak pilihan permainan yang bisa kamu coba.

11 Pilihan Arena, Bikin Lebih Cihuy!

Sebagai gambaran, di sini ada sekitar 11 pilihan arena seperti aero, wall climbing, main court, kids court, airbag, spidertower, foampit, dan masih banyak lagi. Meskipun banyak arena, setiap areanya tetap diawasi oleh pelatih. Keseruan di tempat ini akan dikenai biaya masuk sekitar Rp100.000 per jam (di hari kerja) dan Rp 135.000 per jam (saat weekend).

Tips Aman Bermain Trampoline

Gunakan kaos kaki khusus yang tersedia, ya. Di arena trampoline, disediakan kaos kaki khusus untuk membuatmu lebih enjoy dan aman saat bermain. Aman di sini karena berbahan karet yang elastis. Ini akan mengurangi mudahnya kamu terpeleset dan mengalami cidera, seperti keseleo.

Selain perlengkapan, kamu juga harus memahami mengenai cara bermain trampoline. 

Jangan menekuk lutut saat mulai memantul. Salah satu trik pentingnya, jangan sekali-kali menekuk lutut ya terutama saat mulai memantul, sebab posisi kaki yang lurus bisa makin meninggikan pantulan kaki kamu.

Posisikan mata harus stay ke depan. Memosisikan mata untuk tetap menghadap depan akan mengurangi pusing tujuh keliling. 

Jika belum profesional, jangan lakukan gerakan ekstrim! Jangan coba-coba juga buat mencoba gerakan melompat sambil flip, salto, atau mencoba gerakan ekstrem, ya. Jika belum terlalu ahli dan menguasai, bisa berbahaya bagi diri sendiri. Yang jelas tak ada tak ada aturan khusus dan tidak diperbolehkan bagi yang punya riwayat penyakit jantung.

Jangan Lupa Cicipin Kuliner juga...

Jika ingin menikmati santapan lezat, bisa menuju ke lantai dua. Kalau kamu tertarik ke sini langsung aja ke Jalan Kumala Artha Gading Block D Kav. 8. Malam harinya ada Bounce Night dengan aneka lampu ala disko dan DJ live music.

Ampend Trampoline Park, Arena Lain yang Tak Kalah Seru

Sementara tak jauh dari Bounce, ada sebuah arena lain bernama Amped Trampoline Park. Tempat ini menyediakan 9 wahaha permainan. Meskipun pengunjung bebas memilih, bukan berarti tanpa pengawasan. Sedikitnya ada faktor lain yang tak kalah penting, maka persiapan keselamatan juga bekal sebelum melompat. Tarif masuk hari senin sekitar Rp80.000 per jam, selasa hingga kamis seharga Rp100.000 dan akhir pekan Rp125.000.

Ampend Trampoline Park | Melepas Kepenatan di Trampoline Park Jakarta
Ampend Trampoline Park[2]

Di tempat ini juga disediakan kafe yang menyediakan beragam menu makanan dan minuman. Hal serupa lainnya, tersedia juga menu vegetarian yang menjadi kombinasi menarik kafe ini.

Rekomendasi Penginapan untuk Kamu, yang bukan dari Jakarta...

Jika kamu berasal dari luar kota dan berencana liburan weekend di Jakarta dengan menikmati dua tempat tersebut, ada rekomendasi penginapan, nih. Salah satu rekomendasi hotel ternama di daerah ini adalah Hotel Grand Whiz Kelapa Gading. Hotel ini tepat berada di dekat kedua wahana tersebut.

Hotel Grand Whiz Kelapa Gading ada di Jalan Bukit gading Raya Kav.1, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Hotel ini juga berada dekat dengan pusat perbelanjaan di Kota Jakarta seperti Kelapa Gading Sport Mall dan Mal Kelapa Gading dan tak ketinggalan, Jakarta Golf Club, juga dengan Sea World dan Dunia Fantasi yang masih dalam satu wilayah Jakarta UtaraLokasinya dekat dengan pusat kota dan ruang kamarnya nyaman, pokoknya pas jadi pilihan kamu saat di Jakarta.

Hotel Grand Whiz Kelapa Gading | Melepas Kepenatan di Trampoline Park Jakarta
Hotel Grand Whiz Kelapa Gading[3]

ini masuk dalam kategori hotel modern. Beragam makanan dan minuman lengkap disediakan di Restoran Sapphire dan juga Ruby Lounge ini.

Nah, sudah jelas kan gambaran keseruan trampoline dan juga rekomendasi penginapan di Jakarta yang bisa jadi obat kepenatan kamu saat weekend ya, kamu bisa langsung cek di traveloka.com. Happy holiday, Gengs!


Credit pic: [1]aktual.com, [2]ampedindonesia.com, [3]traveloka



"Tabik dari laguna Pantai Kedung Tumpang, Tulungagung. Pantai dengan kolam renang alami, yang butuh perjuangan untuk mencapainya. Saya katakan, ini bagaikan kolam renang bidadari. Keindahan yang didapat setelah jerih payah."

Mungkin, paragraf pembuka tersebut merupakan konklusi dari perjalanan yang saya lakukan pada tanggal 13 Agustus 2015 silam. Satu dari beberapa destinasi di trip singkat Kediri-Blitar-Tulungagung yang direncanakan. Seperti perjalanan sebelumnya, saya tidak sendirian dalam perjalanan panjang tersebut. Nanti sajalah, saya tuliskan nama mereka di akhir karena sudah beberapa kali saya menuliskan nama mereka di blog ini. Haha.

Sejauh saya mengingat, hiruk pikuk Kediri tak terlalu ramai ketika kami memulai perjalanan, sekitar pukul 07.00 WIB (atau lebih awal). Masih banyak toko yang tutup, walaupun beberapa pelayan toko sudah mulai membersihkan teras. Beberapa di antaranya, tampak bercengkarama satu dengan lainnya. Membiarkan kami -yang tampak terlalu heboh, dengan kacamata hitam, tas ransel lumayan besar, dan setangan yang terikat sebagai penutup hidung- berjalan menembus lengangnya Kediri.

Pagi itu, tujuan kami tak langsung ke Kedung Tumpang, Tulungagung, melainkan mengunjungi sahabat kami, Tiwi, yang berumah tak jauh dari tempat kami menginap. Bukan maksud untuk beramah tamah sekaligus mencari pengganjal perut, tapi tujuan utama kami, memang untuk bertemu dengan Tiwi sekeluarga. Hehe. Yah, walaupun pada akhirnya juga makan pagi dengan suguhan lauk bebek goreng (kebetulan empu rumah adalah juragan bebek :3). Setelahnya, sekitar pukul 10.00 WIB, barulah perjalanan kembali dilakukan dengan perut yang tak meraung dan lebih tenang, tentunya. Lol.

Menuju Pantai Kedung Tumpang...

Pantai Kedung Tumpang ini terletak di Desa Pucanglaban, Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Menurut artikel lain, untuk lebih mempermudah, arah Pantai Molang dapat menjadi patokan untuk bertanya karena searah dengan pantai ini. Kami sendiri, menggunakan GPS dan bantuan arah dari penduduk lokal yang kami temui selama perjalanan. Penanda bahwa pantai ini sudah dikenal dan banyak wisatawan ke sana. Ya iya, sih, sempat hits di tahun 2015, cuy!

Matahari mulai menampakkan sinarnya, ketika kami meninggalkan daerah Kediri dan mengarah ke lokasi tujuan. Tentu tak terlalu menjenuhkan karena sepanjang perjalanan, kami disuguhkan dengan pemandangan hutan, namun sangat jarang aktivitas tersebut. Bayangkan, ketika itu, hanya kami sajalah yang melewati jalan tak bertiang lampu penerangan dan tak berpenduduk itu.

Pantai Kedung Tumpang, Tulungagung: Tabik dari Kolam Renang Alami, Kolam Para Bidadari
Pemandangan Hutan Selama Perjalanan
"Loh, Haris Ira mana, Dam?" kataku ketika melihat mereka tak lagi di belakang kami.

Perjalanan yang begitu sunyi, membuat kami agak berjauhan jarak karena seringkali berkecepatan tinggi. Ini membuat kami sedikit lalai dengan kawan lainnya dan barulah kami menyadari bahwa salah satu tim mengalami kebocoran ban. Begitu sulit mencari tambal ban di sana dan sangat jauh pula lokasinya dari tempat kami berada. Jadi, kami memutuskan untuk melepas ban dan membawanya ke bengkel terdekat. Tentu saja ini pekerjaan para pria dan para wanita adalah pemandu sorak setia~

Pantai Kedung Tumpang, Tulungagung: Tabik dari Kolam Renang Alami, Kolam Para Bidadari
Tiga Pria untuk Melepas Satu Ban

Pantai Kedung Tumpang, Tulungagung: Tabik dari Kolam Renang Alami, Kolam Para Bidadari
Penantian Para Wanita ketika Ban Bocor

Di saat begini, pepatah "Berjalanlah sendiri jika ingin cepat sampai, namun berjalanlah berkelompok jika ingin berjalan jauh", rasa-rasanya sangat tepat.

Sampailah di Perbukitan Berpasir, Berhias Birunya Pantai Lumbung


Jadi, begitu urusan tambal ban selesai, kami kembali melakukan perjalanan yang masih sangat jauh. Sekitar pukul 14.00 WIB, sampailah kami di area perbukitan yang dimanfaatkan penduduk sebagai area berkebun. Jalannya berpasir dan hanya cukup untuk dua sepeda motor berpapasan. Mudah sekali terselip jika tidak begitu lincah berkendara. Puncak dari perbukitan tersebut adalah 'terminal utama', tempat kami menitipkan sepeda motor dan mulai melanjutkan perjalanan dengan berjalan. Oh, ya, di tempat ini pula, tempat pembayaran tiket pengunjung, saat itu, sebesar Rp 5.000,00. Dari puncak bukit, kami dapat melihat panorama pantai lain, yang saya baru tahu itu adalah Pantai Lumbung. Begitu biru dan dapat menjadi spot untuk berfoto sejenak.

Pantai Kedung Tumpang, Tulungagung: Tabik dari Kolam Renang Alami, Kolam Para Bidadari
Yang Saya Lihat di Depan Mata
Pantai Kedung Tumpang, Tulungagung: Tabik dari Kolam Renang Alami, Kolam Para Bidadari
Yang Saya Lihat ketika Menoleh ke Belakang 
Pantai Kedung Tumpang, Tulungagung: Tabik dari Kolam Renang Alami, Kolam Para Bidadari
Yang Saya Lihat ketika Menoleh ke Samping
Pantai Kedung Tumpang, Tulungagung: Tabik dari Kolam Renang Alami, Kolam Para Bidadari
Pura-Pura Candid dengan Pemandangan Pantai Lumbung XD

Sudah Berfotonya, Mari Mulai Berjalan Setapak...

Perjalanan setapak itu terlihat sangat menyenangkan di awal cerita, namun begitu melelahkan di akhirnya. Lol. Percayalah, bagi saya, yang sangat jarang berolahraga, perjalanan tersebut benar-benar membuat kaki terasa kemeng ditambah lagi saya menggunakan sandal jepit. Benar-benar salah kostum dan tak mengenal medan. Berjalan setapak di sana, tidak hanya jalanan datar, melainkan jalan bercuram yang hanya bermodalkan seutas tali buatan penduduk lokal. Tali ini benar-benar membantu, jadi terima kasih banyak, masyarakat Tulungagung :*

Pantai Kedung Tumpang, Tulungagung: Tabik dari Kolam Renang Alami, Kolam Para Bidadari
Medan Jalan Setapak dengan Bantuan Tali

Pantai Kedung Tumpang, Tulungagung: Tabik dari Kolam Renang Alami, Kolam Para Bidadari
Memutuskan untuk Makan Siang XD

Beberapa kali kami berhenti untuk mengambil nafas dan melanjutkan perjalanan. Tentu tak terhiraukan betapa kotornya pakaian karena beberapa kali harus sedikit duduk agar tidak terpeleset. Begitu perjalanan curam dan berdebu itu selesai, kami dihadapkan kembali dengan barisan batu-batu tak beraturan berukuran besar. Kembali, saya mengalami kesusahan berjalan karena salah menggunakan alas kaki. Otoke! Beruntungnya, Lina meminjamkan sepatu flat yang setidaknya mengurangi risiko sandal putus dan kaki tergores tajamnya batu. Ah, really will give you big hug, Lin!

Pantai Kedung Tumpang, Tulungagung: Tabik dari Kolam Renang Alami, Kolam Para Bidadari
Batu Besar yang Dapat Melukai Kaki Telanjang (untung bukan hati yang terluka)

Dan yaaaaaay! Akhirnya....

Finally, kami sampai di bibir pantai. Jika kamu mengunjungi Pantai Kedung Tumpang, jangan menyerah hanya melihat di pinggirannya, berjalanlah lebih jauh lagi, ya! Sebenarnya, spot yang (dulu) sempat hits sebagai kolam renang alami berada agak jauh dari bibir pantai. Dari spot tersebutlah, dapat dilihat laguna yang begitu bening dan, ya, memang indah seperti dikatakan di sosial media. Beruntungnya saya dapat menikmati pantai tersebut ketika sedang sepi pengunjung, jadi kami dapat menikmatinya dalam ketenangan. Hanya ada beberapa pengunjung dan penduduk lokal sebagai pengawas. Saat itu, memang sedang air pasang, sehingga pengawasan dilakukan secara ketat dan beberapa kali pula mereka meneriaki pengunjung yang hendak turun.

Pantai Kedung Tumpang, Tulungagung: Tabik dari Kolam Renang Alami, Kolam Para Bidadari
Pantai Kedung Tumpang
Pantai Kedung Tumpang, Tulungagung: Tabik dari Kolam Renang Alami, Kolam Para Bidadari
Birunya itu, loooh, nagih!

Berjalan agak jauh lagi, asal hati-hati dan berani, maka kamu akan dapatkan pemandangan yang lebih keren. Sayangnya, saya tidak berani melewati batu-batu tersebut :") Jadi, inilah yang didapatkan ketiga teman saya.

Berjalan Lebih Jauh Lagi untuk Dapat Spot ini (cr : Akbar)

Nama Kedung Tumpang berasal dari topografi pantai tersebut. Kedung adalah cekungan, dan tumpang berarti saling menumpuk. Dulunya, masyarakat memanfaatkan kedung ini sebagai area memancing.

Pendapat Saya, itu begini...

Well, bagi saya pribadi, Pantai Kedung Tumpang ini memang memukau. Direkomendasikan bagi pengunjung yang tidak suka mengeluh karena medan yang dilalui memang lumayan berat. Informasinya, jika laut tidak sedang pasang, pengunjung memang dapat berenang di salah satu kedung, jadi usahakan untuk berangkat pada pagi hari dan pada saat bulan baru. Untuk kenyamanan, gunakan sandal gunung atau sepatu dan bukan sandal jepit karena ini bukan sembarang pantai, layaknya pantai Kuta yang berpasir. Oh, karena dulu tempat ini hits (sekitar tahun 2015), kemungkinan tahun ini bisa jadi lebih ramai atau lebih sepi, semoga tetap bebas dari sampah dan coretan dari para vandal :)

Jadi, kalau tahun lalu tempat ini sedang hits, tahun ini bagaimana kabarnya, ya? Masihkah tetap terjaga? Kamu tahu kabarnya?

Pantai Kedung Tumpang, Tulungagung: Tabik dari Kolam Renang Alami, Kolam Para Bidadari
Salam Kami, Anak Alay yang Gak Doyan Nyampah :D

***

Terima kasih untuk tim hore kali ini: Lina Khoirunnisa, Syara Argiandini, Yunira K. Hapsari sekeluarga (sekaligus penyedia sepeda motor, penginapan, dan konsumsi), Lina Pratiwi, Adam Surya, Haris Hidayatulloh, Maulana Akbar, dan Bayu Jaya.