Kepada Oktober

Halo, Kamu.

Aku ingin membuat tulisan yang sangat klise, sering kali genre semacam ini terbaca, terlalu remahan kue, tapi memang gurih untuk tetap dituliskan. Dan aku tahu kamu tak akan pernah baca. Setidaknya, aku hanya ingin membacanya lagi suatu hari nanti.

Cukup sederhana. Sampai detik ini, aku masih bersyukur Tuhan berikan jalannya untukku bertemu kamu. Aku suka hampir seluruh bagian hidupmu.

Kamu, menghormati orang tuaku, semoga suatu saat kamu bisa pula menganggap mereka sebagai orang tuamu.

Aku tahu kita masih sama-sama belajar tentang agama, tapi aku suka kamu selalu belajar untuk lebih baik.

Aku suka caramu menggandeng tanganku, tidak di semua tempat, tapi di tempat yang kamu tahu aku bakal butuh perlindungan (lol).

Aku suka caramu memberikanku larangan, dengan tidak melupakan hakku untuk berkarya. Kamu seringkali memberiku 'how if' dibanding 'You should'.

Aku suka caramu memandang banyak hal.

Aku kagum dengan caramu melindungi yang lemah.

Aku suka tercengang mengetahui sikapmu ke anak kecil, wanita sepuh, ataupun ke wanita lain.

Kamu sangat menghargai wanita. Aku sangat suka itu.

Aku suka caramu menyelesaikan masalah. Dengan tidak mengunggah atau menampakkan apapun di khalayak umum. Kamu sangat paham bahwa masalah harus diselesaikan berdua dan tak harus orang lain tahu.

Aku suka caramu menahan rasa cemburu. Katamu, "Aku kadang cemburu, tapi ya gimana caranya biar cemburu itu gak bikin salah sangka, kan." Aku kadang malu sendiri.

Aku suka kamu bukan tipe yang melankolis, tapi jujur, kamu romantis POL! Aku sering heran sendiri.

Kamu seringkali bertingkah di luar ekspektasiku. Membuatku seringkali tergelak dengan semua tindakanmu. Spontanitas.

...

Dan see, sampai paragraf ini, banyak yang ingin aku tulis, tapi rasanya terkesan terlalu sangat 'apasih ini'. Haha. Jadi, mungkin kamu akan memaklumi kalau aku seringkali merasa like a princess. Kamu sangat bisa membuatku merasa seperti itu.

Aku sudah cukup mengenalmu. Banyak yang sudah terjadi di antara kita. Dari up and down. Dari nangis sampai ketawa. Dari kehabisan bensin, kehujanan di jalan, crush di jalan, dan masih banyak lagi.

Sudah kukatakan di awal, kan, aku suka denganmu hampir seluruh bagian dari dirimu. Jadi, terima kasih masih tetap ingin belajar bersamaku. Semoga selalu dimudahkan langkah kita.~


Dari Desember, untuk Oktober.
Selamat berjumpa di setiap harinya.
I have long weekend and I do nothing. So, here I am, learning to improve my digital art skill. Previously, I have posted vector art and, yah, I am still amateur. 

These are my mosaic galleries and hope it will be my time capsule. Hope you give me advises. I used photoshop cs3 portable. Literally, I want to upgrade my photoshop, but too lazy to download. Haha.

Still, with love💕...

***

Galeri Belajar Mosaic - nenghepi
Galeri Belajar Mosaic

Galeri Belajar Mosaic - nenghepi
Galeri Belajar Mosaic - nenghepi



Surabaya, 15 Mei 2018

Bismillah.

Dear, diri sendiri di masa mendatang.

Saat menuliskan ini, aku berada di usia matang dalam segi pemikiran. Semoga, ini akan berimbas pula dalam perilakumu di keseharian.

Kamu, saat ini sudah mulai belajar untuk berpola pikir terbuka. Sejujurnya, aku sedikit berbangga hati dengan bagaimana Kamu mencoba berusaha untuk berpikir seperti itu. Haha.

Dulu, seringkali ketika ada orang yang memiliki pendapat ataupun perilaku yang tidak berada dalam koridormu, Kamu seringkali berpikir 'negatif'. Judgmental thinker.

Aku sedikit bersyukur, Kamu yang sekarang belajar mulai berpikir bahwa setiap orang memiliki hak untuk menentukan pilihan hidupnya. Selalu ada alasan di balik sikap yang ditunjukkan. Kamu sudah mulai menerima perbedaan secara perlahan.

Aku tahu, belajar menjadi bijaksana memang tidaklah mudah. Tapi, manusia memang seorang pembelajar dalam hidupnya. Aku harap, Kamu ketika membaca tulisan ini di kemudian hari, mengenang bagaimana sulitnya di fase kedewasaan ini. :)

Aku yang sekarang, merasakan bagaimana 'sawang sinawang' memang selalu ada. Namun, manusia adalah makhluk yang tak akan pernah puas. Manusia tak akan pernah bahagia, jika tak pernah bersyukur. Kamu, saat ini mulai belajar untuk bersyukur lebih banyak, semoga selalu seperti itu.

Aku yang sekarang, mulai memahami mana teman yang memang bisa menemani sampai nanti, mana yang memang sekedar teman lalu pergi. Kamu, harus tetap belajar ini. Manusia datang dan pergi, tapi orang tua tidak.

Dan dengan alasan itu pula, saat ini, aku belajar memilih teman yang memang bisa menjadi kubuat sandaran kelak. Aku, memang belum dalam ikatan sah saat ini. Namun, Kamu harus tahu, aku menemukan teman yang memang menjadi pantulanku saat ini. Jodoh ataupun tidak, semoga bagi kami yang terbaik.

Aku yang sekarang, belajar mengucapkan, "Aku menganggapmu saudaraku, aku memberimu nasihat dari pola pandangku. Namun, aku tak menentukan kebahagiaanmu. Kamu yang berhak menentukan. Karena aku tak tahu bagaimana perjuanganmu."

Ketika kalimat itu kuucapkan pada salah satu kawanku, dia setuju denganku. Memang, manusia bukan tempatnya menggantung harapan terlalu tinggi. Karena jatuh berdebam tak pernah akan baik-baik saja rasanya.

Dan hanya manusia yang pernah jatuh, kemudian bangkit, baru benar-benar percaya bahwa Allah S.W.T. sebaik-baiknya harapan. Tapi, semoga dengan membaca ini, Kamu tak perlu merasakan jatuh yang ke sekian kali karena manusia.

Kata temanku yang sekarang, aku adalah manusia yang cenderung sabar. Jika memang seperti itu, aku bersyukur adanya. Tapi, ini tetaplah sulit. Sabar itu kebiasaan. Dan kebiasaan yang selalu tertimpa kehidupan yang memang keras ini, seringkali pula menciut.

Ketika aku sudah mulai kehilangan kesabaran, kataku pada diri sendiri, "Cobalah sabar, sabar itu sulit. Itu kenapa hadiahnya surga."

Itu pula yang kuucapkan pada diriku ketika aku sulit sekali memaafkan orang lain. Saat aku menulis ini saja, aku dalam kondisi mengingat kesalahan orang lain.

Yang aku pelajari juga adalah, "Manusia seringkali melupakan kesalahan dirinya pada orang lain, namun seringkali mengingat kesalahan orang lain pada dirinya."

Ini manusiawi yang tak bisa dimaklumi. Tapi, memang harus dimaklumi karena susah benar adanya. Aku yang sedang belajar menjadi dewasa ini, masih terus berusaha untuk menjadi manusia pemaaf itu. Semoga, Kamu saat ini, menjadi manusia pemaaf.

Aku yang sekarang mulai belajar mengkondisikan keadaan. Terutama tentang mimpi-mimpi yang pada akhirnya harus mulai dilunakkan dengan beberapa pertimbangan. Belajar menjadi lunak itu tidaklah suatu hal yang buruk.

Tulisan ini aku akhiri dengan senyuman. Sungguh. Ketika di beberapa part tadi, aku sempat meneteskan air mata. Bukan bersedih, lebih ke arah lega melihat bagaimana aku terus berproses dari waktu ke waktu.

Jadi, Kamu, aku yakin jalanmu pun tak mulus. Tapi, hei, aku yakin Kamu tak pernah berhenti berjuang untuk memperbaiki diri, kan. Kamu tetap harus tahu bagaimana tulisan bisa memberitahumu tentang prosesmu dari waktu ke waktu.

Kamu masih kurang suka difoto, kan? Sudah, Kamu lebih cocok menjurnalkan prosesmu dalam tulisan, bukan dalam photograph. Lol.

Semoga, Kamu bisa menjadi dewasa yang bijaksana. Aku yakin Kamu bisa.

Salam hangat,

dari Surabaya yang sedang was-was karena teror bom :(
Liburan singkat sehari atau dua hari keluar kota Surabaya merupakan salah satu jalan untuk me-recharge energi. Percaya gak percaya, liburan memang mood booster selain pulang kampung! Haha.

Liburan dua hari lalu, tanggal 2 Februari 2018 kemarin, saya dan pasangan berangkat ke Malang Selatan. Tujuannya tentu saja pantai, entah pantai apa. Dan akhirnya tibalah saya ke Pantai Sendiki, Malang Selatan.

Pantai Sendiki terletak di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumawe Kota Malang. Perjalanan dari Surabaya sampai pantai ini kalau dihitung-hitung sekitar 6 jam. Dari macetnya Surabaya karena keberangkatan kami bersamaan dengan jam masuk sekolah. Dan keluarlah kami di area Malang yang tidak terlalu padat.

Pantai Sendiki Malang: Menyusuri Barisan Pantai
Pantai Sendiki Malang: Menyusuri Barisan Pantai

Rute menuju Pantai Sendiki...

Saya kurang paham rute yang kami tempuh. Karena sepenuhnya dia hafal, tapi jikalau tersesat pun, masih bisa akses Gmaps ataupun menanyakan ke penduduk lokal. Gmaps 3G memang sedikit berfungsi, kok.

Sebelum memutuskan ke Pantai Sendiki, dia memberikan pilihan saya di perempatan besar. Persimpangan yang menuliskan daftar pantai yang bisa kami pilih. Seingat saya, yang kami pilih adalah tujuan Pantai Balekambang.

Menuju ke Pantai Balekambang ini, ada beberapa pantai yang berderet. Beberapanya bisa terlihat langsung dari jalanan. Tak perlu membayar tiket masuk. Sedangkan beberapa lainnya, memang harus masuk terlebih dahulu.

Di antaranya yang terlihat langsung adalah pantai ini:
Pantai Sendiki Malang: Menyusuri Barisan Pantai

Intinya, sepanjang perjalanan, kami menemukan banyaknya barisan pantai. Kata pasangan saya, yang membedakan adalah view dan wahananya. Sebenarnya, ya satu garis bibir pantai, gitu.

Perjalanan yang sunyi juga menambah damainya Malang Selatan. Sepanjang perjalanan, saya membayangkan kalau saya berada di film Mith. Benar-benar memanjakan mata dan mungkin sangat cocok jika digunakan ber skate board. Haha. 😂

Tambahan view selama perjalanan:

Pantai Sendiki Malang: Menyusuri Barisan Pantai
Pantai Sendiki Malang: Menyusuri Barisan Pantai
Pantai Sendiki Malang: Menyusuri Barisan Pantai

Sampailah di Pintu Gerbang Pantai Sendiki...

Sampai di gerbang Pantai Sendiki, nyatanya perjalanan menuju tujuan utama tak sedekat yang saya bayangkan. Dari jalan utama yang begitu mulus, kami harus menempuh jalan makadam sekitar 30 menit.

Pemandangan kanan-kiri tentu saja masih sawah dan pegunungan. Masih sangat alami. Namun, ini beneran gak rekomendasi jika menjadi tujuan berlibur ketika cuaca hujan. Jalanan pastilah begitu licin. Serius cuy!

Sampai di loket masuk Pantai Sendiki, htm yang harus kami bayar adalah Rp 10,000 per orang dan Rp 10,000 per sepeda motor. Termasuk yah, worth it dengan harga segitu dan private beach yang akan kamu dapatkan!

HTM : Rp 10,000 per motor; Rp 10,000 per orang. 
Jarak antara gerbang dengan lokasi utama lumayan jauh dan kondisi jalan bermakadam. 


Dari loket masuk ini, pengunjung harus memarkirkan kendaraannya dan masih harus berjalan menaiki serta menuruni anak tangga. Lumayan jauh dan melelahkan bagi saya yang memang jarang berjalan. Mungkin, sekitar 15 menit berjalan, tapi jangan kuatir kehausan. Ada banyak toko kelontong di sini.
Pantai Sendiki Malang: Menyusuri Barisan Pantai
Barisan toko kelontong menuju Pantai Sendiki

Dan sampailah ke tujuan utama....

Pantai Sendiki ini semacam private beach. Memang ada beberapa pengunjung, tapi bagi saya itu begitu sepi. Mungkin, karena memang kami ke sana di ari weekdays kali ya.

Beberapa wahana yang bisa dinikmati adalah ayunan, ombak yang tidak terlalu tinggi, pasir pantai, dan rumah pohon. Pasir pantai yang putih dan ombak yang memang cukup aman untuk 'kecek-kecek' sudah sangat membahagiakan bagi saya.

Pantai Sendiki Malang: Menyusuri Barisan Pantai
Rumah Pohon yang Tersedia

Pantai Sendiki Malang: Menyusuri Barisan Pantai
Pasir putih + ombak yang tenang 

Biarlah menggosong di tepi pantai untuk kebahagiaan. Apasih!

Karena begitu sepi, kami bahkan bisa bermain ayunan layaknya anak kecil. Dan membiarkan captain saya untuk beristirahat di bangku yang tersedia di beberapa area teduh.

Dari saya pribadi, tempat ini begitu worth it untuk melepas penat dengan budget yang tidak terlalu mahal. Nyaman dan sunyi. Oh, ditambah lagi, masih cukup bersih, cuy! Dats the great point, ya.

Berikut saya rangkum plus minus dari perjalanan sekarang:

(-) Minus:
Jauh, jalan masih pedesaan berbatuan, makadam, bahkan tanah lempung, berbayar (haha)

(+) Plus:
Sepi, sangat bersih, serasa private beach, banyak lokasi teduh untuk bersantai.
Penduduk lokal sudah banyak mengenal rute menuju pantai ini.  

Bloopers kenapa liburan 'jauh' ini terjadi:

Sebenarnya, saya liburan kemanapun, boleh-boleh aja. Ke Mojokerto lagi, oke oke aja. Tapi, memang saya pernah bilang kalau pengen ke Malang. Jadi, kemarin tiba-tiba dia bilang bisa tuker dinas dan menyuruh saya siap-siap.

Dalam perjalanan, saya berkali-kali tanya, "Mau kemana ini?" dan berkali-kali pula dia jawab, "Rahasia." Hingga akhirnya saya menyerah untuk bertanya lagi dan let it flow. Karena percaya gak bakal ke tempat yang bahaya. 😂

Itu yang saya suka dari dia. Dia tak pernah mengatakan pada saya tentang sesuatu yang sudah dia persiapkan. Tiba-tiba aja diajak kemana, tiba-tiba aja udah sampai Malang Selatan aja. Haha 💕.

Jadi, sampai pantai sudah mulai terlihat mata, ternyata tujuan kami adalah Pantai Sendiki. Apa yang saya suka dari perjalanan menuju Pantai Sendiki adalah barisan pantai yang kami lewati sungguh memanjakan mata. Juga, karena teman perjalannya dia, sih.

*Menulis ini saja, saya sedang tersenyum-senyum sendiri.*

❤❤❤

Voila, jika kamu memang ingin melepas penat di Malang, mungkin Pantai Balekambang dan sekitarnya menjadi list yang harus kamu sematkan. Please, tetap jaga kebersihan, ya!

Salam hangat,



dari Surabaya yang selalu hangat~