Selamat Berjuang, Para Fresh Graduate! - nenghepi.com

Assalamu'alaikum.

Sebenarnya, tulisan kali ini sudah diagendakan cukup lama sekali dan memang menunggu waktu yang tepat (dalam versi saya). Bukan hal besar, sih, sebenarnya, hanya semacam rasa syukur dan sedikit pelajaran hidup yang semoga bisa diambil hikmahnya pula buat pembaca 😄. Juga, sebagai catatan pribadi dan pengingat betapa Tuhan Maha Baik 😘.

Jika ada yang mengatakan bahwa perjuangan mahasiswa sebenarnya adalah ketika meninggalkan gerbang 'perkuliahan', saya rasa, perkataan tersebut ada benarnya. Saya adalah lulusan teknik dengan gelar diploma IV, setara dengan S1. Rancu, ya, sebenarnya lulusan ini benar-benar disetarakan dengan sarjana atau diploma III. Hehe.

Saya awali dengan, "Selamat berjuang, para fresh graduate!". Ini sedikit catatan perjuangan saya, saya harap, perjuangan kalian juga tak kalah mengasyikkannya.

Fase: Pasca Graduation (October)

Sebenarnya, graduation adalah moment yang tidak terlalu mewah, menurut saya. Bukan moment terbesar, ya, tapi memang patut dirayakan karena ibaratnya telah menamatkan salah satu fase hidup. Kuliah 4 tahun di bawah bendera teknik, lumayan berat juga, Vroh.

Saat fase ini, saya memang sudah dalam posisi jobseeker. Dalam artian, saya memang telah menaruh lamaran di beberapa perusahaan yang menurut saya "MasyaAllah". Tahap tes juga pernah saya alami, namun kuasa Allah belum menempatkan saya di posisi tersebut.

Note: Biasanya, mahasiswa semester akhir memang diperbolehkan menaruh lamaran dengan menyertakan surat keterangan sedang mengerjakan tugas akhir. Atau jika sudah keluar Surat Keterangan Lulus (SKL), bisa pula menggunakan surat tersebut. Jadi, mencari pekerjaan sebelum wisuda pun, sangat disarankan. 

Pasca wisuda, yang namanya 'jetlag' benar-benar terasa. Dari yang dulunya mahasiswa dengan segudang tugas dan kegiatan, kini menjadi manusia persiapan menjadi ibu rumah tangga -read: mengerjakan pekerjaan rumah saja.

Fase: 1 Bulan Pasca Graduation (November)

Satu bulan pasca graduation, yang namanya kebosanan karena minimnya aktivitas, benar adanya. Setiap hari, yang saya lakukan lebih sering membuka sosial media, email, telegram, line, dan beberapa situs pencari kerja. Berharap ada kabar baik, yang akan turun dari langit. Terasa sedikit membosankan, memang.

Dibilang menganggur, tidak juga, sih. Saya dulu (agak) aktif menulis di salah satu website teknologi dan seringkali mengisi waktu dengan bikin vector art. Setidaknya, ada hal produktif yang saya lakukan selama masa penantian tersebut. Haha.

Sesekali, saya juga ke tanah perantauan untuk tes kerja ataupun mengikuti job fair. Ini masa dimana saya seringkali berkata "Ah, coba saja trabas jurusan, kali aja bisa." Ya, di fase ini. Walaupun, saya tetap tebang pilih untuk pemilihan tempat kerja :).

Oh, ya, salah satu teman saya pernah memberi saran pada saya bahwa setiap pencari kerja memang diharuskan memiliki kriteria pekerjaan ideal menurutnya. Memiliki standart, tidak ada salahnya. Memang diperbolehkan untuk keukeuh, nanti akan adakalanya, diharuskan melunak. Saya saat itu, berada di fase "masih ingin keukeuh".

Note: Biasanya juga, beberapa jurusan, terutama teknik, saya dan teman-teman seringkali terabas jurusan, misal lulusan Jurusan Teknik Komputer yang coba melamar di bidang Jurusan Informatika. Semacam, 'barangkali aja lolos'. Memang ada yang berhasil lolos hingga tahap akhir, tapi ada juga yang tahap administrasi pun belum rejeki.

Fase: 2 Bulan Pasca Graduation (December)

Saya mulai bimbang dengan keteguhan hati saya dalam memilih lapangan pekerjaan. Kebosanan mulai merayap di berbagai relung kegelisahan. Di bulan ini, saya tidak hanya satu kali keluar dari tanah perantauan untuk mengikuti tes kerja. Saya sangat bersyukur bahwa keluarga saya mendukung setiap pilihan saya. Walaupun, saya tahu, sebenarnya beliau juga tak kalah cemasnya dengan saya yang masih berjuang.

Orang tua memang sahabat terbaik dalam hidup. Ini memang benar sekali! Saya percaya, tak ada perjuangan yang tak ada maknanya jika saya niatkan untuk membahagiakan beliau.

Di entah fase ke berapa, saya juga merasa hubungan saya dan orang tua semakin intens, loh. Kami jadi sering berlibur bersama, sekedar melepas penat. Piknik. Atau apapun. Itu mengapa, alasan menjadikan orang tua sebagai motivasi hidup adalah alasan yang paling mujarab untuk tidak cepat mengeluh dan menyerah.

Fase: 3 Bulan Pasca Graduation (January)

Ini, nih, yang namanya kebosanan, rasanya sudah di ujung ubun-ubun. Kebosanan menunggu yang lebih menjemukan ketimbang menunggu pacar datang membawakan hadiah. Eh, skip!

Di fase ini, saya mulai bisa menilai, mana-mana orang yang memang ingin tetap menjaga silahturahmi. Mana yang tiba-tiba hilang. Mana yang tiba-tiba jadi beda. Dan dari semuanya, yang tak akan pernah hilang memang orang tua. Haha.

Saya memiliki beberapa saudara di tanah rantau yang hampir tiap minggunya, kami selalu bertatap muka melalui video call. Dari pasca wisuda, kami memang berkomitmen, untuk setidaknya menyambung tali silahturahmi melalui voice or video call group. Dan seringkali, kami melebihi 'komitmen' kami. Haha. Ya, kalau kangen, langsung telpon group aja, gitu. Btw, kami masih sering meet up juga 😍.

Mereka juga yang seringkali menguatkan saya karena kami sama-sama berjuang. Salah satu di antara kami, memang telah bekerja dan persiapan keberangkatan ke luar negeri. Sahabat ter-entah-lah yang pernah ada! Salah satu di antara kami, bersamanya pula. Mereka dalam bendera yang sama dan dia yang kedua ini baru saja menyelesaikan amanahnya sebagai mahasiswa. Yeay! Can't wait your graduation, Vroh!

Juga, saudara lainnya, yang kami seringkali bertemu hanya untuk makan bersama atau cuap-cuap masalah kerjaan atau minta tebengan ke terminal 😂. Memang, sih, kalau mahasiswa di tanah rantau, biasanya cenderung punya saudara banyak. Hehe. Senasib seperjuangan, gitu.

Note: Perkuat silahturahmi. Kamu, akan tahu mana saudaramu sebenarnya saat kamu sedang dalam masa berjuang. Mereka yang pergi, doain saja, jangan diumpatin. Kamu akan menemukan yang benar-benar memperjuangkan persaudaraan kalian 😎.

Fase: 4 Bulan Pasca Graduation (February)

Fase yang saya rasa, Allah benar-benar memberi kemudahan bagi saya. Beberapa tahap tes yang saya lalui di bulan Januari, mendapatkan jawaban. Alhamdulillah, sampai saat ini, saya berada dalam pekerjaan yang inshaAllah saya dan orang tua saya syukuri.

*Saya juga mulai membuka hati buat perkenalan baru dengan lawan jenis. Yang 'sana' udah punya yang baru juga, sih. Semoga pertemanan saya dengan yang sekarang, berjalan lancar tanpa kendala.💕

Perjalanan mencari kos pun terasa sangat dipermudah. Saya mendapatkan keluarga baru di sini. Ibu dan Bapak kos yang alhamdulillah juga dekat dengan Allah. Eh, sedikit cerita, sih. Dulu, waktu pencarian kos juga tidak langsung bertemu dengan kos yang sekarang mashaAllah enaknya. Haha.

Selama 2x survey, saya memang memusatkan pencarian di sekitar kantor dan diusahakan tidak melewati jalan besar. Dalam pencarian itupun, saya sempat menemukan yang murah, tapi sedikit kurang pencahayaan; bagus, murah, deket masjid, sayangnya campur dengan pria; bagus, murah, khusus putri, sayangnya pemiliknya taat agama (yang kebetulan beda agama); bagus, bersih, khusus putri, eh sayangnya mahal.

Yah, intinya, mencari kos ini memang hal yang susah-susah mudah. Saya sebenarnya mencari yang khusus putri, harga terjangkau, ventilasi ok (ventilasi hal yang utama), dan agama pemilik kos juga jadi pertimbangan. Bukan rasis, tapi saya suka sungkan kalau mau membaca Al-Quran dalam lingkungan beda agama :").

Dan survey kedua, sudah mulai give up mendapatkan kos yang sesuai kriteria. Ingat betul, saya saat itu di ambang "Ah, sudahlah, cari saja lain kali". Hingga akhirnya adzan Ashar menuntun saya untuk menuju masjid yang berada di sekitar tempat saya berkendara. Entah dari mana kuasa Allah datang, setelah sholat ashar, saya menuju kos saya yang sekarang. Notabenenya memang lebih jauh dari lokasi pencarian saya sebelumnya. Tapi, mashaAllah benar-benar sesuai yang saya inginkan. Haha.

Jadi, dari semua fase dalam perjuangan mencari rejeki keduniawian ini, saya sarankan, perbanyak sedekah dan terus tingkatkan keimanan pada Sang Pencipta. Sejatinya, memang rejeki sudah ada yang mengatur dan akan datang pada saat yang tepat. Jangan menyerah, tetap berjuang dan percaya bahwa semakin dekat dengan Sang Pemilik Segalanya, semakin dekat pula Ia padamu.

Dan memiliki standar tersendiri dalam mencari lapangan pekerjaan, bukanlah hal yang sepenuhnya salah, loh! Saya menyarankan, untuk tetap memiliki standar awal, terlebih dahulu. Pernah baca, sih, "Karir pertama akan menentukan karir Anda selanjutnya". Entah itu benar atau tidak, karena saya masih belum lama dalam dunia perkariran 😜.

Well, saya dulu juga pernah, kok, dalam tahap, "Duh, yang lain udah dapat pekerjaan" dan saya pernah pula berada dalam, "Alhamdulillah, saya tidak mengambil pekerjan tersebut".

Ya, gitu itu, hidup. Kadang asem, kadang manis. Asyikin aja, ya. Jangan banyak mengeluhnya, perdekat komunikasinya dengan Yang Maha Esa. Masak iya, komunikasi kamu dengan doi aja yang dibanyakin. Eh, skip!

Selamat berjuang, bagi kalian yang sedang berjuang!
Jogja di hari ketiga.

Assalamu'alaikum.

Masih di hari yang sama dengan perjalanan ke hutan pinus Imogiri, kami menuju Puncak Kebun Buah Mangunan. Kalau dari Google Maps, jarak antara kedua tempat tersebut sekitar 5,7 km dengan waktu tempuh kurang lebih 15 menit.

Buahnya Mana, sih, Mbak?

Begitu sampai di kawasan itu, saya penasaran mengapa dinamakan kebun buah Mangunan, tapi sama sekali tak terlihat buahnya. Dua di antara kami berenam pernah ke tempat ini sebelumnya. Mereka mengatakan, sebenarnya, memang tak terdapat buah yang terlihat secara kasat mata. Nama "kebun buah" dimaksudkan karena pohon yang ditaman di kawasan tersebut adalah pohon-pohon yang menghasilkan buah. Hm, oke.

Pertama kali datang, kami berhenti di semacam pos masuk dimana dulunya teman saya memarkirkan sepeda motor di sana dan melanjutkan dengan berjalan kaki ke kebunnya. E, ndelalah, baru saja mau parkir, beberapa pengendara sepeda motor tampak terus melanjutkan perjalanan hingga ke puncak kebun. Jadilah, kami mengikuti mereka. 😖

Santailah Sejenak di Gazebo dan Pandang Hijaunya!

Tiba di puncak kebun buah, kami diharuskan memarkirkan sepeda motor dan berjalan ke kawasan yang memang dikelola untuk wisata. Untung saja, kami tidak memarkirkan motor di pos pertama tadi, lumayan juauh pol jika benar harus berjalan hingga puncak kebun.

Kami berhenti sejenak di "pintu masuk" puncak kebun buah Mangunan. Terdapat beberapa gazebo, deretan warung kecil, penjual pentol bakar, dan gardu pandang yang terletak di atas pohon. Kami pun memilih melepas dahaga sejenak di gazebo dengan sebungkus pentol bakar dan sebungkus es degan. Di bawah ini adalah apa yang kami dapat dokumentasikan di sekitar tempat kami beristirahat 😃.
Kebun Buah Mangunan - nenghepi.com
Gazebo, Tempat Kami Beristirahat
Ini Kebun Buah Mangunan Jogja, Mana Buahnya, to?
Ketauan Istri Sah (?) Lol
Puncak Kebun Buah Mangunan - nenghepi.com

Jalan Lagi, Bro, Masih Agak Jauh!

Setelah beristirahat, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi wisata utamanya. Lumayan jauh, sih, dan tidak terlalu berat karena jalanan yang menurun. Tapi, jangan tanya bagaimana kembalinya, ya. Bagi saya yang jarang berolahraga, beneran capek. Eits, semuanya bakal kebayar, kok, dengan pemandangan segar yang bisa kamu lihat ketika tiba di lokasi utama. 💕
Puncak Kebun Buah Mangunan - nenghepi.com
Hijau yang Terlihat ketika Tiba di Lokasi Utama
Puncak Kebun Buah Mangunan - nenghepi.com
Biar Dikata Kaki Hitz
Puncak Kebun Buah Mangunan - nenghepi.com
Sendirian Aja, Mbak?
Over all, perjalanan terakhir di liburan Jogja usai sudah dan ditutup dengan hamdalah. Haha. Untuk sementara ini, Jogja masih belum membuat saya bosan. Rasanya, masih banyak yang bisa saya kunjungi dan bisa jadi dengan kawan perjalanan lainnya. Kamu, gimana, sudah bosan dengan daerahmu sekarang, belum? 😚

Jogjakarta, 18 Desember 2016
Jogja di hari ketiga.

Assalamu'alaikum.

"Ppy, besok Minggu mau ikut ke hutan pinus, po?"

Ajakan menggiurkan yang langsung saya iyakan untuk menghabiskan liburan tipis-tipis saya di Jogja. Singkat cerita, Mail adalah sahabat saya yang menempuh pendidikan di Jogja dan membagi kamarnya untuk saya dalam beberapa hari itu. Ya, dia dan beberapa temannya berencana untuk mengunjungi hutan pinus di daerah Bantul.

"Loh, emang motornya ada yang kosong, po, Mal?"

"Ada satu. Kemarin ada yang tiba-tiba gak jadi ikut, gitu."

Wah. Rejeki Tuhan mana lagi, lah, ya, yang dapat saya dustakan. Bertepatan sekali ketika saya sedang di Jogja, bertepatan sekali mereka sedang ingin berlibur, dan bertepatan dengan pengunduran diri seorang kawan mereka.😋

Jalan Berliuk ke Hutan Pinus Imogiri Mangunan

Perjalanan dari Jl. Kaliurang 5.3 KM dimulai sekitar pukul 07.30 WIB. Kami berenam berangkat dengan 3 sepeda motor menuju arah hutan pinus yang berjarak sekitar 30 km. Perjalanan yang cukup panjang (kurang lebih 1 jam) dan lumayan berliku ketika mendekati lokasi tujuan.

Setelah Googling, sebenarnya hutan pinus ini secara administrasi tidak termasuk kawasan Imogiri. Penamaan Hutan Pinus Imogiri dikarenakan lokasi ini searah dengan situs makam Raja-Raja Imogiri. Penyebab yang membuat masyarakat setempat ataupun pelancong luar Jogja sering salah menyebut. Sejatinya, hutan ini bernama Hutan Pinus Mangunan yang merupakan kawasan RPH (Resort Pengelolaan Hutan) Mangunan dan banyak ditumbuhi tanaman pinus merkusii.[1]
Nikmati Ketenangan di Hutan Pinus Imogiri, Jogja
Pintu Masuk Hutan Pinus
Hutan Pinus Imogiri, Jogja
Laba-Laba pun Menyapa
Hutan Pinus Imogiri, Jogja
Deretan Bunga Cantik di Dekat Pintu Masuk
Di mata saya, hutan pinus Imogiri sama dengan hutan pinus pada umumnya. Sejuk, rimbun, dan banyak didatangi orang untuk sekedar berfoto ria ataupun untuk dinikmati saja. Dari segi fasilitas, wisata ini terbilang cukup lengkap seperti gardu pandang, panggung pertunjukan yang menyatu dengan alam, kamar mandi umum, mushola dan warung-warung sederhana pun telah di bangun di kawasan wisata ini, ataupun hammock untuk berayunan di bawah rerimbunan.

Bahkan, kabarnya ada sumber mata air Bengkung yang konon merupakan lokasi pertapaan Sultan Agung Hanyakrakusuma pun menarik para peziarah untuk datang berkunjung. Namun, saya tidak menemukan sumber mata air tersebut. Haha.
Hutan Pinus Imogiri, Jogja

Pernah ke Hutan Pinus Sebelumnya? Yakin di sini Bakal Sama Aja?

Sebelumnya saya pernah mengunjungi hutan pinus Gunung Pancar, Bogor, Jawa Barat. Menurut saya, tetap terdapat perbedaan di antara kedua hutan pinus tersebut. Jika di Gunung Pancar, pada beberapa tempat terdapat batu-batu besar yang cenderung berlumut dan menjadi salah satu spot untuk berfoto, serta topografinya cenderung datar.

Sedangkan. di Imogiri, tidak terlalu banyak batu besar berlumut, hanya banyak kursi dadakan yang dibuat dari batang kayu dan gardu pandang yang membuat pengunjung dapat melihat lebih lepas Jogja di ketinggian. Gardu pandang ini sering pula menjadi tempat berfoto karena Instagram-able, lah, ya, hanya agak backlight aja. Haha.
Hutan Pinus Imogiri, Jogja
Hutan Pinus Imogiri, Jogja
Apa yang Terlihat dari Gardu Pandang
Hutan Pinus Imogiri, Jogja
Bentangan Jogja dari Gardu Pandang

Ada yang Pernah ke Sekolah Hutan? Saya belum, nih.

Selain fasilitas-fasilitas yang saya sebutkan sebelumnya, juga terdapat Sekolah Hutan. Kami sangat ingin ke sana, meskipun berbayar pun tak apa. Sayang, saat itu Sekolah Hutan sedang di booking untuk suatu acara dan membuat kami tak dapat masuk. Sedihnya.
Sekolah Hutan - Hutan Pinus Imogiri, Jogja
Pintu Masuk Sekolah Hutan
Hei, walaupun ramai, tempat ini tetap cocok kok untuk dinikmati bersama keluarga atau kekasih. Romantis dan menenangkan juga. Bersantai di tempat yang nyaman dan bersih, ditemani dengan cemilan ice cream kuburan yang dijual di salah satu outlet, mungkin bisa jadi pilihanmu untuk liburan mendatang. Jadi, kapan kamu ke sini? 😁

Hutan Pinus Imogiri, Jogja
Mail si Gadis Berkerudung
Jogjakarta, 18 Desember 2016

***
Reference:
[1] https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/nature-and-outdoor/mangunan-pine-forest/
Jogja di hari kedua.

Assalamu'alaikum.

Selain mengunjungi planetarium, di Taman Pintar, saya juga memilih untuk memasuki gedung utamanya. Pengunjung dewasa diharuskan membayar sebesar Rp 15.000,00 untuk memasuki ketiga gedung utama tersebut. Banyak sekali wahana yang dapat dinikmati baik bagi pengunjung dewasa ataupun anak-anak.

Saya sendiri baru sadar pembagian gedung-gedung tersebut saat menuliskan artikel ini. Dari dalam, ketiga gedung terhubung dan tak bersekat. Walaupun sebenarnya terasa perbedaan konsepnya, sih. Jadi, yuk, lihat wahana apa saja yang ada di gedung utama Taman Pintar.

A. Wahana di Gedung Kotak

Gedung ini terdiri atas 3 (tiga) lantai yang fungsinya berbeda satu sama lain. Ketiga lantai tersebut antara lain:

Lantai 1: berisi saran dan prasarana pelengkap bagi pengunjung yang terdiri atas:
  • Exhibition Hall
  • Ruang Audio Visual
  • Radio Anak Jogja
  • Food Court
  • Souvenir Counter
  • Amusement Center

Lantai 2: terdiri atas berbagai fasilitas untuk mempelajari materi dasar yang terkait dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Beberapa zona yang disediakan antara lain:
  • Zona pengolahan minyak dan gas bumi
  • Zona agro
  • Zona air untuk kehidupan
  • Zona warisan leluhur
  • Zona teknologi pengolahan susu
  • Zona teknologi informasi dan komunikasi
  • Zona teknologi otomotif roda dua

Lantai 3: menjadi zona kreativitas dan berisi:
  • Wahana Animasi
  • Zona Science and Technology
  • Theater 4 Dimensi 

Liburan sambil Belajar di Wahana Gedung Utama Taman Pintar
Zona Science and Technology
Gedung Kotak Taman Pintar Jogja
Gedung Kotak Taman Pintar Jogja
Galeri Kota Pusaka
Gedung Kotak Taman Pintar Jogja

B. Wahana di Gedung Oval

Lantai 1: zona untuk pengenalan lingkungan dan eksibisi ilmu pengetahuan. Adapun beberapa wahana yang disediakan antara lain:
  • Aquarium air tawar
  • Dome Area
  • Kehidupan Prasejarah
  • Titian Sains
  • Harmoni Alam
  • Sistem Tata Surya

Lantai 2: zona untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun beberapa wahana yang ada antara lain:
  • Zona Ilmu Bumi
  • TV Cube
  • Zona Teknologi Konstruksi
  • Zona Teknologi Mesin dan Energi
  • Zona Teknologi Telekomunikasi
  • Zona Nuklir
  • Zona Kelistrikan
  • Zona Teknologi Komputer

Gedung Oval Taman Pintar Jogja
Aquarium Air Tawar
Gedung Oval Taman Pintar Jogja
Liburan sambil Belajar di Wahana Gedung Utama Taman Pintar
Dome Area

C. Wahana di Gedung Memorabilia

Gedung ini berisi dokumen dan foto-foto yang berkaitan dengan sejarah antara lain:
  • Sejarah kesultanan Yogyakarta
  • Sejarah tokoh pendidikan nasional
  • Sejarah presiden R.I.

Gedung Memorabilia Taman Pintar Jogja

Well, Taman Pintar adalah salah satu tempat yang saya rekomendasikan untuk liburan keluarga. Oh, ya, maaf jika penempatan gambar di artikel ini terjadi kesalahan karena saya kurang ngeh tentang pembagian gedungnya. Kamu, sudah ke mana aja, nih, di daerah Jogja?

Jogjakarta, 17 Desember 2016

Copas information from this article: Taman Pintar Yogyakarta