Berjalan-jalan di daerah Mojokerto, memang rasanya seperti escape from jungle. Dari Surabaya yang begitu padatnya, ke daerah yang lancar sentosa dari segi jalannya. Selain terkenal dengan warisan budayanya, ternyata Mojokerto juga memiliki wisata alam yang worth it menjadi tujuan escape!

Kali ini, yang saya ingin bahas adalah daerah Cangar, Pacet, dan Claket. Tiga daerah yang berdekatan dan memiliki pesona yang berbeda. Sebenarnya ada juga daerah Trawas, tapi hanya terlewati saja. For your information, kenapa masyarakat Surabaya sekitarnya suka escape ke Mojokerto adalah karena daerahnya dingin dan banyak wisata alam ataupun budayanya.

Apa yang bisa kamu dapatkan di daerah Cangar, Pacet, dan Claket?👀

Pertama, nuansa pegunungan dan hutan yang begitu lebat.

Ini beneran bisa dinikmati sepanjang perjalanan. Hutan di Mojokerto, khususnya di daerah tersebut masih sangat terjaga. Bahkan, jika ke sana saat cuaca cerah, kamu bisa melihat banyaknya monyet berkeliaran di jalanan.

Pemandangan terasiring yang tentu tidak ditemukan di daerah Surabaya dan sekitarnya, di sini bisa dinikmati secara gratis. Ditambah, udaranya yang tak terlalu panas dan sedikitnya polusi udara. Oh, polusi suara juga tidak sebanyak di Surabaya, sih.

Kedua, banyak sekali tujuan wisata alam.

Ya, menikmati tiga daerah tersebut tidak akan cukup jika hanya satu hari saja. Karena lokasi wisata alam yanng cukup jauh jika ditempuh dengan kendaraan pribadi. Untungnya, jalanan juga tidak macet. Jadi, yah, lumayan bisa menikmati jauhnya jarak tempuh tanpa adanya keluhan macet dan asap kendaraan.

Over all, ketiga daerah ini lebih menonjolkan wisata perkebunan dan persawahan. Jadi, secara umum, pemandangannya hampir serupa. Hanya berbeda dari point view aja.

1. Perkebunan dan Jembatan "Instagramable" di Cangar

Untuk sehari saja, yang tidak membutuhkan pengeluaran untuk HTM, di daerah Cangar, kamu bisa mengunjungi daerah persawahan. Pemandangan di cuaca cerah dan ketika berkabut pun, menurut saya sama indahnya. Fyi, di daerah Cangar sangat mudah sekali berkabut. Jadi, usahakan membawa jaket.

Usir Suntuk di Wisata Alam Mojokerto? Bisa! - nenghepi.com
Perkebunan di Cangar
Di jalananan dari Pacet menuju Cangar, ada jembatan yang banyak sekali saya lihat di Instagram. Yah, Instragamable, memang. Selain sepi, jembatan ini juga terkesan unik. Jika kamu bisa mengambil angle yang tepat, kamu bisa mendapatkan foto ala-ala tumblr folk gitu.

Usir Suntuk di Wisata Alam Mojokerto? Bisa! - nenghepi.com
Jembatan 'Hits' Cangar

2. Paket Wisata Padusan : Pacet Hills, Pemandian Air Panas, atau Cuma Nongkrong?

Untuk yang berbayar, di daerah Pacet ada pemandian air panas, Pacet Hills, dan Pemakaman Sunan Pangkat. Bayar HTM setara sih sama yang didapat. Pacet Hills ini indah bener kalau ke sananya ketika malam, semacam Paralayang di daerah Malang. Pancaran lampu Mojokerto di bawah gunung, dapat terlihat jelas di Pacet Hills.

Untuk masuk ke area tersebut, pengunjung harus masuk dulu melalui pintu gerbang 'paket wisata'. Kenapa saya bilang 'paket wisata'? Karena sekali masuk gerbang tersebut, pengunjung bisa memilih untuk sekedar nongkrong di warung, pemandian air panas, Pacet Hills, atau wisata lainnya.

HTM per orang adalah Rp 15,000,- dan pengunjung harus membayar lagi untuk memasuki objek wisata yang diinginkan. Karena saya mengunjungi pemandian air panas pada malam tahun baru, suasana malam di sana begitu ramai pengunjung.

Pengen berendam di pemandian air panas? Kuy!
Pemandian air panas di Pacet tersedia di kamar mandi umum. Berbeda dengan kesan yang saya bayangkan. Jadi, pengnjung layaknya menyewa kamar mandi dengan dua pilihan air: panas dan dingin. Lumayan bersih dan tertutup. Jadi, jangan dibayangkan mandi seperti di onshen je-Jepang-an. Haha.

Tapi, jika pengunjung ingin berendam di kolam, juga tersedia. Ada banyak pilihan lokasi. Salah satunya, yang saya datangi diharuskan membayar HTM Rp 10,000,-. Mungkin, harga di kolam lain juga hampir sama. Oh, sekali lagi, jangan dibayarngkan seperti di Jepang. Di sini cukup ramai dan masih berpakaian sopan, kok. Haha.

Usir Suntuk di Wisata Alam Mojokerto? Bisa! - nenghepi.com
Kolam Pemandian Air Panas Padusan

Hanya sekedar nongkrong di warung? Bisa!
Di area tersebut, pengunjung juga bisa memilih bersantai di deretan warung yang buka hingga larut malam. Mulai dari jagung bakar, ikan bakar, ataupun sekedar angkringan sudah tersedia lengkap. Juga jika ingin sekedar membeli buah dan sayuran pun tersedia di area tersebut.


atau Liatin Mojokerto dari puncak Pacet Hills...

Berkendara lebih jauh lagi, pengunjung bisa ke Pacet Hills. Tempat saya dan pasangan, serta dua teman kami menghabiskan malam tahun baru. Terlihat jelas sekali pancaran lampu di bawah. Kami memang berada di ketinggian, cuy!

Btw, sebenernya ada air terjun juga, tapi saya belum ke sana. Jadi, ya gimana ya kalau mau ceritanya~

3. Pemakaman Sunan Pangkat

Usir Suntuk di Wisata Alam Mojokerto? Bisa! - nenghepi.com
Tangga menuju Pemakaman Sunan Pangkat
Sunan Pangkat atau disebut juga Sunan Krapyak adalah julukan dari Ki Danurejo. Beliau merupakan seorang tumenggung dari kerajaan Mataram yang ditugaskan menyebarkan agama Islam di wilayah sekitar pegunungan Welirang. - sumber : disparpora.mojokertokab.go.id

Letak pemakamannya masih di desa Padusan, Kecamatan Pacet dan  berada di puncak bukit. Pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga atau lebih untuk ke tujuan utama. Kata pasangan saya, di puncak bukitnya, ada lokasi perkemahan. Sayangnya, saya sudah tak sanggup ke puncak, terlalu lelah dengan lemak. Haha. 

3. Claket Adventure Park

Nah, ini kemarin banget, sih, kami berdua ke sana. HTM-nya Rp 15,000 per orang. Wahana yang ada di sana lumayan banyak dengan penamaan yang memang anak muda banget. Seperti "Lembah Jomblo", "Zona Anti Baper", "Bandulan Hits", dll.


Usir Suntuk di Wisata Alam Mojokerto? Bisa!
Point View di Claket Adventure Park
Sayangnya, Rp 15,000 tersebut belum include dengan wahana-wahana tersebut. Dalam artian, jika hanya ingin menikmati keindahan Mojokerto dengan duduk santai di gazebo, sih, it's okay. Tapi jika kamu ingin merasakan wahana yang ada, kamu harus merogoh kocek kembali.

Dalam artian, jika kamu ingin berfoto yang instragamable, inilah tempatnya. Oh, ya, setiap pengunjung yang membawa DSLR, juga dikenakan biaya tambahan. Atau jika ingin pre wedding, juga dikenakan biaya Rp 500,000.

Over all, masih tetap worth it, sih. Buktinya, saya ke sana hanya untuk berduduk santai dan menurut saya tetap memuaskan. Haha.
❤❤❤

Kesimpulannya....

Nah, itu tadi ulasan 3 daerah di Mojokerto yang menurut saya bisa kamu masukkan dalam daftar perjalanan singkat kamu. Escape from 'jungle' menuju jungle yang lebih mengasyikkan ditambah low budget, saya rasa terdengar sangat mengasyikkan.

Jadi, kalau next time ada waktu libur lagi, mungkin saya memilih ke Mojokerto dibanding ke Malang. Dengan pertimbangan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh dan cuaca yang ternyata lebih dingin dibandingkan Malang. Oh, ya, tapi di sini jarang ada pantai, sih, lebih ke wisata pegunungan.

Pst, sebelum ini saya juga pernah menuliskan untuk wisata budayanya di sini.



Salam hangat,



dari Surabaya  

❤❤❤
Sekitar bulan Oktober 2016, saya berkesempatan merasakan bekerja dalam tim start up berbasis teknologi. Bukan sebagai tim inti start up, memang, tapi saya memegang menjadi content writer di website-nya. Tapi, tampaknya bidang start up yang mereka bangun, menurut saya benar-benar mengagumkan. Di sini, saya ingin share bagaimana hidup bersama mereka.

Ion Smart

Seberapa menariknya bekerja dengan Start Up, sih?

Menarik sekali! Selama di lingkungan mereka, saya merasa begitu excited. Hampir setiap hari obrolan mereka seputar teknologi terbaru, evaluasi start up, ataupun menjalankan bisnis. Tapi, tidak sekaku kedengarannya, obrolan mereka masih sering seputar game, anime, atau bahkan hanya motivasi. Haha.

Sebagai content writer, "pimpinan" saya seringkali mengajak saya mengobrol tentang teknologi baru. Banyak tips-tips baru yang saya dapatkan dari beliau. Sebut saja namanya, Viqi Firdausi. Hei, Viq, kalau baca, traktir sego jamur! Haha. Saya dan Viqi ini adalah teman seangkatan. Cuma beda jalur kegemaran. Jadi, maaf kalau saya menggunakan kata ganti "dia" :v

Ok, skip then.

Pentingnya Start Up...

Sejauh ini, saya merasakan munculnya start up berdampak positif. Seperti gojek, alibaba, ataupun yang dibangun oleh Viqi. Kenapa penting, karena memang kemunculan mereka berdasarkan permasalahan yang ada di masyarakat. Gojek muncul karena mempermudah memesan ojek dan adanya tracking maps tentu lebih aman untuk customer wanita.

Start up yang dibangun oleh Viqi ini bernama Smart Ion. Bergerak di bidang smart home yang memudahkan pemiliknya untuk mengontrol aktivitas listrik menggunakan Android. Dari segi harga, untuk sementara ini memang terbilang mahal. Tapi, menurut saya, di masa yang mendatang, teknologi ini akan digandrungi. Layaknya teknologi ojek online sekarang. Tapi, untuk detail dari bagaimana cara kerja dari Smart Ion ini, silakan kunjungi website mereka.

Smart Ion ini dari segi urgensitas bisa terbilang cukup urgent. Terutama bagi masarakat yang mudah lupa ataupun ingin pengecekan. Contoh kecilnya, ke diri saya sendiri. Saya adalah orang yang mudah lupa ataupun untuk memastikan suatu hal, saya seringkali mengecek lebih dari sekali. Dengan adanya teknologi ini, saya bisa, tuh, mengecek listrik dari Android ataupun menghidupkan lampu teras, walaupun saya tidak berada di rumah. Cukup membantu!

Kendala yang Dihadapi para Pendiri Start Up

Sebagai orang awam atau di luar lingkaran start up itu sendiri, kendala yang saya rasakan adalah dari segi pemodalan ataupun dari segi pemasaran. Beruntungnya, Viqi dkk mendapatkan sokongan dana dari DIKTI. Eh, sebenernya bukan keberuntungan, sih, tapi memang dari kerja keras mereka, rasanya patut untuk mendapat hadiah itu.

Terkait untuk pemasaran, menurut Viqi, website yang dulu pernah menaungi saya, adalah salah satu cara untuk memasarkan. Ditambah adanya sosial media lain, seperti facebook, twitter, dan juga instagram. Dari mereka, saya juga belajar banyak dari bagaimana aktif di sosmed. Tentu saja, yang mereka menggunakan sejumlah coding untuk mengunggah artikel mereka di sosmed. Sayangnya, saya kurang begitu berminat bermain sosmed. Haha.

Pengalaman Kerja Pertama...

Bekerja sebagai freelancer as content writer menurut saya cukup menyenangkan. Walaupun, ternyata masih lebih menyenangkan menulis di blog pribadi. Tentu saja, menulis dengan target dan bukan dengan topik yang jarang ditulis, lebih membutuhkan effort lebih. Tapi, hidup bukan hanya di comfort zone dan saya membutuhkan pengalaman. Pengalaman gaji pertama memang adalah yang ditunggu-tunggu dan begitulah saya saat itu! Saya bukan lagi mahasiswa aktif, yah, sedang menunggu hari wisuda, sih. Jadi, saya meminjam nomer rekening saudara saya untuk mendapatkan gaji itu. Mohon jangan bertanya nominal, ya. Haha.

Sejujuran, jika saya membandingkan diri saya dengan rekan sekelas, saya termasuk yang agak terlambat untuk mendapatkan job. Saya memiliki beberapa parameter yang saya impikan dan saya perjuangkan untuk dicapai. Jadi, yah, wallahu alam dan alhamdulillah sekarang di lahan yang saya (bersama orang tua) impikan ^ ^

The conclusion is bekerja di start up bisa jadi salah satu pilihan untuk mendapatkan pengalaman dan pembelajaran baru. Menyenangkan bila bekerja sesuai passion. Yah, begitulah. Mungkin, jika kamu masih meragukan untuk bekerja di salah satu start up Indonesia, boleh dipertimbangkan. Untuk income, setiap start up berbeda kebijakan, jadi untuk hal ini rasanya terlalu sensitif untuk dibahas.


Salam hangat.


Surabaya


Sumber pic: https://ionsmart.co/#features-1
.
My Sweet Seventeen (?)
My Sweet Seventeen (?)
Sebenarnya, tulisan ini akan ditulis tepat di hari berkurangnya usia. Kemarin, 22 Desember 2017. Tapi, karena satu dan lain hal, akhirnya membuat saya hanya merebahkan badan di kasur semalaman.

Ada beberapa yang ingin saya kenang di amazing 20-sekian kemarin. Semoga memberi pelajaran tentang hidup. Lagi, kenapa judulnya "Sweet Seventeen"? Lebih karena saya feel like reborn gitu, loh. Masa dimana saya memulai kehidupan baru. Haha. Oke, then, let's start it.

1. Keluarga masih di atas segalanya

Menjadi anak perantauan lebih dari 4 tahun yang pulang dua minggu sekali, saya merasa masih saja merindukan rumah. Ah, saya ingin mendeskripsikan panjang lebar, tapi saya tak ingin merintikkan air mata. Intinya, kemanapun anak akan berjalan, doa orang tua adalah segalanya.

Masih ingat, ketika di wawancara, Ayah berpesan, "Ingat, Yasin ayat 82. Percaya saja, kun fayakun, Nduk."

Adem bener rasanya. Walaupun jarang bertemu, yang terpenting adalah komunikasi tetap lancar. Yang selalu bikin saya terharu, setiap kedatangan dan kepergian saya di terminal, selalu ada lambaian tangan mereka. Selalu dari dulu, hingga usia saya yang sekarang.

2. Ladang rejeki pertama

Ini semacam titik pertama saya dalam belajar benar-benar mandiri. Dari mulai mencari ladang rejeki, wawancara, cari kosan, dan lain-lain. Alhamdulillah, puji syukur di temukan dengan orang-orang baik nan bersahaja yang akhirnya dimudahkan segala-galanya.

Inget banget, dalam perjalanan pulang tes kerja diguyur hujan dan sampai kosan yang lama, CV sudah luntur. Sampai sekarang, dokumen CV dan lain-lainnya yang terguyur hujan di hari itu, masih saya simpan untuk pengingat perjuangan di masa itu. Haha.

Di hari wawancara user, dengan full Inggris, sempet down tidak diterima karena ekspresi pewawancara yang memang sedikit jutek. Nangis di toilet pun pernah saya lakukan. Pertama kenal dengan orang yang sekarang udah jadi temen deket, panggil aja Icak. Si cewek asal Lampung yang dulu terlihat begitu kalem.

Di hari pertama kerja, sempet bimbang karena ternyata diharuskan berkerudung ikat. Dengan posisi saya memang kurang percaya diri untuk mengikat kerudung di atas payudara. Yah, begitulah.~

Well, jika dihitung-hitung, dari bulan Maret 2017, ini adalah bulan ke 9 saya bekerja di sini. Karena terlalu nyaman dengan lingkungan dan income-nya, saya jadi terjebak di zona nyaman.~

Pst, sebelumnya saya pernah bekerja sebagai freelancer di startup. Next time akan saya tulis, sih. Sekilas juga pernah saya tulis curhatan ini di sini.

3. Bekenalan dengan Pria sekarang

Sekarang saya dekat dengan pria yang bener memiliki latar belakang sangat berbeda. Kami bertemu di warung lesahan yang lumayan cozy dan terletak di seberang rel kereta. Saya bersama Zia saat itu, dia bersama kawannya.

Cerita dari versi dia, baru saya tahu belakangan ini. Pertama, saya ceritakan dulu dari versi saya. Jujur, saya bercerita ini pun dengan tersenyum-senyum. Let's start from my version.


❤❤❤

Dia di mata saya....
Saya adalah ambivert, yang terlalu takutnya dengan pria-pria berbadan tegap, tinggi, dan besar. Saya duduk berdua dengan Zia, di pojok bangku. Secangkir kopi dan susu jahe adalah pilihan kami malam itu sebagai saudara yang lama sekali tak bertemu.

Ada sekumpul pria yang di samping kami. Dengan laptop, sebatang rokok di tangan mereka, stick games, dan beberapa cangkir minuman. Selang beberapa waktu, ada dua pria berjalan. Satunya sedikit tambun, satunya sangat tinggi.

Pria tambun, yang kemudian saya kenal dengan nama Dhika, menggunakan jaket hitam. Berpiak pinggir. Sedangkan yang tinggi, menggunakan celana sobek-sobek, setelan hitam. Dialah yang pertama tersenyum ketika mata kami berpapasan, yah, sontak ya, saya juga senyum.

"Gila, Kak, tinggi banget!" kata Zia tetiba.

"Iyo e."

Si pria tinggi, yang kemudian kusebut Pria dengan huruf awal besar, akhirnya duduk tepat di samping saya berada. Sangat berdekatan dan beberapa kali bahu kami bergesekan. Baik saya dengan Zia tidak sama sekali membahasnya lagi. Kami berada di dunia kami masing-masing.

Tapi, dalam hati, saya berkata, "Mas samping keren pek."

Di penghujung waktu kami akan pulang, pria tambun menanyakan pin bbm saya. Yah, saya gak ada, donk. Haha. Dan dilanjutkan meminta no whatsapp saya. Astaga, kalau whatsapp terlalu rawan untuk diberikan. Pertama, status online susah disembunyikan. Pemblokiran no tetap akan membekas di aplikasi. Dan saya lebih memilih memberi ID Line dengan alasan mendasar tersebut.

❤❤❤

Saya di matanya....
Katanya, sebelum masuk ke tempat makan, dari jejauhan dia sudah melihat saya dan Zia. Yah, saya akuin, memang dia memiliki penglihatan yang tajam.

"Dhik, aku pengen duduk dekete arek iku," menurut ceritanya, dia berkata begitu.

"Tenang ae, Mas, iku konco-koncoku seng cedeke arek iku."

Mereka pun masuk dengan padangannya menatap mata saya dan tersenyum. Katanya, saya membalas senyum itu sambil menunduk. Terlihat sopan. Haha. Sekarang, saya mengingat-ingat apakah saya memang menunduk padanya. Saya ada nilai 'plus' di kesan pertamanya.

Lagi, ketika saya bercakap dengan Zia, katanya dia mencuri-curi pandang pada saya. Berharap saya menoleh. Dan sampailah pada percapakan Dhika meminta pin bbm.

"Dhik, kamu cobao minta pin bbm. Nyauto, engko tak sauti," katanya ketika bercerita pada saya, dia yang meminta Dhika melakukan itu.

Dan entah kenapa, Dhika menurut.

"Mbak, ada pin bbm atau wa ta?" kata Dhika.

"Wah, egak ada, Mas."

"Ada ID Line ta?" sahut Pria.

"Ya ada, sih. Line aja, deh," kata saya setelah menyerah karena terlalu banyak berbohong.

Katanya sekarang, ketika dia mengenang, "Kamu waktu itu keliatan banget bohongnya. Matamu keliatan. Udah, gak bisa bohong kamu itu."

Dan dari sanalah kisah roller coaster saya-dengannya yang bagaikan cerita dongeng dimulai, dari Juli 2017. Dari mulai tiba-tiba ke Paralayang, kejambretan, ke Pacet, ke Trawas, dan segala hal yang spontanitas seringkali kami lewati. Termasuk, tiba-tiba dia datang ke kos bawa hadiah jauh sebelum hari kelahiran saya kemarin.

Dia tipikal orang yang membumi, romantis sikapnya (tapi saya yakin dia gak nyadar -...-), pelindung, dan okelah skip skip. Saya takut terlalu jumawa mendeskripsikannya di posisi saya belum terikat secara resmi. Haha.

4. Saya belajar bahwa ada yang namanya "Lelaki Buaya Darat Kadal"

Yah, seumur-umur hidup, saya belum pernah mengenal pria yang -naudzubillah- sepertinya. Semoga saya dan keluarga dijauhkan dari pria-pria berkedok 'alim', tapi saya bilang sangat labil dan tidak konsisten.

Jadi, saya mengenalnya di bulan Februari 2017 dengan 'janji manis' yang beliau berikan. Dan bulan Maret 2017, akhirnya dia memilih pergi --dengan meninggalkan janjinya setelah memberikan banyak 'trauma'. Hingga beberapa kali dia menghubungi dan menceritakan bahwa dia dekat dengan wanita lain, yang saya 'iya-iya'in aja, lah, ya.

Terakhir, bulan November akhir, dia ke tanah Jawa dan kembali 'meminta' saya. Eh, sebenarnya ingin sekali saya katakan, "Ndak malu ta, layaknya habis manis sepah dibuang, ditelen lagi? Ini hati, bukan mainan yoyo."

Dari dia, let me call him a 'boy' not men, saya baru menyadari memang benar ada tipikal cowok yang mudah memberi janji. Mudah sekali tidak konsisten. Baiklah, mari mendamaikan hati dengan memaafkan dan berbijaksana dengan keadaan.

5. Tentang syukuran ulang tahun

Karena pola kerja yang shifting, saya memutuskan untuk merayakan syukuran kecil-kecilan dengan kerabat terdekat saja. Syukuran pertama dimulai tanggal 21 Desember 2017 dengan mendatangi sebuah yayasan panti asuhan di sekitar Sidoarjo. Tentu saja bersama Pria.

Yah, singkat cerita, saya akhirnya datang berempat bersama dengan adik-adik ponakan. Pertimbangan dari Abah (pengurus) adalah karena kami belum ada ikatan di mata agama. Lucunya dari kegiatan tersebut adalah ketika Abah menanyakan padanya tentang kapan rencana pernikahan kami berlangsung.

Sontak, donk, saya kan ya bingung. Tapi, dengan mantap, Pria menjawab, "InshaAllah doakan Mei, Pak." Baiklah, mari kita aminkan. Haha.

Oh, sebelum ke yayasan, saya, Pria, dan satu adik ponakan makan bersama di Mie Setan. Karena saya dan Pria bukan tipe pasangan yang suka kuliner di tempat "beginian", ini terbilang mewah. Haha ~

Tentang hadiah ulang tahun, Pria adalah yang pertama memberikan ucapan dan hadiah. That's so romantic. Mengingat saya dulu memang pertama yang mengucapkan kepadanya, tapi tidak berani memberi hadiah besar karena saat itu sedang masa berkabungnya :(

Saya jadi merasa sedikit nyesel kenapa dulu gak memberinya kejutan lebih. Yah, baiklah, berlalu sudah. 

Ditambah syukuran di tanggal 24 Desember. Ini juga tanpa rencana banget. Saya dan Pria akhirnya memutuskan untuk ke rumah Probolinggo dengan sepeda motor. Itu yang saya suka darinya. Dia orangnya spontanitas!

Bersyukurnya, kedua orang tua saya juga sudah menganggapnya sebagai anak. Sehingga, liburan kecil-kecilan ke BJBR dan makan malam ala-ala pun berjalan dengan lancar. Benar-benar penutup syukuran ulang tahun yang membahagiakan 😘

❤❤❤

Yah, sekian refleksi hari ini. Semoga bertambah dewasa, bijaksana, bahagia dalam kehidupan. Juga bertambah sabar. Terima kasih untuk yang sudah mengasihi dan memberi arti. Terima kasih telah membuat hidup saya lebih bermakna. Teruntuk keluarga, Pria, dan sahabat-sahabat saya lainnya 😍


Salam hangat,


dari Surabaya yang sering sumuk


...dan rupanya saya pernah menuliskan tulisan ulang tahun semacam ini di usia ke 18 tahun. Haha. 
Happy New Year!
Happy New Year!
Beberapa bulan bekerja di kantor ini, beberapa kali pula, saya mencoba untuk meluangkan waktu nulis curhat. Yah, kotak berbicara yang saya miliki memang berkapasitas besar. Ditambah, pekerjaan saya juga turut andil memperbesar kapasitas berbicara tersebut. Haha.

Merayakan tahun baru kali ini, saya membuat sedikit make a wish. Berharap tidak terlalu muluk, tapi jika hasil curhatannya juga panjang, ya, mau gimana lagi. Dimulai dengan basmallah dulu kali, ya, biar afdhol. Bismillah~

1. Daftar Umroh Sekeluarga

Yay, ini juga menjadi impian prioritas utama mengingat tabungan juga mulai terkumpul. Januari ini, mungkin masih belum, kali, ya. Mungkin pertengahan 2018. Semoga dengan kedua orang tua dan bisa disegerakan dalam tahun ini. Minta doa semoga dilancarkan~

2. Bisa Kembali Berbagi dengan Adik-Adik yang Membutuhkan

Satu ini beneran candu. Setelah berpenghasilan, saya berharap tidak lupa dengan tempat dimana saya berpijak. Katanya, kan, "Manusia boleh sahaja melangit, tapi kaki harus tetap membumi". Yah, begitulah kira-kira. Pencapaian saya sekarang diantar oleh doa orang tua dan mereka juga.

3. Pasangan Hidup

Di umur yang -sudahlah segituan saja- ini, obrolan tentang pasangan hidup memang sudah mulai tidak tabu lagi. Alhamdulillah, sekarang ada yang serius, tinggal berjuang menuju ke halal. Semoga dimudahkan, dilancarkan, dan disegerakan. Karena mencari pasangan hidup juga susah-susah gampang, semoga mendapat yang memang bisa menjadi imam, adik, kakak, teman curhat, teman berdebat, partner nabung, dan partner apapun. Yang sekarang, saya bersyukur dia sudah memenuhinya. InshaAllah.

4. Jenjang Karir

Nah, ini untuk sementara masih jadi list prioritas utama. Masih ingin di tempat yang sekarang, hanya berpindah lantai atau berpindah kantor. Masih terus berikhtiar. Walaupun kadang kebentok dengan terlalu nyamannya di posisi sekarang. Ah, terjebak di zona nyaman memang menggiurkan, Cuy! Semoga Januari ini ada pencerahan, ya, yuk, semangat!

5. Punya Investasi

InshaAllah investasi sudah mulai dicicil. Semoga tahun ini sudah mulai jalan jugaan. InshaAllah sudah mantap pilih invesatasi apa, cuma kadang masih mayang mentoleh karena tergiur investasi ini itu :") Yah, duniawi memang terlalu menggiurkan.

6. Mulai Belajar Enterpreneur

Kerennya, sih, enterpreneur, bahasa merakyatnya ya jualan. Tapi, beneran, Cuy, ini beneran perlu keberanian dan tekad. Semua hal, emang perlu dua hal itu, sih, tapi memulai jualan ini dari saya yang tidak ada dasarnya, merasa sulit memulai. Pengen rasanya mencoba jualan. Entah itu jasa art (karena basicly suka art) atau reseller ataupun punya produk sendiri. Entahlah. As soon, yha~

7. Lebih Produktif Menulis + Terbit 1 Buku

Ini harus di tahun ini. H A R U S. Sudah dari umur 22 tahun, ketika masih mengerjakan skripsi, sudah niat banget bikin cover, download template, dan mulai menulis, tapi apa daya, mager lebih di atas segalanya. Ditambah bentrok dengan ini itu. Yang intinya belum konsisten! Tahun ini, ya, tahun ini! Harus!

8. Pembentukan Massa Otot

Ini juga harus banget. Penurunan bobot badan saya yang sedikit drastis, memang menimbulkan gelambir dimana-mana. Tapi, sebelum bobot turun, pun, udah gelambiran, sih. Haha. Cuma, tahun ini harus mulai konsisten. Di tahun 2017, saya tidak konsisten dan tidak ada niat banget buat diet. Tahun ini harus diet protein :") Demi otot yang lebih terbentuk, demi badan yang lebih sehat. Ayo olahraga!

?) S2 dan ke Jepang, Apa Kabar?

Impian yang sudah mulai terombang-ambing, tapi inshaAllah masih tertanam, kok. Tapi, di usia yang sekarang, lebih berbijak dengan keadaan, lingkungan, dan tentu dengan waktu. Semakin ke sini semakin sadar, banyak hal yang harus dipertimbangkan dan memang lebih diproritaskan. Jadi, ya, itu tadi, bijaksana dalam memilih prioritas, rasanya adalah jalan terbaik.

Wah, kan, jadinya panjang juga curhatan kali ini. Tulisan ini saya tulis sebelum tahun baru, jadi mungkin akan banyak revisi ketika saya menerbitkannya. Saya baru nyadar juga, sih, produktivitas saya semakin menurun di tahun ini. Lebih fokus duniawi dan mengabaikan pengembangan diri di bidang lain. Kadang sedih juga, sih. Tapi, yaudahlah, yah.

Mari memperbaiki diri di tahun 2018! Semangat baru, semoga lebih baik di tahun ini.  #MencobaProduktif2018


Salam hangat,


dari Surabaya yang juga tahun baruan!

❤❤❤

**Pst, saya menuliskan ini secara scheduled, mungkin ketika ini terunggah, saya sedang bersama pasangan saya saat ini. Haha.