Perjalanan kali ini terhitung sebagai touring pertama di tahun 2019 yang (as usual) menjadi kejutan buatku. Dari tujuan ataupun pengalamannya. Terima kasih.

Part 3 : Kawasan Bromo di Siang Hari dan Escorting Ambulans

Bromo (Lagi), Seruni Point, dan Escorting Ambulans #3
Bromo (Lagi), Seruni Point, dan Escorting Ambulans #3

Tiba di rest area, pukul 07.18 wib dan kami baru menuju Sidoarjo pukul 13.00 wib. Waktu yang cukup lama buat istirahat. Tenaga sudah cukup terisi dengan 2 porsi mie goreng + 1 telor, untuk Mas, dan 1 porsi mie goreng untukku, seharga total Rp 32,500,-. Aku memang berkebalikan dengan Mas dari segi makanan.

Kalau di keberangkatan yang kami lihat hanyalah cahaya sinar lampu minim dari lampu jalan, motor, dan perkampungan. Di perjalanan pulang, yang kami lihat adalah matahari terik, tapi tetap berhawa dingin, serta pemandangan pegunungan yang begitu menyegarkan mata.

Rombongan sampai daerah sekitar Pasuruan dan di sinilah cerita ini akan berbeda. Aku dan Mas masih memimpin di depan, dengan kecepatan normal. Tetiba, ada mobil ambulans dari sisi kanan jalan dengan dipandu oleh seorang biker.

Kata Mas, kegiatan begini sering disebut istilah ‘Escorting’ atau kalau diartikan mengawal ambulans ke rumah sakit tujuan. Biker seringkali melakukan escorting ambulans jika memang dibutuhkan dan beberapa ada yang kebetulan merekam. Mas pernah memberitahku beberapa video escorting di youtube. Hanya melihat saja, aku merasa merinding dan terharu.

“Itu biker lagi ngawal, Dek.”

Mas menjelaskan tanpa perlu jawaban saat melihatnya. Mungkin, karena memang yang mengawal cuma seorang dan Mas merasa perlu membantu, jadilah Mas ambil bagian. Mas pertama melaju lebih kencang dari sebelumnya. Menyapu jalan dan mengarahkan kendaraan memberi jalan dengan lambaian tangan.

Biker yang sebelumnya, berada di depan kami awalnya, namun Mas nyatanya lebih kencang dan mendahuluinya. Mas dan biker tersebut seakan memiliki percakapan sendiri. Seakan ketika jalan Mas buntu, biker tersebut ambil alih. Ketika dirasa sulit, dia langsung berada lebih dekat dengan Mas karena dia juga membunyikan sirine.

Kejadian komunikasi tanpa tulisan dan pertemuan sebelumnya, tanpa dugaan, yang spontanitas untuk menyelematkan nyawa seseorang. Dalam perjalanannya, aku secara tak sadar ikut mengisyaratkan pada kendaraan lain untuk memberi jalan.

Tahu, saat tanganku di udara dan melambai, ada perasaan sangat terharu, merinding di sekujur tubuh. Senang bisa membantu, namun ada nyawa lain di belakang yang harus segera diselamatkan. Aku pun merasakan kesal yang sama dengan Mas ketika ada kendaraan yang tetap pada jalannya, walaupun kami sudah mengode.

Ambulans bisa melaju dengan cukup kencang, berkat kerjasama dan pengertian para pengendara yang tak pernah berkomunikasi sebelumnya ini. Terharu bener, serius!

Sampai di jalanan agak macet, Mas mulai akan mengode kembali, tapi biker tersebut mengisyaratkan, “Sudah sampai, sebelah kiri. Terima kasih.” Tidak, tidak berkomunikasi secara langsung. Tapi, aku seperti mendengarnya mengucapkan. Kami pun berpisah di sana tanpa komunikasi lanjutan. Aku dan Mas melaju ke arah Surabaya, biker dan ambulans tersebut berbelok kiri ke rumah sakit tujuan.

Sampai sini, aku masih merasakan perasaan tadi dan entah, memang, ternyata begitu senang bisa membantu sesama. Bahkan, sama sekali tak terpikir untuk merekam, walaupun jika disempatkan, kami bisa menghidupkan action cam yang sudah tersemat di helm. Tapi, ini bukan sekedar moment untuk kami, ini tentang ada nyawa lain di sana yang butuh pertolongan.

Dan, Alhamdulillah, perjalanan ini begitu mengesankan. Terima kasih, Mama dan Ayah yang sudah memberi ijin, serta Mas yang sama sekali tak pernah bilang lelah, walaupun matanya sudah mulai merah. Dia hanya menyandar di pundak dan aku hanya meraihnya, mengatakan, “Tidur sebentar, aku tahan, biar tetep fokus.”

Salam dariku dan Mas,

Sidoarjo, eh, Surabaya, dink!
Perjalanan kali ini terhitung sebagai touring pertama di tahun 2019 yang (as usual) menjadi kejutan buatku. Dari tujuan ataupun pengalamannya. Terima kasih.

Part 2 : Kawasan Bromo dan Seruni Point di 9 Januari 2019 -

Bromo (Lagi), Seruni Point, dan Escorting Ambulans #2
Bromo (Lagi), Seruni Point, dan Escorting Ambulans #2
Perjalanan menuju lokasi utama lebih minim penerangan, lebih sepi, dan lebih dingin dari sebelumnya. Dalam perjalanan, tak hentinya sholawat kupanjat dan berbagai doa yang kuharap bisa membuatku tetap fokus.

Oh, ya, di warung pemberhentian sebelumnya, pemiliki warung sudah menjelaskan bahwa ada point view baru, bernama Seruni Point. Kata beliau juga, harga tiket masuk ke lokasi utama Bromo adalah Rp 42,500,- per orang dan biaya sepeda motor adalah Rp 15,000,-. Jadi, 1 sepeda motor dengan 2 orang akan kena sekitar Rp 100,000,-. Ini info dari si Ibu yang tidak pernah membayar tiket masuk, ya, karena penduduk lokal. Nanti kami buktikan.

Kami akhirnya tiba di gerbang loket utama dan ternyata, harga per kepala adalah Rp 30,000,- dan sepeda motor adalah Rp 25,000,-. Jadi 1 sepeda motor dengan 2 orang adalah Rp 85,000,-. Yah, lumayan bersyukur, sih, karena info yang didapat lebih mahal, setidaknya harga aslinya lebih murah. Haha. Ini harga di hari biasa, ya, kurang paham kalau di hari libur.

Harga tiket masuk mencakup wisata pasir berbisik, akses ke Bromo langsung (dengan anak tangga), bukitTeletubbies, dan beberapa wisata lain yang tertera di papan petunjuk. Maaf, tidak bisa membaca jelas karena minim penerangan dan belum sempat search artikel terkait wisata ini.

Kami berjalan berdasarkan arahan plang dan sampailah kami di pasir berbisik yang begitu sepi. Hanya kami berenam dan tidak ada penerangan sama sekali. Perjalanan itu mungkin tersesat, mungkin tidak. Karena kami sudah sampai di lokasi utama, tapi bukan ini yang dicari.

Rombongan memutuskan untuk kembali ke loket dan menanyakan lokasi baru yang diinfokan oleh Ibu Warung, Seruni Point. Yang nyatanya berada di luar tiket masuk ini. Tujuan berubah ke Seruni Point, karena memang lebih terlihat jelas arah jalannya.

Dan yang bikin sedikit nyesek, ketika kami datang di loket, hanya kami berenam yang masuk ke wilayah itu. Namun, ketika kami akan ke Seruni Point dan lewat kembali di loket, coba tebak, banyak sekali rombongan yang akan masuk ke lokasi utama. Hah!

Jalan menuju Seruni Point, point view yang (katanya) hits dan baru...

Gerbang masuk Seruni Point ini ternyata berada jauh sebelum loket masuk. Jadi, bagi kamu yang akan ke Seruni Point, maka mohon tetap menengok kanan dan pastikan tidak terlewat. Karena lokasi ini berada di persimpangan, yang mana kalau ke kanan bertujuan ke Seruni Point dan kalau lurus bertujuan ke lokasi utama.

Akses ke Seruni point juga minim pencahayaan dan jalanan berbatuan. Lebih sulit dari sebelumnya, tapi masih bisa dilewati dengan sepeda motor, pun dengan matic. Kami merasa tersesat. Tapi, tetap meneruskan ke tujuan yang katanya sekitar 2 km dari loket.

Mas memang terbilang kencang dalam menyetir dan kami berada agak jauh dari 2 rombongan lainnya. Kami berputar kembali ketika mendapati begitu lama mereka menyusul kami. Dan nyatanya, ke Ferry beserta Zaenab terjatuh. Kami mendapati mereka sedang menuntun motor ke pinggiran.

Mereka, memutuskan untuk meneruskan perjalanan kembali untuk mengejar moment matahari terbit, tapi kataku, “Kenapa gak kita menikmati mataharinya di sini aja. Daripada jauh, gak dapat momentnya. Lagian, itu sudah keliatan, kan. Mas Ferry sama Mbak Zaenab bisa istirahat juga.”

Entah kenapa, mereka menyetujuinya. Rombongan mengatur motor lebih rapi dan memutuskan untuk mengabadikan moment sun rise di sana. Aku sedikit terenyuh mengingatnya. Kami mulai naik untuk ke Seruni Point ketika matahari sudah mulai terang, sekitar pukul 05.00 wib.

Jalan Menuju Seruni Point Bromo 
Jalan Menuju Seruni Point Bromo
Lumayan oke, kan, pemandangannya?

Meski berfoto di jalan, tidak terlalu berbahaya karena sepinya kendaraan yang berlalu lalang. Di sana indah, foto yang kami hasilkan terlihat dramatik karena siluet berpadu dengan matahari terbit.

Tiba di Seruni Point...

Ternyata, di Seruni Point sudah rama saja pengunjung yang parkir dan mengabadikan gambar. Jika kamu tipe yang suka mencari titik view, disarankan parkir dulu dan melanjutkan dengan jalan ke puncak bukit yang berjarak 1 – 2 km. Katanya, di sana lebih terlihat seperti ‘Eropa’.

Kami, cukup di area parkiran saja, mah, udah seneng. Lihat matahari terbit yang sudah mulai tinggi dan pemandangan Bromo dari situ, sudah Alhamdulillah banget. Di sini memang indah, tapi hanya bisa dilihat dari jauh. Jadi, bagi yang suka menjepret Bromo dengan lebih dekat dan wisata lainnya, boleh melanjutkan perjalanan ke lokasi utama.

Fyi, di Seruni Point tidak ditarik biaya masuk, hanya uang parkir senilai Rp 5,000,-

Pemandangan dari Seruni Point Bromo
Terbatas pagar dan jarak yang begitu jauh

Pemandangan dari Seruni Point Bromo


Kami, sih, sudah tepar dan memilih mencari rest area buat istirahat, Shay. Cerita selanjutya tentang perjalanan pulang dan masih berhubungan, tapi dipisah karena ini sudah terlalu panjang.


Salam dari kami,

yang diunggah secara bersamaan biar masih hangat XD
Perjalanan kali ini terhitung sebagai touring pertama di tahun 2019 yang (as usual) menjadi kejutan buatku. Dari tujuan ataupun pengalamannya.


Part 1 : Sidoarjo dan Kawasan Bromo, 8 – 9 Januari 2019 -

Bromo (Lagi), Seruni Point, dan Escorting Ambulans #1
Bromo (Lagi), Seruni Point, dan Escorting Ambulans #1
Jauh di hari ini, sekitar seminggu lalu, Mas mengabariku untuk mengambil libur di hari ini. Mas sama sekali tidak menginfokan detail tujuan kemana, hanya katanya, “Ya, kalau gak ke Malang, paling ke Bromo. Wis pokok siapin dulu.”

Jadilah, di tanggal ini aku mengambil libur dan masih belum tahu tujuan. Kemarin, 8 Januari 2019, setelah jam kerjaku usai, Mas langsung memintaku untuk segera bergegas dan bebersih diri untuk perjalanan itu. Hingga sekitar ba’da Maghrib Mas menjemputku dengan bersemangat (dan masih belum bilang mau kemana).

“Mas sudah ijin ke Mama Ayah(ku)?” tanyaku.

“Sudah.”

“Aku rasa gak bakal boleh, Mas, Adek ikut jalan-jalan kalau malam begini.”

“Loh, sini coba Mas telpon.”

Drama perijinan kepada orang tuaku yang pada akhirnya berujung, “Iya, gak papa, Nduk, yang penting hati-hati dan jangan lupa banyak sholawat. Sholatnya dijaga,” kata Mamaku. Aku seketika terharu (karena sudah feel bakal gak diijinin perjalanan malam) dan segera bergegas ke lantai atas untuk mengambil bawaanku.

Aku tipe anak yang harus dapat restu orang tua ketika bertindak. Sesimple itu!

“Dek, ini,” dengan buff warna pink yang baru dibelinya.

“Kok tau Adek suka pink? Haha. Makasih.”

“Iya, ini kembaran sama Mas. Mas yang merah,” tutup percakapan di depan kos malam itu.

Sampai rumah Mas, kami tidak langsung berangkat. Kami masih menunggu kawan Mas yang ikut dalam rombongan itu. Sampai sini, aku masih belum tahu tujuan kami akan kemana. Dan akhirnya sampailah sekitar pukul 22.30 wib, Mas memintaku bersiap.

“Kita bakal ke Bromo liat sunrise.”

“Ha?”

Kami menyusuri jalanan Sidoarjo yang tak pernah tidur sampai pukul berapapun. Dulu, aku mengira Sidoarjo adalah kota yang kecil, dengan hanya ada Tanggulangin –yang panas- di dalamnya. Tapi, setelah mengenal Mas, pandanganku berubah. Sidoarjo terbilang sangat luas untuk ditelusuri dan menarik di waktu kapanpun.

Di sana, sudah menunggu 4 orang lainnya, yang di akhir baru kutahu kalau mereka memang pasangan kekasih. Ferry bersama Zaenab dan Marto bersama Pipit. Jadilah, perjalanan Sidoarjo – Bromo akan kami lalui dalam 3 kuda besi dan 6 penumpang. Mas berada di barisan paling depan sebagai penunjuk arah, Marto di tengah sebagai penyeimbang laju (karena menggunakan matic), dan Ferry di belakang.

Perjalanan Sidoarjo – kawasan Bromo terbilang lumayan cepat dan lancar. Dengan kecepatan laju Mas dan rombongan yang memang kencang, serta kondisi jalanan yang tidak terlalu ramai. Hanya kami sempat menerjang banjir di kawasan bendungan lumpur Lapindo.

Kawasan Bromo di dini hari dan tidur di amban orang...


Menuju kawasan Bromo, kami banyak melalui hutan yang begitu sepi, jalanan berbatu, pemukiman penduduk, dan minimnya penerangan. Di siang hari, aku baru tahu kalau yang kami lalui tersebut adalah jurang dengan background pegunungan.

Kami sudah di kawasan Bromo sekitar jam 01.00 wib. Pemberhentian kami pertama adalah di pom bensin. Mas sengaja berhenti, menawarkan kepada lainnya, kali saja akan ada yang ke toilet atau membeli bensin. Itu sudah sekitar 2 jam lagi menuju lokasi utama.

Yang unik, saat kami berhenti, banyak sekali penjual topi dan sarung tangan yang mendatangi kami. Mungkin, sekitar 5 penjual menawarkan produk serupa. Selain aku dan Mas, membeli topi rajut tebal bertuliskan “Bromo”, seharga Rp 25,000 karena dinginnya udara yang begitu menusuk.

“Mbaknya gak beli topi juga sekalian? Kemarin ada yang meninggal, lo, gara-gara kedinginan.”

“Egak, Pak, makasih,” sahutku.

“Dingin, lo, di atas, Mbak. Kemarin bapak-bapak umur 65 tahun yang meninggal.”

“Oh, nggeh, Pak.”

Kami sudah usai berurusan dengan para penjual dan melanjutkan perjalanan. Pemberhentian kami kedua di pelataran toko yang sudah tutup. Kami kembali dihampiri oleh para penjual topi dan sarung tangan. Marto dan Ferry hendak membeli bensin di awal pemberhentian kami sebelumnya.

Sepergi mereka, yang memang cukup lama karena Ferry harus ke toilet, kami berempat menunggu di amban (kursi bambu) di teras toko tersebut. Merebahkan diri, kecuali aku, dan mulai mengistirahatkan badan perlahan. Setelah sebelumnya, Zaenab dan Pipit mengatakan akan update status insta stories.

Di toko itu ada dua amban, satu yang kupakai bersama Mas dan satunya ditempati Zaenab dan Pipit. Mereka sudah tertidur dulu setelah kami mengobrol cukup lama. Mas kupaksa tidur dengan kakinya ditumpangkan di kakiku.

Kebiasaan kami ketika bersama adalah, dia suka sekali memintaku memijat. Entah kaki, punggung, ataupun tangan. Dan ini terjadi mulai dari kami dekat. Di awal, dia malah yang mencarikanku artikel titik mana yang harus dipijat ketika capek, sakit telinga, susah tidur, dan lain-lain. Haha.

Setelah Mas dan lainnya tertidur –yang kuyakin juga tidak terlalu nyenyak, datanglah Ferry dan Marto dari pom bensin. Mas masih dalam keadaan tertidur ayam dengan kupijat kakinya. Zaenab dan Pipit terbangun, mengatur posisi agar amban bisa dipakai berempat, lalu kembali beristirahat.

Dalam keadaan setengah memijat, aku menundukkan kepalaku di lutut Mas. Dan mulai terlelap ayam. Di tengah tidurku, aku masih mendengar percakapan mereka. Termasuk ketika Mas kentut dalam posisi aku yang tertidur di lututnya dan mereka tertawa. Serius, aku dan Mas adalah tipe yang ‘Yaudah kalau kentut kentut aja, daripada sakit’. Jadi, bawaan kalau kami kentut, ya biasa aja.

Setelah semuanya terbangun, kami memutuskan untuk mengisi perut warung depan pom bensin di pemberhentian pertama. Aku membeli mie kuah soto, Mas membeli rawon, dan lainnya ada yang rawon ada pula soto. Minum kami sama, teh panas. Bedanya, yang lain minum sendiri-sendiri, aku jadi satu dengan Mas. Haha.

Kami kembali melanjutkan perjalanan sekitar pukul 3.30 wib. Perjalanan selanjutnya akan ditulis di artikel berikutnya, ya. Serius, ini kayak diary karena masih hangat dan beneran mengena. Haha.


Salam,

dari Surabaya yang tak sedingin Bromo
--Seleksi, Pembagian Team, dan Briefing Kelas Inspirasi Surabaya--

Sejak kuliah, saya ingin sekali menjadi bagian dari Kelas Inspirasi (KI), entah sebagai relawan apapun. Kapasitas saya yang dulu belum punya pengalaman bekerja, yang bisa saya daftarkan adalah sebagai relawan panitia. Di sini, saya ingin berbagi pengalaman saat saya terlibat di Kelas Inspirasi Surabaya (KIS) 5, 2018.

Be a Part of Kelas Inspirasi Surabaya 5
Be a Part of Kelas Inspirasi Surabaya 5

Sebelum bercerita lebih jauh, apa sih itu Kelas Inspirasi?


KI dirancang oleh Anies Baswedan, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan memiliki payung yang sama dengan Indonesia Mengajar. Namun, berbeda tujuan, target peserta, dan durasi waktunya. Untuk Kelas Inspirasi sendiri, bertujuan untuk mengenalkan beragam profesi ke anak SD dalam 1 hari pelaksanaan.

Sekarang, saya ceritakan sedikit tentang seleksi hingga hari briefing di KIS 5 lalu. Semoga membuat pembaca tidak sabar untuk ikut bergabung di Kelas Inspirasi, baik sebagai relawan ataupun pengajar. 

Tahapan Seleksi - via Pertanyaan Essay

Awal mula saya mengetahui akan ada event ini dari sahabat saya, Syauqina Idzzi, dan kami memang excited untuk mendaftar. KIS 5 termasuk gencar untuk melakukan promosi terkait open recruitment relawan fotografer, videographer, dan pengajar.

Usut punya usut, ternyata, tahun ini memang tidak ada open recruitment untuk fasilitator. Dengan alasan, fasilitator memang diambilkan dari rekan-rekan relawan yang sebelumnya pernah bergabung di KIS. Jadilah, saya di event ini memberanikan diri mencoba menjadi relawan pengajar. Haha. Modal nekat, cuy!

Calon relawan diminta untuk mengisi sejumlah pertanyaan mengenai data diri, latar belakang pekerjaan, alasan mengapa tertarik, dan latar belakang kerelawanan. Saya lupa sebera panjang pertanyaannya, cuma memang seperti jawaban essay dalam format google docs. Oh, ya, saya juga diminta agreement bahwa bersedia cuti di Hari Inspirasi.

5 Juni 2018, Pengumuman Relawan

Pengumuman dilakukan dalam 3 media, yaitu email, website, dan whatsapp. Kalau saya rasa, jadwal antara pendaftaran dan pengumuman cenderung lama, sih, namun yang diterima menjadi relawan pun juga banyak. Kalau dari informasi yang saya dapat, memang tahun ini target sekolahnya lebih banyak, sehingga dibutuhkan SDM yang meluber.

Kelas Inspirasi Surabaya 5

Sudah saya tunggu jauh hari perihal pengumuman itu dan betapa girang hati saya ketika melihat nama saya terpampang di sana. Secara spontan, jari saya langsung menelisik nama Syau dan voila, dia pun lolos. Yeay! Saya hubungi dia langsung melalui voice call dalam keadaan senang bukan main.

Saat pengumuman, saya tidak mengetahui di mana saya akan ditugaskan, dengan group mana nanti dikumpulkan, hingga Mbak Ni Luh, fasilitator, menghubungi saya dan mengundang di grup WA. Dari sana, baru tahulah bahwa saya ditempatkan di SDI Raden Patah, Surabaya, di tanggal 23 Juli 2018.

Satu Rombongan Belajar (Rombel) SDI Raden Patah terdiri dari 2 fotografer, 1 videografer, 3 fasilitator, dan 10 relawan pengajar. Ini sudah dengan kurangan beberapa relawan yang mengundurkan diri. Kami mengajar kelas 3 SD sampai dengan 6 SD dengan pertimbangan di umur tersebut lebih mudah dalam penyerapan materi.

*****

Team saya adalah ...

Fasilitator : 
Mbak Ni Luh Pratiwi, Mbak Ika Nurkasanah, dan Mbak Arin Wardani.

Pengajar : 
Mas Himawan Ramadhan Auditiardy, Mbak Ana Mariya Ulfah, Mbak Kartika Chandra Hapsari, Mbak Ikke A Fitriani, Mbak Mely Suharmi, Ayah Hadi, Mas Ahmad Bassam Faiz, Mas Affan Hisyam Ardiansyah, Mbak Devi Destiani, dan saya sendiri.

Dokumenter : Pak Ali Muchson dan Mbak Shakina Ayesha Rizal sebagai fotografer, serta 1 videografer (maafkan lupa namanya :( )

Dimana akhirnya ditunjuklah Mas Audit selaku ketua tim dan Ayah Hadi selaku 'penasehat' karena memang sudah melanglang buana di Kelas Inspirasi. Sebelum hari briefing, kami melakukan diskusi online full via whatsapp.

21 Juli 2018, Briefing di Convention Hall


Range antara pengumuman hingga pelaksanaan, diisi oleh kami untuk berdiskusi tentang persiapan di Hari Inspirasi. Sebenarnya, all kegiatan dan lainnya sudah dirancang oleh rekan-rekan fasilitator. Namun, ada beberapa bagian yang memang belum ready dan butuh diskusi melalui grup whatsapp.

Di grup whatsapp, kami juga bertukar pikiran dengan relawan lain yang ternyata pernah bahkan sering menjadi relawan pengajar. Bagaimana cara membangun kelas menjadi menarik, ice breaking, dan lainnya. Saya tetiba menciut, tapi sekaligus tertantang dan tidak sabar untuk menghadirkan yang terbaik.

Kami baru bertemu untuk pertama kalinya secara hampir full team adalah di hari briefing yang diadakan di Convention Hall Sampoerna di tanggal 21 Juli 2018. Apa yang saya pikirkan dengan kata 'briefing' adalah suatu acara kecil yang 'ngemper' dan membahas secara perkelompok saja. Nyatanya, yang saya kira adalah salah besar.

Suasana saat briefing KIS 5
Suasana saat briefing KIS 5

Briefing Kelas Inspirasi adalah suatu acara yang benar-benar tersusun dengan lumayan 'megah'. Dari segi pemilihan tempat, dekorasi dalam, konsumsi, dan lainnya. Saya seorang diri di sana, tidak mengenal siapa-siapa dan bingung harus apa. Syau, pada akhirnya mengundurkan diri karena ada keperluan lain.

Saya duduk di salah satu kursi relawan, relatif agak depan, mungkin di baris kedua atau ketiga. Sapa satu dua orang di kanan kiri dan akhirnya menemukan kawan bicara. Saya lupa namanya, yang jelas, dia berperan sebagai videographer di sekolah yang berbeda dengan saya. Di sana, juga saya temui alumni kampus yang sama, Mbak Priandini.

Di tengah acara, relawan pengajar dan dokumenter dipisah untuk memfokuskan materi. Saya masih berada di dalam ruang yang sama dan dokumenter berpindah ke ruang yang lainnya. Fungsinya adalah penyampaian materi yang bisa lebih spesifik sesuai dengan job desc.

Briefing untuk Relawan Pengajar be lyke...

Acara berlangsung sesuai jadwal dengan timeline secara garis besar adalah sambutan, penjelasan tentang apa itu Kelas Inspirasi, motivasi oleh relawan Indonesia Mengajar, dan kumpul tim. Yang menurut saya sangat berkesan adalah motivasi relawan IM. Di sana, seorang relawan membagi tentang pengalaman mengajarnya di tanah Papua.

Sharing Mengajar Anak SD dari Alumni Indonesia Mengajar...
Semua cerita yang disampaikan oleh Alumni Indonesia Mengajar sangat menyentuh dan memotivasi. Mulai dari bagaimana cara mendapatkan perhatian anak SD, yang ternyata harus heart to heart, lebih ke bermain sambil belajar. Dan disisipkan dengan ice breaking yang mengajak anak SD bergerak aktif.

Sesi lain yang juga menarik adalah sesi sharing ice breaking dan tepuk. Yaitu, kumpul tim secara acak untuk membuat tepuk atau ice breaking. Nah, saat sesi ini, relawan pengajar dikumpulkan secara acak dengan iringan lagu.

Kami diberi waktu beberapa menit untuk membuat sebuah tepukan atau ice breaking singkat. Sesi ini yang menurut saya sangat membantu memberikan ide ice breaking ataupun tepukan, mengingat saya belum menemukan yang pas. Beberapa kreasi tepukan dan ice breaking saya catat untuk kemudian bisa saya realisasikan nantinya.

Kumpul Tim SDI Raden Patah...
Selanjutnya, acara inti usai sudah dan kami diminta untuk kumpul dalam tim sebenarnya. Di sanalah pertemuan pertama saya dengan tim SDI Raden Patah untuk pertama kalinya. TM dimulai dengan perkenalan satu persatu, penjelasan singkat tentang kondisi dan persiapan, dan pematangan.

Acara pada hari diakhiri dengan berfoto bersama di stand KIS 5. Dan saat itu, saya masih sangat penasaran bagaimana realisasi keseruan di Hari Inspirasi di tanggal 23 Juli 2018. Yeay!


Tim Kelas Inspirasi Surabaya chapter SDI Raden Patah
Tim Kelas Inspirasi Surabaya chapter SDI Raden Patah
Foto bawah (dari kiri ke kanan) : Pak Ali, Mbak Kartika, Mbak Ana, saya, Mbak Mely, Mbak Ni Luh, Mbak Wardani, Mas Audit, dan Mas Bassam.

--------------------------------------------

Tulisan selanjutnya masih on progress tentang bagaimana pengalaman saya di Hari Inspirasi 2018. Kamu, kapan donk mau ikut nyobain?