Graduation Day - nenghepi.com

Sebenarnya tulisan ini akan terkesan basi, ya, mengingat prosesi wisuda sudah berlangsung 1 bulan lalu. Terucap syukur yang teramat, akhirnya perjuangan 4 tahun di kampus perjuangan telah usai. Dengan tercurah kebahagiaan, hari itu, saya dan mereka merayakan pertemuan akhir kami.

Wisuda bukanlah sesuatu moment terbesar dalam hidup saya. Ditunggu dengan berdebar, memang tak dipungkiri. Namun, tidak terlalu heboh harus dirayakan dengan bersorak. Wisuda adalah pintu kehidupan sebenarnya.

Biru.

Rasanya memang semacam blue emotional, gitu. Galau antara harus bahagia dengan tawa yang 'harus terlihat baik di kamera dan berbagai pose' atau harus tertunduk menanyakan 'bagaimana setelah ini'. Namun, beginilah, akhirnya. Wisuda tetaplah wisuda. Prosesi sehari yang terayakan.

Pra-wisuda menjadi hari-hari dimana mencari kebaya - hunting make up artist - kebaya - make up artist dengan looping yang mungkin berulang beberapa kali dalam semingu. Kegiatan yang menyenangkan, memang, karena saya berasa benar-benar menjadi 'perempuan'. Lol.

Akhirnya, setelah pertimbangan matang, saya memutuskan untuk menyewa kebaya. Dari segi biaya, memang bisa jadi sama dengan biaya jika membuat sendiri. Namun, kurangnya pengalaman mencari kain, mencari model kebaya, dan keraguan dengan hasil kebaya, menjadi salah satu pertimbangan.

Make up artist saya percayakan kepada peer group yang telah menghubungi rekannya. Lebih terjangkau dan, beruntung, hasilnya memuaskan. Dan karena peer group ini pulalah, saya memutuskan untuk menginap semalam di kos salah satu dari mereka. Efisiensi waktu.

4 Oktober 2016, Training Center lantai 2

Reuni dadakan bagi para calon wisuda yang telah lama tidak bersua. Saya pun begitu. Bertemu dengan 4 geng hore yang mungkin sudah seabad lamanya tak bertukar sapa secara langsung. Walaupun chatting tetap terjalin, tapi bertatap muka tetap menjadi kunci pelepas rindu. Yay!

Graduation Day - nenghepi.com
Fitting Toga!

"Kalian bahagia sekali, ya, berswafoto di atas?"

Tiba-tiba salah satu dari kami berkomentar. Dari kelima geng hore, si Vampire mengalami kendala yang membuatnya tidak wisuda di hari yang sama dengan kami. Sedikit tersedak hati ini ketika dia melontarkan kalimat tersebut. Namun, hanya "Semangat, Vampire, we will beside you as always" adalah yang bisa kami lontarkan.

5 Oktober 2016, Lapangan Merah

Ini adalah moment yang seakan harus saya datangi. Bukan karena kewajiban. Tapi, ini adalah terakhir kalinya saya bisa berkumpul dengan beberapa teman sekelas. Sebelum melepas status mahasiswa.

Lapangan merah. Tempat mahasiswa disambut dan diantar menuju gerbang selanjutnya. Entah kenapa, lapangan merah memang menjadi holy place yang seringkali digunakan untuk acara 'sakral'. Itu budaya kami dulu. Entah sekarang.

ANTENS. Kalau tak salah mengeja nama, itulah acara yang saya datangi malam itu. Lupa kepanjangannya, hanya saja bermakna perpisahan untuk para mahasiswa tingkat akhir. Saya melewatkan malam itu untuk berswafoto dengan beberapa karib saya. Yang kisah mereka menancap dalam ingatan dan beberapa lainnya pernah memberi arti. Dan sekotak jajan dari om yang ke kampus, walaupun ngantuk.

Graduation Day - nenghepi.com
ANTENS dan Beberapa dari Mereka yang Kujepret


7 Oktober 2016, Lapangan Merah Kali Kedua

Hari ini, kami memutuskan untuk berfoto bersama satu kelas dengan tanpa make up dan tampilan kami yang seperti biasanya. Mungkin, dirasa ketika wisuda bisa jadi tak akan sempat berfoto bersama, kali, ya. Dan beginilah kami, sulit sekali mengumpulkan satu kelas dalam satu moment di luar jam kuliah. Tsah!
Graduation Day - nenghepi.com
My Beloved Geng Hore

Satu dua foto kami ambil dengan kamera pinjaman yang telah tersedia. Tiga puluh menit setelahnya, kami berangkat menuju Graha ITS yang berada tepat di samping kampus kami. Tempat proses wisuda esok. Tempat kami gladi resik hari itu.

Sekitar 2 jam kami mendengar pengarahan dari panitia wisuda. Dan setelahnya, kami pulang menuju peraduan masing-masing. Sempat bertemu kawan yang dulu pernah -okelah- menjadi kawan dekat saya. Tapi, entah mata yang teramat kabur, dia tak bergeming sama sekali ketika itu. Menyapa pun, rasanya tak ada. Okelah.

8 Oktober 2016, Graha ITS

Perjuangan tidak tidur selama jam normal saya, Zia, Tiwi, dan Sani untuk bangun lebih awal demi bersiap-siap untuk rias wajah, membuahkan hasil yang kusyukuri. Kejadian lucu pagi itu karena asisten hijab si mbak Wenda (nama mua kami) tidak bangun. Alhasil, kami berempat sedikit gupuh dengan waktu yang sudah semakin memburu dan satu mua sekaligus hijab do. Begitu pula dengan mbak Wenda yang sedikit uring-uringan karena, dia menyebutnya, ketidakprofesionalan si asisten.

Waktu berkumpul di Graha ITS dijadwalkan jam 06.30 WIB. Kereta kencana putih mengantar kami tepat di depan Graha ITS, tepat waktu pula. Setelah adanya adegan gupuh asisten yang tidak datang dan ayah yang ingin berfoto sebelum saya berangkat ke Graha ITS, akhirnya sampai pulalah saya di tempat yang ditentukan.

Kami tak langsung beranjak ke barisan. Menunggu dan mencari keluarga masing-masing adalah yang kami lakukan saat itu. Berkali-kali saya hubungi kedua orang tua tentang keberadaan mereka. Berkali-kali pula saya melongok ke jam di ponsel. Mengejar waktu yang seakan mengajak bercanda.

Kereta kencana saya berhenti tepat di depan saya berdiri. Agak berjalan sedikit. Terlihat mama dan ayah yang tampak tak mengenali saya.

"Selamat wisuda, Sayang," ujar mama sambil memberikan seikat bunga.

Jujur, saya terharu sekali dengan kejutan yang mereka berikan. Ini pertama kali saya mendapatkan bunga dari orang yang saya sayangi. Ah, sedikit curhat, saya memiliki kawan dekat sebelumnya. Kami berkencan sekitar 3 tahun dan tak pernah sama sekali saya mendapatkan bunga ataupun kejutan barang kecil-kecilan. Jadi, ini seakan kejutan sangat istimewa bagi saya! :"))

Sebelum masuk ruang wisuda, kami dibariskan dalam beberapa baris. Kami tak langsung berbaris kala itu. Mengambil beberapa foto dengan kawan dan baru berbaris setelah ada pengumuman dari megaphone. Lol.

Graduation Day - nenghepi.com
Blur Version XD
 Kami memasuki ruang Graha ITS di tengah riuhnya peserta wisuda dan tontonan orang tua di dua tiga lantai atasnya. Saya duduk tidak terlalu belakang. Baris ketiga dari depan, kalau tidak salah ingat. Pertama kali yang saya lakukan adalah menghubungi orang tua, menanyakan di mana mereka berada. Dan di sanalah mereka, di samping kanan saya. Terharu. Ah, apakah saya terlalu mudah tersentuh -___-"

Saya duduk di samping Bayu dan Bang Rizal. Sesuai NRP mahasiswa. Prosesi wisuda berlangsung tak lama kemudian. Berjalan cepat sekali prosesi utamanya, sesingkat duduk di ruang kelas, mendengar kuliah berlangsung. Bagi saya, yang lama adalah pemanggilan wisuda satu persatu, sih. Andai saya membawa novel, akan lebih bahagia rasanya!

Oh, ya, kami mendapatkan buku wisuda dan sekotak snack yang menjadi bekal kami di dalam untuk menghabiskan waktu. Sebenarnya, kami tidak dibolehkan membawa apapun selain itu. Itu mengapa, banyak di antara kami yang menyembunyikan tas kecil di balik toga kami. Haha.

Tibalah urutan Teknik Telekomunikasi. Baris kedua berdiri dengan sigap dan berjalan rapi menuju podium. Kawan dekat saya tampak berjalan di depan saya. Dengan manja, saya sapa dia, berharap dia berbalik sapa dan tersenyum. Okelah, nihil.

Urutan saya tiba dengan segera setelah mereka duduk. Saya dan kawan sebaris lainnya sudah berdiri di samping podium menunggu panggilan. Nama saya terpanggil setelah beberapa nama. Rasa terharu dan bercampur aduk menari dengan indahnya di benak saya. Haru.

Saya kembali duduk. Kembali menunggu panggilan kawan-kawan lain yang belum terpanggil. Menunggu panggilan kawan-kawan lain yang mendapatkan predikat cumlaude, saya tidak. Menunggu waktu.

Beberapa mahasiswa terpanggil dengan riuh renyah para penonton. Mantan Presiden, misalnya. Dan yang paling riuh adalah mahasiswa yang terpanggil paling akhir. Penutup dari prosesi wisuda hari itu. Oh, Goodness!

Saya berjalan menghampiri kedua orang tua saya yang berdiri tak jauh. Meminta untuk berfoto sebentar di tengah kepanikan saya karena tertinggal rombongan. Ya, saya benar-benar tertinggal.

Dengan sedikit berlari, setelah bersalaman dengan orang tua dan orang tuanya, saya menuju pintu keluar. Sesak dan tanpa mengenal satu sama lain karena terbalut tebalnya riasan. Ouch! Pertama kali yang saya temui adalah Rizkia.

"Woi, Riz!"
"Siapa, ya?" jawab Rizkia dengan muka polos tak berdosa.

Krik. Dan saya tersedak. Beruntung, Rizkia menyadari kalau itu saya setelah beberapa waktu kami bercengkerama di sosial media.

Pak Bos Viqi yang menyapa saya selanjutnya. Katanya, riasan berlapis saya membuat pangling. Tampak seputih pantat bayi yang tak pernah terkena sinar matahari, mungkin. Dan oke, saya terharu dengannya. Beberapa bulan sebelumnya, dia mengatakan bahwa dia tak akan datang dan hari itu dia membawa setangkai bunga dengan boneka pink kecil.

Sebenarnya tidak khusus datang untuk saya, sih. Jadi, jangan salah artikan, ya. Haha. Dia datang atas nama Pak Bos yang mengayomi para penulisnya. Lol. 

Mbak Irma yang saya temui selanjutnya dan dia tak kalah membuat saya terharu. Pertama kali bertemu dengannya di kegiatan KRTI. Saya menjadi LO dan dia menjadi peserta, kala itu. Dan kami sekarang menjadi teman satu kos!

Langkah saya percepat, menyusuri padatnya jalan dan menuju Lina yang sudah agak jauh. Saya sudah berada di rombongan Telkom. Yay. Sambutan meriah adik kelas menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi saya.

Saya pernah berada di posisi mereka. Menunggu dengan panas adalah hal yang membosankan. Ditambah, sekarang mereka harus menunggu di depan pintu gerbang Graha ITS. Dulu, waktu saya masih menjadi mahasiswa baru, kami bisa menyambut wisudawan di depan Graha ITS. Ramai dengan suara yel-yel. Saya yang menyanyi, dulu, dan nyanyian itu sekarang untuk saya. Greatest, dude, wuf you.

Saya sudah di gerbang kampus setelah berjalan dengan sedikit kesakitan karena sandal yang sedikit tidak mengenakkan. Sepanjang perjalanan, Lina yang menjadi teman bercerita dan berswafoto. Bukan 'dia'. Kami berpisah saat Inga dan Firda menghampiri saya di kampus. Mereka yang membuat saya terharu untuk sekian kalinya. Thanks, Dude!

Sebelumnya, saya sudah jelaskan ke orang tua bahwa pemberhentian selanjutnya adalah di hall, tempat pertama kali daftar ulang. Namun, rupanya mereka tidak mengingat di mana ruang tersebut. Saya sedikit gupuh (lagi) karena baterai saya tinggal satu garis. Dan pett! Damn.

Bersyukur ada kedua orang tua'nya' yang meminjamkan ponselnya pada saya. Dan dia, sedang asyik berfoto dengan entah siapa mereka, ketika saya bingung dengan kedua orang tua saya. Jadilah, dengan kaki yang teramat sakit, saya berjalan menjemput kedua orang tua di tempat yang mereka tunjukkan.

Lucunya, kami tidak bertemu karena orang tua saya telah menemukan tempat yang benar. Haha. Berjalan kembali ke tempat semula dengan kaki yang masih teramat sakit, namun telah lega. Ayah tampak menyambut saya. Menawarkan gendongan melihat anak gadisnya yang kesakitan.

Kami bertiga hanya sebentar di hall. Luqman, dulur dari SMA, si mas pacarnya Inga datang dengan sebatang coklat putih. Mengucap selamat dan berfoto. Pulang. Memang lucu sahabat saya satu itu. Bertentangan sekali dengan Inga, namun romantis dengan caranya. 

Tak sempat berfoto dengan yang lainnya, hanya satu dua foto, dan kami bergegas ke ruang foto di booth himpunan. Tiga foto cukup dan dua foto selanjutnya adalah fotonya.

Keluarga saya memang sedikit bergegas hari itu. Pulang dari wisuda, kebaya ditata, dan langsung menuju tempat persewaan. Insiden dialihkannya mobil ke jalur yang sangat jauh, sempat membuat orang tua bete. Wajar, sih, karena lelah dan sedang ada janji mampir di Mojosari.

"Kamu di mana?"

Tetiba chatting dengan kalimat singkat tersebut mampir di ponsel saya. Samsul, si Tintin, teman satu tim di Ristek. Teman nge-galau bareng si Upil, yang sehari sebelumnya telah memberi saya gambar doodle-nya sebagai hadiah.

Singkat cerita, saya dan Tintin bertemu di depan kos. Ini keharuan saya yang kesekian kali. Dia memberi saya hadiah yang saya inginkan. Sejujurnya, saya request satu item, tapi dia memberi saya lebih. Tintin dan Upil memang saya harapkan sekali kedatangannya. Karena saya tahu, 'dia' pasti tak berwaktu mengucap selamat dan memberi kenangan berarti. Duh, maafkan!

Well done, semua prosesi saya sudah berakhir sebulan lalu. Masih cukup baik untuk mengingatnya, ya. Dan cukup baik mengutarakan kembali bagaimana perasaan yang rasakan kala itu. Full curhat.

Sampai pada paragraf ini, saya bersyukur dengan semua yang saya dapatkan. Gelar dan segalanya. Semoga barokah. Walaupun sekarang masih berjuang untuk mendapatkan pekerjaan. Menunggu panggilan kerja itu tak kalah 'serunya' :"(

Semoga bagi kalian yang baru wisuda, tetap diberi semangat yang berlimpah. Ilmu yang didapatkan barokah dan dapat bermanfaat untuk umat manusia. InshaAllah, hasil tak akan mengkhianati proses. Tahap berproses inilah saya sekarang. Tahap yang membutuhkan banyak kesabaran dan perjuangan. Bismillah.

Allah bersama kita. Dan terima kasih untuk semua yang mengisi hidup saya selama 4 tahun menimba ilmu. Semoga Allah limpahkan pula kemudahan untuk kalian, inshaAllah. Pst, dan semua tak akan belajar untuk lebih dewasa tanpa adanya perjalanan hidup :) .


Surabaya, November 2016

Graduation Day - nenghepi.com
Liburan ke tempat wisata tentu menjadi momen yang menyenangkan. Terlebih jika berliburnya bersama keluarga dan orang-orang tercinta, momen liburan pasti akan terasa lebih spesial. Namun seringkali liburan bersama keluarga dan orang-orang tercinta tidak terencana dengan baik, sehingga banyak membuang waktu dan biaya. Selain itu, karena perencanan yang kurang baik pula liburan menjadi kurang berkesan dan tentunya momen quality time menjadi tidak berkualitas.

Salah satu hal yang seringkali kurang terencana dengan baik adalah pemilihan maskapai penerbangan untuk transportasi menuju tempat wisata. Transportasi menjadi hal penting dalam berwisata karena seringkali mood rusak karena transportasi yang kurang baik pelayanannya. Oleh sebab itu pemilihan maskapai haruslah terencana dengan baik. Berikut ini adalah tips yang dapat kamu perhatikan dalam memilih maskapai penerbangan untuk wisata, yuk simak!

1. Booking Tiket Online atau Direct?

Tips pertama yang harus diperhatikan saat memilih maskapai adalah dimulai dengan cara booking tiketnya. cara booking online tentu memberikan manfaat lebih dibanding dengan booking secara langsung atau direct. Dengan booking online kamu bisa mengetahui tentang review pelayanan maskapai yang hendak kamu pilih dari para pengguna. Review tersebut tentu dapat menjadi pertimbangan untuk kamu dalam menentukan dan memilih maskapai penerbangan untuk wisata.

Selain dapat melihat review tentang pelayanan maskapai, booking online biasanya juga menawarkan harga yang lebih murah. Dapat tiket murah untuk wisata tentu menyenangkan kan? Hati senang, liburan bisa berjalan lancar.

Memilih Maskapai Penerbangan untuk Wisata? Perhatikan Tips Berikut Ini!
Booking Tiket Online atau Direct? (via bluripples.com)

2. Teliti dan Cermat dengan Reputasi Maskapai

Tips selanjutnya yang harus kamu perhatikan saat memesan maskapai penerbangan untuk wisata adalah reputasi dari maskapai tersebut. Salah satu hal yang tidak bisa kamu sepelekan dari reputasi maskapai adalah On Time Performance (OTM). Ketepatan waktu akan sangat berpengaruh dengan jadwal dan rencana wisata yang telah dibuat. Oleh sebab itu memilih maskapai dengan OTM yang baik tentu menjadi prioritas utama.

Memilih Maskapai Penerbangan untuk Wisata? Perhatikan Tips Berikut Ini!
Teliti dan Cermat dengan Reputasi Maskapai (via cbsnews.com)

Selain OTM, reputasi yang tak kalah penting untuk dijadikan pertimbangan dalam memilih maskapai adalah keselamatan. Memilih maskapai dengan track record yang bagus dengan tingkat keselamatan tinggi tentu menjadi sesuatu yang wajib.

3. Fasilitas dan Kenyamanan

Tips lainnya yang juga harus kamu perhatikan saaat memilih maskapai penerbangan untuk wisata adalah fasilitas dan kenyamanan. Fasilitas bagai sering mengecoh para pengguna maskapai. Di beberapa maskapai fasilitas bagasi terpisah dari fasilitas kursi. Maka dari itu cermat memilih maskapai jangan sampa ada biaya tambahan yang tidak kamu ketahui sebelumnya.

Selain fasilitas, kenyamanan maskapai juga menjadi hal penting. Apalagi jika kamu harus menempuh perjalanan udara yang cukup lama. Kenyamanan menjadi salah satu hal yang utama saat memilih maskapai.

4. Cari Promo

Dalam memilih maskapai, promo juga bisa lho kamu jadikan pertimbangkan. Jika ada promo citilink, promo lion air, promo sriwijaya air atau promo dari maskapai lainnya tidak ada salahnya bergerak cepat untuk booking agar tidak kehabisan. Apalagi jika promo diberikan di waktu musim liburan, harus siap – siap bersaing untuk mendapatkan tiket murah dari maskpai penyedia promo.

Dalam hal mencari promo yang harus kamu lakukan tentunya sering-sering membuka situs dari maskapai atau buka situs Online Travel Agent (OTA). Saat membuka situs hal yang harus diperhatikan bukan hanya harga, tapi juga waktu yang dipilih. Pilihlah waktu yang terlalu dekat dengan musim liburan agar lalu lintas dan suasana di sekitar tempat wisata yang dituju tidak terlalu padat.

Memilih Maskapai Penerbangan untuk Wisata? Perhatikan Tips Berikut Ini!
Cari Promo (via shop.excite.co.id)

5. Perencanan Biaya yang Bijak

Tips terakhir yang harus kamu perhatikan dalam memilih maskapai adalah perencanaan biaya yang bijak. Sesuaikan maskapai dengan budget yang disediakan jangan sebaliknya. Namun yang perlu penyikapan bijak disini adalah penentuan budget. Terkadang terlalu pelit dalam menentukan budget transportasi dapat merusakan mood liburan. Oleh sebab itu bijak dalam menentukan budget transportasi akan menjadi hal yang penting dalam memillih maskpai penerbangan.

Itulah 5 tips yang harus kamu perhatikan saat memilih maskpai penerbangan. Bukan asal murah, bukan asal promo dan diskon besar-besaran tapi perhatikan juga pelayanan dan keselamatan. Memilih maskapai penerbangan yang tepat tentu menjadi awal yang bagus untuk momen liburan dan quality time bersama keluarga dan orang-orang tercinta.
"Jadi, nih, jalan-jalannya? Anak-anak pada belum bangun, deh," katanya sembari menyentuh layar HP, berharap ada balasan dari teman-teman pria di asrama lain.

Antara semangat dan kelelahan, kami paksakan raga untuk melangkah keluar asrama putri. Bandung sedang mendung kala itu, menyisakan semburat lembut matari pagi. Masih sangat dingin, ketika kami mandi dan jelas sangat berbeda jika dibandingkan dengan Surabaya. Tak ada kipas yang harus menyala 24 jam di sini, kalaupun ada, mungkin milik mahasiswa yang sedang mencoba membenarkannya. Kami jetlag dengan kenyamanan yang tidak kami rasakan di Surabaya ini.

Sepatu yang basah kuyup akibat hujan di hari sebelumnya, tak menyurutkan langkah kami untuk menyusuri jalanan Bandung. Dimulai dari asrama putri -yang berada 'pedalaman'- menuju asrama pria -di  dekat jalan masuk gang-. Sudah ada tiga pria yang menunggu kami di sana dengan kaos oblong mereka dan muka-muka kelaparan. Jalanan yang tak sepadat Surabaya menjadi pemikiran pertama saya ketika angkot yang membawa kami mulai memasuki jalanan besar.

Dalam imaji saya, Bandung memang semacam bunga tidur yang indah jika dapat berlibur di sana. Desas desus yang mengatakan, baik pria ataupun wanita, memiliki paras yang rupawan, rasanya saya akui dengan segenap hati. Memang tidak semuanya. Jika pandangan 'paras rupawan' kita relatif sama, mungkin kamu pun akan memiliki pendapat yang sama dengan saya. Haha. Dan di sanalah saya, mencoba membenarkan isu tersebut dengan mata sedikit malu-tapi mau- melirik pada muda mudi yang mulai beraktivitas.

Imaji saya lainnya mengatakan bahwa Bandung, entah bagaimana, alamnya memiliki panorama yang bak sayang sekali dilewatkan barang sekedipan mata. Histori yang berada di beberapa sudut kota atau cuaca yang mendukung, namun tak bergelayut awan gelap. Pernah pula saya mengimpikan untuk menetap sementara di kota ini.

Sebagian besar imaji saya, benar adanya. Hanya, mungkin kesesalan saya pada Bandung, adalah cuaca yang selalu terhiasi awan gelap. Saya takut gelap dan tanpa alasan pula, saya jadi merasa hidup di dunia 'hitam' ketika Bandung mulai hujan -__-"

Untunglah, semesta sedang sedikit bersahabat pada kami berenam kala itu. Membiarkan kami untuk mengunjungi beberapa tempat sebagai tanda bahwa kami pernah berada di Bandung. Sepanjang perjalanan, saya tak hentinya mengagumi bagaimana Bandung di tata dengan apik, versi saya.

Alun-alun berumput sintesis yang sangat besar dan memungkinkan masyarakat untuk berolahraga, masjid yang berada di dalam area, dan beberapa sitje yang berbaris rapi. Alasan yang baik untuk berlama diri di tempat ini.

Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Alun-Alun Kota Bandung

Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Masjid Raya Bandung

Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Barisan Kursi Merah Berbaris Keheningan

Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Penjual Balon di Lantai Bawah
Perjalanan berlanjut ke Jalan Braga, dekat lokasi Konferensi Asia Afrika (KAA), yang karena itu pulalah terdapat beberapa tempat yang mengabadikan kegiatan tersebut. KAA sendiri berlangsung pada tanggal 18 April-24 April 1955 di Gedung Merdeka. KAA bertujuan untuk mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika, serta melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.(wikipedia)

Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Bandung Penuh Quote Bijak
Seingat saya, langkah kami pertama kali adalah ke Monumen Solidaritas Asia Afrika (diresmikan pada tanggal 24 April 2015) dan barulah mengunjungi lokasi lain di sekitarnya. Sepanjang trotoar di Jalan Braga, terlihat jejeran bola-bola semen yang bertuliskan negara peserta KAA. Konsep yang dapat dijumpai pula pada hiasan Kota Surabaya, namun tentu saja tanpa nama negara. Menoleh ke atas, tampak lampu jalan berdesain etnik dengan ujung hiasan berbentuk hewan, semacam harimau. Masih mendung, memang, membuat kami antara berbetah diri ataupun bersegara diri agar terlindung dari rintikan hujan.

Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Monumen Solidaritas Asia Afrika
Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Batuan Semen di Satu Pojok Jalan Braga
Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Lampu Etnik Penghias Kota

Kami masih pula di trotoar, mengambil beberapa gambar diri di depan Gedung Merdeka, Perpustaan Museum Konperensi Asia Afrika, dan Menara BRI Bandung. Design art WPAP Bapak Ridwan Kamil pun tak luput menjadi tujuan kami untuk berfoto, yah, pengobat hati karena tak mampu bertemu langsung dengan beliau. Hehe.

Dan hujan siang itu menjadi penanda kami untuk segera kembali pulang ke penginapan Asrama Bumi Ganesha. Tempat pertemuan dan perpisahan bersama kawan lama saya terjadi. Mengisi perut setelah penundaan makan pagi yang cukup lama dan segera bergegas mengejar transportasi menuju stasiun kereta api. Membawa kami menuju perantauan kami yang sebenar-benarnya. Surabaya. Kota pahlawan yang panas, namun nostalgia indah tak pernah menjemukan. Sampai bertemu lagi, Bandung :)

Bandung dalam Imaji dan Baris Kata
Tempat Sampah pun Lucu XD

Surabaya,


Mengingat kembali perjalanan ke Bandung, 9 November 2015


Menjadi seorang freelancer, baik itu di media online ataupun media cetak, adalah salah satu impian saya. Bukan hanya sekedar mencari rupiah, namun belajar di bawah naungan editor, membuat tulisan saya dinilai dan saya jadi lebih banyak belajar.

Flashback ke belakang, sebenarnya saya pernah mengikuti seleksi untuk menjadi freelancer di dua media lumayan bagus, di mata saya. Sekitar 2 tahun lalu dan dengan dua seleksi yang berbeda. Di kampus dan di luar kampus. Untuk keduanya, saya sama-sama gagal. Namun, dari keduanya pula saya belajar untuk lebih berbesar hati.

Seleksi di media cetak, dulu membuat saya sempat bimbang ketika dikatakan tentang target artikel dalam seminggu. Keluarga dan kerabat berkali-kali mengatakan untuk kembali menimbang apakah benar ini tidak akan mengganggu aktivitas saya di kampus. Hingga menjelang h- sekian menit menuju meja wawancara, akhirnya keraguan saya memuncak dan saya sadar tidak memberikan jawaban yang cukup baik, saat itu.

Tahun ini, tepat setelah semua perihal skripsi selesai, Tuhan melalui semesta dan tangan-tangan kebaikan manusia, mendatangkan kabar bahagia itu pada saya. Masih berupa tawaran untuk melamar, memang, tapi rasanya semacam jawaban atas pinta selama ini.

Saya dengan bahagia mencapai ubun-ubun menerima telepon itu, kebetulan suara penelepon bak suara customer service (dalem bener), langsung mengabarkan pada Mama. Prinsip saya adalah pantang melangkah tanpa restu kedua orang tua. Dan pucuk dicinta ulampun tiba, kedua orang tua merestui langkah saya menjadi freelancer.

Berlebihan? Bagi saya, tidak juga. Saya memang menginginkan menjadi freelancer sejak lama. Entah, rasanya ingin saja menjadi penulis lepas tidak hanya di blog ini. Yang amburadul judulnya, yang entah tidak terlalu peduli SEO, yang gimana susunan katanya, menjadi nomor sekian yang saya perhatikan.

Pada titik ini, saya tak pernah tahu bagaimana cara Tuhan menjawab setiap doa hamba-Nya. Selalu dengan cara yang teramat romantis dan bermakna. Dan saya percaya, doa kedua orang tua sayalah yang lebih banyak berjasa di balik semua ini. Semoga panjang umur, Kesayangan :')