Di usia yang semakin hari semakin matang dalam hitungan angka, ada banyak hal yang menjadi tidak semudah dulu lagi. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Tidak bisa semua bisa dilakukan dengan sekenanya.

Kadang terlalu overthinking, kadang terlalu santai tapi rupanya pun tak bisa sesantai itu. Kadang begitu bergairah. Kadang begitu takut. Dan pernyataan 'kadang kadang' lainnya yang pada akhirnya mengingatkan saya bahwa saya memang harus mulai berbijaksana.

Argh! Baiklah, agar tidak jenuh juga, saya ingin menulis beberapa pemikiran-pemikiran yang menjadi ketakutan dan kebahagiaan di setiap harinya. Btw, saya menulis ini di sela-sela jam kerja agar sedikit otak 'nakal' saya bisa tertuang dengan jelas.

Tentang Karir.

Sekarang, jadi tak semudah "Ah bosan. Ah udah ah." Segampang ketika hidup tidak sekeras sekarang. Harus ada pemasukan setiap bulannya, untuk melewati masa indah di umur 20+ ini. Sesuai fase hidup, kan. Juga, lebih susah berkata, "Ah aku menyerah" daripada "Aku harus  berjuang sampai mendapat yang baru".

Saya memang bekerja di sebuah tempat yang menyimpang dari jurusan kuliah. Sejauh ini, saya bersyukur berada di posisi ini, berada di tempat kerja yang kondusif, saya inginkan, dan dengan lingkungan kerja yang begitu kekeluargaan.

Beberapa hal menjadi pertimbangan saya untuk bertahan, terlebih memang sangat nyaman di tempat ini. Namun, ada hal lain yang memang mengetuk saya untuk keluar dari zona nyaman. Itu pun, banyak pula yang harus dipikirkan, dari lokasi, income, pressure, ataupun posisi kerja.

Yah, hidup, ya begitu. Sawang sinawang. Sedikit bersyukur, banyak nuntutnya. Makanya, sabar aja ya hidup di bumi manusia yang memang penuh keingintahuan. Banyakin syukurnya, jangan lupa.

Tentang Jodoh.

Dulu gampang banget, bilang, "Cie jones. Cie jojoba." ataupun "Cie cie" lainnya yang menginisialisasikan tentang status. Bahkan, candaan "Nikah kapan?" atau "Kapan nyusul?" dan lainnya yang juga berbau tentang relationship bukan lagi candaan yang selucu dulu.

Dulu, yang gampang banget kepo tentang hubungan percintaan orang, sekarang, lebih mengetahui mana yang privasi mana yang bukan. Lebih suka bilang, "Nanti kalau sudah fix jodohnya, kabarin ya. Selama masih mencari, kalau memang perlu cerita, aku siap dengerin."

Bukan ke sisi tidak peduli lagi, tapi privasi adalah privasi dan hubungan adalah privasi. Saya pun begitu, yang dulu mungkin sering bercerita tentang kisah asmara ke ('sembarang') circle link, sekarang lebih membatasi diri. Sebenarnya, saya dari dulu memang bukan tipe yang show off tentang hubungan, pun untuk sekedar pasang profil picture di sosial media, saya berpikir cukup panjang. 

Pasangan saya yang sekarang seringkali mengatakan bahwa "Bertahan jauh lebih indah dan menyenangkan daripada harus mencari yang baru dan beradaptasi kembali". Dia, salah satu yang membuat saya menyadari apa arti sangat diperjuangkan dan ingin dimiliki, selain dari kedua orang tua saya:") ~

Tentang Plesir x Nabung x Hedon x Pertimbangan Lain.

Kalau dipikir, ketika sudah (alhamdulillah) bisa mencari pemasukan setiap bulan, ajakan something to do yang berbau happiness dan membutuhkan dana sedikit menguras, merupakan pertimbangan yang tak lagi mudah. Termasuk di antaranya plesir, nonton film, nongkrong, belanja, dan lainnya.

Dulu, ketika di pihak mudah sekali meminta kepada orang tua, ajakan plesiran, selama ada waktu semacam "It's okay cao aja".  Sedangkan sekarang, sering mikir, plesir gini habis berapa. Nabung sudah cukup gak buat ini itu, yang memang sudah ter plan. Sering juga mikir, "Uang segini nabung dikit, bisa kali buat liburan sekeluarga."

Begitu juga dengan ajakan nonton ataupun nongkrong. Dari dulu saya bukan tipe anak yang suka nongkrong hedon dan memang tidak mau dibiasakan. Mungkin karena dari pola keluarga yang saya tipe anak rumahan kali, ya. Yang lebih suka makan ya di rumah aja sama keluarga :".

Jadi, dengan pola hidup Surabaya yang mau gak mau juga beberapa kali harus nongkrong, saya membatasi dengan budget. Kalau low, ya oke aja. Kalau sudah masuk ke high, saya sering kali mikir,"Mama Ayah pernah ga ya, nongkrong dan makan mahal kayak gini" dan pikiran itu seringkali mengurungkan niat saya buat nongkrong.

Saat kuliah, saya tipe anak yang kalau bisa sebulan sekali lah nonton. Dan sekarang, bahkan saya bisa hitung jari berapa kali saya nonton dalam beberapa bulan terakhir. Uang tiket nonton, bisa lah buat nabung. Kalau pengen nonton, bisa lah cari gratisan, bisa lah uangnya dibuat sangu untuk sowan ke keluarga dekat.

Terkesan membosankan hidup tanpa hiburan, ya? Tapi, bagi saya yang sekarang, menghabiskan uang yang awalnya untuk kesenangan pribadi, lebih menyenangkan jika digunakan untuk berkumpul dan 'berfoya-foya' dengan keluarga. Tipe anak rumahan sekali, ya. Haha.  

***

Sometimes, yang saya dan teman dekat saya sering katakan adalah di fase dewasa awal yang sangat menegangkan ini adalah, "Kami belum siap menjadi manusia dewasa. Argh!" Banyak kali yang harus jadi pemikiran. Se enjoy - enjoy nya mencoba menjalani hidup, tetap saja lebih banyak hal yang menjadi pikiran dibanding fase sebelumnya.

Kembali lagi, saya yakin akan melalui fase ini dengan baik. Semoga selalu berusaha sebaik-baiknya. Juga kamu, yang sedang berjuang untuk kebersamaan kita. Chu~


Salam dari Surabaya,

yang semalam sangat panas dan banyak nyamuk.
Pengalaman (Semi) Mistis di Jalan

Pernah mengalami hal 'mistis' selama perjalanan ke suatu tempat? Saya sepertinya baru mengalami semalam, entah ini hanya perasaan atau memang benar terjadi. Ini kejadian semalam, ketika perjalanan dadakan ke rumah mbah di Pacet, Mojokerto. Saya bersama teman ke sana dengan sepeda motor dan kecepatan yang stabil.

Saya ini tipe orang yang gampang sekali berimajinasi atau tiba-tiba saja di pikiran saya seringkali membayangkan suatu cerita. Jadi, saya yakin sekali saat itu tidak dalam posisi pikiran kosong.

Saya ingat, saat itu kami melewati sebuah jalan persimpangan, entah itu pertigaan entah itu perempatan. Yang saya lihat, di sana sangat ramai sekali dan terang di area kiri. Mungkin itu semacam warung, tapi entahlah. Tapi, saat itu, tiba-tiba seperti 'hilang'.

Perasaan ini semacam tidak bisa dideskripsikan. Yang saya rasa, tiba-tiba badan saya kurang enak di beberapa bagian, bingung mau ngapain, tiba-tiba semacam 'membatu', dan saya beberapa kali berpikir, "Kenapa aku ini". Saya memang semacam tidak berjalan di koridor seharusnya, tapi saya yakin saya memang tidak berpindah jalur.

Saya sempat 'membatu' sedikit lama. Mau bilang teman yang menggonceng pun, rasanya masih belum sanggup. Saya terus saja mengucap apapun doa yang bisa saya baca dalam hati. Semacam lemas mau bilang, tapi perasaan sudah sangat tidak enak.

Saat itu, saya merasa, seperti nyawa tidak terkumpul secara penuh. Tapi, saya memang dalam keadaan sadar. Berkali-kali saya bertanya dalam diri tentang kenapa ini-kenapa ini. Berkali-kali pula saya mencoba untuk kembali mengumpulkan 'nyawa' saya.

Saya ingin berhenti di Indomaret terdekat, mungkin membeli minum, intinya berhenti. Badan saya masih agak lemas dan bingung juga gimana jelasin ke teman saya saat itu. Tapi, saya memang harus berhenti. Tetap dalam kondisi motor berjalan pun, kondisi saya sudah 'tidak enak'.

Jadi, ketika saya sudah mulai bisa tenang, saya bilang ke dia untuk menepikan motor ke Indomaret terdekat.

"Bi, ke Indomaret terdekat, ya," kataku.

"Ngapain? Kamu haus ta?"

"Egak. Nyawaku kayak gak kekumpul. Gak tau kenapa."

Mendengar perkataan saya, dia sudah bingung gak karuan, mencoba menggenggam tangan saya yang memang lebih dingin dari tangannya. Mengingatkan saya untuk tetap berdoa dalam hati.

"Sek, tahan tahan."

Tiba-tiba, entah ini halusinasi atau suatu hal lainnya, tapi kaki kanan saya berasa menghangat dengan pundak yang serasa begitu tidak nyaman. Dan intinya, badan bagian belakang berbeda dari biasanya. Kami berhenti di Indomaret terdekat yang lumayan terang.

"Kamu kenapa, to?"

"Gak tau, badanku kayak gak enak," kataku sambil menggerak-gerakkan pundak, kaki, dan tangan -yang agak kesemutan-.

"Kenapa? Mulai dari mana?"

"Gak tau, kayak gak kekumpul aja nyawaku tiba-tiba, Bi. Dari persimpangan yang sana. Sek, to."

Saya masih berusaha menggerak-gerakkan badan, mencoba mengenakkan kembali perasaan yang mulai ketakutan sendiri. Sudah mulai agak tenang, kami membeli minuman dan duduk sebentar. Dia pun mulai interogasi dengan apa yang terjadi.

"Kenapa, to?"

"Gak tau akunya. Kayaknya apa kita tadi ngelewatin hal 'gak baik', ya. Duh, gak bisa deskripsikan akunya. Pokok gak enak."

"Yaudah, doa dulu. Kalau udah tenang, baru cerita lagi."

Malam itu pun berlalu dengan -alhamdulillah- baik-baik saja. Keesokan harinya, saya menemui rekan kerja saya yang indigo dan menceritakan apa yang saya alami. Seyakin saya, dia pasti lebih paham apa yang saya rasakan tanpa perlu deskripsi panjang lebar.

Jadi ini katanya, "Ya iya, Bik, kerasanya kayak halusinasi gitu, kan, terus lemes. Kayak ngelewati suatu tempat yang sebenarnya biasa dilewati, tapi jadi begitu asing, kan? Ya gitu itu. Mungkin kamu emang kayaknya 'nerobos' aja. Kalau di jalan itu jangan terlalu fokus dan jangan terlalu kosong, lah, Bik."

Dari apa yang dia jelaskan, kesimpulan yang saya dapat adalah, mungkin memang baik tidak kosong dalam perjalanan. Tapi, memikirkan hal lain selain jalan pun juga tidak baik. Jatuhnya fokus ke hal lain dan bisa jadi hal yang saya kemarin rasakan terulang kembali.

So, kesimpulan terakhir, tetap lah fokus apa yang dihadapi di jalan saja. Naudzubillah, lah, kalau mengalami pengalaman seperti kemarin lagi 😭. Bingung mau ngapainnya 😭.

Regards,

Surabaya



Seberapa Penting Show Off Pasangan di Sosmed?

Saya seringkali melihat pengguna sosmed mengunggah foto pasangan (belum terikat agama) dalam akun media sosial mereka. Saya, tipe yang (sangat) jarang sekali melakukan itu sejak dulu. Bahkan hampir terbilang tidak ada foto pasangan di akun saya.

Nah, beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan teman yang sepemikiran tentang hal ini. Jadi, mulailah diskusi kami dengan pertanyaan yang gak sengaja keluncur, "Loh, Mbak sudah punya pacar? Kukira kemaring single, Mbak."

Dan kami pun mengalir dengan beberapa pernyataan yang memang kami berdua sepemikiran. Ini saya buat point-point aja kali, ya, biar gampang memilah seberapa orang-orang macam kami menganggap relationship adalah hal yang sangat privasi buat go public sebelum terikat agama.

1. Tidak Sebut Pacar, Bukan Berarti Dia Tidak Spesial


Kami berdua sama-sama tidak menyebut pasangan kami sebagai 'Pacar'. Kami menilai terlalu klise dengan istilah ini dan terlalu 'tua' untuk dalam posisi hubungan pacaran. Yang identik seperti kisah-kisah roman jaman SMA.

Saya pribadi, lebih suka menyebut pasangan saya 'Priaku' atau 'Pasanganku' atau 'Teman Dekatku' atau jika dengan rekan yang sudah tahu, saya lebih suka sebut nama saja. Karena teman dekat menurut saya jauh lebih bermakna, which is walaupun saya punya teman cowok, saya lebih menganggap mereka saudara atau sekedar sebutan 'teman'.

"Aku lebih suka sebut dia yah, 'Temen Deket'. Tapi ini bukan berarti dia gak spesial. Dia sangat spesial. Tapi, kesannya buatku, sudah bukan saatnya lagi untuk pacaran romans yang sedikit-sedikit nyebut kata 'Pacar'. Kita udah dewasa," katanya.

Sampai pernah ada temen yang bilang ke saya, "Kamu kok gak pernah sih ngaku kalau itu pacarmu?"

Dengan santai saya jawab, "Yah, ngapain. Pacar terlalu klise. Temen deket kan kesannya lebih 'deket' gitu maknanya."

2. Tidak Pasang Foto Pasangan, Tapi Sometimes itu Perlu

Kami ternyata sama-sama kurang suka memasang foto pasangan -belum halal- di sosial media. Bisa dihitung berapa kali, atau bahkan tidak ada sama sekali foto pasangan kami di sosmed. Mungkin hanya beberapa kali saja kami menunjukkan inisial bahwa kami memiliki pasangan.

Kenapa?

Karena menurut kami hal tersebut sangat privasi. Lalu, kenapa kami kadang menunjukkan inisial atau gelagat memiliki pasangan. Bukan karena ingin show off untuk pengakuan publik, bukan. Tapi, penjelasan yang kami dapatkan, kami rangkum seperti ini:

"Kadang, menunjukkan kalau kita punya pasangan itu penting. Karena banyak orang mengira kalau aku masih terpuruk. Aku sekarang udah fine dan udah bahagia dengan yang baru. Itu kenapa aku beberapa kali cover lagu yang aku tulis caption untuk 'someone special'."

atau,

"Kadang butuh untuk menunjukkan kalau dia pasangan kita untuk mencegah orang luar mengusik kehidupan kita. Kalau mengusik dengan maksud baik, it's okay. Tapi, kalau maksudnya ingin merusak, itu jadi warning aja."

Ya, semacam begitulah. Show off itu sometimes perlu. Untuk kebutuhan tertentu dan dengan maksud tetap menjaga hubungan. Kalau kata pasangan, dia selalu bilang, "Untuk ke niat yang baik, godaannya akan lebih besar daripada cuma sekedar pacaran aja. Harus kuat internalnya, Hun.".

3. Semakin Banyak Tahu, Godaan Semakin Banyak?

Ini entah mitos atau memang fakta, untuk hal ini saya kurang paham juga. Tapi, menurut yang saya denger, semakin banyak yang tahu, katanya semakin banyak distraksi. Semakin sering digoyahkan dengan apa yang mereka (semacam seperti) tahu tentang kehidupan kami.

Kembali, saya kurang paham untuk point 3 ini, ya, karena saya jarang untuk menceritakan tentang pasangan ke orang banyak. Saya sedikit membatasi diri untuk hal ini. Jadi, pernyataan itu bisa menjadi masukan juga buat hubungan saya, gitu.

---

Well, cukup 3 point itu aja gosipan kami yang ingin saya share. Mungkin, kalau kamu adalah tipe pasangan yang suka mengumumkan suatu relationship, I don't care about it. Sungguh. Aku bukan tipikal orang yang suka untuk men-judge orang lain untuk ini atau bahkan hal lain.

Menurut saya, masing-masing orang punya batasan privasi sendiri. Kalau saya, relationship adalah salah satu privasi -yang saya males banget kalau ada 'orang asing' terlalu mengusik. Kalau itu bukan privasi untuk beberapa orang lainnya, monggo. Saya menghargai keputusan ini. Kan kita bhinneka tunggal ika. Haha.

Sebagai penutup, menurut kalian seberapa sih urgensitas mengunggah kepemilikan relationship -belum halal- di dunia maya? :)

---


Jangan salahkan aku yang begini manjanya padamu, Twins. Kamu, terlalu membuatku menjadi seorang ratu.

Seringkali membuatku terbang, tanpa menjatuhkanku. Membuatku tertawa dan kesal dalam waktu bersamaan.

Aku tak pernah marah padamu lebih dari 10 menit. Aku tak tau apa rahasiamu, hingga kamu bisa selalu melunakkanku kembali.

Katamu, "Ya, kamu begitu itu. Aku udah paham kamu gimananya."

Aku sering malu mendengarmu mengatakannya. Membuatku sepertinya belum mengenalmu begitu dalam, sedangkan kamu, memang begitu banyaknya mengenalku.

Jangan salahkan aku yang begini cemburunya padamu. Aku memang tidak mencemburui semua wanita di sekelilingmu. Aku bukan tipe pengekang, kuakui.

Tapi, kamu memang begitu baik pada semua orang. Aku takut jika di antaranya menganggap kebaikanmu memiliki arti lain. Sedangkan kamu, sudah kumiliki.

Jangan salahkan aku yang seringkali ingin bertemu denganmu. Kamu pembawa suasana yang baik. Entahlah, berbincang denganmu bagai lupa waktu.

Kamu jangan begitu membuatku nyaman, jika tak ingin aku cari setiap harinya. Jangan membuatku ingin segera memilikimu, jika waktu masih menjadi penghalang.

Kamu, bisikkan padaku apa yang membuatmu begitu menenangkanku. Begitu membuatku sangat terlindungi. Dan tanpa basa basi, kamu selalu membuatku merasa sangat ingin dimiliki olehmu.

Terima kasih. Waktu akan menjawab bagaimana doa kita akan berujung. Kamu, membuatku sangat mengerti bagaimana rasanya sangat dipertahankan.

Aku seringkali terharu kalau mengingatnya. Aku yang begini adanya, dengan kamu yang begitu adanya, dapat sama-sama saling belajar hingga kini.

Lagi, tolong jangan salahkan aku jika memang selalu ingin bersamamu. Kamu, mau bersamaku?

Pst, jangan dijawab sekarang, agar aku ada alasan memintamu bertemu kembali denganku!


Regards,

Your half~