Dokumen untuk SKCK, Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN), dan Surat Keterangan Dokter

Artikel ini murni untuk pengingat saya pribadi dan semoga bermanfaat untuk para pembaca, ya. Sebab, ini bukan pertama kali saya urus Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), Surat Keterangan Dokter (SKD), dan Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN). Namun, tetap saja bingung perihal dokumen dan alur pengurusannya.

Jadi, here we go! Sebagai catatan, saya mengurus SKD dan SKBN di Kota Probolinggo, sedangkan SKCK di Posek Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Jika memang ada perbedaan, mungkin tidak terlalu banyak, dan menyesuaikan kebijakan instansi terkait.

1. Pengurusan Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN) dan Surat Keterangan Dokter (SKD)

Alur Pengurusan :
Saya mengurus SKBN di Poliklinik Bhayangkara, Polres Probolinggo. Lokasinya dekat alun-alun kota Probolinggo. Alur pengurusannya cukup mudah : isi administrasi, tes urin, dan menunggu dokumen selesai.

Dokumen yang Dibutuhkan: 
fotokopi ktp 1 lembar, foto 4x6 (2 lembar)

Biaya: 
untuk SKBN komplit, seharga Rp 150.000,- dan untuk yang tidak komplit (kalau ndak salah) seharga Rp 75.000,-. Biaya untuk SKD seharga Rp 20.000,-. 

2. Pengurusan SKCK di Polsek (untuk Melamar Kerja Swasta)

Alur Pengurusan untuk Pembuatan Baru:
Mengurus surat pengantar di balai desa, dilanjut surat pengantar di kecamatan, dan barulah ke Polsek. Lumayan butuh seharian. Tapi, jika sudah memiliki SKCK sebelumnya, tinggal perpanjang ke Polsek dan dengan catatan maksimal jangka waktu dari masa berlaku tidak lebih dari 1 tahun. 

Dokumen yang Dibutuhkan: 
-Di balai desa, cukup setor data diri dari fotokopi KTP untuk pengisian oleh petugas administrasi saja.
-Di kecamatan, butuh foto 4x6 (1 lembar).
-Di Polsek, butuh foto 4x6 (4 lembar) dengan latar belakang merah, fotokopi KTP (1 lembar), surat pengantar desa dan kecamatan, ijazah terakhir, dan fotokopi kartu keluarga (KK).

Biaya:
-Di balai desa dan kecamatan gratis. Sedangkan di Polsek seharga Rp 30.000,- 
---

Sebenarnya, kalau sudah mengetahui dokumen yang dibutuhkan, pengurusan bisa hanya 1 hari saja tanpa bolak-balik. Namun, karena beneran lupa dan gak kepikiran searching dokumennya, saya harus kembali di hari esoknya. Pertama, karena masa berlaku SKCK sudah mati terlalu lama dan tidak bisa diperpanjang. Kedua, ternyata foto yang saya bawa kurang banyak.

Semoga membantu :)


Credit image: https://kreditgogo.com/artikel/Informasi-Umum/Kegunaan-dan-Cara-Mengurus-SKCK.html
Tentang Perempuan : Sebagaimananya Perempuan Menjadi

"Bik, kamu loh jadi kok bisa cewek lemah lembut, ya."

Obrolan sore itu dimulai dengan celetuk salah satu rekan kerja di samping saya. Saya memang tipe ambivert, tidak mudah membuka diri dengan orang baru. Jadi, mungkin itu alasan beberapa orang yang sering bertemu dengan saya, tapi tidak terlalu dekat mungkin menganggap seperti itu. Haha.

Jadi perempuan itu seharusnya seperti apa, sih?

Masih sedang berbincang dengan orang yang sama, beberapa benang merah yang bisa saya tarik adalah:

1. Perempuan hardworker dan berpenghasilan, it's ok. Karena....

"Kamu tidak harus bergantung ke pasanganmu untuk penghasilan. Kamu gak tau nanti dapat pasangan yang kayak gimana. Iya kalau dia setia, tiba-tiba gak berpenghasilan, tiba-tiba kecantol sama cewek lain. Ya oke aja, sih, kalau kerja."

Dari pendapatnya, sebenernya dari sisi saya terkesan agak menusuk, tapi memang ada benarnya juga. Saya pribadi memang tipe perempuan yang ingin tetap bekerja selama dalam usia produktif dengan alasan ingin memberi orang tua banyak hal dan mandiri secara finansial. Haha.

Untuk alasan secara rinci, setiap perempuan yang bekerja pasti berlandaskan. Entah karena memang tulang punggung, kebutuhan ekonomi, ingin membahagiakan orang tua, belanja, apapun. Intinya, kalau dirangkum, mandiri secara finansial memang ada kenikmatan tersendiri yang harus disyukuri.

2. Jadi perempuan lembut boleh, lemah jangan.

Bener banget ini, mah. Jadi perempuan lembut boleh, karena memang tutur kata dan perilaku adalah cerminan dari agama, pendidikan, ataupun latar belakang keluarga. Jadi, kelembutan akan membawa nama baik dari aspek-aspek yang melingkupi tersebut.

Lemah jangan. Konotasi lemah ini macam perempuan yang tidak bisa berbuat apa-apa jika tertindas. Hanya berdiam diri dan tak ada perlawanan sama sekali. Pemikiran ini ada benarnya juga, walaupun saya pun merasa masih sering lemah kepada orang lain yang saya anggap lebih 'menang' dalam omongan.

Lembut dengan ketegasan, namun tidak lemah dalam pengambilan keputusan. Bukan penjajahan.

3. Love yourself first, be Smart and Beautiful.

Masih banyak pula yang menilai perempuan dari standar kecantikan, yang harus putih, tinggi, kurus, mancung, rambut panjang hitam lurus, mata belok, bibir tipis, dan alis tebal. Ataupun standar kecantikan sesuai role mode yang sering diiklankan.

Namun, apa iya setiap perempuan akan dilahirkan seperti itu? Tentu tidak, bukan. Nah, ini yang kemarin akhirnya menjadi pembahasan kami. Bahwa mencintai diri sendiri dengan cara merawat diri itu penting. Menjaga kesegaran dan kebersihan tubuh ataupun wajah bukanlah hal yang harus diabaikan.

Tentang siapa manusia lain yang akan menerima kecantikan kita, itu urusan Tuhan. Perempuan diciptakan untuk pria secara berpasangan. Dan jika kamu merasa tidak terlalu cantik dari segi penampilan -dengan role mode yang terbangun-, maka jadilah pintar dan cantik dari sisi lainnya.

You are your own role mode. Ciptakan role mode sendiri untuk tampil percaya diri. Ini yang sulit untuk perempuan macam saya yang memang cenderung tertutup, pemalu, dan tidak terlalu suka mengekspose wajah :(. I have to learn to love myself more.

4. Perjuangkan apa yang berhak didapatkan, bukan sekedar tentang keegoisan.

Tidak semua perempuan memiliki kesempatan untuk memperjuangkan hak yang seharusnya didapatkan. Pendidikan tinggi, penyamaan kedudukan di suatu posisi, ataupun di segi masyarakat. Saat ini, kaum feminisme seringkali menggaungkan hal ini dan ini tidak ada salah pula.

Saya, karena tipe yang adem ayem mlempem (hah), memang jarang yang memperjuangkan hak dengan 'nggetu' karena bagi saya pertimbangan dengan keluarga besar dan pasangan adalah keutamaan. Haha. Jadi, kembali lagi, kalau memang hak yang ingin diperjuangkan bertentangan dengan keluarga, maka yang saya pilih tetaplah keluarga.

Kesimpulannya, jika memang memungkinkan untuk memperjuangkan hak sebagai perempuan dan selama tidak memperburuk keadaan, menurut saya itu adalah baik. Namun, kembali, jika memang tidak memungkinkan pun karena alasan yang logis, bukanlah hal yang buruk pula.

Terkadang, berkompromi dengan sebuah keputusan bukanlah pertanda kekalahan, bukan. Dan bukan pula sebuah kepasrahan. Totally different.

5. "Aku bukan tipe perempuan yang bisa memanjakan pria dengan tutur kata halus."

Itu katanya dengan tertawa dan kami tergelak bersama. Mungkin, di matanya, saya adalah tipe yang memanjakan pria, yang setiap lelah dipijeti, yang setiap makan selalu dilayani, atau lainnya. Nyatanya, memang tak selamanya begitu. Haha.

Kataku padanya, "Yah, kita kan ada cara sendiri buat treat ke pasangan. Tidak selalu sama antar pasangan, kan."

Dan dengan angguk, mengiyakan pendapat saya. Memang, ada beberapa perempuan yang terlihat jelas bagaimana memanjakan, menampilkan pasangannya di hadapan umum, tertutup dengan topik pasangan, atau terlihat adem ayem, tapi dalamnya bergemuruh.

Memang, perempuan bukanlah 'objek' pemuas nafsu belaka. Menjadi diri sendiri dengan tetap berkompromi dengan pasangan tentang how to treat, tetap selalu menjadi jalan keluar yang baik. Tidak harus sama.

--

Sampai paragraf ini, sepertinya saya tidak bisa menilai secara objektif bagaimana baiknya menjadi perempuan. Bagi saya, setiap perempuan punya alasan sendiri mengapa mereka menjadi seperti mereka sekarang. Memiliki latar belakang yang akhirnya membentuk pribadi yang sekarang.

Ada salah satu perempuan yang saya nilai kurang baik di mata saya dan kadang membuat kesabaran saya diuji. Tapi, di lain sisi, saya sering mencoba meredam dan mengatakan, "Oh, mungkin dia seperti itu karena ini karena itu." Pada akhirnya, yang saya nilai kurang baik, tidak lagi dalam ranah saya menilainya.

Just it. Perempuan dari sisi perempuan. Perempuan dari saya yang pemalu dan susah berkata banyak hal. Perempuan dari saya yang selalu mengutamakan keputusan bersama dari keluarga.

Salam cantik,


dari kita yang memang lagi syantik
--

Sumber gambar : https://www.girlup.org/#sthash.XnLtBbgI.dpbs
Tentang Perempuan : Berbicara tentang Sexy Dancer
Tentang Perempuan : Berbicara tentang Sexy Dancer
Semalam, 9 Februari 2019, saya mengajak Mas hadir di salah satu acara dekat tempat tinggal kami. Sebenarnya, saya tertarik menghadiri acara tersebut, selain agar Mas bisa reunian sama temennya, juga karena ada penampilan 'sexy dancer'.

Kenapa jadi tertarik? Nah ini.

Saya sendiri sebenarnya hanya ingin tahu bagaimana sebuah acara dengan konsep seperti itu berlangsung. Hanya sekedar ingin tahu bagaimana yang dinamakan sexy dalam mindset masyarakat. Jadi, saya ingin membahas beberapa point.

1. Ekspektasi vs Realita

Dalam perkiraan saya, perempuan dalam konsep sexy secara fisik, macam Yulia Baltschun dan tipe pecinta olahraga gymnastic lainnya. Dengan beberapa bagian yang memang terbentuk karena memang dibentuk dengan latihan keras dan lama.

Secara realita, nyatanya yang dinamakan konsep sexy ini bukanlah secara fisik belaka. Namun, lebih ke bagaimana cara berpakaian. Anggaplah, dengan penampilan perempuan Asia pada umumnya yang tidak melakukan latihan beban, namun berpakaian sedikit terbuka, mungkin saja ini bisa masuk dalam kategori sexy ini.

Atau dalam artian, tidak terbuka tapi mau bergoyang dan membuka (maaf) sedikit bajunya ke atas, maka ini bisa masuk pula dalam stigma yang saya tangkap sementara ini. Dari segi tarian pun, sebenarnya, dibilang erotis pun tidak. Masih dalam taraf wajar saja, bergoyang selayaknya cover dance yang tidak terlalu menonjolkan salah satu bagian badan.

2. Bekerja vs Pilihan Hidup

Point ini agak berat, ya, kalau saya bahas dalam posisi saya mah apa. Jadi, di sini saya berusaha untuk tidak melakukan judge seperti apa seharusnya mereka. Saya bilang mereka 'salah' juga bukan dalam kapasitas saya, ya. Karena apa?

Bisa jadi, mereka melakukan itu karena faktor kebutuhan hidup dan mencari pekerjaan memang tidaklah mudah. Mungkin, sementara ini pekerjaan itu yang bisa dilakukan, sedangkan hidup memang harus dibiayai. Tapi, juga tidak menutup kemungkinan, sebenarnya itu adalah pilihan hidup, sedangkan ada pekerjaan lain yang sebenarnya bisa dilakukan. Tapi, kembali, apakah pekerjaan ini mencukup kebutuhan (atau keinginan)? Wallahu alam.

3. Perempuan sebagai Objek (Apa?)

Pada akhirnya, saja jadi menyoroti point ini. Dalam skala acara tersebut memang dihadiri oleh (sebagian besar) pria, panitia memang menyediakan sexy dancer ini sebagai tampilan utama. Terdengar sayup-sayup candaan antar para lelaki, yang menurut saya semacam sexual harrasment, tapi yaudahlah ya.

Banyak pula yang merekam penampilan mereka, entah sebagai candaan, pengisi feed sosial media, atau memang hanya ingin menyimpan. Saya sempat melihat dari para pria ini berkeringat cukup banyak, dalam keadaan tidak terlalu gerah, karena acara ini berada di lapangan yang sangat luas. Jadi, mereka berkeringat karena apa?

-------

Nah, saya mencoba netral dan tidak menyalahkan apa yang mereka lakukan. Karena saya tidak mengetahui latar belakang keluarga, lingkungan, ataupun mengapa mereka menjadi seorang sexy dancer. Pilihan mereka, mari dihargai bersama, dengan segala konsekuensi yang saya rasa sudah disanggupi oleh yang bersangkutan.

Manusia memang tidak bisa dilahirkan terlahir di lingkungan ataupun orang tua semacam apa, tapi manusia bisa memilih menjadi manusia macam apa. InshaAllah :) . Cuma di akhir pesan, "Semoga yang bersangkutan tidak masuk angin" saja~

Salam,


Dari kami
Yaelah, Gak Level!

"Yaelah, gak level, lah, aku kalau dibandingin sama anak modal cantik, suka umbar aurat, dan (menyebutkan hal duniawi)."

Pernah dalam posisi candaan atau emosi, terungkap kata 'Gak Level' dalam pembicaraan kalian? Saya pernah sekali. Seingat saya memang sakali, baru kemarin, dalam posisi emosi yang agak memuncak. Karena kekecewaan yang dalam. Dan pertahanan diri karena memang merasa 'lebih tinggi'. Sombong? Bukan. In the name of defense.

Sekarang, saya ingin membahas ungkapan ini sebagai refleksi diri agar tidak terulang secara sadar ataupun tidak sadar mengucapkannya. Jadi, dalam kondisi tenang sekarang, saya sadar bahwa memang ungkapan tersebut rasanya terkesan terlalu meremehkan keduniawian seseorang.

Rasanya melangit, tapi lupa bahwa kaki masih berpijak di bumi.

Tapi, gimana, donk, kadang kan butuh defense juga buat mempertahankan harga diri ataupun keyakinan?

Iya, memahami pula dengan hal tersebut. Memang dalam kondisi tertentu, manusiawi bila terasa tersakiti, manusia melakukan pertahanan diri, termasuk dengan mengungkapkan hal tersebut.

Tapi...

Kembali, ketika tersakiti, ada hal lain yang bisa dilakukan tanpa harus menyakiti orang lain pula, kan. Misal, berjuang untuk lebih sukses akhirat dan duniawi yang intinya mengarah ke perbaikan diri. Memandang orang lain sebelah mata bukan solusi yang baik, rasanya, untuk membalas keburukan.

Seandainya, nih, seandainya, pilihan terakhir adalah dengan memandang rendah orang lain, maka menurut saya, tidak ada bedanya apa yang ada pada diri kita dengan apa yang ada di diri mereka. Menjadi baik tidak pernah ada salahnya.

Pada kesimpulannya, saya tetap tidak menilai orang-orang yang 'memandang rendah orang lain' sebagai pribadi yang kurang baik. Tapi, jika bisa, saya tidak ingin memiliki pandangan seperti itu. Menjadi bijaksana memang tidak mudah, tapi bisa dilatih dan dibiasakan.

Mari berproses dengan jalan yang baik~
"Journey from May 2009 and still counting down. People come and go, parents don't, memories don't." - hf
Blogger Perempuan