Training di Lembah Hijau, Puncak, Bogor
Training di Lembah Hijau, Puncak, Bogor
# Pendidikan Minggu ke-3

Tanggal 22 s/d 25 Juli 2019, saya dan 20 peserta lainnya berkesempatan mengikuti rangkaian training di Lembah Hijau, Bogor. Kami berangkat dari Jakarta Selatan menggunakan bus sekitar pukul 07.00 wib dan tiba di Puncak sekitar pukul 10.00 wib. 

Saya kurang bisa merinci bagaimana perjalanannya karena untuk menghindari mabuk darat, saya dan teman sebangku saya, Hapsa, memilih untuk tidur di sepanjang perjalanan. Sekedar yang saya rasakan memang perjalanan sedikit meliuk dengan medan yang menanjak. Dan saya yakin jika saya terbangun, saya pasti sedikit mual. 

Anyway, di sana karena kami memang bertujuan untuk training, pemandangan Lembah Hijau yang sangat apik tidak terlalu bisa kami nikmati untuk berswafoto. Jadwal pendidikan lumayan padet, Cin, dan memang tujuan utamanya bukan untuk berlibur. Haha.

Lembah Hijau di Pertemuan Pertama...

Nah, Lembah Hijau ini merupakan resort yang dirancang cocok untuk pelatihan. Fasilitas hall room, resto, bungalow, lapangan panahan, lapangan basket, treck buat lari, dan lainnya. Rasanya memang digagas sebagai prasarana untuk training yang sangat lengkap dengan padu padan keasrian Bogor. 

Terdapat banyak bungalow di sana yang sepertinya didesain untuk berlibur keluarga. Masing-masingnya memiliki ruang tamu dengan tv utama, pantry kering, kulkas, dispenser dan dapur di lantai 1, serta 3 kamar tidur dan balkon di lantai 2.

Satu kamar berada di lantai bawah yang lebih luas dan bath-thub (mungkin diperuntukkan untuk Ibu-Bapak) dan 2 kamar di lantai atas dengan kamar mandi shower. Setiap kamar berisi 1 lemari besar, 2 ranjang tidur, 1 lampu hias, dan 1 meja rias. Dan keindahan semesta dapat dinikmati dari masing-masing jendela kamar.

Bungalow di Lembah Hijau, Bogor
Bungalow yang Kami Tempati
Bungalow di Lembah Hijau, Bogor
Tim 1003 : Saya, Sindi, Frenda, Hapsa, Dana, dan Camell
Bungalow di Lembah Hijau, Bogor
Pemandangan dari Lantai 2 Bungalow
Bungalow di Lembah Hijau, Bogor
Bungalow di Lembah Hijau, Bogor
Salah Satu Spot di Kamar Lantai 1 Bungalow

Ini Samapta ataukah Samapta yang Tertunda?

Ah, ya, sebenarnya kami memang dijadwalkan untuk samapta di minggu ini, tapi kami juga heran karena minggu ini kegiatannya adalah training pengembangan diri. Saya pribadi, mungkin memang menantikan samapta, tapi training pengembangan diri seperti ini pun sangat niqmat haqiqi dan asyique!

Training yang Kami Jalani itu...

Dari awal masuk ke circle ini, kami memang selalu dikader sebagai pemimpin masa depan, setidaknya 2 atau 3 tahun lagi. Jadi, pelatihan yang jalani dirancang untuk membentuk mental, pemikiran, perilaku, cara berpakaian, dan lainnya yang diharapkan dimiliki oleh seorang pemangku jabatan.

Kami dilatih juga untuk memiliki mimpi yang tinggi dengan penanaman diri untuk bekerja sama. Jadi, untuk itulah kami dibentuk menjadi 4 tim dengan masing-masingnya terdiri dari dari 5-6 peserta.

Tim 1 bernama Axel dengan personilnya adalah Rizky (ketua), Dini, Adis, Hapsa, dan Hapsa. Tim 2 bernama Ello dengan personilnya adalah Frenda (ketua), Faiz, Ajeng, Danarela, Livia, dan Shinjuwita. Tim 3 bernama Matahari dengan personilnya saya (alhamdulillah sebagai ketua XD), Avita, Devi, Camel, dan Sindi. Tim 4 bernama The Winner dengan personilnya adalah Alex (ketua), Putu, Niken, Rusyda, dan Nanda.

Tim Matahari : Devi, Avita, Sindi, Camell, dan saya
Tim Matahari : Devi, Avita, Sindi, Camell, dan saya

Keempat tim diharapkan aktif dalam setiap rangkaian kegiatan dan akan memperebutkan 1 posisi juara. Di setap kegiatan, panitia telah menyiapkan sticker dan masing-masing tim harus mengumpulkannya. Tapi, karena memang dilatih untuk aktif, panitia memang tidak ada patokan pasti kapan akan memberikan sticker ke peserta. Jadi, benar-benar unpredictable

Tim Matahari beranggotakan cewek-cewek yang anteng dan sempat tertinggal di awal :"). Tapi, saya sangat bersyukur satu tim dengan mereka yang sangat support each other dan selalu optimis~

Ada beberapa permainan yang kami lakukan di sepanjang sesi, antara lain:

1) Presentasi Materi 7 Dimensi Manusia yang Menarik
Kami diminta untuk mempresentasikan materi yang dipaparkan dengan cara yang berbeda dan unik. Tiga tim lainnya mempresentasikan dengan drama dan tim saya mempresentasikan dengan permainan "Domikado". Di permainan ini, pemenangnya adalah Tim Axel.

2) Presentasi Materi Manage Emosi
Sama dengan point no 1 hanya berbeda materi saja. Ketiga kelompok lainnya memainkan drama dan tim kami mempresentasikan dengan lagu "Ingatlah Hari Ini" by Project Pop. Di permainan ini, pemenangnya adalah Tim Matahari. Yeay!

Training di Lembah Hijau, Puncak, Bogor
Lirik Lagu dari Tim Matahari

3) Presentasi Maket Pembangunan Wilayah ke Developer
Di sini, kami diminta untuk membuat sebuah maket yang terdiri dari perkantoran dan instansi lainnya. Setelahnya, kami diminta untuk mempresentasikan ke seorang yang berakting sebagai developer dan meyakinkannya untuk mendanai project tersebut. Tim Matahari dipresentasikan oleh Camella. Dan pemenang dari permainan ini adalah Tim The Winner.
Training di Lembah Hijau, Puncak, Bogor
Maket dari Tim Matahari dengan Judul "Mathari City"
Training di Lembah Hijau, Puncak, Bogor
Maket dari Seluruh Tim

4) Lomba Lari Individu dan Tim
Nah, di hari ketiga dan keempat, kami ada perlombaan lari 3 km. Sebelum lari, kami diminta untuk membuat target waktu terlebih dahulu. Mayoritas menargetkan di posisi Sparta dengan rentang waktu 13-14 menit, termasuk saya. Haha.

Di hari ketiga, kami diminta untuk lari sendiri dan pencapaian waktu yang saya dapatkan di angka 20 menit 40 detik. Tidak terlalu buruk buat saya yang memang jarang lari. I'm proud of myself, seenggaknya bisa sampai finish saja sudah alhamdulillah.

Di hari keempat, kami diminta untuk lari bersama tim dengan posisi tangan diikat. Di awal, kami lari di posisi agak belakang. Tapi, kami mencoba menyalip sedikit demi sedikit. Serunya, kami memang diharuskan tidak mementingkan ego satu sama lain dan melatih tim untuk tetap berjuang bersama. 

And we did. Bersyukur banget bisa diberi kesempatan bersama Tim Matahari memenangkan perlombaan ini dengan waktu 23 menit-an. Lupa detik keberapa. Perlombaan ini lebih mengajarkan arti kebersamaan dan saling mendukung, bukan ke persaingan untuk menjadi no 1, sih, saya rasa.

Di akhir kegiatan, pemenangnya jatuh di Tim Axel dan Tim Matahari di posisi kedua. Not bad, lah, ya, tetep so proud of us. Ciwi-ciwi ha ha ha ha.
Training di Lembah Hijau, Puncak, Bogor
Hasil Skoring Tim

---

6) Tugas Personal : Membuat Dream Board
Selain 5 game tersebut, kami juga diminta untuk membuat prakarya sendiri di sebuah papan mimpi atau dream board. Kami diminta untuk menulis mimpi kami di sebuah kertas dan memvisualkan ke manila.

Kami diharuskan mencari gambar dari majalah yang kami bawa dan ini sebagai gambaran impian kita kedepan. Impian ini nantinya harus dipresentasikan ke anggota tim lain agar secara alam bawah sadar dapat masuk dan tertanam.

Training di Lembah Hijau, Puncak, Bogor
Dream Board Saya dengan 8 Aspek

7) Give Your Stick To Other Person
Di salah satu sesi, kami juga diberi 2 stick es krim dan diminta untuk memberikannya kepada 2 orang lainnya. Bisa kepada yang inspiring, butuh support, temen deket, atau lainnya. Saya memberikan 2 stick saya kepada Frenda dan Dana sebagai saudara pertama saya di perjuangan kali ini. Alhamdulillah, saya juga mendapatkan 5 stick es krim dari lainnya. A, so thank you for your supporting, Ges. 

Training di Lembah Hijau, Puncak, Bogor
So Thank You So Muccccchh~
Btw, kami seharusnya hanya boleh memberikan stick tersebut dengan tanpa suara, tapi harus dalam posisi pelukan. Saya, ya, karena pelukan saja tak cukup, saya juga bisik-bisik mengatakan, "Thank you, kamu juga harus kuat, ya".

---

Sebenarnya banyak sekali pelajaran dan sesi yang saya skip untuk tidak diceritakan di artikel ini. Karena terlalu panjang dan memang semua sesinya sangat berharga. Jadi, saya tulis yang memang sangat memberi kesan bagi saya.

Beberapa kesimpulan dari training ini adalah :
  • Penanaman menjadi pemimpin dan team work yang baik; 
  • Jadilah pemancar energi positif, bukan penyedot energi;
  • Jadilah manusia yang menarik dengan 7 aspek kehidupan;
  • Bekerjalah dengan gairah membara di dalam dada.

Berbicara tentang Makanan dan Wifi yang Mantul...

Oh, makanan di sini juga sangat enak, cukup kaget ternyata lidah saya dapat bersahabat dengan masakan Sunda. Setiap paginya, kami berkumpul jam 06.00 wib, senam, dan sarapan di jam 07.00 wib. Kami mendapatkan snack pagi, makan siang, snack sore, makan malam, dan snack malam. Ditambah wifi gratis dengan koneksi memadai. How a life banget, masyaAllah. 

Training di Lembah Hijau, Puncak, Bogor
Pemandangan di Tiap Paginya Menuju Tempat Makan

---

Saya memang sangat bersyukur dan berterima kasih banyak untuk kesempatan yang orang tua dan Mas saya berikan. Pertemuan dengan keluarga kecil saya di sini. Dan semua kebaikan yang alhamdulillah terus mengalir.

The last, tetap menjadi orang baik, karena semesta akan memberikan kebaikannya kepada orang baik yang tidak pamrih. Kita hanya perlu sabar dan tetap berjuang di jalan yang direstui orang tua. 



Salam,

dari Jakarta Selatan yang ternyata lebih panas pula dari Surabaya~
juga dari saya, yang pada akhirnya dapat menautkan mimpi besar kembali di sini~
dan dari saya yang rindu dengan Probolinggo, juga Sidoarjo beserta isinya~

Urgensitas kepemilikan kartu kredit, rasanya memang sudah mulai berdampingan dengan kepemilikan kartu debit. Ditambah, sudah cukup banyak merchant ataupun promo yang memungkinkan pengguna cenderung lebih memilih kartu kredit.

Menurut pengalaman pribadi, kemudahan bertransaksi dengan kartu kredit, memang semudah bertransaksi dengan kartu debit. Sebelas dua belas.

Disini, saya ingin memberi pandangan buat temen-temen, untung ruginya punya kartu kredit. Saya menilai secara pendapat pribadi dan tidak mengatasnamakan instansi apapun, ya. Sehingga, syarat dan ketentuan pun bisa jadi ada perbedaan.

Btw, saya pernah menuliskan yang sejenis di artikel ini juga, loh.

Keuntungan Memiliki Kartu Kredit


1) Lebih Mudah Melakukan Manajemen Keuangan
Beberapa orang, mungkin salah satunya saya, memang merasakan kemudahan untuk mengatur keuangan dari kartu kredit untuk perbelanjaan kebutuhan sehari-hari. Dengan transaksi di kartu kredit, kita bisa merencanakan penggunaan pendapatan di bulan ini. Sedangkan, sisa pendapatan lainnya bisa disisihkan untuk ditabung atau lainnya.

2) Transaksi Belanja Online Lebih Mudah
Belanja online dengan kartu kredit memang semudah menggunakan kartu debit. Dengan memasukkan no kartu, cvc, expired date (masa berlaku kartu), dan memasukkan kode otp, kita bisa langsung menyelesaikan pembayaran. Saya sendiri biasanya, lebih menyukai online marketing yang ada verifikasi otp, lebih merasa aman saja, gitu.

Pst, pastikan memilih online marketing yang memang sudah terverifikasi visa/mastercard dan carilah yang memang menggunakan keamanan otp agar ada verifikasi double. Namun, ada beberapa online marketing yang memang tidak menyediakan otp jika tidak bertransaksi dalam jumlah tertentu.

3) Dapat Dicicil dengan Bunga Ringan, bahkan 0%
Beberapa nasabah memilih kartu kredit untuk dapat mencicil suatu perbelanjaan. Ini memang bisa memudahkan untuk nasabah yang memiliki keinginan lebih besar dari pendapatannya atau memang memiliki alokasi dana untuk kebutuhan lainnya yang lebih urgent. Atau bisa juga, kan, membayar tagihannya dengan minimum pembayaran dan membayar sisanya di bulan depan.

Jadi, kalau gaji paspasan, tapi ingin beli iphone X, mungkin bisa lah, ya, apply kartu kredit XD

Untuk saya pribadi, lebih suka menabung terlebih dahulu daripada harus mencicil. Saya rasa, cicilan memang memudahkan (bagi yang membutuhkan), tapi di sisi lain, membuat hidup saya kurang tenang :( .

4) Lebih Banyak Promo
Kartu kredit memang cenderung memiliki promo lebih banyak dibandingkan kartu debit, baik dari perbelanjaan, hotel, ataupun tiket perjalanan. Ini merupakan angin segar bagi yang senang berlibur ataupun cocok bagi ibu rumah tangga. Namun, bisa jadi membuat beberapa lainnya menjadi lebih konsumtif jika tidak bisa memilah mana keinginan dan mana kebutuhan.

5) Sebagai Cadangan Keuangan
Bagi nasabah yang sering melakukan perencanaan alokasi di awal bulan, terkadang ada kebutuhan mendadak yang memang tidak bisa mengusik alokasi dana tersebut. Nah, untuk itulah kartu kredit ini juga bisa digunakan. Sehingga, alokasi dana yang dikumpulkan untuk suatu tujuan tetap bisa terkumpul, tanpa kita bingung mencari pinjaman dari kanan kiri.

Kerugian Memiliki Kartu Kredit

1) Cenderung Lebih Konsumtif
Bagi manusia-manusia yang suka sekali belanja, memang keberadaan kartu kredit dapat membuat lebih konsumtif. Selain banyak promo diskon ataupun cashback, kartu kredit juga menawarkan pemberian point yang dapat di redeem untuk transaksi lainnya.

Juga, kemudahan gesek tanpa memikirkan pendapatan yang tersisa (karena bisa bayar dengan pendapatan di bulan depan), seakan memupuk kebiasaan belanja ini untuk tumbuh lebih subur. Jadi, buat kamu yang ada kecenderungan suka belanja, mohon berpikir dua kali sebelum mengajukan kartu kredit.

2) Adanya Bunga dan Biaya Administrasi
Kartu kredit memang memudahkan untuk nasabah yang memang menyukai transaksi "pasca bayar". Namun, penggunaan kartu kredit juga dikenakan biaya administrasi, berupa biaya materai. Memang tidak besar, tapi tetap kalau digunakan transaksi secara cash, kan bisa digunakan untuk transaksi lainnya.

Bunga ini juga dikenakan bagi nasabah yang melakukan pembayaran secara minimal atau cicilan. Walaupun ada beberapa cicilan yang 0%, rupanya tidak semua tempat perbelanjaan membebaskan biaya perbelanjaan. 

Terkait biaya administrasi, ada yang mengenakan biaya administrasi 2.5% dari perbelanjaan atau nominal lain. Jadi, misalnya dapat cicilan 0%, nih, tapi kalau tempat belanja mengenakan biaya admn 2.5%, maka tetap aja kita mengeluarkan cost yang lebih banyak, to.

3) Rawan Terjadi Penyalahgunaan Elektronik (atau Fraudster)
Ini bagian yang menyeramkan dari kartu kredit. Kemudahan penggunaan kartu kredit ini, bisa menjadi celah bagi para fraudster untuk menyalahgunaannya. Pengamanan yang canggih juga berbanding lurus dengan kemampuan fraudster untuk membobolnya.

---

Tapi, tidak perlu rasa takut berlebih dalam menggunakan kartu kredit karena point no 3 ini. Berikut tips aman menggunakan kartu kredit di online atau offline market adalah :

1) Pastikan transaksi online market tersebut terverifikasi master/visa card;
2) Usahakan memiliki pengamanan double dengan adanya otp;
3) Jangan berikan informasi terkait info data kartu, bahkan ke rekan terdekat. Info data tersebut dapat berupa no kartu, cvc, masa berlaku, jumlah limit, jumlah kartu tambahan, dan lainnya. Usahakan memang benar dirahasiakan;
4) Jangan biarkan kasir offline market untuk mencatat no kartu, cvc, atau masa berlaku kartu. Atau mengambil foto kartu kredit, big no!

---

Nah, sampai di tahap kesimpulan, sebenarnya kepemilikan kartu kredit ada untung ruginya, sih. Bagi saya pribadi, lebih dimanfaatkan untuk cadangan keuangan dan lebih mudah mengatur keuangan ke depannya. Walaupun, pada beberapa kasus, memang membuat saya agak kalap karena kadang berpikir, "Ah, pakai kartu kredit dulu, lah" dan pada akhirnya menumpuk di belakang. Duh!

Baiklah, terakhir, usahakan untuk berpikir dengan bijaksana dan matang sebelum mengajukan kartu kredit, ya. Kalau dirasa keuangan cukup stabil untuk membayar dan bisa mengontrol pemakaian, boleh lah ajukan. Tapi, jika ada kemungkinan bisa menjadi super konsumtif, ada baiknya dijauhi saja. Karena sejatinya penggunaan kartu kredit berstatus HUTANG (pada bank) dan harus dibayar XD .

Jangan pernah termakan iming-iming indah kartu kredit tanpa berpikir panjang, ya, generasi milenial! Ciao!




Source pic :
http://www.mag.co.id/manfaat-kartu-kredit/

Bismillah.

Banyak yang berubah di rutinitas hidup saya belakangan ini. Setidaknya dari awal Juli 2019. Baik dari segi pekerjaan, intensitas dengan keluarga ataupun si Mas, juga tentang pertemanan.

Pada intinya, saya tak ingin terlalu membahas tentang pekerjaan. Karena saya berharap pembahasan terkait itu tidak saya jelaskan secara eksplisit di media sosial (termasuk blog) :).

Jadi, alhamdulillah, puji syukur saya memperoleh jalan untuk menuju posisi di salah satu instansi yang saya impikan. Berkat doa kedua orang tua, tentunya, juga support dari si Mas yang juga harus paham resikonya.

Mengingat posisi jangka pendek (dan panjang) pula, saya memang harus mulai berinvestasi dari sekarang. Baik dari segi pengalaman, pengetahuan, dan pola pikir. Banyak yang rasanya harus saya benahi dan itu wajib. 

So, yah, bismillah. Semoga saya mampu berinvestasi dengan mulai memantaskan diri dari beberapa aspek tersebut dan aspek lain yang tidak saya tuliskan.

Bismillah, semoga yang didoakan segera tersemogakan~

Memang, Allah Maha Baik dengan segala kejutan dan rencana-Nya. Dijawab-Nya segala "puluhan mengapa" dengan berlipat-lipat kebaikan. 

Anyway, masih banyak yang harus dilakukan dan diusahakan. Karena sejatinya manusia adalah pejuang kemangan, kan? Jadi, jangan lelah berjuang for everyone yang tersasar di tulisan ini ^ ^

By the way, saya ingin membuat rangkaian tulisan dengan new label "Petualangan Baru" tentang my new life. Karena penempaan kami memang cukup lama untuk menjadi suatu mutiara. Hai, Diriku di masa depan, I really proud of you right now. :)
---

Dan, to be honest, I wanna tell to my special one. Sister from another Mom. You did great steps. Aku yakin, kamu belum menyerah untuk berjuang apa yang kamu impikan, kan :) . 

For you who always insecure when told me. I don't know how I should tell to you, so I write it.

Pearl is always pearl, even in mud. Kamu, hei Mbak, I know you have so many potential things. Compare with others is good, but, I just wanna tell you if you are so good like they are tho :) .

If no one say it for you, I will say now, "I really proud of you, men! You are cool, so cool like they are."

Don't insecure. You are really good in your way. I love you 3000. Reach your dreams if you want, you deserve to get it. I am here if you need me. You know if I always beside you, right :).
Sebuah Renungan : “Kasian, ya, Gajimu Segitu...“
Sebuah Renungan : “Kasian, ya, Gajimu Segitu...“

( Sebuah Renungan dan Curhat )

Menjadi seorang karyawan dengan pendapatan yang tetap dalam setiap bulannya adalah salah satu cara masyarakat untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Ada yang beruntung memiliki gaji yang lebih dari kebanyakan atau bahkan sebaliknya.

Cerita di bawah ini akan saya mulai dari "bismillah", semoga bisa menjadi pembelajaran bagi saya (dan semoga bagi pembaca) untuk lebih dewasa dalam urusan keduniawian. Singkat cerita, saya pada akhirnya mengetahui gaji seorang karyawan rumah makan, yang ternyata di bawah marginal dan ini berbeda dengan ekspektasi saya. Saya, harus banyak belajar tentang rasa bersyukur ~

Dalam beberapa waktu, saya merasa ingin sekali membantunya atas dasar kasian, tapi di sisi lain, ada perasaan yang masih belum sembuh akibat perbuatannya di masa lampau. Ungkapan "Forgive but not forget" itu kadang ada benarnya.

Dan setelah berpikir dengan kepala dingin, saya mengurungkan niat untuk mencampuri kehidupannya lebih dalam, dengan alasan yang ingin saya paparkan. Semoga ini tertuliskan dengan cukup baik dan pesan positifnya tersampaikan, ya.

1) Gaji Bukan Tolok Ukur Kebahagiaan

Yang harus disadari, sebenarnya tolok ukur sumber kebahagiaan setiap manusia tidak hanya dari gaji. Ada yang terlihat pendapatan di bawah marginal, tapi terlihat sangat bahagia. Itu ada. Kita berhak menentukan sumber kebahagiaan kita, seperti kelengkapan keluarga, badan sehat, hidup berkecukupan, dan lainnya.

Memang uang bisa membeli keduniawian, tapi rasa berkecukupan tidak bisa dipelajari dengan materi. Banyak yang memiliki pendapatan besar, tapi tidak pernah merasa cukup, hidup berantakan, keluarga tidak lengkap, dan lainnya. Namun, ada yang memiliki pendapatan seperti kebanyakan, tapi selalu dipenuhi rasa syukur. Mana yang lebih bahagia?

2) Mendapatkan Karir yang Sesuai dengan Kondisinya

Di usianya sekarang, nominal gaji yang dia dapati sebulan sebanding dengan yang saya dapatkan di usia saya saat itu. Namun, bedanya, saya mendapatkannya dari sangu bulanan orang tua dan berkuliah, sedangkan dia mendapatkannya dari gaji dengan tanggungan lain (yang saya tidak cukup tahu pula).

Pun, saya rasa, setiap dari kita pasti memiliki kesadaran diri untuk menabung dan membeli suatu keinginan. Dengan gaji yang dimiliki sekarang, saya rasa sesuai dengan kondisinya sekarang. Di usia saya saat itu, saya sudah mulai belajar mengatur keuangan, jadi mungkin diapun sudah mulai belajar mengatur keuangan tersebut.

Jadi, saya rasa masih banyak cukup waktu untuk belajar tentang kehidupan. Tidak harus terlalu banyak melangkah untuk mendapatkan yang lebih banyak. Menjadi baik dengan niat menolong orang lain itu memang baik, tapi bagaimanapun, kita tetap berhak menentukan mana yang tetap nyaman di hatimu dan kehidupan diri kita di masa depan, kan :)

3) Hindari Bersimpatik tanpa Solusi Pasti

"Gajimu berapa? Kamu cukup hidup dengan gaji segitu?"

Saya akhirnya memutuskan tidak memulai percakapan dengan kalimat tersebut untuk menghindari dampak buruk setelahnya. Kebayang, gak, kalimat simpatik tersebut bisa saja mengecilkan hati orang lain. Dari yang awalnya merasa berkecupan dan lapang dengan pendapatannya, tiba-tiba menjadi merasa berkekurangan dan tidak nyaman dengan pekerjaannya.

Saya ingin menghindari ini. Memang beberapa orang membuat kalimat 'simpatik' ini menjadi cambuk, tapi untuk beberapa lainnya bisa menjadi tekanan. Kita tidak mengetahui bagaimana dalamnya hati manusia, bukan.

Juga, karena saya memang tidak memiliki link kerja lain. Ataupun jika ada link kerja lain, belum tentu pula sesuai dengan passion yang bersangkutan. Jadi, jika memang tidak ada solusi, ada baiknya mengurungkan diri untuk mengatakannya. Saya berharap, kamu juga memikirkan ini jika ada kerabatmu yang memiliki income di bawahmu.

4) Saya Yakin, Dia Baik-Baik Saja

Sejauh saya melihat dari sosial medianya, dulu, saya rasa dia baik-baik saja dengan itu. Kembali ke point 3, saya tidak ingin mengecilkan pemikirannya dan menyempitkan rasa syukurnya. Sekarang, dengan gaji berapapun, masyarakat memang bisa tampil sewajarnya. Begitu pula dengan saya ataupun dia.

Salah satunya dengan transaksi kredit yang pernah saya tulis sebelumnya di sini. Atau dengan cara menabung, mencari pasangan yang memiliki pendapatan lebih tinggi, atau lainnya. Kita hidup di masa keduniawian dapat dipermudah dengan berbagai cara. Jadi, take it easy, don't over thinking.

---

Sebuah Renungan : “Kasian, ya, Gajimu Segitu...“


Last, kesimpulan yang saya dapatkan setelah membaca dan menulis ulang curhatan saya ini adalah :

1) Jangan tanyakan tentang nominal gaji, jika kamu tidak ada jalan keluar untuk memberinya pekerjaan yang menurutmu lebih baik.

2) Memiliki gaji seperti kebanyakan ataupun di bawah marginal, tidak menutup kemungkinan dapat hidup berkecukupan. Menabung adalah jalan keluar yang baik. Ini benar.

3) Memiliki niat menolong orang lain itu selalu baik, tapi tidak semua niat baik akan berdampak baik di kedua belah pihak. Kamu tidak bisa memaksakan orang lain menerima pertolonganmu dengan reaksi yang kamu inginkan.

4) Perbanyak bersyukur dan jangan terlalu sering membandingkan dengan orang lain. Boleh membandingkan untuk memotivasi dan mengingatkan diri sendiri. You deserve to be the best of you. Jangan karena terlalu sering membandingkan, jadi tambah stress dan kurang bersyukur.

Begitulah. Tulisan ini pada akhirnya saya tulis ulang setelah tulisan sebelumnya masih ada feel yang saya kurang suka ketika membacanya. Semoga pesan baiknya dapat tersampaikan dengan baik, ya. Semoga kita menjadi manusia bijaksana yang tidak pernah berhenti untuk belajar mendewasakan diri setiap harinya.



Salam,


dari Surabaya yang sudah mulai dingin~



Source pict:
[1] https://www.tokopedia.com/anityas/jual-tumblr-tee-t-shirt-kaos-work-hard-stay-humble-in
[2] https://www.etsy.com/sg-en/listing/533917564/work-hard-and-be-nice-t-shirt-tumblr

"Journey from May 2009 and still counting down. People come and go, parents don't, memories don't." - hf
Blogger Perempuan