3 Produk Menggelikan di Masa Pubertas
3 Produk Menggelikan di Masa Pubertas [1]

Setiap wanita, saya rasa selalu memiliki impian untuk tampil langsing bak role mode majalah wanita. Begitu pula dengan saya, yang saat itu merasa begitu over weight dan beberapa teman memanggil saya dengan julukan "Ndut". Eh tapi, wanita ukuran berapapun pasti merasa over weight, gak sih? Haha.

Di sini, saya ingin share 3 produk menggelikan yang pernah saya coba di masa pubertas untuk menurunkan berat badan secara instan. Dulu, saya males banget diet dan olahraga, tapi pengen banget turun. Sekarang juga tetep males, sih, tapi paling egak sudah paham bagaimana untuk menjaga kalori yang masuk tidak berlebih.

1. Slim Patch si Plester Pelangsing 

Slim Patch si Plester Pelangsing
Slim Patch [2]
Slim patch ini berbentuk adalah lembaran setipis kertas berwarna kuning, dan berukuran sekitar 5 x 5 cm. Plester itu akan terasa panas seperti koyo ketika ditempelkan di kulit. Kalau gak salah, terbitan China karena dari kemasannya full dengan huruf yang ala-ala China.

Harganya tidak mahal, sepertinya bekisar Rp 25,000 atau bahkan lebih murah. Saya jamin tidak mahal karena posisi saya dulu masih mahasiswa dengan sangu bulanan dijatah. Saya beli produk tersebut di kawan sekelas. Beli 1 apa 2 pack gitu. Cuma karena pengen kurus instan.

Cara kerjanya, plester tersebut ditempelkan di pusar dalam waktu semalem. Menurut iklannya, saat pemakaian, kulit akan terasa panas dan merangsang untuk sering buang air kecil. Lemak yang terbakar akan dibuang dari sana. Cocok digunakan di bagian yang ingin dikecilkan, katanya.

Faktanya, saya tidak merasa ingin buang air kecil terus. Dari segi hangat, memang sedikit hangat, tapi lebih hangat salonpas atau minyak kayu putih. Dari segi aroma, sedikit berbau. Dan yang saya rasa, tidak terlalu signifikan penurunan berat badannya.

2. Teh Daun Jati / Teh Pelangsing

Teh Daun Jati
Teh Daun Jati China [3]

Teh pelangsing yang saya beli adalah produk lokal yang terjual secara bebas di minimarket. Ini  memungkinkan saya untuk (dulu) rajin membelinya. Harganya sekitar Rp 30,000 an lebih dan terbilang lebih mahal, sih, kalau dibandingkan dengan teh biasa. Dari segi aroma, berasa antara campuran jamu dan teh hijau. Saya pun mengonsumsinya tanpa gula dan saya seduh biasanya dalam ukuran botol minum sedang.

Teh daun jati ini saya beli di Cimori saat saya dan teman ke sana di tahun 2014-an, mungkin, ya. Itu bukan dalam rangka iseng juga, tapi ya memang karena ingin berat badan turun secara instan. Saya dan Ika (sepupu teman saya) membeli 1 pack dengan harga sekitar Rp 50,000 an kalau gak salah. Ini terbilang mahal, tapi ya gimana ya.

Kedua teh ini berfungsi untuk menekan nafsu makan dan merangsang tubuh untuk sering buang air kecil. Itu kenapa, selalu disarankan untuk perbanyak minum air putih. Faktanya, saya memang cenderung lebih sering buang air kecil daripada biasanya. Untuk nafsu makan, saya kurang berpengaruh. Mungkin kalau tentang nafsu makan, lebih dipengaruhi mind set kali, ya.

Sebagai note, karena teh hijau baik buat kesehatan. Kadang teh pelangsing masih saya konsumsi kalau lagi susah buang air besar. Kalau yang saya rasa, kalau masalah ini ada benarnya. Memang ketika rajin minum teh hijau tanpa gula, 'pengeluaran' lebih lancar dari biasanya.

3. Gel Pelangsing

Slimming Gel
Slimming Gel [4]
Saya baru membeli gel pelangsing ini ketika saya sudah bekerja. Karena sudah mulai malas olahraga dan iseng-iseng penasaran lihat banyaknya iklan cepat langsing di instagram dengan gel ini. Belilah saya secara online yang mana harus sepaket dengan teh pelangsing di point sebelumnya.

Kalau dari review yang saya baca sebelum membeli, efek yang akan didapatkan adalah hangat dan akan membuat bagian yang dioleskan berkeringat deras. Yang paling menggiurkan, keringat akan bercucuran tanpa olahraga berat. Siapa sih yang gak tertarik?

Nah, berdasarkan review tersebut akhirnya saya membeli gel tersebut dengan impian betis lebih cepat mengecil. Disertai dengan olahraga-olahraga ringan yang (dulu) rutin saya lakukan. Cuma sekedar olahraga mengikuti aplikasi workout saja~

Hasilnya, secara ukuran, memang mengecil sedikit, tapi saya kurang paham apakah ini banyak dipengaruhi oleh gel ini atau tidak. Karena ketika olahraga pun, bagian yang saya oles, terasa sedikit hangat saja, walaupun tidak terlalu berkeringat.
---

Last, dari ketiga produk yang saya tuliskan di atas, sampai sekarang saya masih mengonsumsi teh dan menggunakan gel pelangsing sesekali. Dua produk ini baru saya beli belakangan dan karena kurang rutin menggunakannya, hingga sekarang belum juga habis. Haha.

Ini cerita saya yang belum sadar kalau lebih nyaman menjaga badan dengan pola makan dan pola hidup, bukan dengan produk pelangsing instan. Kamu gimana, ada effort yang unik gak untuk melangsingkan tubuhmu? Intinya, jangan lupa olahraga dan pola hidup dijaga, ya ~(^ ^~)

---

Source pic:
[1] https://www.greatschools.org/gk/articles/puberty-normal-development/
[2] tokopedia.com
[3] https://sagaramart.co.id/teh-daun-jati-cina/
[4] https://mtcinformatique.com/harga-gel-pelangsing-mustika-ratu-terbaru/

Di usia yang semakin hari semakin matang dalam hitungan angka, ada banyak hal yang menjadi tidak semudah dulu lagi. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Tidak bisa semua bisa dilakukan dengan sekenanya.

Kadang terlalu overthinking, kadang terlalu santai tapi rupanya pun tak bisa sesantai itu. Kadang begitu bergairah. Kadang begitu takut. Dan pernyataan 'kadang kadang' lainnya yang pada akhirnya mengingatkan saya bahwa saya memang harus mulai berbijaksana.

Argh! Baiklah, agar tidak jenuh juga, saya ingin menulis beberapa pemikiran-pemikiran yang menjadi ketakutan dan kebahagiaan di setiap harinya. Btw, saya menulis ini di sela-sela jam kerja agar sedikit otak 'nakal' saya bisa tertuang dengan jelas.

Tentang Karir.

Sekarang, jadi tak semudah "Ah bosan. Ah udah ah." Segampang ketika hidup tidak sekeras sekarang. Harus ada pemasukan setiap bulannya, untuk melewati masa indah di umur 20+ ini. Sesuai fase hidup, kan. Juga, lebih susah berkata, "Ah aku menyerah" daripada "Aku harus  berjuang sampai mendapat yang baru".

Saya memang bekerja di sebuah tempat yang menyimpang dari jurusan kuliah. Sejauh ini, saya bersyukur berada di posisi ini, berada di tempat kerja yang kondusif, saya inginkan, dan dengan lingkungan kerja yang begitu kekeluargaan.

Beberapa hal menjadi pertimbangan saya untuk bertahan, terlebih memang sangat nyaman di tempat ini. Namun, ada hal lain yang memang mengetuk saya untuk keluar dari zona nyaman. Itu pun, banyak pula yang harus dipikirkan, dari lokasi, income, pressure, ataupun posisi kerja.

Yah, hidup, ya begitu. Sawang sinawang. Sedikit bersyukur, banyak nuntutnya. Makanya, sabar aja ya hidup di bumi manusia yang memang penuh keingintahuan. Banyakin syukurnya, jangan lupa.

Tentang Jodoh.

Dulu gampang banget, bilang, "Cie jones. Cie jojoba." ataupun "Cie cie" lainnya yang menginisialisasikan tentang status. Bahkan, candaan "Nikah kapan?" atau "Kapan nyusul?" dan lainnya yang juga berbau tentang relationship bukan lagi candaan yang selucu dulu.

Dulu, yang gampang banget kepo tentang hubungan percintaan orang, sekarang, lebih mengetahui mana yang privasi mana yang bukan. Lebih suka bilang, "Nanti kalau sudah fix jodohnya, kabarin ya. Selama masih mencari, kalau memang perlu cerita, aku siap dengerin."

Bukan ke sisi tidak peduli lagi, tapi privasi adalah privasi dan hubungan adalah privasi. Saya pun begitu, yang dulu mungkin sering bercerita tentang kisah asmara ke ('sembarang') circle link, sekarang lebih membatasi diri. Sebenarnya, saya dari dulu memang bukan tipe yang show off tentang hubungan, pun untuk sekedar pasang profil picture di sosial media, saya berpikir cukup panjang. 

Pasangan saya yang sekarang seringkali mengatakan bahwa "Bertahan jauh lebih indah dan menyenangkan daripada harus mencari yang baru dan beradaptasi kembali". Dia, salah satu yang membuat saya menyadari apa arti sangat diperjuangkan dan ingin dimiliki, selain dari kedua orang tua saya:") ~

Tentang Plesir x Nabung x Hedon x Pertimbangan Lain.

Kalau dipikir, ketika sudah (alhamdulillah) bisa mencari pemasukan setiap bulan, ajakan something to do yang berbau happiness dan membutuhkan dana sedikit menguras, merupakan pertimbangan yang tak lagi mudah. Termasuk di antaranya plesir, nonton film, nongkrong, belanja, dan lainnya.

Dulu, ketika di pihak mudah sekali meminta kepada orang tua, ajakan plesiran, selama ada waktu semacam "It's okay cao aja".  Sedangkan sekarang, sering mikir, plesir gini habis berapa. Nabung sudah cukup gak buat ini itu, yang memang sudah ter plan. Sering juga mikir, "Uang segini nabung dikit, bisa kali buat liburan sekeluarga."

Begitu juga dengan ajakan nonton ataupun nongkrong. Dari dulu saya bukan tipe anak yang suka nongkrong hedon dan memang tidak mau dibiasakan. Mungkin karena dari pola keluarga yang saya tipe anak rumahan kali, ya. Yang lebih suka makan ya di rumah aja sama keluarga :".

Jadi, dengan pola hidup Surabaya yang mau gak mau juga beberapa kali harus nongkrong, saya membatasi dengan budget. Kalau low, ya oke aja. Kalau sudah masuk ke high, saya sering kali mikir,"Mama Ayah pernah ga ya, nongkrong dan makan mahal kayak gini" dan pikiran itu seringkali mengurungkan niat saya buat nongkrong.

Saat kuliah, saya tipe anak yang kalau bisa sebulan sekali lah nonton. Dan sekarang, bahkan saya bisa hitung jari berapa kali saya nonton dalam beberapa bulan terakhir. Uang tiket nonton, bisa lah buat nabung. Kalau pengen nonton, bisa lah cari gratisan, bisa lah uangnya dibuat sangu untuk sowan ke keluarga dekat.

Terkesan membosankan hidup tanpa hiburan, ya? Tapi, bagi saya yang sekarang, menghabiskan uang yang awalnya untuk kesenangan pribadi, lebih menyenangkan jika digunakan untuk berkumpul dan 'berfoya-foya' dengan keluarga. Tipe anak rumahan sekali, ya. Haha.  

***

Sometimes, yang saya dan teman dekat saya sering katakan adalah di fase dewasa awal yang sangat menegangkan ini adalah, "Kami belum siap menjadi manusia dewasa. Argh!" Banyak kali yang harus jadi pemikiran. Se enjoy - enjoy nya mencoba menjalani hidup, tetap saja lebih banyak hal yang menjadi pikiran dibanding fase sebelumnya.

Kembali lagi, saya yakin akan melalui fase ini dengan baik. Semoga selalu berusaha sebaik-baiknya. Juga kamu, yang sedang berjuang untuk kebersamaan kita. Chu~


Salam dari Surabaya,

yang semalam sangat panas dan banyak nyamuk.
Pengalaman (Semi) Mistis di Jalan

Pernah mengalami hal 'mistis' selama perjalanan ke suatu tempat? Saya sepertinya baru mengalami semalam, entah ini hanya perasaan atau memang benar terjadi. Ini kejadian semalam, ketika perjalanan dadakan ke rumah mbah di Pacet, Mojokerto. Saya bersama teman ke sana dengan sepeda motor dan kecepatan yang stabil.

Saya ini tipe orang yang gampang sekali berimajinasi atau tiba-tiba saja di pikiran saya seringkali membayangkan suatu cerita. Jadi, saya yakin sekali saat itu tidak dalam posisi pikiran kosong.

Saya ingat, saat itu kami melewati sebuah jalan persimpangan, entah itu pertigaan entah itu perempatan. Yang saya lihat, di sana sangat ramai sekali dan terang di area kiri. Mungkin itu semacam warung, tapi entahlah. Tapi, saat itu, tiba-tiba seperti 'hilang'.

Perasaan ini semacam tidak bisa dideskripsikan. Yang saya rasa, tiba-tiba badan saya kurang enak di beberapa bagian, bingung mau ngapain, tiba-tiba semacam 'membatu', dan saya beberapa kali berpikir, "Kenapa aku ini". Saya memang semacam tidak berjalan di koridor seharusnya, tapi saya yakin saya memang tidak berpindah jalur.

Saya sempat 'membatu' sedikit lama. Mau bilang teman yang menggonceng pun, rasanya masih belum sanggup. Saya terus saja mengucap apapun doa yang bisa saya baca dalam hati. Semacam lemas mau bilang, tapi perasaan sudah sangat tidak enak.

Saat itu, saya merasa, seperti nyawa tidak terkumpul secara penuh. Tapi, saya memang dalam keadaan sadar. Berkali-kali saya bertanya dalam diri tentang kenapa ini-kenapa ini. Berkali-kali pula saya mencoba untuk kembali mengumpulkan 'nyawa' saya.

Saya ingin berhenti di Indomaret terdekat, mungkin membeli minum, intinya berhenti. Badan saya masih agak lemas dan bingung juga gimana jelasin ke teman saya saat itu. Tapi, saya memang harus berhenti. Tetap dalam kondisi motor berjalan pun, kondisi saya sudah 'tidak enak'.

Jadi, ketika saya sudah mulai bisa tenang, saya bilang ke dia untuk menepikan motor ke Indomaret terdekat.

"Bi, ke Indomaret terdekat, ya," kataku.

"Ngapain? Kamu haus ta?"

"Egak. Nyawaku kayak gak kekumpul. Gak tau kenapa."

Mendengar perkataan saya, dia sudah bingung gak karuan, mencoba menggenggam tangan saya yang memang lebih dingin dari tangannya. Mengingatkan saya untuk tetap berdoa dalam hati.

"Sek, tahan tahan."

Tiba-tiba, entah ini halusinasi atau suatu hal lainnya, tapi kaki kanan saya berasa menghangat dengan pundak yang serasa begitu tidak nyaman. Dan intinya, badan bagian belakang berbeda dari biasanya. Kami berhenti di Indomaret terdekat yang lumayan terang.

"Kamu kenapa, to?"

"Gak tau, badanku kayak gak enak," kataku sambil menggerak-gerakkan pundak, kaki, dan tangan -yang agak kesemutan-.

"Kenapa? Mulai dari mana?"

"Gak tau, kayak gak kekumpul aja nyawaku tiba-tiba, Bi. Dari persimpangan yang sana. Sek, to."

Saya masih berusaha menggerak-gerakkan badan, mencoba mengenakkan kembali perasaan yang mulai ketakutan sendiri. Sudah mulai agak tenang, kami membeli minuman dan duduk sebentar. Dia pun mulai interogasi dengan apa yang terjadi.

"Kenapa, to?"

"Gak tau akunya. Kayaknya apa kita tadi ngelewatin hal 'gak baik', ya. Duh, gak bisa deskripsikan akunya. Pokok gak enak."

"Yaudah, doa dulu. Kalau udah tenang, baru cerita lagi."

Malam itu pun berlalu dengan -alhamdulillah- baik-baik saja. Keesokan harinya, saya menemui rekan kerja saya yang indigo dan menceritakan apa yang saya alami. Seyakin saya, dia pasti lebih paham apa yang saya rasakan tanpa perlu deskripsi panjang lebar.

Jadi ini katanya, "Ya iya, Bik, kerasanya kayak halusinasi gitu, kan, terus lemes. Kayak ngelewati suatu tempat yang sebenarnya biasa dilewati, tapi jadi begitu asing, kan? Ya gitu itu. Mungkin kamu emang kayaknya 'nerobos' aja. Kalau di jalan itu jangan terlalu fokus dan jangan terlalu kosong, lah, Bik."

Dari apa yang dia jelaskan, kesimpulan yang saya dapat adalah, mungkin memang baik tidak kosong dalam perjalanan. Tapi, memikirkan hal lain selain jalan pun juga tidak baik. Jatuhnya fokus ke hal lain dan bisa jadi hal yang saya kemarin rasakan terulang kembali.

So, kesimpulan terakhir, tetap lah fokus apa yang dihadapi di jalan saja. Naudzubillah, lah, kalau mengalami pengalaman seperti kemarin lagi 😭. Bingung mau ngapainnya 😭.

Regards,

Surabaya



Seberapa Penting Show Off Pasangan di Sosmed?

Saya seringkali melihat pengguna sosmed mengunggah foto pasangan (belum terikat agama) dalam akun media sosial mereka. Saya, tipe yang (sangat) jarang sekali melakukan itu sejak dulu. Bahkan hampir terbilang tidak ada foto pasangan di akun saya.

Nah, beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan teman yang sepemikiran tentang hal ini. Jadi, mulailah diskusi kami dengan pertanyaan yang gak sengaja keluncur, "Loh, Mbak sudah punya pacar? Kukira kemaring single, Mbak."

Dan kami pun mengalir dengan beberapa pernyataan yang memang kami berdua sepemikiran. Ini saya buat point-point aja kali, ya, biar gampang memilah seberapa orang-orang macam kami menganggap relationship adalah hal yang sangat privasi buat go public sebelum terikat agama.

1. Tidak Sebut Pacar, Bukan Berarti Dia Tidak Spesial


Kami berdua sama-sama tidak menyebut pasangan kami sebagai 'Pacar'. Kami menilai terlalu klise dengan istilah ini dan terlalu 'tua' untuk dalam posisi hubungan pacaran. Yang identik seperti kisah-kisah roman jaman SMA.

Saya pribadi, lebih suka menyebut pasangan saya 'Priaku' atau 'Pasanganku' atau 'Teman Dekatku' atau jika dengan rekan yang sudah tahu, saya lebih suka sebut nama saja. Karena teman dekat menurut saya jauh lebih bermakna, which is walaupun saya punya teman cowok, saya lebih menganggap mereka saudara atau sekedar sebutan 'teman'.

"Aku lebih suka sebut dia yah, 'Temen Deket'. Tapi ini bukan berarti dia gak spesial. Dia sangat spesial. Tapi, kesannya buatku, sudah bukan saatnya lagi untuk pacaran romans yang sedikit-sedikit nyebut kata 'Pacar'. Kita udah dewasa," katanya.

Sampai pernah ada temen yang bilang ke saya, "Kamu kok gak pernah sih ngaku kalau itu pacarmu?"

Dengan santai saya jawab, "Yah, ngapain. Pacar terlalu klise. Temen deket kan kesannya lebih 'deket' gitu maknanya."

2. Tidak Pasang Foto Pasangan, Tapi Sometimes itu Perlu

Kami ternyata sama-sama kurang suka memasang foto pasangan -belum halal- di sosial media. Bisa dihitung berapa kali, atau bahkan tidak ada sama sekali foto pasangan kami di sosmed. Mungkin hanya beberapa kali saja kami menunjukkan inisial bahwa kami memiliki pasangan.

Kenapa?

Karena menurut kami hal tersebut sangat privasi. Lalu, kenapa kami kadang menunjukkan inisial atau gelagat memiliki pasangan. Bukan karena ingin show off untuk pengakuan publik, bukan. Tapi, penjelasan yang kami dapatkan, kami rangkum seperti ini:

"Kadang, menunjukkan kalau kita punya pasangan itu penting. Karena banyak orang mengira kalau aku masih terpuruk. Aku sekarang udah fine dan udah bahagia dengan yang baru. Itu kenapa aku beberapa kali cover lagu yang aku tulis caption untuk 'someone special'."

atau,

"Kadang butuh untuk menunjukkan kalau dia pasangan kita untuk mencegah orang luar mengusik kehidupan kita. Kalau mengusik dengan maksud baik, it's okay. Tapi, kalau maksudnya ingin merusak, itu jadi warning aja."

Ya, semacam begitulah. Show off itu sometimes perlu. Untuk kebutuhan tertentu dan dengan maksud tetap menjaga hubungan. Kalau kata pasangan, dia selalu bilang, "Untuk ke niat yang baik, godaannya akan lebih besar daripada cuma sekedar pacaran aja. Harus kuat internalnya, Hun.".

3. Semakin Banyak Tahu, Godaan Semakin Banyak?

Ini entah mitos atau memang fakta, untuk hal ini saya kurang paham juga. Tapi, menurut yang saya denger, semakin banyak yang tahu, katanya semakin banyak distraksi. Semakin sering digoyahkan dengan apa yang mereka (semacam seperti) tahu tentang kehidupan kami.

Kembali, saya kurang paham untuk point 3 ini, ya, karena saya jarang untuk menceritakan tentang pasangan ke orang banyak. Saya sedikit membatasi diri untuk hal ini. Jadi, pernyataan itu bisa menjadi masukan juga buat hubungan saya, gitu.

---

Well, cukup 3 point itu aja gosipan kami yang ingin saya share. Mungkin, kalau kamu adalah tipe pasangan yang suka mengumumkan suatu relationship, I don't care about it. Sungguh. Aku bukan tipikal orang yang suka untuk men-judge orang lain untuk ini atau bahkan hal lain.

Menurut saya, masing-masing orang punya batasan privasi sendiri. Kalau saya, relationship adalah salah satu privasi -yang saya males banget kalau ada 'orang asing' terlalu mengusik. Kalau itu bukan privasi untuk beberapa orang lainnya, monggo. Saya menghargai keputusan ini. Kan kita bhinneka tunggal ika. Haha.

Sebagai penutup, menurut kalian seberapa sih urgensitas mengunggah kepemilikan relationship -belum halal- di dunia maya? :)

---