Kamu 20++, Sudah Merasakan Ini?
Kamu 20++, Sudah Merasakan Ini?

Di tempat kerja yang sekarang, beberapa rekan berusia lebih dewasa daripada saya. Baik dari segi umur, maupun pemikiran. Segi positifnya, banyak pengalaman mereka yang akhirnya menjadi pembelajaran bagi saya yang seakan masih pupuk bawang macam ini. Haha.

Topik yang benar-benar mengena dan ingin saya bagi adalah tentang “Dilema usia 20++”. Bukan dilema dalam artian buruk juga, sih. Haha. Jadi, mungkin ini juga bisa menjadi pembelajaran bagi kamu yang berusia belum 20++, ya.

1. Lebih selektif memilih teman

Ini saya rasakan sekali. Di usia sekarang, saya dan rupanya rekan-rekan kerja, juga lebih selektif memilih teman. Baik untuk teman curhat ataupun teman sekedar berhaha-hihi. Semakin ke sini, saya semakin paham mana teman yang memang benar mendukung atau hanya sekedar ingin tahu dan dibelakang malah nusuk.

Bedakan mana teman yang memang peduli dengan hidupmu atau hanya sekedar ingin tahu untuk mencari kejelekanmu. Selektif bukanlah hal buruk, loh!

2. Berpikir dua kali berteman dengan lawan jenis

Berteman dengan lawan jenis, jika tidak kuat mental, jatuhnya malah kebawa perasaan. Benar tidak? Jadi, di usia yang 20++ ini, saya juga merasakan, circle link saya pun berpikir dua kali untuk berteman dengan lawan jenis. Salah berkenalan saja, bisa-bisa malah tertipu rayuan maut ‘kadal’. Naudzubillah.

3. Tidak terlalu membandingkan

Ini sebenarnya memang kunci kebahagiaan, sih. Sawang sinawang, yang intinya rumput tetangga bisa saja terlihat lebih hijau, ini beneran kejadi di dunia kerja. Jadi, saya lebih sering untuk tidak terlalu membandingkan untuk urusan duniawi. Bersyukur dan tidak suka mengeluh adalah hal yang bisa saya ataupun kamu lakukan saat ini.

Hidup itu memang sejatinya sawang sinawang. Melihat kehidupan orang lain, 'terlihat' lebih baik. Namun, kita tidak tahu pasti bagaimana dalamnya, bukan. Syukuri yang ada, jalani sebaik-baiknya.👯

4. Lebih realistis

Karena sudah bukan di usia muda lagi, saya merasa lebih realistis. Ingin S2? Ya, cek dulu skala prioritas. Ingin belanja ini? Dipikirin lagi, masuk daftar kebutuhan atau hanya sekedar keinginan. Jadi, karena tidak muda lagi, realistis akan mulai terbangun sadar atau tidak sadar. Lol.

5. Lebih jarang berwacana

Haha. Serius, saya yang sekarang, lebih jarang berwacana. Memang saya hidup dengan beberapa list target yang harus di check list tiap waktu. Namun, sekarang lebih sering tidak berjanji muluk-muluk. Tidak seperti dulu yang seringkali berwacana. Lol.

Hm, jika ada yang mengatakan “Hidup setelah 22 tahun akan berjalan serasa lebih cepat”, that’s true af. Saya menyetujui pernyataan tersebut. Memang sepertinya siklus hidup berjalan begitu cepat. Baru saja lulus kuliah, eh belum dapat kerja, eh udah dapat kerja aja, eh udah tua aja. Ya Allah.

Kamu, yang berumur 20++, apakah juga merasakan 5 ‘siklus’ semacam itu? Kindly give me your theory too about this age.

❤❤❤

Credit pic : We Heart it @kawaiikelly  
Assalamu'alaikum.

Setelah artikel Surabaya dalam Bingkai, saya memutuskan untuk membuat "dalam Bingkai" selanjutnya. Artikel ini khusus hasil belajar jepretan saat saya berlibur di Pantai Payangan Jember, 13 November 2016. Sedangkan, cerita lengkapnya, tetap saya bikin di artikel lain. I really like a telling stories moment 😂.

Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai
Pantai Payangan Jember dalam Bingkai

Ganti Genre Tulisan Blog?

"Eh, Fib, habis ini tulisanmu ganti genre, donk, ya. Kan bakal jarang jalan-jalan lagi?"

Beberapa waktu lalu, saat saya menghadapi sesi wawancara HRD, saya bertemu dengan pewawancara yang ternyata memiliki kegemaran ngeblog. Antara senang dan ada perasaan interested juga bertemu dengan sehobi.

Kalimat pembuka tersebutlah yang menjadi pokok pembicaraan kami di saat itu. Kebetulan, beliau adalah seorang wanita paruh baya yang bijaksana. Beliau mengatakan bahwa saat ini, tulisan beliau lebih ke share masakan atau makalah penelitian.

Hm. Apa iya, saya nantinya akan mengalami masa ganti genre tulisan?

Sepertinya, masa itu memang akan terjadi, sih. Jangankan ketika saya berada dalam posisi sekarang, dulu pun, dari masa sekolah hingga kuliah, entah berapa kali saya berganti genre. Yap, blog ini sebenarnya memanglah "Another Journey and Women's Story" - of me. Haha.

Dari dulu yang semasa sekolah saya sukanya curhat tentang cinta monyet yang entah ketika saya baca ulang, seringkali, "Ya Allah, how alay I was". Pada awal kuliah, saya menjadi sedikit berjiwa perjuangan mahasiswa. Pertengahan awal kuliah, saya mulai, nih, agak aktif kegiatan dan jalan-jalan.

Sekarang, sih, hingga tulisan ini saya tulis, saya belum kepikiran genre blog ini ke depannya seperti apa. Kalau tentang make up, rasanya bukan saya banget. Tips mencari pacar? Em, Google has so many answers about it, ya. Jadi, sesuai konsep awal blog, tulisan saya tetaplah media refleksi bagi saya.

Eits, saya tentu tak akan lagi sembarangan menuliskan tentang kehidupan sehari-hari, kok. InshaAllah, selalu ada makna yang bisa diambil oleh pembaca artikel 😍. Saya bukan anak raja, yang bisa saya berikan untuk dunia adalah melalui tulisan. Bukan begitu?

Welcome to new me.

*) Pst. karena waktu udah mulai teratur, sepertinya saya mulai konsen menulis untuk media cetak. Ih, wacana apa bukan ya ini. Haha

Credit pic : We Heart It @mariana_pinto23 
Selamat Berjuang, Para Fresh Graduate! - nenghepi.com

Assalamu'alaikum.

Sebenarnya, tulisan kali ini sudah diagendakan cukup lama sekali dan memang menunggu waktu yang tepat (dalam versi saya). Bukan hal besar, sih, sebenarnya, hanya semacam rasa syukur dan sedikit pelajaran hidup yang semoga bisa diambil hikmahnya pula buat pembaca 😄. Juga, sebagai catatan pribadi dan pengingat betapa Tuhan Maha Baik 😘.

Jika ada yang mengatakan bahwa perjuangan mahasiswa sebenarnya adalah ketika meninggalkan gerbang 'perkuliahan', saya rasa, perkataan tersebut ada benarnya. Saya adalah lulusan teknik dengan gelar diploma IV, setara dengan S1. Rancu, ya, sebenarnya lulusan ini benar-benar disetarakan dengan sarjana atau diploma III. Hehe.

Saya awali dengan, "Selamat berjuang, para fresh graduate!". Ini sedikit catatan perjuangan saya, saya harap, perjuangan kalian juga tak kalah mengasyikkannya.

Fase: Pasca Graduation (October)

Sebenarnya, graduation adalah moment yang tidak terlalu mewah, menurut saya. Bukan moment terbesar, ya, tapi memang patut dirayakan karena ibaratnya telah menamatkan salah satu fase hidup. Kuliah 4 tahun di bawah bendera teknik, lumayan berat juga, Vroh.

Saat fase ini, saya memang sudah dalam posisi jobseeker. Dalam artian, saya memang telah menaruh lamaran di beberapa perusahaan yang menurut saya "MasyaAllah". Tahap tes juga pernah saya alami, namun kuasa Allah belum menempatkan saya di posisi tersebut.

Note: Biasanya, mahasiswa semester akhir memang diperbolehkan menaruh lamaran dengan menyertakan surat keterangan sedang mengerjakan tugas akhir. Atau jika sudah keluar Surat Keterangan Lulus (SKL), bisa pula menggunakan surat tersebut. Jadi, mencari pekerjaan sebelum wisuda pun, sangat disarankan. 

Pasca wisuda, yang namanya 'jetlag' benar-benar terasa. Dari yang dulunya mahasiswa dengan segudang tugas dan kegiatan, kini menjadi manusia persiapan menjadi ibu rumah tangga -read: mengerjakan pekerjaan rumah saja.

Fase: 1 Bulan Pasca Graduation (November)

Satu bulan pasca graduation, yang namanya kebosanan karena minimnya aktivitas, benar adanya. Setiap hari, yang saya lakukan lebih sering membuka sosial media, email, telegram, line, dan beberapa situs pencari kerja. Berharap ada kabar baik, yang akan turun dari langit. Terasa sedikit membosankan, memang.

Dibilang menganggur, tidak juga, sih. Saya dulu (agak) aktif menulis di salah satu website teknologi dan seringkali mengisi waktu dengan bikin vector art. Setidaknya, ada hal produktif yang saya lakukan selama masa penantian tersebut. Haha.

Sesekali, saya juga ke tanah perantauan untuk tes kerja ataupun mengikuti job fair. Ini masa dimana saya seringkali berkata "Ah, coba saja trabas jurusan, kali aja bisa." Ya, di fase ini. Walaupun, saya tetap tebang pilih untuk pemilihan tempat kerja :).

Oh, ya, salah satu teman saya pernah memberi saran pada saya bahwa setiap pencari kerja memang diharuskan memiliki kriteria pekerjaan ideal menurutnya. Memiliki standart, tidak ada salahnya. Memang diperbolehkan untuk keukeuh, nanti akan adakalanya, diharuskan melunak. Saya saat itu, berada di fase "masih ingin keukeuh".

Note: Biasanya juga, beberapa jurusan, terutama teknik, saya dan teman-teman seringkali terabas jurusan, misal lulusan Jurusan Teknik Komputer yang coba melamar di bidang Jurusan Informatika. Semacam, 'barangkali aja lolos'. Memang ada yang berhasil lolos hingga tahap akhir, tapi ada juga yang tahap administrasi pun belum rejeki.

Fase: 2 Bulan Pasca Graduation (December)

Saya mulai bimbang dengan keteguhan hati saya dalam memilih lapangan pekerjaan. Kebosanan mulai merayap di berbagai relung kegelisahan. Di bulan ini, saya tidak hanya satu kali keluar dari tanah perantauan untuk mengikuti tes kerja. Saya sangat bersyukur bahwa keluarga saya mendukung setiap pilihan saya. Walaupun, saya tahu, sebenarnya beliau juga tak kalah cemasnya dengan saya yang masih berjuang.

Orang tua memang sahabat terbaik dalam hidup. Ini memang benar sekali! Saya percaya, tak ada perjuangan yang tak ada maknanya jika saya niatkan untuk membahagiakan beliau.

Di entah fase ke berapa, saya juga merasa hubungan saya dan orang tua semakin intens, loh. Kami jadi sering berlibur bersama, sekedar melepas penat. Piknik. Atau apapun. Itu mengapa, alasan menjadikan orang tua sebagai motivasi hidup adalah alasan yang paling mujarab untuk tidak cepat mengeluh dan menyerah.

Fase: 3 Bulan Pasca Graduation (January)

Ini, nih, yang namanya kebosanan, rasanya sudah di ujung ubun-ubun. Kebosanan menunggu yang lebih menjemukan ketimbang menunggu pacar datang membawakan hadiah. Eh, skip!

Di fase ini, saya mulai bisa menilai, mana-mana orang yang memang ingin tetap menjaga silahturahmi. Mana yang tiba-tiba hilang. Mana yang tiba-tiba jadi beda. Dan dari semuanya, yang tak akan pernah hilang memang orang tua. Haha.

Saya memiliki beberapa saudara di tanah rantau yang hampir tiap minggunya, kami selalu bertatap muka melalui video call. Dari pasca wisuda, kami memang berkomitmen, untuk setidaknya menyambung tali silahturahmi melalui voice or video call group. Dan seringkali, kami melebihi 'komitmen' kami. Haha. Ya, kalau kangen, langsung telpon group aja, gitu. Btw, kami masih sering meet up juga 😍.

Mereka juga yang seringkali menguatkan saya karena kami sama-sama berjuang. Salah satu di antara kami, memang telah bekerja dan persiapan keberangkatan ke luar negeri. Sahabat ter-entah-lah yang pernah ada! Salah satu di antara kami, bersamanya pula. Mereka dalam bendera yang sama dan dia yang kedua ini baru saja menyelesaikan amanahnya sebagai mahasiswa. Yeay! Can't wait your graduation, Vroh!

Juga, saudara lainnya, yang kami seringkali bertemu hanya untuk makan bersama atau cuap-cuap masalah kerjaan atau minta tebengan ke terminal 😂. Memang, sih, kalau mahasiswa di tanah rantau, biasanya cenderung punya saudara banyak. Hehe. Senasib seperjuangan, gitu.

Note: Perkuat silahturahmi. Kamu, akan tahu mana saudaramu sebenarnya saat kamu sedang dalam masa berjuang. Mereka yang pergi, doain saja, jangan diumpatin. Kamu akan menemukan yang benar-benar memperjuangkan persaudaraan kalian 😎.

Fase: 4 Bulan Pasca Graduation (February)

Fase yang saya rasa, Allah benar-benar memberi kemudahan bagi saya. Beberapa tahap tes yang saya lalui di bulan Januari, mendapatkan jawaban. Alhamdulillah, sampai saat ini, saya berada dalam pekerjaan yang inshaAllah saya dan orang tua saya syukuri.

*Saya juga mulai membuka hati buat perkenalan baru dengan lawan jenis. Yang 'sana' udah punya yang baru juga, sih. Semoga pertemanan saya dengan yang sekarang, berjalan lancar tanpa kendala.💕

Perjalanan mencari kos pun terasa sangat dipermudah. Saya mendapatkan keluarga baru di sini. Ibu dan Bapak kos yang alhamdulillah juga dekat dengan Allah. Eh, sedikit cerita, sih. Dulu, waktu pencarian kos juga tidak langsung bertemu dengan kos yang sekarang mashaAllah enaknya. Haha.

Selama 2x survey, saya memang memusatkan pencarian di sekitar kantor dan diusahakan tidak melewati jalan besar. Dalam pencarian itupun, saya sempat menemukan yang murah, tapi sedikit kurang pencahayaan; bagus, murah, deket masjid, sayangnya campur dengan pria; bagus, murah, khusus putri, sayangnya pemiliknya taat agama (yang kebetulan beda agama); bagus, bersih, khusus putri, eh sayangnya mahal.

Yah, intinya, mencari kos ini memang hal yang susah-susah mudah. Saya sebenarnya mencari yang khusus putri, harga terjangkau, ventilasi ok (ventilasi hal yang utama), dan agama pemilik kos juga jadi pertimbangan. Bukan rasis, tapi saya suka sungkan kalau mau membaca Al-Quran dalam lingkungan beda agama :").

Dan survey kedua, sudah mulai give up mendapatkan kos yang sesuai kriteria. Ingat betul, saya saat itu di ambang "Ah, sudahlah, cari saja lain kali". Hingga akhirnya adzan Ashar menuntun saya untuk menuju masjid yang berada di sekitar tempat saya berkendara. Entah dari mana kuasa Allah datang, setelah sholat ashar, saya menuju kos saya yang sekarang. Notabenenya memang lebih jauh dari lokasi pencarian saya sebelumnya. Tapi, mashaAllah benar-benar sesuai yang saya inginkan. Haha.

Jadi, dari semua fase dalam perjuangan mencari rejeki keduniawian ini, saya sarankan, perbanyak sedekah dan terus tingkatkan keimanan pada Sang Pencipta. Sejatinya, memang rejeki sudah ada yang mengatur dan akan datang pada saat yang tepat. Jangan menyerah, tetap berjuang dan percaya bahwa semakin dekat dengan Sang Pemilik Segalanya, semakin dekat pula Ia padamu.

Dan memiliki standar tersendiri dalam mencari lapangan pekerjaan, bukanlah hal yang sepenuhnya salah, loh! Saya menyarankan, untuk tetap memiliki standar awal, terlebih dahulu. Pernah baca, sih, "Karir pertama akan menentukan karir Anda selanjutnya". Entah itu benar atau tidak, karena saya masih belum lama dalam dunia perkariran 😜.

Well, saya dulu juga pernah, kok, dalam tahap, "Duh, yang lain udah dapat pekerjaan" dan saya pernah pula berada dalam, "Alhamdulillah, saya tidak mengambil pekerjan tersebut".

Ya, gitu itu, hidup. Kadang asem, kadang manis. Asyikin aja, ya. Jangan banyak mengeluhnya, perdekat komunikasinya dengan Yang Maha Esa. Masak iya, komunikasi kamu dengan doi aja yang dibanyakin. Eh, skip!

Selamat berjuang, bagi kalian yang sedang berjuang!