Mengejar Engkong-Engkong [part 1]

By Tuesday, February 15, 2011

Pagi itu, seperti biasanya aku berjalan menuju halte bus dekat rumahku. Memang, jaraknya tidak terlalu jauh, dapat dijangkau dengan beberapa menit saja dan itu terbukti tidak memerlukan tenaga kuda untuk sampai ke sana. Beberapa Ibu yang sedang menjemur pakaian di pekarangan rumah mereka, menyapaku dan beberapa anak yang berasal dari beberapa Ibu tadi juga ikutan menyapa sambil melambaikan tangan padaku. Oh God, apakah aku sebegitu beken dan kece-nya di kalangan para Ibuhttp://www.emocutez.com? Ah, sudahlah, yang jelas aku hanya lelaki berambut cepak yang sedang menempuh pendidikan di SMK jurusan otomotif.

Suasana halte sudah tak asing lagi. Bahkan sudah dapat kutebak bagaimana yang akan terjadi di pagi itu. Ya, mungkin hal-hal yang akan terjadi adalah: Tante (yang kujuluki Mrs. Sok Seksi) akan datang dengan pakaian yang semerbak wanginya dan dengan enaknya menyerundul tempat duduk yang sebenarnya sudah tidak cukup lagi.

Kemudian, diteruskan dengan seorang Ibu (selalu tampak dengan pakaian jubah yang boleh kubilang sangat kedodoran), dia tidak terima atas perlakuan si Tante yang sok kecantikan. Beberapa menit, mereka akan sedikit berseteru, tapi herannya dengan cepat para wanita akan mengganti topik dan menjadi sesama ‘Ratu Gosip’http://www.emocutez.com!

Beralih ke anak muda yang selalu duduk di pojok halte bersama wanita yang setiap minggu berganti-ganti. Gila aje, aku yang cakepnya kayak gini belom boleh pacaran sama Emakku! Dan terakhir, seorang bapak berjas yang tampil sangat rapi dan sederhana, tapi di tangan kanannya selalu mencepit rokok yang dapat habis dalam waktu singkat dan digantikan dengan puntung rokok lainnya. Akan selalu seperti ini kejadian di halte bus dekat rumahkuhttp://www.emocutez.com.

Hari ini beda, ada satu ‘member’ baru di halte ini. Dia seorang kakek berkaca mata, memakai sarung, kopyah, dan dandanan ala Kakekku di Kampung Trenggalek sono. Yah, tak jauh berbeda, lah. Dan mulailah percakapan kami sebagai pengisi waktu luang di penantian bus.


     Aku : “Bapak dari mane? Saya kok baru liat, ya? Penghuni baru kompleks?”
     Engkong : “Bapak? Saya udah tua, Nak, kenapa masih dipanggil Bapak aja, sih?”
     Aku : “Oh, maaf, Pak, eh maksud saya Mbah. Mbah orang mana?”
     Engkong : “Mbah? Kok panggilnya, Mbah, to, Nak. Panggilan lain, donk.”
     Aku : (mulai kesal karena pertanyaanku blas gag dijawab) “Maunya dipanggil apa, Mbah?”
     Engkong : “Biasa dipanggil Engkong, Nak. Panggil Engkong aja, biar keliatan lebih keren. “
     Aku : (keren apanya? Engkong=Kakek, sama-sama udah tuir. Sarap!) “Oke, deh. Orang asli mana,  Kong?”
     Engkong : “Kong?” (si Engkong menjitak kepala saya dengan tongkat tuanya) “Kamu anak tidak sopan, ya, panggil-panggil saya Kong. Kamu pikir saya Kingkong apa?”
     Aku : (sambil mengelus kening) “Eeeh, maaf. Engkong dari mana?”
     Engkong : “Nah, gitu, donk, panggilnya yang lengkap. Kamu orang sini, Nak?”
     Aku : (yaah, ni orang ditanya malah balik nanya!) “Iya, Engkong. Saya asli orang sini. Kalau boleh tau, Engkong orang mana, ya?”
     Engkong : “Oh, orang asli, ya. Mau ke sekolah, ya, Nak?”
     Aku : (haddeh, ni orang kagak nyambunghttp://www.emocutez.com! Aseemm) “Iya, Engkong”.

Percakapan berhenti sampai situ karena aku mulai tidak nyambung dan sangat merasa tidak nyaman dengan percakapan nggaplek-i antara aku yang jelas-jelas bermuka masih mulus dan si Engkong yang udah berlipet-lipet mukanye. Lebih baik, aku konsentrasi sama jalanan berasap, kali-kali aje ada bus langgananku yang nongol.

Beberapa menit menunggu, bus berlabel Banyuwangi datang. Si Engkong tampak berdiri dan menaiki bus itu. Selamatlah hidupku. Hahaha…. Hati-hati di jalan, Kong, moga gag ada yang menjadi kesal karena Anda sangat amat sulit untuk menjawab pertanyaan yang orang lain lontarkanhttp://www.emocutez.com. Apa yang aku lakuin selanjutnya? 


to be continued...






You Might Also Like

0 Comments

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)