Mengejar Engkong-Engkong [part 3: Selesai]

By Tuesday, February 22, 2011

Perjalananku tetap berlanjut. Benar saja, ternyata ketampananku banyak memikat hati para cewek di Banyuwangi. Aduduhai, bohai tenan para wanita di daerah ujung Jawa ini. Sebagian dari wanita itu sempat melirik, kemudian tersenyum. Sebagian lagi tampak sangat memerhatikanku dan dilanjutkan dengan tawa. Tawa? Aneh! Apa ada yang salah dengan penampilanku? Sudahlah, mungkin auraku sangat memikat hati mereka yang tengah gundah gulana di jaman yang penuh dengan lelaki-lelaki yang tidak setampan diriku.

Gubrak!
     
      Penduduk 1 : “Woy, Bung! Jalan liat-liat, donk!”
      Aku : “Maaf, Mas, sedang memikirkan sesuatu.”
      Penduduk 1 : “Mikir? Punya otak?”
      Aku : “Maksudnya, Mas?”
      Penduduk 1 : “Ya, maksud saya, Mas masih punya otak?
      Aku : (kesal) “Masih, Mas. Kenapa, Mas? Otak Mas ilang di selokan, ya?”
      Penduduk 1 : “Meski otakku ilang, setidaknya saya lebih pintar daripada sampean yang dengan sengaja mengumbar barang Anda pada banyak wanita.” (si Pria langsung pergi)
      
Barang? Maksudnya? Saya tengok celana cingkrang saya. Oh, God! Kemana otakku? Gile aje, sepanjang perjalanan yang lebih dari 3 jam ini, aku berjalan dalam kondisi risleting celana belum tertutup? Gilaaaaaaaaaaa!!!http://www.emocutez.com Si Engkong harus bayar mahal atas rasa maluku. Wajahku seakan memerah padam dan membayangkan betapa banyak wanita yang kecewa atas kecerobohanku. Runtuh harga diriku sebagai lelaki idaman mereka.http://www.emocutez.com

Kembali ke pencarian menuju alamat rumah si Engkong. Aku mulai bertanya lagi, sama seperti sebelumnya. Bedanya, kali ini tidak ada wanita yang melirikku. Sedikit lega, karena aku sudah tidak ‘aneh’ lagi di mata mereka. Hampir sepanjang perjalanan aku bertanya dan bravo! Ada seorang tukang ojek yang tau alamat si Engkong dan mau mengantarkanku ke rumahnya.

Sekali lagi, perjalanan demi Engkong aku lalui. Cukup jauh, kurang lebih 1 jam. Benar pemikiranku tadi, rumah si Engkong terletak di pedalaman Banyuwangi. Kondis rumahnya sedikit reot dan tananhnya sangat amat bercelot. Aku relain sepatu putihku terkena lumpur demi si Engkong.

Setelah aku ucapkan terima kasih atas jasa Abang Ojek dan membayar ongkong ‘angkut’, aku bertamu ke rumah si Engkong. Semoga tidak terjadi percakapan yang tidak nyambung seperti kejadian di halte tadi pagi.

      Aku : (mengetuk pintu) “Engkong Samijo…”
      Engkong : “Siapa?”
      Aku : “Saya, Kong.”
      Engkong : (membuka pintu) “Oh, Anak Aneh di halte tadi pagi, ya. Ada apa?”
      Aku : (Anak Aneh?! Asem ni Engkonghttp://www.emocutez.com) “Iya, Engkong. Ini saya kembalikan dompetnya, tadi terjatuh di halte.”
      Engkong : “Terima kasih, Nak. Untung saja Anak tidak tertarik mengambil uang di dalam di dompet ini. Makasih, Nak. Masuk dulu.”
      Aku : “Eh, iya, Engkong. Makasih.” (masuk ke ruang tamu)”Engkong, kenapa dompetnya sangat berharga?”
      Engkong : “Sebenarnya, dompet ini sangat berharga karena di dalamnya ada foto, Nak.”
      Aku : “Foto? Sebegitu berharganya?”
      Engkong : “Iya, Nak. Saya mendapatkannya setahun lalu dengan usaha yang sangat keras dan mengorbakan benyak untuk foto ini.”
      Aku : “Orang yang sangat Engkong sayangi?”
      Engkong : “Iya, Nak.”
      Aku : “Orang itu sudah tidak ada, ya, Engkong?”
      Engkong : “Masih ada, Nak.”
      Aku : “Lalu, kenapa orang itu sangat berharga? Istri Engkong?”
      Engkong : “Bukan.”
      Aku : “Anak Engkong?”
      Engkong : “Bukan.”
      Aku : “Foto saya, ya, Engkong.”
      Engkong : “Bukan!”
      Aku : “Lalu foto sapa, Engkong?”
      Engkong : “Foto Julia Perez.”
      Aku : “What!!!!”http://www.emocutez.com
      Engkong : “Wat apanya, Nak?”
      Aku : “Oh, tidak, Engkong. Ini jeraWAT saya kok terasa sakit, ya. Eh, ya, sudah, kalau begitu saya pulang dulu, ya. Assalamu’alaikum.”
      Engkong : “Wa’alaikum salam.”

Sumpah! Benar-benar kena kerjain sama si Engkong. Padahal pengorbananku udah cukup besarhttp://www.emocutez.com: di halte pertanyaanku kagak dijawab-jawab, tapi malah kena jitak; melakukan perjalanan jauh demi ketemu si Engkong; menanggung malu akibat ‘barang’-ku terlihat oleh kaum hawa; sepatu putihku kena celot yang itu berarti aku harus nyuci lagi. Dan itu semua, hanya demi mengembalikan dompet si Engkong yang ternyata berharga gara-gara foto JULIA PEREZ doank? Oh, tidak! Ni Engkong ngorbanin aku demi si JuPe. Semoga tak ada korbanmu selanjutnya, Kong. Salam cinta untukmu.


TAMAT

You Might Also Like

0 Comments

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)