Aku, Dia, dan Setitik Kepercayaan

By Monday, March 05, 2012

Kawanku, Linda, pernah memberitahuku bahwa ia selalu mempercayaiku. Akupun begitu, mempercayainya sebagai diary hidup yang tak dapat dibuka selain aku. Aku tak ingin persahabatanku dengan Linda berakhir dengan peristiwa yang tidak diinginkan. Jadi, aku berjanji untuk menjaganya hingga suatu hari dia harus memulai kehidupannya tanpaku.

Kurasa, semua kejadian yang terjadi padaku, dia tahu. Dan akupun begitu. Pernah suatu ketika, aku melihatnya sangat murung di bangku-nya. Seingatku, itu pelajaran Miss Sarah. Aku melihatnya selintas dan ketika dia menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya, kucoba untuk melempar senyum padanya, mengatakan bahwa: "Semua akan baik-baik saja, Linda. Cobalah tersenyum."

Aku menghapirinya ketika jam istirahat pertama tiba. Aku membelikannya sebatang coklat murah yang tersedia di kantin sekolah. Bukan maksudku untuk membelikannya yang murahan, namun yang tersedia di kantin hanyalah coklat murah itu. Seperti yang pernah kubaca bahwa coklat dapat sedikit membantu memperbaiki mood seseorang. Apa itu berhasil padamu, Linda?

Aku menanyakan apa yang terjadi padanya. Dia sebenarnya sedikit ragu mengatakan ini padaku. Namun, aku sangat senang ketika akhirnya ia berterus terang padaku. Ini tentang kepercayaan. Kepercayaan pada diri sendiri.

Baik aku ataupun Linda adalah siswa kelas akhir yang akan mengambil keputusan menentukan universitas tujuan kami. Kedua orang tua Linda menyuruhnya untuk mengambil kedokteran pada jalur undangan yang ditawarkan oleh pemerintah. Dia merasa sangat tidak mampu untuk mengambil jurusan itu dan aku melihat semangatnya berada pada titik lembah.

Aku tak bisa mengatakan banyak hal karena aku terlanjur patah hati pada jurusan kedokteran. Em, sudahlah. Saat itu, aku hanya mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja ketika harus mengambil jurusan kedokteran. Aku pun mengatakan bila dia mengambil kedokteran pada jalur tersebut, itu berarti dia memiliki 3 kesempatan untuk memasuki jurusan itu (undangan, tulis, dan mandiri). Ketika aku mengatakan itu, dengan segera dia mengatakan bahwa dia tidak akan sanggup.

Namun, entah karena alasan apa, aku ingin dia berhasil di kedokteran. Setidaknya, dia mewujudkan salah satu impian kecilku itu. Jadi, aku katakan saja bahwa tak banyak orang tua yang mengijinkan anaknya untuk masuk di kedokteran. Banyak yang ingin berada di posisinya. Linda sayang, ketika kamu tanyakan pada dirimu mengenai kemampuanmu, kamu mungkin akan mengatakan ‘aku tidak bisa’. Tapi, bila aku yakin kamu bisa, mengapa kamu harus mengecilkan kemungkinanmu untuk berhasil di bidang itu?

Jadi, untuk Linda, sahabat baikku. Aku yakin kamu bisa melakukan yang terbaik. Pilihlah dari hati nuranimu dan jangan memilih dengan emosi. Kamu tahu, banyak orang yang ingin berada di posisimu. Em, well, syukuri apa yang kamu dapat sekarang, Linda :).

You Might Also Like

5 Comments

  1. waaaah. kalo ini kisah nyata, manis banget yah persahabatannya. semanis cokelat kantin :)

    ReplyDelete
  2. Persahabatn semanis legit.

    ReplyDelete
  3. sahabat yang baik barangkali seperti pohon,,selalu ada buat teduh.,,
    jadi ingat sahabat yang jauh dimata,,,

    ReplyDelete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)