Romansa Cinta 67 Tahun

By Sunday, July 22, 2012 ,

Sayang, sudah lama aku mengenalmu, tapi entah apa yang salah padaku hingga sampai saat ini aku belum bisa menjadi seperti kemauanmu. Jujur, aku malu pada diriku sendiri. Tolong, jangan paksa aku untuk tutup mulut, Sayang. Aku tak bisa menutup mata atas semua sikapku padamu.

Maaf bila aku telah menghabiskan hartamu untuk hal pribadiku. Hatiku mungkin tanpa sengaja tertutup dengan kenikmatanmu, Sayang. Tak sengaja.


Tentang tikus yang selalu kamu keluhkan, aku pun belum bisa menanganinya. Mereka terlalu banyak dan kuat untuk kutaklukkan. Tapi, kumohon, kamu tenanglah. Aku telah berusaha semampuku untuk menghilangkan mereka dari rumah kita. Aku sudah membuat rumah jeruji untuk mereka dan menyerahkannya pada pemberantas tikus yang ahli, Sayang. Kumohon agar kamu bersabar karena aku butuh proses. Aku harap ini bukanlah sebuah proses panjang karena aku ingin segera membahagiakanmu lagi.

Aku sering pula mendengarmu menangis saat rumah tangga kita mengalami bencana. Banjir air matamu masih susah kubendung. Aku tak ingin anak-anak kita menjadi korban. Aku tahu kamupun menginginkan hal yang sama. Namun, ulah mereka pula yang membuatmu begini, Sayang. Seandainya aku tegas mendidik mereka untuk mencintaimu lebih dari ini, mungkin aku akan sering melihatmu tersenyum.

Kapan hari itu, aku melihatmu marah.  Aku tak akan menghentikan amarahmu, Sayang. Aku tahu bahwa kamu patut dan harus marah. Barang kesayanganmu dicuri oleh tetangga dekat kita. Barang yang selalu kamu minta aku dan anak-anakmu untuk menjaganya. Seandainya saja aku lebih ketat menjaganya, mungkin ini tak akan terjadi. Maaf bila aku harus menyadari betapa pentingnya barang itu untuk ikatan cinta kita. Aku janji, aku akan kembali membuatmu percaya lagi padaku.

Aku masih di sini, Sayang. Menikmati indahnya kebersamaan kita yang hingga kini selalu berkesan. Kamu ingat, ketika dulu kamu masih muda, kamu mengenakan gaun berwarna hijau berpadu biru yang sangat anggun. Aku mengagumi gaunmu itu. Kamu cantik, sangat cantik. Namun, kini yang terlihat hanyalah cokelat kering dan sedikit corak hijau yang sangat jarang. Aku masih mencintaimu, Sayang, walaupun kamu tak seanggun dulu.

Hari ini, aku menanti datangnya matahari untuk menyambut cintaku padamu. Aku tak ingin lagi membuatmu bersedih. Aku janji, aku tidak akan membiarkan tikus-tikus itu beranak di rumah kita. Aku tak ingin melihatmu menangis karena cintaku yang tak sebesar pemberianmu padaku. Aku akan menjaga barang-barang kenangan kita, Sayang. Membuatmu tersenyum dan bangga telah memilikiku.

Sayang, satu hal yang harus kamu tahu, aku bangga menjadi bagian dari hidupmu. Di usiamu yang ke 67 ini, aku pastikan kesetiannku tak ‘kan pernah pudar. Biar kudendangkan lagu klasik kesukaanmu. Semoga cintaku padamu tak lekang waktu. Untukmu, kekasih hatiku, Indonesia.

***
Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan


“FlashFiction ini diikutsertakan dalam proyek nulis bareng peduli bareng 67 cerita untuk Indonesia”

You Might Also Like

13 Comments

  1. bagus sayang :P
    bagus ceritanya py :O kayak indonesia persis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Punyakmu juga bagus, Brin ^^
      Makasih :')

      Delete
  2. Dimanapun berada..Garuda tetap di dadaku...

    ReplyDelete
  3. terharu :'(
    ikutan juga ah.. :D

    ReplyDelete
  4. duh, pasnya tadi bacanya pas nunggu buka ya :D

    ReplyDelete
  5. wah neng hepi pacaran sudah 67 tahun yah? kalo pas kencan ndengerin lagu itu yah, heheheheheh. kunjung balik yah, dari warga Indonesia juga

    ReplyDelete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)