Untuk 'Inisial' di Papan Puzzle-ku #4

By Tuesday, January 15, 2013


Selamat siang, kamu yang sekarang sedang berdiam diri di atas kasurmu. Sedang merenungkan sesuatu, kah? Aku mulai terbiasa dengan kebiasaanmu yang bisa tiba-tiba saja tidak enak hati tanpa alasan. Tapi, aku menikmati semua kebiasaanmu itu, mungkin.

Aku tidak terlalu mengerti dengan setiap bait pesan yang kamu kirimkan padaku. Ah, bukan aku tidak mengerti, tapi aku mencoba untuk tidak mengartikannya terlalu jauh hingga bisa membuatku melayang tinggi dengan imajinasiku. Setahuku, aku pernah jatuh karenanya dan aku mungkin tak ingin terjatuh lagi untuk kesekian kalinya. Kamu terlalu berharga --kamu tahu itu--.

Kamu dan perasaanku. Bisakah kamu tarik kesimpulan mengenai apa yang terjadi pada kita? Kita sama-sama saling nyaman dengan hati kita tanpa kita ketahui alasannya. Setahuku, aku nyaman denganmu dan setahumu, kamu nyaman denganku. Dan itulah kita, kenyamanan yang tak beralasan namun tetap ingin mempertahankan.

Kamu, aku harap tidak pernah membaca ini saat hatimu sedang tidak enak. Sejujurnya, aku tak pernah bermaksud mengatakan padamu perihal tadi malam. Kuberitahu singkat saja, aku sakit ketika aku harus mengatakannya padamu, sekalipun melalui pesan singkat yang sering kita lakukan. Tapi, kamu telah, err, maksudku mungkin kamu telah mengerti mengapa aku melakukan itu padamu. 

Jika kamu tanyakan perasaanku padamu, maksudku, bagaimana aku harus menyebutnya, ya. Sebentar, biar kupikir sejenak. Begini, di sini, aku jujur saja. Aku tak ingin terlalu berandai-andai kamu menjadi milikku dan aku menjadi milikmu. Kupikir, perasaanku ini lucu. Seringkali kukatakan padamu aku dan kamu sebatas teman, namun aku selalu mengatakan pada hatiku bahwa kamu lebih dari itu. Aku...

Selalu ingin bertemu denganmu, walaupun baru saja bertemu.
Selalu ingin mendengar candamu, walaupun aku sedang dalam kedaan mood yang kacau.
Selalu kagum dengan kedewasaanmu.
Dan, aku sangat menikmati berada di sampingmu ketika kamu selesai beribadah.

Namamu siapa? Apa aku harus sebutkan inisialmu dalam catatan ini? Ah, tidak saja. Aku tahu kamu pasti akan mengerti siapa yang kutuliskan ini dan maaf bila ini terkesan hanya sebuah catatan hati. Karena setahuku, ini bisa membuatku paham dan jujur dengan semua perasaanku padamu.

Jadi, intinya, kita sekarang sedang jatuh hati, bukan? Aku mulai memberikan hatiku padamu, namun kamu mulai memberikan jatuhnya padaku. Atau mungkin, sebaliknya. Bila suatu saat kamu membaca catatan ini, mungkin kamu akan bertanya mengapa tak kuungkapkan saja padamu secara langsung. Tapi, saat kamu tanyakan itu padaku, mungkin aku hanya bisa tersenyum. Setahuku, aku akan mendapat senyum balasanmu ketika aku tersenyum padamu. Dan kamu tahu, senyummu itu adalah salah satu penguatku ketika aku tak mengerti bagaimana harus bersemangat.

You Might Also Like

0 Comments