Rumah Kayu

By Monday, July 22, 2013

   Melewati gelapnya suasana malam itu, aku, Dean dan Rey, segera berlari menuruni tangga. “Brakk..” suara kaki kiri Dean terperosok masuk di salah satu anak tangga yang hancur karena tidak mampu menahan beban pijakan.

“Aahh… Kakiku !” teriak Dean perlahan sambil merintih kesakitan.

Aku menoleh kebelakang, takut akan kembali karena aku sudah di bawah. Aku tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini.

“Sakiit… Tolong!” teriak Rey.

Dengan ragu, aku berusaha untuk kembali menaiki tangga itu untuk menyusul Rey yang sedang berusaha menolong Dean, tampak dia kesusahan membantu mengeluarkan kaki Dean dari tangga itu, seolah ada yang memegangi kakinya dari bawah tangga.

Suara decitan kursi yang berayun-ayun itu membuat kami semakin deg-degan. Aku semakin yakin kami benar-benar tidak akan berhasil keluar dari rumah ini. Suasana makin terasa hening dan gelap, seolah pandanganku mulai memudar dengan suara-suara bisikan yang tidak jelas. Aku berusaha kembali fokus, aku ingin segera pergi dari tempat ini, tapi aku tidak bisa meninggalkan Dean dan Rey.

 “Arrrgh.. Sial ! Kenapa kita harus mengikuti rencana bodoh si Hyuga untuk membuktikan mitos-mitos palsu di rumah ini, toh dia sendiri akhirnya ndak datang,” rengekan Dean pada Rey yang sedang menggendongnya.


Dean terlihat menahan tangisnya menghadapi kenyataan pahit yang sedang dialaminya bersama kami. Rey hanya memandang kosong, dia berusaha menghadapi apa yang sedang terjadi tanpa putus asa. Aku memang tidak takut dengan mitos-mitos seperti yang dibicarakan orang-orang, tapi yang kami alami seolah benar-benar nyata. Kejadian beruntut ini seolah menggambarkan sesuatu yang melawan kepercayaanku. Aku mulai goyah dengan pendapatku dan mulai merasakan takutnya suasana yang kuhadapi.

Beberapa saat berlalu, kami masih belum bisa menemukan jalan keluar dari rumah ini, terutama cahaya yang semakin menghilang. Di sini, sama sekali tidak ada listrik, apalagi lampu dalam rumah ini. Gelap. Untungnya, kami masih bisa melihat dengan bantuan cahaya bulan yang masuk menembus atap-atap rumah yang sudah banyak berlubang dan genting yang lepas dari tempatnya.

Senter yang kami bawa benar-benar tidak berguna! Walapun beberapa kali terkena benturan, aku yakin hal itu tidak akan membuatnya sebegitu mudahnya rusak. Anehnya, entah kenapa sepertinya senter-senter kami seolah berdarah saat akan padam. Kami melangkah dengan pelan dan hati-hati, menghindari lantai-lantai dari kayu yang sudah banyak berlubang juga perabotan yang berserakan. Seolah seisi rumah hancur karena ada sesuatu yang mengamuk di dalamnya.

“Rey, kamu lelah? Sini, biar aku saja yang menggendong Dean,” kataku berusaha menolong mereka terlepas dari keangkuhanku. Seandainya bisa, aku ingin melarikan diri dan segera mengakhiri ketakutan dan tanggung jawab ini.

“Tidak perlu, aku masih sanggup. Tolong singkirkan saja kursi-kursi itu,” jawab Rey.

“TIDAK AH! Kamu ngapain? Mau pergi sendiri? Pergi saja sendiri! Kamu memang seperti itu, selalu egois. Kalaupun Rey kecapekan, aku lebih baik jalan sendiri ataupun terjebak di rumah ini dan mati, daripada keluar bersamamu!” seketika aku terkejut mendengar teriak Dean padaku.

“A... Ke.. Kenapa aku?” aku tergagap menjawab kata-kata Dean yang menusuk, “aku berusaha menolong kalian. Siapa yang mau meninggalkan kalian?”

Aku berusaha membela diri. Aku benar-benar bingung, mengapa Dean bisa mengatakan itu. Aku rasa, aku sama sekali tidak menunjukkan niatku mengkhianati mereka.

“Deg…,” aku terkejut dalam hatiku sendiri.

Aku sadar Dean tidak seperti seperti biasanya yang sabar, pemaaf, tidak pernah berpandangan negative pada orang lain, dan yang paling parah...

“Dean…., kamu mendengarku?” tanyaku.

“Lalu kenapa? Dasar pengkhianat busuk!” jawab Dean tegas.

Kulihat Rey kaget mendengar kata-kata Dean barusan. Mendadak dia berhenti dan menurunkan Dean. Dean terlihat mampu berdiri sendiri. Suasana begitu kacau, rumah itu pun seolah-olah bergetar seakan terkena gempa, serpihan-serpihan kayu atap yang rontok beberapa kali mengenai kami bertiga yang masih terdiam. Aku masih tidak mampu bergerak dari tempatku, Rey juga terlihat gemetaran dan ketakutan. Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kurasa, Dean terlihat aneh dan yang paling tidak bisa dipercaya dia seolah bisa membaca pikiranku.

“Krak.. kraakk…” suara tiang-tiang penyangga rumah itu yang mulai retak, seolah-olah…



[still in progress]



kiriman dari 
Haris Hidayatulloh

You Might Also Like

0 Comments

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)