Untuk Pria Berinisial #4

By Saturday, July 06, 2013

Favim.com
Tadi malam aku memimpikanmu. Tapi, bagiku ini mimpi yang menakutkan. Entahlah. Kurasa, aku melihat sosokmu dalam dirinya. Aku merasakan semua sifat yang selama ini ada padamu, juga ada padanya. Kekhawatiranmu padaku sama dengan kekhawatirannya padaku.

Aku tak mengerti apa yang kumimpikan semalam. Bukan hal penting memang. Toh ya, aku tidak memiliki bakat istimewa yang dapat melihat kejadian masa datang dari mimpiku. Tapi, mimpi semalam benar-benar menakutkan.

Aku merasakan benar bagaimana ia menarikku, memaksaku untuk mau diantarnya pulang. Aku terhenyak sesaat. Merasa aneh dengan yang terjadi. Apa maksudnya?

Di mimpi itu, salah seorang yang kukenal mengatakan bagaimana perasaannya padaku. Aku menoleh sesaat. Mencoba untuk memahami keadaan dan, tentu saja, mengendalikan gesture agar tak terlihat canggung bila dia tiba-tiba saja datang di antara kami. Aku, teman priaku, dan teman wanita tengah mengobrol di suatu ruangan ketika mimpi itu terjadi.

Kami bertiga berada di sebuah karpet bundar dengan hiasan merah melingkar, mirip dengan target panah. Aku ingat betul bagaimana detail karpet itu. Serasa nyata.

Teman priaku duduk di sampingku, sedangkan teman wanita duduk di depan teman priaku. Dia sedang tidak ada ketika kami mengobrol bertiga. Mungkin, sedang mengambilkan tiga gelas air putih atau apapun, entahlah.

Teman priaku yang terlebih dahulu memulai pembicaraan. Menanyakan bagaimana sakitnya menanti. Aku menepuk bahunya dengan canda dan setengah melirik pada teman wanita. Mencoba sedikit tersenyum, karena teman wanita menaruh hati padanya. Aku tak tega menjawab obrolan teman priaku, jadi dengan kupasang saja wajah candaan dan tersenyum, menahan.

Aku tahu bagaimana teman wanita menahan rasa kesalnya padaku. Bisa dibilang, aku merupakan salah satu tempatnya berbagi ketika ia sedang membicarakan perasaannya. Entahlah. Kurasa, teman wanita sangat mengidolakannya. "Tanpa alasan," katanya suatu hari padaku. Penantian lama yang kurasa, dia berkorban hati ketika mendengar teman priaku melontarkan candaan itu.

Dia datang dengan tiga gelas minuman dingin. Benar dugaanku. Kami bertiga dengan serentak terdiam. Dia, yang tidak tahu sedang menjadi bahan pembicaraan, heran melihat wajah kami yang tampak bagaikan udang di balik batu.

"Ada apa?" tanyanya sambil membagikan minuman dingin.

"Haha. Tidak. Aku hanya memberi tahu padanya --sambil menepuk bahuku-- tentang sakitnya penantian," kata teman priaku.

"Ya, sakitnya penantian," kata teman wanitaku sambil meneguk.

"Penantian apa?" tanyanya lagi.

"Penantian keputusan dan ketika keputusan itu belum terjawab, kamu harus mendengar keputusan lain yang lebih kejam. Ketika yang dicintai ternyata telah memilih hati lain untuk menjadi sandarannya," kata temanku lagi.

Dan kami terdiam membisu. Kaku. Hening.
***

Satu yang kusyukuri, aku segera terbangun dari tidurku dan hatiku tetap berkata,
"Aku masih dan akan tetap menyayangimu, Edp. Semoga untuk selamanya."

You Might Also Like

0 Comments

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)