Untuk Pria Berinisial #5

By Friday, July 12, 2013

Favim.com
"Kecupmu"

Aku membayangkan sebuah adegan yang diluar batas aturan 'remaja baik'. Well, oke, aku bukanlah remaja baik-baik, ingin mencoba hal-hal baru dengan pikiran yang bebas. Tapi, aku akan tetap dalam zona aman. Jadi, tenanglah dan kendorkan dahimu itu ketika membaca tulisanku ini. Kamu terlihat lebih tua dari usiamu ketika cemberut. Sungguh!

Imajinasi ini datang secara kebetulan saja ketika aku tengah mempersiapkan materi UAS untuk dua hari mendatang. Aku benar-benar tak bisa menahan untuk menuliskannya. Aku punya pengalaman buruk ketika aku pernah menahan keinginan menulisku. Aku langsung jerawaten, udunen, dan well, tanganku tiba-tiba bergerak-gerak sendri. Haha. Tidak separah itu, sih, maaf berlebihan - -"

Jadi, kembali ke pokok pembicaraan. Aku berimajinasi tentang err, aku mengecupmu. Ah, tidak, kita saling bertukar kecup. Di suatu malam dengan ditemani supermoon, waktu akan terasa begitu pelan, dan kamera akan meng-shoot­ dengan slow motion sambil gerakan memutar. Bagaikan melakukan adegan di film Barbie yang pernah kutonton.

Atau, ketika aku terdiam sesaat dan tanpa komando, tiba-tiba saja kamu mengecupku. Entah keningku, pipiku, atau ah, kamu menyentuh bibirku dengan bibirmu. Err, tapi bisa kuminta suatu hal? Jangan mengecup ketika siang hari. Karena kita berada di negara khatulistiwa dan err terasa sangat sumuk ketika siang. Bukan apa, aku takut peluhku dan peluhmu tanpa sengaja menetes ketika kita saling bertukar kecup.

Jadi, kuimajinasikan saja adegan itu pada malam hari. Bagaimana? Aku tak suka tempat yang terlalu sepi, terlalu gelap, terlalu banyak nyamuk, atau lebih parahnya terlalu bau sungai ketika kita melakukannya. Kumohon, pilihlah tempat yang sedikit romantis. Ketika menonton film, misalnya. Ah ya! Aku ingat adegan yang dikhayalkan oleh Crayon Shinchan ketika menonton film semacam film Titanic bersama Nanako dan Shinobu. Shinchan membayangkan Nanako memeluknya, tapi ternyata yang memeluknya adalah Shinobu.

Well, satu hal lagi, semoga ketika kita menonton, kita berada di satu deret bangku yang hanya ada aku, kamu, dan deretan kosong.

Oh, ya, ada lagi. Aku ingat adegan-adegan film seperti ini, ketika dua insan akan saling bertukar kecup, ada orang yang memergoki, sehingga mereka tak jadi melakukannya. Atau ketika mereka mulai mendekat, datanglah sebuah barang yang mereka iklankan, semacam produk yang menyensor adegan tersebut. Jadi, kenapa membuat detik-detik akan bertukar kecup jika pada akhirnya di sensor - -". Heran.

Err, jadi, kuharap, untuk menghindari gangguan-gangguan tersebut, bagaimana kalau kita pasang papan reklame besar "Sedang bertukar kecup. Don't disturb". Ah, terlalu vulgar. Atau kita bertukar kecup ketika kita sedang dalam satu sepeda motor yang sama? Kalau begitu caranya, hanya aku yang mengecupmu, mana bagianku. Sedih.

Atau, begini, ketika kita berjalan bersama, genggamlah tanganku dan, tolong jangan katakan padaku, kecuplah aku dengan tiba-tiba. Sebentar saja. Itu sudah cukup bisa membuat hatiku berdegup kencang, bagaikan atlet yang telah menyelesaikan putaran satu lap-nya.

Persiapan sudah siap, bukan. Bagaimana dengan waktunya? Kita deal mengambil waktu malam hari, kan? Di tempat yang romantis? Bagaimana kalau kita memakai baju yang sama saja, biar terasa berbeda dan orang akan mengetahui bahwa kita adalah pasangan yang sedang jatuh cinta. Ah, berlebihan - -". Biasa sajalah.

Kita tampil apa adanya kita,

pernah kubilang bukan, "Aku mencintaimu apa adanya kamu"

bertemu di tempat kita pertama kali bertukar cerita, aku persiapkan mentalku dan kamu persiapkan kecupan pertamamu buat aku. Waw! Please, semoga hatiku tidak terlalu menampakkan kecanggunganku ketika melakukannya. 

Semoga kecupan kita menjadi kecupan yang sangat romantis, ya.

***

Arrrrghhhh! Aku lupa satu hal lagi. Bukankah ini aku hanya menceritakan tentang imajinasiku saja? Ah, sial - -". Kecupan kefanaan belaka.

You Might Also Like

0 Comments

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)