Mahalnya Senyuman dari Senior

By Thursday, September 05, 2013

Salah satu ciri yang seakan menempel pada seorang mahasiswa baru adalah kesan pertama ketika masa orientasi (selanjutnya ditulis ospek). Beberapa artikel yang menceritakan tentang ospek menggambarkan bahwa ospek menjadi semacam ajang perpeloncoan. Namun, untunglah akhir-akhir ini, rasanya perpeloncoan secara fisik sudah tidak lagi menjadi trending topic setelah menggemparnya video kekerasan beberapa tahun silam.

Menilik dari ospek di kampus sendiri, sebenarnya tujuan ospek lebih mendepankan tentang penanaman nilai etika pada mahasiswa baru. Sudah sewajarnya mereka wajib beradaptasi dengan lingkungan yang ada di kampus. Bukan lagi sebagai siswa yang memiliki ego tinggi untuk mempertahankan kebebasan tak beraturan. Intinya, sebagai mahasiswa, selayaknya ego itu sudah mulai dialirkan untuk kebebasan memperjuangan almamater dan bangsa. Yah, begitulah pemaparan yang sering saya dengar dari beberapa mahasiswa yang (katanya) aktivis kampus.

Di sini, saya tidak ingin menganggap bahwa saya seorang aktivis atau bermaksud mengatakan saya adalah satu-satunya yang benar. Tidak. Saya tentu saja tidak ingin orang menilai saya seperti itu. Mengingat jawaban seorang pendiri Anti-Tank, bahwa seorang aktivis itu merupakan orang yang memiliki pemikiran tinggi dan tentu saya merasa pemikiran saya berlum terlalu tinggi.

Kembali ke pembahasan yang ingin saya paparkan. Bagaimana ospek  itu menjadi salah satu sarana menanamkan nilai etika pada mahasiswa baru? Tentu saja, jawabannya adalah melalui penugasan-penugasan yang diberikan oleh orang-orang di balik terlaksananya ospek. Ya, mereka tentu telah memikirkan esensi dari setiap pengusan yang mereka berikan.

Dulu, sewaktu saya masih seorang mahasiswa baru, saya memang tidak terlalu menganggap berat tugas dari senior. Nyatanya, penugasan itu dilakukan tidak secara personal, melainkan dikerjakan dengan adanya pembagian tugas dengan kelompok. Dari penugasan itu, secara rasional saja, memang sangat menyusahkan jika dikerjakan secara individual. Nah, itulah fungsinya kerja tim, bukan.

Keluaran ospek, memang diharapkan dapat menjadi seperti yang diinginkan oleh para dalang di ospek itu. Memiliki nilai etika sesuai kampus yang ditempati. Tapi, di sini saya sedikit menyangsikan bahwa nilai etika itu dapat tertanam dengan maksimal jikalau dalang tidak melakukan seperti yang mereka ajarkan.

Sebagai contoh kecil saja, ketika di ospek diajarkan untuk saling senyum-sapa-salam (3S), etika itu hanya berjalan ketika masa ospek saja. Satu hal yang masih saya herankan, terkadang dalang pun menanamkannya dengan tanpa 3S.

Begini, saya sederhanakan saja permisalannya. Ketika mahasiswa baru diminta untuk melakukan 3S, beberapa senior malah merasa enggan untuk melakukannya pada junior. Entahlah. Tapi, itu yang masih saya rasakan hingga sekarang.

Di sini, saya tidak ingin mengkritik dan membenarkan semua tindakan saya. Tapi, saya hanya ingin bertukar pikiran pada pembaca.

Bagaimana sebaiknya menjadi seorang senior yang bisa dianut oleh juniornya? Dan Bagaimana sebaiknya menjadi junior yang dapat dianggap oleh seniornya? Mengingat saya berstatus senior untuk adik-adik saya dan junior dari kakak-kakak saya. 
Enggankah para senior melakukan 3S pada junior atau itu memang merupakan semacam ‘nilai etika’ yang dipegang senior untuk suatu alasan?

Well, entahlah. Lucunya pelaku pendidikan kita. Tapi, jika saja seorang mahasiswa melakukan sedikit perubahan postif saja, tentu perubahan besar nantinya akan terjadi. Bayangkan saja jika satu mahasiswa melakukan perubahan positif, keciiiiiil saja, dan itu dilakukan secara diskontinu, bagaimana? Atau, bayangkan jika perubahan kecil itu nantinya diikuti oleh mahasiswa lainnya? Ah, pasti akan sering kulewatkan hariku bersama senior dengan senyuman lebar ketika suatu saat kita bertemu sapa.

Ah, hei, mahalnya senyuman dari senior itu.

Jika seandainya saya perkirakan sebuah peraturan tak tertulis:

  1. Junior harus senyum-sapa-salam kepada senior.
  2. Senior berhak tidak melakukan senyum-sapa-salam kepada junior.
Rasanya tidak adil, memang. Tapi, sebagai junior, kita tetap harus menghormati senior kita. Bagaimanapun, mereka telah lebih dulu memakan asam-garam kehidupan di kampus. Begini saja, bagaimana jika peraturannya diubah sedikit:

  1. Junior harus senyum-sapa-salam kepada junior.
  2. Senior berhak tidak melakukan senyum-sapa-salam kepada junior, tapi dilarang bertampang sinis.

You Might Also Like

6 Comments

  1. perlu ditambahi aturannya itu mbak:

    1. senior selalu benar.
    2. Jika senior melakukan kesalahan, kembali ke poin 1.

    hehehehe, salam kenal mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aturan itu rasa-rasanya sudah seringkali didengar, mas :). Tapi, setuju dengan pendapatnya. Terimakasih atas apresiasinya :)

      Delete
  2. Sebenarnya ga pengen komen. Tapi, aku menemukan ini, "Pembaca yang baik selalu meninggalkan Wonderful Comment sebagai cindera mata ^_________^. Arigatougozaimasu :D"

    jadi kepikiran buat komen, deeh :D tepatnya berkomentar sambil bertanya.

    "Senior berhak tidak melakukan senyum-sapa-salam kepada junior, tapi dilarang bertampang sinis."

    kalo senior yang cuek gimana? Senior yang tidak mudah bergaul dengan orang2 baru dengan mudah.. Tampang sinis kan ada yang emang dari lahir. saya engga bilang itu saya, looh.

    Betewe, blognya lucu. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terimakasih telah membaca kolom komentar dengan sangat baik :). Menurut saya, tampang sinis memang terkadang ada, ya itu kembali lagi ke penilaian masing-masing juga sih - -" *bingung jawab apa

      Terimakasih apresiasinya :)

      Delete
    2. Karena anda bingung, maka jawabannya saya anggap saja seperti yg saya pikirkan. Hehe.

      Delete
    3. Memang, bagaimana yang anda pikirkan :3? hehe..

      Delete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)