Layla, Gadis Berkepang

By Wednesday, February 26, 2014

Layla, Gadis Berkepang

Aku melihatnya tengah menyisir rambut, ketika sore itu gerimis mengguyur kampus kami. Melihatnya dari seberang jalan saja, sudah membuat hatiku begini menderu. Tenang dalam gemuruh detak yang tak berirama. Ah, Layla.

Layla, wanita yang kukenal pertama kali di masa orientasi kampus, 5 tahun lalu. Dialah yang pada akhirnya membuatku tidak menoleh gadis manapun hingga saat ini. Bukan parasnya yang kulihat, tapi pernyataannya yang membuatku meleleh, ketika itu.

Di sore aku mengenalnya, dia tidak berjilbab, seperti sekarang ini. Rambutnya panjang dan menggerai indah. Liuk tubuhnya bak peri yang menari dan mampu melumpuhkan hati para pria. Tidak terkecuali aku.

Aku mengagumi paras beningnya, ketika itu. Wajar, lah, pria normal mana yang tidak melihat wanita dari parasnya. Jika kamu ingin menilaiku munafik, silakan. Tapi, ini jujur kukatakan. Aku mengagumi keindahan wajahnya, yang bagiku tanpa cacat.

Gerimis sore itu, kembali mengantarkan kenanganku saat aku benar-benar menaruh hati padanya. Di mana logika tentang idealisme pencarian kriteria wanita terpatahkan. Aku yang berkriteria tinggi dan memiliki pengaruh di kampus, sudah barang tentu memilih wanita cantik itu. Itu secara teori.

Aku tak mengenalnya secara menyeluruh. Setahuku, dia adalah wanita yang tidak terlalu suka dengan aksi kampus, tenang, menenangkan, dan segala penilaian positif tersemat padanya. Itulah Layla, wanita tercantik yang kukenal pertama kali. Kesempurnaan tiada cacat.

Sebagai penggemar fanatik, aku mengikutinya di sore, ketika hatiku menjadi benar-benar ingin menjaganya. Aku memakai jersey kesukaanku dan tanpa penyamaran. Setahuku, dia adalah wanita cuek, yang bahkan tidak memikirkan berhubungan dengan lawan jenis. Bertambahlah kekagumanku padanya. Layla.

Di belokan ketiga, saat aku mengikutinya, ia berhenti sejenak. Membenarkan bajunya dan menoleh ke arahku. Aku hanya tersenyum dan tak tahu apa yang harus kulakukan. Sedikit malu aku menghampirinya. Berkata seadanya dan mencoba menutupi tentang maksudku mengikuti idolaku itu.

"Hei, Yanuar."

"Hm, yes. Whats wrong?" kataku mencoba mengakrabkan diri. Seadanya, di tengah salah tingkahku yang terlihat sangat kacau.

"Mampirlah ke rumahku. Sangat senang, jika kamu mau menerima keberadaanku sebenarnya."

Aku terheran dengan ajakannya. Tanpa amarah dan tetap dalam ketenangannya. Dia mengajakku ke rumahnya, yang jaraknya tak jauh dari tempat kami bertemu sapa. Menyuguhkan teh, yang menurutku terlalu manis. Tapi, sudahlah, aku menikmati segala keramahtamahannya. Layla, pujaan hatiku.

Dia duduk di sampingku dan melihatku dengan senyum. Manis. Senyum yang seringkali kulihat di kampus, saat aku rela ijin ke kamar mandi untuk sekedar melihat liukkannya. Hening.

"Maukah kamu menjadi temanku?"

"Ya," kataku singkat.

Entah kekuatan ajaib apa yang kumiliki, tapi jawaban singkatku, membuatnya sangat bahagia. Air matanya jatuh perlahan. Hanya sebutir dan dia kembali tegar. Aku berusaha mendengarkan setiap ceritanya dengan seksama. Wanita yang kukenal tenang dan misterius itu.

Aku masih tidak percaya dengan semua yang baru saja kudengar dari wanita terbaikku. Ah. Aku bingung harus berkata apa. Kekaguman yang kini tak lagi bisa kunilai dari paras dan lekukan badan saja. Lebih dari itu. Mungkin, aku jatuh cinta pada wanita yang baru saja duduk di sampingku.

Ah, Layla. Jika saja kutahu ini lebih awal, mungkin aku tak akan menilaimu dari luarnya. Keindahanmu, bahkan tak bisa kulukiskan dengan guratan sajak romantis. Keindahan yang kuharapkan hanya bisa kunikmati sendiri. Kumiliki. Ah, Layla.

------------------------------------------

"Aku ingin kamu menjaga rahasiaku. Aku mengalami kecelakaan, jauh sebelum aku mengenalmu. Satu mataku tak mampu melihat. Tangan kiriku bukanlah tangan asli seperti yang kamu miliki. Keinginanku mengenakan pakaian ini (jilbab), pada awalnya, hanyalah untuk menutupi semua kekuranganku."

"Lalu?"

"Lalu, jika apa yang kukatakan akan terdengar gila, aku ingin tidak ada yang berubah di antara kita. Tidak ada yang bisa menjadi jarak kita untuk berteman."

"Ya, aku janji."

"Jadi, aku ingin kamu menjadi imamku dan menuntunku. Di jalan yang kamu lalui. Di jalan Islam, agama yang kukenal penuh ketenangan. Bisakah kamu penuhi permintaanku?"

------------------------------------------

Ah, Layla, istri terbaik yang terus saja kukagumi hingga saat ini. (*)


Surabaya, sehari setelah ulang tahunmu



source pict : favim.com

You Might Also Like

1 Comments

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)