Untuk Kakak Organisatorku

By Monday, February 10, 2014



Surabaya, 10 Februari 2014

Dear, my Lovely Brother,

Kak, apa kabar Kakak di Surabaya? Sudahkah kakak melihat berapa banyak pesan adek yang tidak kakak hiraukan? Sudah terisi kah perut kakak? Kakak sehat, bukan?

Hari ini adek bangga melihat kakak menjadi yang teraktif di organisasi kampus. Memikirkan soal rakyat. Memperjuangkan hak yang selama ini kakak anggap diabaikan oleh pemerintahan. Adek bangga dengan kakak.

Beberapa kali, teman sekelas adek menceritakan tentang betapa kerennya kakak mengenakan jas almamater yang sering kakak gunakan. Banyak teman-teman kakak yang mengunggah foto kakak sedang mengikuti beberapa kegiatan. Kakak selalu terlihat sibuk menggenggam ponsel yang entah dengan siapa kakak berkomunikasi. Kakak terlihat sangat bersemangat ketika membicarakan organisasi, Kak. Adek senang melihatnya.

Adek sama sekali tidak marah ketika beberapa hari yang lalu, Kakak membatalkan janji untuk menjemput adek di terminal bus kota. Alasan kakak sederhana, "menghadap dosen untuk menanyakan nasib rakyat." Adek bisa mengerti itu dan sama sekali tak ada keluh dalam diri adek. Adek tahu, kakak memegang peranan penting dalam organisasi dan adek tidak mau egois.

Kakak kelas adek ada yang menanyakan tentang kakak. Katanya, kakak terlihat sangat tanggap dengan kondisi rakyat. Berlari ke sana kemari, mengikuti alur pemerintahan, menjalankan semua amanat dengan baik, dan semua hal yang berhubungan dengan rakyat, kakak jalankan dengan maksimal.

Adek ingat betapa dulu kakak ingin memasuki universitas yang memiliki pergerakan mahasiswa. Kakak ingin menjadi salah satu dari mereka. Kakak mendapatinya sekarang. Selamat, ya, Kak :).

Liburan ini, adek sangat mengharapkan kehadiran kakak di rumah. Syukurlah, jikalau kakak pulang dengan oleh-oleh yang biasa kakak bawakan untuk adek. Namun, biasanya kakak tak pernah lama tinggal di rumah, kan. Sehari dua hari, atau paling lama seminggu.

Bosankah kakak di rumah?

Segitu pentingnya kah urusan rakyat dibanding keluarga, Kak?

Tidak bisakah Kakak berpikir seberapa rindunya keluarga ini dengan kehadiran Kakak?

Tak bisakah Kakak berlibur sejenak di rumah tanpa menghiraukan ribuan pesan yang masuk ke ponsel Kakak?

Ah, kakak terlalu sibuk sekarang! Kakak terlalu mementingkan rakyat!

Kak, seandainya kakak tahu, rindu ini memuncak, Kak. Teramat dalam ingin diluapkan untuk kakak. Kakak yang bangga sebagai organisator muda, tapi teramat sering melupakanku. Kakak yang betah tinggal di kampus, tapi untuk tinggal di rumah, kakak selalu saja tak menyempatkan waktu. Kakak yang merasa terhormat disebut pejuang kemahasiswaan, tapi sedikitpun tak ada penghargaan yang kakak berikan untuk keluarga ini.

Kak, seandainya kakak tahu, Ibu seringkali meminta kakak pulang, Kak. Ibu seringkali memandangi layar ponselnya dan menanyakan kabar kakak yang tak kunjung mengabarinya. Menceritakan betapa bangganya beliau memiliki putra seperti kakak. Organisator muda berbakat, pahlawan pergerakan, yang rela berbetah di perantauan mengurus isu masyarakat.

Sayangnya, Kakak lebih memedulikan anggapan teman-teman kakak dan seringkali tak memedulikan perasaan Ibu. Perasaan orang tua yang merindukan anaknya yang hanya pulang sebulan sekali. Ah, ya, kewajiban kakak hanyalah di organisasi, ya. Adek lupa. Adek terlalu kecil untuk memahami persoalan rakyat.

Kak, adek ingin sekali menghabiskan liburan ini bersama kakak. Kakak yang mematikan sejenak ponselnya untuk bermain bersama adek seharian. Kakak yang berlibur lama di rumah. Dan, mungkin, sejenak saja, biarkan adek tidur di pangkuan kakak.

Apa yang kakak kejar sebenarnya? Soft skill? Kak, sudah berapa banyak organisasi yang kakak ikuti dan berapa banyak kakak menomorsekiankan kami, kak. Sebaik-baiknya teman kakak sekarang, keluarga adalah yang paling dekat, Kak. 

Sudah dulu, Kak, adek tidak tahu harus berkata bagaimana lagi tentang betapa rindunya kami dengan kehadiran Kakak. Kakak baik-baik, ya, sebagai organisator muda. Adek selalu bangga dengan Kakak. Adek senang melihat Kakak bahagia dengan kesibukan sekarang.

Oh, ya, Kak, jika suatu saat Kakak menyesal tidak melewatkan kebahagiaan bersama keluarga sebagaimana mestinya, jangan salahkan Adek, ya. Eh, tapi adek yakin kalau kakak tidak bakal menyesal, sih. Toh ya, kakak lebih menghargai perkataan teman-teman kakak di kampus.

Semua orang berhak menentukan prioritasnya, Kak. Jika kakak memang memprioritaskan yang kakak jalani sekarang, adek tetap menghargai. Toh, ya, adek tahu seberapa besar impian kakak untuk mengubah dunia. Selamat berjuang dan semoga tak ada penyesalan di kemudian hari, Kak :). Missing you is always, Kak.



Salam hangat,


yang merindukanmu

You Might Also Like

35 Comments

  1. Betapa bahagianya sang kakak yang mempunyai adik penuh perhatian seperti Mbak. Salam kenal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah :). Sayangnya, saya anak tunggal, mas. Hehe.

      Delete
    2. Cuma ngasih tahu kalau GA yg saya adakan gak harus punya akun Twitter :)

      Delete
  2. Aah mudah2an sang kakak membaca ini dan segera pulang -_-

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Hehe. Bukan, mbak :3, fiksi ini :)

      Delete
  4. Wah berumtung sekali yang jadi kakak ketemu gede-nya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beruntung, ya? Bersedia jadi kakaknya #eh? :D

      Delete
  5. Semoga kakaknya membaca tulisan ini. Terkadang perasaan rindu itu melelahkan hati, tapi indah. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kakak yang mana ini :)? Indah, walaupun melelahkan, Kang :)

      Delete
  6. Membaca surat di atas, aku jadi bisa membayangkan rasa rindu dan kesepian orang tua karena anaknya yang sibuk mengurusi 'rakyat'.
    Anak2 muda memang idealis, mereka yang berdarah muda pasti akan sangat bersemangat untuk mewujudkan impian mereka, melakukan apa yang sesuai dengan hati mereka. Tapi memang, di saat spt itu mereka malah lupa dengan keluarga mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mama juga sering nasihati sama seperti komentar mbak Reni :)

      Delete
  7. Wah saya suka dengan background bergaris garisnya ini. Sudah mirip halaman dalam sebuah buku tulis. Waaaaaaaa keren keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trimakasih apresiasinya, Kang :). Haha... Ini tulisan pasti bukan alirannya Kang Asep :p

      Delete
    2. Hhahahha saya suka cerita fiksi :))

      Delete
  8. ini fiksi yah? atau sedang ikut #30HariMenulisSurat yaah?? kirain tadi ini curcol loh, hehehehehh.

    siapapun Kakak itu, semoga segera kembali ke rumah, berkumpul dgn keluarga. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fiksi, mbak :). Hemm, saya bw, tapi belum nemu event seperti itu, mbak :(. Ada link-nya kah?

      Delete
    2. coba cek disini say: http://30harimenulissuratcinta.poscinta.com

      ;)

      Delete
  9. Replies
    1. Kakak yang mana ? Hehe... Amiin :)

      Delete
  10. oops aku tertipu kirain kakak beneran, ini masuknya ke cerpen atau surat ya? maen ya ke blog saya bloggerlicio.us walaupun gk asik blognya juga hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entah cepren, entah surat. Kalau surat, panjang bener ya. Hehe...
      Sudah berkunjung, Mas :)

      Delete
  11. semoga lekas ketemu mbak, kalau hanya fiksi (intip dari labelnya) semoga ketemu juga di alam imajinasi mbak, hehe. kalau baca jleb nih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe... Ketemu di mimpi, ya, mas :)

      Delete
  12. ini fiksi ternyata, ya? Saya kirain kejadian beneran ^_^

    ReplyDelete
  13. Sibuk ya sibuk tapi jangan membuat orangtua menangis karena tak ada kabar berita dari anaknya.
    Apik suratnya
    Salam hangat dasri Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Pak De :)
      Salam hangat pula dari Surabaya :)

      Delete
  14. Hello again! :)
    fiksi yang sederhana, but quite nice. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak, fiksi. Terima kasih untuk apresiasinya :)

      Delete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)