Mia, Sahabat Layla

By Tuesday, March 18, 2014


Ketika di masa kuliahku dulu, aku mengagumi Layla. Wanita tercantik sepanjang masa, setelah ibuku, tentunya. Layla yang tampak begitu sempurna, tanpa cacat, dan polesan rias. Dia cantik alami. Ah, Layla-ku.

Layla memiliki seorang sahabat baik, ketika itu. Namanya Mia. Wanita muslim, yang mungkin membuka mata Layla tentang agama Islam. Mia, gadis berjilbab, yang masih berpakaian ketat. Ya, tapi itu dulu, ketika di masa kuliah, semester 2.

Mia memiliki sifat yang berbeda jauh dengan Layla. Bila Layla memilih menghabiskan liburan dengan setumpuk novel romansa, Mia lebih sering berkumpul dengan para aktivis kampus. Ketika Layla memilih untuk menutup diri dari pertemanan luar, Mia memiliki lebih 1000 teman yang tak dikenal Layla. Mia Aulia, perawan desa yang tak kalah memukaunya.

Dulu, Mia menjalin hubungan dengan sahabatku. Mia adalah mahasiswa jurusan Ekonomi, sedangkan sahabatku satu jurusan denganku, Teknik Mesin. Aku dan sahabatku adalah dambaan para wanita. Kami terkenal gagah dan macho dengan gelar teknisi kami. Ah, masa muda yang indah.

Mia dan sahabatku pernah sekali menghabiskan waktu bersamaku. Di awal perkenalan mereka, di taman Bungkul, tempat kawula muda saling memadu kasih setiap Raja Siang mulai kembali ke peraduannya. Mia terlihat cantik dan sahabatku, tetap saja. Santai dengan polo shirt, yang kutahu sudah 2 kali ia pakai di minggu ini.

Di masa itu, wanita muslim belum mengenal yang namanya hijab. Dandanan muslimah yang terbeken adalah ala Zaskia Mecca. Itulah dandanan yang disematkan oleh Mia di malam itu. Atasan pink, bawahan jeans, dan krudung tertata rapi, hanya menutup leher saja. Mia, wanita berjilbab, berbaju ketat.

Mia tersenyum, merasa sedikit terganggu ketika aku melihat mereka sedang mengobrolkan apa yang tak kuketahui. Jika sahabatku tak merengek padaku untuk menemaninya, aku pun malas untuk berada di antara mereka. Aku pun tak bisa menolak permintaannya. Bagiku, persahabatan di antara lelaki adalah yang harus diutamakan. Karena kita hidup untuk kemenangan dalam persaudaraan lelaki.

Aku mengambil sebatang rokok dari bungkusanku. Menyulutnya dan menghisapnya dalam-dalam. Mencoba melupakan dunia mereka berdua yang kuirikan. Malam indah yang dapat kunikmati. Setidaknya, aku bisa melihat paha-paha yang terjual murah di sini. Nikmatnya malam ini.

Mia mulai bercerita keresahannya pada sahabatku. Dia merasa dikucilkan oleh seluruh penghuni kelasnya. Bukan karena kecantikannya yang memukau, tapi karena kisah cintanya dengan sahabatku. Sahabatku, sang playboy berhati hello kitty.

Baru beberapa bulan yang lalu, mereka menautkan hati di sebuah hubungan pacaran. Ini menjadi skandal panas yang terjadi di kalangan wanita. Aku tidak terlalu paham dengan pikiran wanita, yang terkadang rela menusuk kawannya sendiri di balik punggungnya. Setidaknya, kami, para lelaki tidak seperti mereka. Di mana ada lawan, kami akan menghadapinya. Di hadapan mereka.

Mia menjadi bahan pembicaraan selama beberapa waktu. Di pojok kantin, yang menjadi tempat favorit para wanita penggila riasan, Mia pun menjadi topik utama. Mia yang perebut cowok. Mia yang penusuk kawannya sendiri. Mia yang penyerobot. Mia yang tak punya hati. Mia yang menghancurkan persahabatan. Mia yang kejam.

Sudah barang tentu, Mia meneteskan air mata kala menceritakan semua itu pada sahabatku. Nikmatnya rokok pun tak lagi kurasakan ketika mendengar kisahnya. Betapa kejamnya Mia dan betapa teganya mereka menusuk Mia. Aku tak tahu siapa yang salah, jadi kuteruskan lagi kenikmatan malam ini dengan batang rokok kedua.

Mia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, dia dan sahabatku. Awalnya, dia hanya menjalin hubungan pertemanan dengan sahabatku. Menurut Layla, Mia memang menginginkan sosok kakak seperti sahabatku. Yang bijaksana dan memahami wanita.

Sebelum bersama Mia, sahabatku pernah memadu kasih dengan sahabat Mia. Mia dan sahabatnya pun adalah kawan yang sangat akrab. Akupun terkadang iri dengan persahabatan para wanita yang mengagumkan. Termasuk persahabatan Mia dengan sahabatnya itu.

Mia dan sahabatnya kerab memanggil kata-kata mesra yang tak pernah kami, para lelaki, lakukan. Say, Kak, Yang, dan semua kata romantis itu. Mereka pun kerap kali bergandengan tangan di manapun mereka berjalan bersama. Indahnya persahabatan itu. Dulu.

Ketika Mia menceritakan kegelisahannya pada Layla, Layla hanya bisa menenangkan. Menyalahkan, tapi tidak terlalu to the point. "Berbicara masalah hati, itu susah," kata Layla, ketika aku menanyakannya di sore gerimis pekan lalu. Aku berbeda dengan Layla. Jika aku berada di posisi Layla, aku akan mengatakan dengan jelas bahwa Mia bersalah. Begitu pula dengan sahabatku.

Rokok keduaku telah habis ketika Mia membuyarkan lamunanku. Lamunan pria keren yang sedang dimabuk oleh keindahan malam.

"Yanuar. Apa pendapatmu?"

"Kamu serius meminta pendapatku?"

"Ya. Sebagai sahabat dari kekasihku."

"Aku berbicara bukan sebagai sahabat kekasihmu. Aku berbicara atas kemerdekaanku yang tidak bersangkutan dengan kalian sama sekali."

"Hm. Ya, baiklah. Katakan."

"Kalian salah. Jelaskan pada sahabatmu tentang apa yang terjadi di antara kalian. Jangan biarkan pendapat-pendapat itu mengambang tanpa ada jawabannya. Kamu tentu tak mau hubungan kalian mengambang dan tak ubahnya dengan apapun yang mengambang di kali, kan."

"Ya, aku tahu."

"Jadi, jujurlah pada sahabatmu. Jujurlah pada hatimu. Dan capailah ketenanganmu bukan untuk dirimu sendiri, bukan untuk sahabatku pula, tapi untuk kalian bersama. Tak terkecuali dengan ketenanganmu dengan sahabatmu itu."

Mia terdiam mendengar ucapanku yang mungkin terasa bagaikan menjurus dan memojokkannya. Tapi, beginilah aku. Penikmat malam yang akan selalu menikmati kemerdekaan berpikirku. Karena aku, pria keren dambaan wanita. Selamat datang, batang rokok ketiga di malam ini. Cheers.


Surabaya, di kala aku belum mengikat Layla



Source pict downbythewater.tumblr.com

You Might Also Like

3 Comments

  1. uhuy pria keren dambaan wanita

    ReplyDelete
  2. Memang keren sang pria dambaan wanita ini. Ceritanya menarik kawan, tulisan sekelas penulis novel terkenal dari Badui. Emang ada ya ? hehe

    ReplyDelete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)