Untuk Kamu di Surga

By Sunday, June 08, 2014


Selamat malam, Kamu, penghuni Surga.

Semalam tadi, entah itu kamu ataukah yang serupa denganmu, aku senang menemui sosok menyerupamu. Kita memang jarang sekali bertegur sapa, jadi mungkin sedikit heran jika tetiba kamu menghampiriku lewat mimpi. Pun penghampiranmu ini setelah kamu pergi meninggalkan kami. Teman-teman sejawatmu.

Kamu, apa kabar? Bagaimana kabar surga? Indahkah seperti dongeng-dongeng yang sering kubaca? Sempurnakah mahadewi di sana hingga tak pernah kamu temui kami, wanitamu di bumi ini? Akankah minuman di sana lebih nikmat kamu rasa dibanding susu kental buatanku dulu? Ah. Kamu masih saja bergelak lirih dalam mimpi semalam. Menyerupa denganmu.

Dalam mimpiku, kamu terlihat sangat menawan. Rapi dengan baju koko biru yang pernah kami belikan sebagai hadiah ulang tahunmu dulu. Aku tak terlalu mengingat bagaimana kejadian kita bertemu semalam. Tapi, aku ingat betul dengan apa yang kita bicarakan. Pembicaraan singkat yang cukup mengena.

"Kamu, apa kabar? Sudah sampaikah di surga?"

"Iya," jawabmu singkat. Tersenyum dan kembali memaku ke depan.

Aku masih heran dengan pertemuan yang terjadi semalam. Dalam mimpiku itu, terlalu banyak orang yang tidak menyadari keberadaanmu di sampingku. Kamu, kah, itu yang menghampiriku semalam? Kamu. Iya, kamu. Masih sama seperti dulu. Tertunduk malu, namun tersimpan senyum lebar terhimpit pipi lesungmu.

Aku kembali bertanya dengan sedikit lirih. Tak menakut hatiku melihatmu yang kutahu telah pergi rohmu meninggalkan jasad gagahmu. Aku tersenyum memanggilmu. Melirih nadaku menyesuaikan nadamu.

"Kamu telah bertemu dengan eyangmu?"

"Belum."

"Beliau tidak di surga bersamamu?"

"Tidak. Ada tanggungan yang harus beliau selesaikan dalam hidupnya dulu. Itu kenapa, beliau berada di antara batas akhirat dan kehidupan. Bukan pula surga, bukan pula neraka."

Aku terbangun mendengar perkataan terakhirmu. Tercekat sesaat dengannya dan berpikir sejenak. Mungkin, semacam peringatan yang tepat mengena di pikiranku. Ya, mungkin memang benar. Ada hal yang harus kuselesaikan sebagai tanggung jawabku. Atau jika aku meninggalkannya dalam kondisi tak terselesaikan, aku akan senasib dengan eyangmu dalam mimpi tadi malam.

Bukan antara surga, bukan pula neraka. Tapi antara perasaan bersalah dan keegoisan menginginkan kebebasan. Kamu, terima kasih telah menghampiriku sesaat. Semoga selalu tercurah kebaikan untukku dan untukmu.

Dan kamu, yang lain, yang selalu membantuku. Terima kasih. Masih bertahan untuk mendengar keluhku, bukan? Aku ingin menyelesaikan ini hingga tuntas dan meneruskannya. Ya, mungkin kita bisa berkomunikasi dengan cara lain. Sudah canggih teknologi sekarang, bukan? Atau jika kamu hebat, hampiri aku dalam mimpi dan katakan apa yang ingin kamu sampaikan. Pun dengan cacian lembut yang sering menohokku.

Kamu. Aku rindu.



source pic : huaban.com

You Might Also Like

0 Comments

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)