Perihal Hilangnya Menteri Ristek

By Sunday, July 20, 2014 ,

Bismillah.

Semester 4 di masa kuliah ini, sedikit membuatku merasa sedang menaiki roller coaster. Terhempas, terangkat kembali, terhempas, dan well, inilah hidup yang kupilih. Selalu kucari celah yang bisa kusyukuri, hanya untuk kusyukuri sendiri. Bukan untuk kupamerkan dalam facebook!

Beberapa hari yang lalu, alhamdulillah, monitoring dan evaluasi (monev) PKM DIKTI telah berakhir di kampusku. Sedikit lega. Salah satu amanah telah terlalui, meskipun aku rasa kurang maksimal, akan selalu ada kejadian yang membuatku tersenyum kembali mengingat moment perjalananku di kepengurusan ini.

"Dulu gawat, ya, menteri kita hilang!" | "Dulu itu lucu banget. Kamu bingung sampek kita cerita ngalor ngidul." | "Dulu itu bukannya mau karaokean, ya. Haha. Kapan ya, itu."

Menteri Ristek yang Kurindukan -

Menteri Ristek, pemimpin kementerian yang menjadi rumahku, tiba-tiba menghilang di pertengahan kepengurusan. Kalau tidak salah, sekitar tanggal 28 Januari 2014, setelah pengumuman PKM 5 bidang diumumkan DIKTI. Jujur, sebagai mahasiswa yang tidak pernah berkutat dengan PKM, hilangnya Bu Menteri ini membingungkanku. Pasalnya, PKM adalah kegiatan yang berkesinambungan dan berjalan selama satu periode kepengurusan.

Beberapa kali, aku mengajak salah satu karibku untuk bersua. Sedikit bertukar pikiran bagaimana kepengurusan Ristek ke depan, untuk 2014-2015. Aku merasa jenuh dengan keukeuhnya pembenaran yang seringkali dilakukan oleh 'yang menganggap dirinya selalu lebih bertaring'.

Jika dilihat dari bagaimana aku menginginkan menjadi salah satu bagian di organisasi ini, perasaan ingin tetap bergabung masih lebih besar daripada keinginan untuk melepas. Bukan karena kelihaianku untuk mengontrol atau apapun, tapi aku tahu bagaimana rasanya bekerja sendiri dan tidak tahu harus bertanya ke mana. Rasanya, seperti bola yang terhempas dan tak terarah. Lempar sana, lempar sini. Tanya sana, suruh tanya sini. Terus, jika tak ada yang menjawab, siapa yang harus kutanyai? Bertindak, dianggap melangkahi. Tidak bertindak, dianggap acuh. Sabar, ya, adik kelasku, semoga kamu lebih kuat ketika mengembannya :).

Hingga paragraf ini, banyak sekali memoar yang ingin kugali dan coba kutelusuri. Untuk mengingatkan betapa aku sebenarnya sangat beruntung dapat bergabung di kepengurusan ini.

Aku bertemu dengan 5 staff muda yang sangat membuatku nyaman. Salah satunya adalah teman sekelasku, satunya lagi adalah anggota tim PKM-ku, satunya adalah manusia tergokil, satunya yang menilai secara adil, dan satunya lagi yang menilai dengan detail. Di antara mereka, aku merasa komplit dan terlengkapi satu sama lain. Aku bersyukur mengenal mereka :).

Di perjalanan kepengawalan PKM, aku sempat mengalami tenggelam dan berjalan sendiri. Entah karena sisi melankolis yang terbawa akut. Tapi, amanah yang tak bertemu solusi, akan menjadi beban ketika menjalankannya sendiri.

Puncak kejengahanku terjadi di akhir-akhir kepengurusan ini. Ketika pengumuman bahwa LPJ akan segera datang. Sejujurnya, LPJ adalah pintu yang akan membuatku bernafas lega dan tersenyum lepas. Jadi, aku sangat menantikan datangnya LPJ itu.

Di kejengahanku untuk menemukan 'mereka, yang selalu menganggap dirinya bertaring', aku sempat mendatangi Presiden BEM. Aku tipe orang yang selalu ingin meminta kejelasan. Tindakanku ini, tentu saja sudah aku rundingkan dengan kakak kelasku. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk mencari titik temu. 

"Ke manakah Menteri Ristek selama ini? Adakah kejelasan? Adakah pergantian kepengurusan untuk kekosongan ini?"

Aku cuma ingin tahu, sejauh mana para kabinet untuk menanganinya. Jika memang 'oke, fix, lebih baik dijalankan tanpanya' atau 'tunggu kami menghubunginya, jangan bertindak sebelum ada perintahnya', aku akan lebih mudah mengambil keputusan. Yang aku rasakan selama ini, hanyalah berada di titik antara tenggelam dan terselamatkan. PHP dan itu terasa lama.

Di kejengehanku yang sama, aku sempat meminta para staff ahli untuk melakukan pengawasan dan turut andil dalam menjalankan program kerja ini. Selama ini, yang aku dan kawan-kawan staff muda rasakan adalah kurangnya bimbingan dari staff ahli. Bukan karena kami manja, tapi memang tidak adanya bimbingan.

Tidak bertanya, mungkin. | Sudah berkali-kali dan hasilnya selalu memberikan saran tanpa adanya solusi yang konkrit. Ketika kami benar-benar tidak bertanya, yang ada malah sama sekali tak ada perhatian. Oke, lah, bismillah, kami positif thinking bahwa mereka sedang sibuk dengan hal yang tidak kami ketahui. Semoga tetap tercurah kebaikan untuk mereka :). Hanya Allah S.W.T yang tahu kebenarannya, bukan.

Di kejengahankku yang sama, aku sempat melontarkan keluhanku dengan luap yang tak berujung ke kakak kelasku. Aku tidak tahu bagaimana ekspresinya. Tapi, untunglah, dia hanya terdiam dan menenangkan, tanpa sekalipun menyuruhku berhenti. Sedikit lega.

Di malam aku mengeluh itu, aku sempat mengungkapkan untuk tidak ikut terlibat dengan kegiatan monev dan aku limpah tugaskan pada staff ahli. Aku sudah membulatkan tekad. 100% tekad itu kupegang, lebih, bahkan berkali-kali lipat. Sayangnya, di 'rumah' ini memang begitu, yang katanya ada 'pengkaderan regenerasi', hanyalah teori yang mudah dikatakan, tapi susah sekali diwujudkan.

Kejengahanku terbayar setelah monev PKM berakhir. Melihat 109 dari 112 peserta PKM mengikuti monev dengan tertib, membuatku lega dan senang. Merekalah yang selama ini seringkali menguatkanku. Seringkali, pesan mereka melalui sms, message, ataupun group PKM membuatku kembali bersemangat.

Ya, tak jarang dari mereka yang membelaku. Malah, seringkali yang malah aku ajak untuk berdiskusi. Seringkali pula, merekalah yang memberiku jalan keluar. Seringkali mereka membuatku tersenyum dan menyemangatiku. Seringkali komentar mereka terasa nyelekit gag ketulungan, tapi di tengah-tengah komentar itu pasti ada yang membuatku kembali boom, moodbooster. Entah itu menyela dengan iklan mastin, membelaku, atau yang seringkali malah out of topic. Itu lucu, sungguh!

Lucunya menjadi koordinator pengawalan PKM itu serasa bikin gemes, tapi ini menyenangkan dan aku rasa akan membuatku merindukannya. Sebenarnya saat ini pun, aku masih kepikiran apakah mereka, para peserta PKM, akan mengembalikan dana talangan atau tidak - -" . Bismillah, hingga kepengurusan ini berakhir, hingga tanggung jawab ini tertanggalkan, semoga selalu tercurah kekuatan dan kesabaran untukku dan yang selalu menguatkanku :)

21 Juli 2014
Beberapa hari yang lalu sempat dapat screenshoot ini dari salah satu teman dan jawaban kami adalah bahwa kami sudah merasa tidak memiliki keinginan lagi untuk bergabung. Begitulah :). Bukan karena kami sudah terlalu membutakan mata, tapi banyak pertimbangan yang sudah ditimang untuk memutuskannya. Banyak hal :).

Yang dianggap bertaring, belum tentu mampu menggigit lebih baik. Untuk apa memiliki taring jika tidak mampu menggigit? Apa bedanya dengan yang tidak memiliki taring? Sama saja, bukan. 

"Belajarlah bertahap hingga taring itu tumbuh dan pakaian kesangaran dapat dikenakan dengan kebijaksanaan yang tumbuh dari proses panjang." - gue :v

You Might Also Like

0 Comments