Berpikir OSPEK itu Bullsh*t? Pikir Lagi!

By Thursday, August 07, 2014

Membicarakan tentang masa orientasi kampus atau yang sering dikenal OSPEK, memang memberikan kesan berbeda-beda bagi setiap individu. Ada yang menganggap bahwa kegiatan ini berguna, upaya perpeloncoan, atau bahkan ada yang menganggap kegiatan ini tidak memiliki dampak sama sekali. Hem, ya, bisa jadi penilaiannya akan lebih parah jika menyimak perhelatan ospek 'aneh'  yang sempat memakan korban beberapa waktu lalu.

Di kampus saya, ospek ini dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama adalah tahap IPMB, yang merupakan tahap perkenalan kampus dan merupakan acara yang diisi (kebanyakan) oleh pihak manajamen ataupun UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Intinya, untuk memahamkan mahasiswa baru (seterusnya, saya singkat maba) tentang seluk beluk kampus. Sedangkan pembelajaran tata cara dan kehidupan kampus, di tahap OMB. Nah, di sini yang berperan adalah dari mahasiswa, baik itu panitia, ormawa (organisasi mahasiswa), dan KM (keluarga mahasiswa) itu sendiri.

Saya telah mengikuti dua kali masa ospek, yah, istilahnya yang pertama adalah sebagai peserta dan kedua adalah sebagai panitia. Di sini, saya ingin membahas sekilas tentang keduanya. Bukan bermaksud untuk membocorkan rahasia ospek, hanya saja saya ingin menyadar kepada calon peserta bahwa : panitia ospek (sebenarnya) telah memikirkan matang-matang dengan segala penugasannya :). Bukan sekedar acara perpeloncoan tak bermakna :)
OSPEK PENS 2012
Ospek PENS-01, angkatan 2012
Di mata peserta, OSPEK itu....

Waktu yang terlalu pagi untuk peserta. -The real big problem (for me)-
Dulu, ketika saya masih sebagai peserta, saya memang merasa sedikit gentar menghadapi perhelatan ospek ini. Sebenarnya, bukan dari sisi panitia-nya, sih, tapi lebih ke waktu yang ditentukan oleh para panitia. Saya adalah tipe orang yang susah bangun pagi, jadi ini adalah momok tersendiri bagi saya.

 Ospek itu banyak penugasan. 
Berangkat pagi, sih, masih bisa diatasi. Tapi, untuk penugasan yang banyak dalam setiap harinya itu, dulu, membuat saya banyak menghela nafas. Apalagi, ketika masih maba, belum terlalu mengerti dengan tempat-tempat strategis yang nyaman untuk berkumpul. Jadilah, kos yang berada di sekitar kampus menjadi basecamp dadakan. Ini pun, terkendala dengan jam malam yang diberikan oleh panitia. Eits, panitia rajin berjaga, tuh, di area sekitar kampus untuk mengecheck maba yang masih mengerjakan tugas. Aduh, sumpah, kan, niat banget!

Ospek itu identik panitia muka seram.
Ketika saya maba dulu, saya seringkali bertanya-tanya, apa sebenarnya yang hendak diajarkan oleh para kakak tersebut dengan muka seram itu? Apakah ketika berhadapan dengan adik kelas harus bermuka seperti itu? Entahlah. Hingga sekarang, saya masih sering bertanya mengapa mereka selalu saja mengidentikkan ketegasan dengan muka seram -_____-" :)

Ospek itu mengajarkan cara membentak-bentak. 
Eh, sure? Hem, saya dulu sempat berpikir demikian, loh. Saya yang maba polos dulu, berpikir bahwa apakah ketegasan perlu dengan cara memaki? Bukankah makian dan ketegasan itu berbeda? Jadi, saya yang dulu masih belum 'terkontaminasi', berpikir bahwa ketegasan itu serupa dengan makian.
Tetap tersenyum pasca ospek :D

Di mata panitia, OSPEK itu....

Sebenarnya, saya kurang pantas juga menuliskan ini dari sudut pandang panitia. Mengingat masih banyak panitia yang menjabat lebih tinggi, namun tidak mengshare kepada publik. Jadi, jika ada yang kurang berkenan, saya mohon maaf :)

Pemilihan waktu yang relatif pagi itu ada pertimbangannya, nduk
Ternyata, pemilihan waktu pada pelaksanaan ospek ini tidak asal ambil waktu. Panitia perlu survey dulu tentang jadwal dari masing-masing jurusan. Istilahnya, jika ada jurusan yang memiliki kemungkinan kuliah jam 06.00 WIB, maka maba sudah diajarkan untuk datang tepat waktu pada jam 06.00 WIB tersebut. Tujuannya, tentu saja, ketika mereka masuk dan menemukan jam kuliah sepagi itu, mereka tidak kaget.

"Lah, wong, ospek diajarkan tepat waktu jam 06.00 WIB. Sampean kok bisa-bisanya telat kuliah, padahal masuk kuliahnya jam 08.00 WIB. Piye ospek e, nduk?" - indikasi pertanyaan untuk peserta yang 'kaget' pada jam kuliah (termasuk saya :p)

Penugasan cuma beberapa hari, lihat dulu dari maknanya, nduk... 
Penugasan itu memang dan harus. Tujuan ospek ini melatih maba untuk tahan banting dan mampu beradaptasi ketika menghadapi kerasnya bangku perkuliahan. Mahasiswa akan dituntut menyelesaikan banyak tugas dalam satu waktu yang bersamaan. Belum lagi mengerjakan laporan pendahuluan, sementara, dan akhir untuk mata kuliah praktikum. Ditambah lagi ada tugas dari mata kuliah teori. Nah, keep on fighting. Dunia perkuliahan (bisa jadi) lebih berat daripada ospek yang hanya beberapa hari :)

Well, penugasan itu juga tidak sembarangan. Panitia perlu flooring atau melakukan sharing pendapat kepada warga (istilah untuk angkatan yang lebih dulu), merapatkan kembali, dan kembali sharing, hingga akhirnya mendapatkan keputusan yang benar-benar final. Jadi, semua penugasan, pasti ada maknanya, sekecil apapun penugasannya. Salah satunya adalah membangun kekompakan angkatan. Tapi, untuk saya pribadi, tujuan dari penugasan itu adalah membangun memori indah untuk dikenang suatu hari. Hehe.

Kebayang, kan, hebohnya kita bercerita dengan kawan-kawan seangkatan.
"Iya, dulu, pas ospek itu heboh banget. Kita bikin ini itu. Eh, ada yang yang cinta lokasi tuh. Eh, kan bla bla bla."

dan bandingkan jika, ketika ditanya, tentang ospek, kamu hanya bisa menjawab:
"Di kampusku gag ada ospek. Tapi, enakan gag ada ospek, sih."
Rasanya, garing krenyes krenyes, kan :).

Panitia juga perlu mempersiapkan latihan simulasi/gladi resik. 
Jangan percaya bahwa panitia benar-benar seganas tampilannya. Ada banyak latihan yang perlu dilakukan untuk menghadapi para maba. Bayangkan saja, jumlah panitia tidak sebanyak jika dibandingkan jumlah peserta. Latihan ini akan sangat membantu panitia untuk menumbuhkan keberanian yang lebih besar. Jadi, tolong, jangan terlalu membangkang, ya, adik-adikku :p  

Panitia itu (seharusnya) tegas, bukan membentak.
Ini yang masih saya pegang hingga sekarang dan masih selalu saja menjadi pertanyaan. Apakah nilai ketegasan dinilai dari bagaimana kerasnya dia membentak? Hem. Untuk ini, mungkin saya tidak terlalu banyak mengulas, karena saya pun masih beranggapan bahwa ketegasan itu tidak tercermin dari bentakan :). Tapi, percayalah, sebenarnya yang panitia ingin ajarkan pada para maba adalah nilai ketegasan agar maba dilatih untuk mengambil keputusan dan berpendapat. Well, terkadang tekanan malah membuat maba untuk tidak berpendapat sama sekali -___-"

Seragam ospek itu terkesan sederhana dan kampungan.
Weits, jangan berpikir demikian, donk. Sepengamatan saya, seragam yang diharuskan kepada para maba ini, bukan terkesan kampungan. Malah terkesan kompak, kok, dengan atasan putih, bawahan hitam, berdasi hitam (bagi yang tidak berkerudung), dan sepatu hitam. Ini lebih ke kesan bahwa maba adalah makhluk yang masih suci dan siap untuk menerima pelajaran, baik itu kehidupan dan akademik di kampus.

Layaknya kertas yang masih kosong, kita bisa menuliskannya sebebas mungkin dan menjadikan kertas itu menjadi banyak bentuk. Namun, sekalinya rusak, kertas akan berbekas dan tidak dapat kembali seperti ke keadaan semula.
OSPEK PENS 2012
Spanduk yang terpampang selama ospek. Dulu, sih, bikin merinding XD
Ketika menjadi peserta dulu, saya mungkin seringkali mengeluh sana-sini tentang penugasan yang terlalu banyak. Tapi, ketika menjadi panitia, baru tahu juga, sebenarnya panitia sendiri butuh lebih dari sebulan untuk mempersiapkannya, baik dari segi waktu, survey alat bahan, fisik, dan mental itu sendiri. Jadi, kalau dipikir-pikir, sama capeknya juga, kan. Hehe.

Percaya, deh, ospek itu mengasyikkan. Bagi saya, yang menganggap bahwa tidak adanya ospek itu enak, mungkin hanyalah jawaban untuk menutupi keinginannya mengikuti ospek :). Hayo, mengakulah. Jangan pandang ospek sebelah mata, donk ^ ^

Masihkah ada yang berpikir bahwa ospek itu perhelatan bullsh*t?
Pikir lagi dengan pola pandang yang berbeda, pasti akan ada nilai positif yang terkandung di dalamnya. Sebenarnya, bagaimana Anda mengalami ospek sebelumnya memiliki pengaruh besar terhadap pola pandang mengenai ospek ini :). Tapi, ospek sekarang berbeda dengan ospek dulu, lho. InsyaAllah, penuh makna yang tersirat, walaupun kadang susah diartikan :D. Saya tetap menghargai bagaimanapun Anda menilai ospek tersebut.

And the last, untuk para maba :

"Singa yang terlihat bertaring, belum tentu mampu menggigit dengan lebih baik."

Bisa jadi, kemampuan kalian, para maba (yang masih belum memiliki taring / kekuatan), sebenarnya lebih baik daripada para leluhur. Jadi, tempatkan ketakutan pada leluhur dengan kadar sewajarnya :). Kalian tak akan tahu bagaimana kemampuan kalian sebelum pertarungan dimulai ^ ^. Selamat mempersiapkan ospek, Generasi Penerus Bangsa.
OSPEK PENS 2012
Selamat berjuang, Generasi Penerus Bangsa!!!


Salam hangat,



Telkom-Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Angkatan 2012

You Might Also Like

26 Comments

  1. Di kampus saya enggak ada ospek. Saya malah baru tahu istilah itu saat diberitakan heboh beberapa waktu lalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hem, wah, untuk pengenalan kampus awalnya gimana, mas?

      Delete
    2. Lewat brosur yang diedarkan. Mungkin tradisi ospek hanya ada di Indonesia, ya.

      Delete
  2. untuk yg masalah :
    "Panitia itu (seharusnya) tegas, bukan membentak."
    katanya kakak-kakak angkatan sih, ada dua cara untuk menanamkan nilai, yang pertama dengan membuat rasa takut dan tunduk, inilah kenapa ospek itu identik dengan membentak, niatnya sih supaya mereka takut sehingga hatinya bisa terbuka kemudian nilai-nilai itu dimasukkan.
    kemudian yang kedua dengan menyentuh hatinya, di jurusanku (IT), perlahan ini yang mulai dirubah oleh kakak angkatan, awalnya dengan tegas dan keras kemudian sekarang dari tahun ke tahun lebih kepada konsep kekeluargaan.
    setidaknya itu sih yang saya tahu, mbak. kalau gak salah tangkap. :D
    tapi senior lebih tahu lah. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Nah, ini, dek, yang saya kurang setuju :). Karena penanaman nilai, tidak harus dengan membuat maba takut dan tunduk, kan ^ ^. Kalau yang dari jurusan sampean, itu sama dengan penanaman nilai di jurusan saya, yang lebih menanamkan kekeluargaan dalam penananam nilainya :D

      Delete
  3. wedew keren mbak...Sukses buat Para penerus tonggak bangsa Indonesia...asal jangan bkin bangsa sendiri ya mbak hehe peace...mksih sdh mampir tmpt sya hidup Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Gag bakal bikin bangsa baru, mas :3

      Delete
  4. kegiatan itu akan bermanfaat jika dilaksanakan dengan baik dan mempunyai nilai efisiensi yang tinggi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, mas :D. Nyatanya, Beberapa kampus ada yang (sedikit) salah kaprah tentang ospek ini x___x

      Delete
    2. berarti kurang efisien dan tak memiliki visi yang jelas dalam prakteknya mba :D

      Delete
  5. Aku pernah ikut ospek dan pernah juga jadi panitianya. Aku sih ingatnya fun. Cuma bagian kulit gosongnya gak fun. Taun depan kalau aku diundang lagi jadi panitia ospek esktra di kampus, no baris-baris ah, panas :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi jadi panitia ospek kan bisa pilih tempat buat ngadem, mbak :D. Hehe. Panitia masih menang milih tempat, mbak X)

      Delete
  6. ospek dikampus aku dulu waktu aku jadi maba,ya pastinya sesi jemur-jemuran dan bentak-bentakan. hahaa sampe acara jurit malam emm...pertama emg nyebelin sih tapi sekarang malah jadi kenangan konyol yg sulit dilupakan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sampai malam ya ospeknya, kak. Di tempatku cuma sampai sore aja x___x . Yang nyebelin emang sesi penjemuran itu, ya. Hehe....

      Delete
  7. Iya nih lagi mau perhelatan ospek juga di kampus saya. Dan saya juga sama nih, mantan peserta dan mantan panitia juga, dua tahun berturut-turut. Mantan tatib dan mantan koor pubdok, jadi ngerti lah. Nah, salah satu alasan kenapa harus bentak-bentak juga sebenarnya kan biar bikin si peserta disiplin. Kan dengan disiplin, khususnya waktu, rundown yg udah dibikin panitia bisa terjaga. Soalnya pernah bikin skenario ga ada bentak-bentak, eh malah pesertanya ga serius ngikutin. Tapi kalau soal hukuman fisik haram hukumnya, kalau ngasih tugas berat buat mah harus. :D

    Yang pasti. Sebagai mantan peserta, ospek itu salah satu kegiatan seru. Seru untuk diingat, tidak untuk diulangi. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hem, tarnyata kalau hukuman fisik ini memang sudah banyak kampus yang ngelarang ya :). Iya juga, mah, kalau gag ditegasin, rundown gag bakal jalan sesuai rencana.

      Bener, mas. No no lagi deh ngerasain ospek. Cukup ngelihat dan mendoakan dari jauh. Hehe :p

      Delete
  8. wuidiih...jadi senyor ya bu...:)
    Ospek sangat diperlukan, lebih banyak manfaat bagi mental dan jiwa peserta, bekal menyongsong masa depan yang lebih berat dari sekedar ospek...yang menolak ospek,pasti orangnya culun dan sedikit o'on...pasti begitu..soklah saya berani tarohan...pasti culun...sekali lagi c u l u n....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum jadi seinor, mas, masih junior juga x___x
      Loh, gag ada ospek ya. Wah, sayang sekali :P . Tapi sampean gag culun, kok, mas, kan blogger gag ada yang culun #eh :D

      Delete
  9. ospek asal positif itu baik, buat saling mengenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Bener, mbak. Bisa saling mengenal sama jurusan lain :D

      Delete
  10. kita lihat dari kaca mata positifnya aja deh... toh, semua itu kan tujuannya utk membuat kita saling mengenal. bukankah "Tak kenal maka tak sayang" ^_^

    Yg lg OSPEK, yg sabar2 aja ya.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mas, bener :D
      Sabar2 aja, ya, yang lagi ospek. Mangatse X)

      Delete
  11. selamat tidak ada kekerasan fisik dan mental apalagi secara berlebihan. Saya rasa gak apa-apa diadakan opspek

    ReplyDelete
  12. Aq paling seneng jd maba dulu waktu ospek krn setiap ad hukuman pasti aq yg pertamA, seolah sy ini langganan sayur ibu ibu
    Tp aq ambil hikmahnya mas bro krn diruangan sy kan ad sekitar kurang lebih 60 maba dan heranku krn mereka semua tau nm sy pdhl sy sendiri tdk tau nm merekA
    Tp inilah yg paling seru dpt cewe mas bro langsung dua lagi,sy shi mau gmn y terima mereka aj kan ini hitung2 anugrah

    ReplyDelete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)