Sarah di Bulan Lalu

By Thursday, September 04, 2014

Hai, Sarah.

Tolong jangan kaget dengan suratku ini. Aku telah terlalu lama membendung kerinduan terhadapmu, yang bahkan hingga kini, aku tak dapat mengartikan apa yang terjadi di antara kita. Dulu, kita ini apa, Sarah? Teman, kah? Sahabat baik? Hubungan (yang dianggap) persaudaraan?

Kamu harus tahu, Sarah. Di bulan lalu, ketika kamu menghubungiku dan menanyakan kabarku, aku tergirang dan mendingin bagian tanganku. Aku selalu begini ketika bersangkut pautan dengan masalah perasaan. Perasaan. Kamu paham, kan, apa itu perasaan, Sarah? Aku yakin kamu paham betul tentang ini. 

Hem. Bagimana dengan studimu sekarang? Aku dengar, kamu akan meneruskan ke jenjang S3. Mimpi yang dulu pernah kita untai bersama. Kamu ingat tentang gelang buatan Oma-mu dari Amerika Latin? Kamu bilang, itu gelang keberuntungan dan akan terputus ketika doamu terkabul. Apakah doamu yang kamu untai? Bisa bersamaku, kah? Mengecup keningku? Atau mungkin, bisa selalu mendampingiku? Tapi, gelangmu sudah terputus, kan?

Sarah. Kamu juga harus tahu ini.

Di malam itu, aku berbohong padamu. Mengatakan aku ada masalah dengan salah seorang kawanku. Ah, apakah kamu tahu aku hanya mencari alasan untuk bisa mendengar nasihatmu? Kamu membiarkanku untuk meluapkan rasa kesalku. Kamu hanya diam, mematung, terkadang tersenyum. Lesung pipi yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Kamu, berlesung, Sarah. Aku suka lesungmu. Ah, tidak, aku suka senyummu. Aduh, salah lagi. Oke, aku suka kamu.

Sarah. Kamu masih menyimpan sedikit kenangan tentang kita, kan? Bagaimana kita bercanda di tengah amarah kita yang tiba-tiba saja meledak-ledak. Kamu itu lucu, Sarah. Kamu bisa marah ketika aku menghentikan kebiasaanmu mengupil di depanku. Agak jorok, memang. Tapi, kamu bilang, hanya aku yang tahu kebiasaanmu itu. Kamu bahkan tidak pernah menyuruhku untuk menghentikanmu.

"Paramater kenyamanan seseorang itu bisa diukur dari kebiasaan ngupil, Ok. Ketika kamu ngupil tanpa rasa gengsi, berarti kamu udah nyaman sama orang yang ada di sekitarmu. Gitulah. Intinya, aku sedang nyaman sekarang," katamu lalu tergelak.

Kamu juga ingat, kan. Kamu pernah memarahiku karena aku terlalu meremehkanmu. Kamu harus tahu, Sarah. Aku tidak pernah memandangmu sebelah mata, aku hanya ingin kamu bangkit dan lebih siap ditempa kekerasan. Rasanya sakit, Sarah, ketika mendengar Layla menceritakan bahwa kamu sakit hati dengan amarahku padamu. Sakit ini, bukan karena kamu marah denganku, tapi lebih karena kamu tidak menangkap maksud dari pembelajaranku. Aku tidak jahat padamu. Sungguh.

Lalu, suatu hari, kamu kembali mendatangiku dan meminta pertolongan padaku. Seakan, kamu telah melupakan kejadian di hari itu. Senyummu itu, Sarah. Aku tak bisa berpaling dari senyum itu. Bagaimana bisa kamu begitu cepat melupakan rasa sakit hatimu dan kembali tersenyum lebar seolah-olah tidak ada apa-apa? Aku suka.

Dan di hari kamu mendatangiku itu, kamu menceritakan hal pribadimu. Perihal sakit, yang kamu rahasiakan selama ini. Sarah, kamu jangan tertutup padaku, aku mohon, biarkan aku mengenalmu lebih dari ini. Jika kamu takut sekitarmu akan menjauhi, aku tidak akan. Aku berjanji, Sarah, aku berjanji akan menjaga janji itu. Menjagamu.

Hei, Sarah. Aku tetap memegang janjiku, hingga beberapa saat yang lalu. Merengkuh memori senyum yang tak dapat kulihat lagi. Melingkar jemari yang hingga bulan lalu, masih kuimpikan untuk kumiliki. Sekarang, Sarah, harus pada siapa aku membayangkan cincin tunangan bertuliskan namamu ini tersemat?

Sarah, masihkah aku bisa sesekali mengirimu pesan? Mungkin, bukan tentang hubungan kita. Aku sudah terlalu sakit untuk mengingatnya. Penantian ini rasanya sia-sia, Sarah. Pada akhirnya, bagaimanapun aku mendekapmu dalam doaku, tetap saja akan terlingkarkan cincin indah di jari manismu, bukan. Tapi bukan cincin dariku. Bukan aku.



Selamat menempuh kehidupan barumu
Salam,


Oksa




Teruntuk wanita yang semakin hari semakin tegar. Sarah Argandini

You Might Also Like

8 Comments

  1. rasanya seperti surat benaran, mbak :D

    ReplyDelete
  2. Hihi.. Iya ya kadang kalau sama teman baru ada ganjelan upil ya dilapin. Coba kalau udah nyaman pasti langsung ngupil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti, sepakat kalau ngupil juga parameter kenyamanan dengan orang lain, kan :p

      Delete
  3. hahahaha,,,ngupil ya yg bisa dijadikan contoh,,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Iya mbak, contoh untuk mengukur tingkat kenyamanan :D

      Delete
  4. Replies
    1. Terima kasih apresiasinya mbak :3. Masih keren tulisannya mbak yang bikin ngiler :3

      Delete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)