Catatan Seorang Presiden BEM

By Saturday, October 04, 2014

"Biarkan Cerita dan Pengalaman Membimbing Langkahku, Langkahmu dan Langkah Kita Semua Menuju Destinasi Indah Berikutnya"
(Javan Aristianto Pradana)

Hari ini menjadi titik dimana segala kebersamaan berujung. Dimana segala edisi perjalanan setujuan tidak akan berlanjut dan ditutup. Perjalanan lebih dari 14 bulan yang berat dan melelahkan akhirnya berujung.

Semua dimulai saat ambisi kita hanya untuk balajar yang kemudian mempertemukan kita, jauh sebelum ada ambisi akan pengorbanan ini muncul dan menyeruak menguasai sanubari masing-masing. Kala itu kita hanya haus akan ilmu dan pengakuan, tak peduli akan banyaknya waktu yang akan terbuang.

"Dari sana, tak disangka kebersamaan semakin bertumbuh yang kemudian menjadikan kita dalam satu tujuan dan satu bingkai indah berbalut kebersamaan dan harapan mulia, bukan untuk kita namun untuk semua, bukan untuk aku dan kamu melainkan untuk mereka."

Sepanjang jalan panjang nan begitu panas, gersang dan tandus ini bukanlah permulaan jalan yang ditempuh, namun hanya secuil jalur yang dititipkan oleh pendahulu kita agar kita melaluinya. Mereka semua berpesan agar mencarikan air untuk tanaman-tanaman kami dirumah yang sekarang ini menjadi tanggung jawab kami. Tak disangka, dijalanan sepanas ini ternayata kita semua memulainya dengan tanpa alas kaki.

Kaki ini terbakar, terluka dan tersayat menjadi hal biasa.

Seiring perjalanan, kita telah mampu membuat alas kaki sendiri, yang membuat lebih kuat dalam berjalan dan berlari. Di jalanan ini kadang tidak pernah turun hujan, padahal yang kita butuhkan adalah air, yang ada hanyalah panas dan pasir yang bereterbangan yang menutupi pandangan mata. Sesekali kita mendapat air namun tak jarang kita kembali dengan tangan hampa.

Saat air ditangan maka dahaga pun terobati. Namun saat hanya butiran pasir nan kering ditangan tak disangka yang kita dapatkan bukanlah keteduhan rumah, namun kita diusir dari rumah kita sendiri bak budak yang tiada harga.

Cerita itu terus berulang, tak hanya sekali namun sampai ratusan kali.

Dari lisan kadang terucap kata lelah. Bahkan kadang tidak hanya lisan yang tak sanggup lagi menitih lelahnya misi namun juga akal sehatpun goyah karenanya.

Satu Orang, Dua Orang kemudian gugur. Mereka pergi tanpa pernah kembali lagi memperjuangkan cita suci. Dan lagi Satu Orang, Dua Orang kemudian Pergi, bukan pergi secara fisik namun pergi secara pandangan jati diri.

Kita yang berkeras hati dan pikiran terus saja berjalan mencari akhir dari perjalanan tanpa peduli lagi terjalnya jalan kedepan. Bagi kita hanya satu pandangan yang senantiasa menjadi pedoman, yakni

"Jika Orang lemah yang dikurung dalam Gunung 5 Jari oleh Sang Budha maka mungkin dia akan mati hanya dalam beberapa hari karena hati dan pikirannya hanya akan terisi oleh kepustusasaan dan penyerahan, namun jika yang dikurunng adalah Orang Paling Kuat sedunia maka suatu saat pasti akan dapat bebas dan akan semakin kuat daripada awalnya".

Satu, Dua batu mampu kita lompati namun tak jarang kita jatuh tersimpuh penuh luka tak mampu melompati batu dalam satu lompatan. Namun dengan kerja keras dan terus mencoba menjadikan kita mampu untuk melewatinya.

Kadang langkah kita lebar yang menjadikan kita mampu melewati apapun dalam satu kali langkah saja. Namun semakin mendekati ujung jalan tak disangka langkah kita semakin terbatasi, bukan karena rendahnya kemauan namun karena begitu banyak batu-batu kecil yang dibawa dalam saku kita.

Terus berulang tanpa tahu kapan semua itu ada akhiran. Yang dirasa hanya haus dan ingin ujung jalan segera terlihat. Setelah berjalan ratusan hari dengan pengorbanan waktu, hati dan materi yang harus dibayar tidak murah dengan segala konsekuensi akhirnya berujung.

Akhirnya do'a indah itu hari ini terjadi. Do'a yang tanpa disadari menjadi pemisah akan setiap hati yang telah trajut menjadi satu.

Inilah akhir perjalanan kita. Tidak akan ada yang mampu membayar langkah berharga kalian selama ini. Tak peduli sekecil apapun langkah itu, karena betapa kecilnya langkah semua itu tidaklah murah untuk diganti. Pendakian kita begitu indah dan berbeda. Karena kita mendaki bersama dan kita kibarkan padnji kemenangan yang agung dipuncak tujuan secara bersama. Tidak seperti mereka diluar sana yang hanya saling berjumpa di puncak jaya dengan digdaya mereka masing-masing.

Terima Kasih Kawan, kalian semua begitu berharga.

Mari titih jalan kedepan. Perjalanan bersama kita selama ini hanyalah secuil perjuangan kehidupan yang telah menjadikan kita berbeda.

Perpisahan ibarat kita termenung sendirian di tengah kelamnya senja setelah seharian kita senantiasa bersama. Namun percayalah bahawa Peripsahan ini adalah senja yang indah, yang kemudian akan diikuti dengan kilauan jutaan bintang dan indahnya paras rembulan yang akan menghiasi kehidupan kita selanjutnya

Surabaya, 26 September 2014

Dedicated to : Dicky Abdillah, Diana Permatasari, Chairunnisa Rizky Alfi Firnandi, Alexander Dimas, Fernando Angriawan, Erfan Prihadana, Ika Rohmatul Aini, Fahmi Setiawan, Dwi Ary Ardiansyah, Fatimah Mey, Dica Paramitha Rininta Putri, Billy Abbie O, Elfira Niken Kurniaviesa, Dewi Dona Fibrianti, Eric Effendi, and Selly Yulanda.
-----------------------------------------------

*) Tulisan ini ditulis oleh Javan Aristianto Pradana, Presiden BEM PENS-ITS periode 2012-2013. Beliau merampungkan D3 Teknik Elektro Industri tepat waktu, September 2014. Alumni UKKI yang bersahaja dan berhasil terpilih menjadi Presiden BEM. Di sini, saya berusaha tidak menggunakan 'mantan PresBEM', karena beliau tetap menjadi Presiden BEM terbaik yang saya kenal :).

Seperti yang pernah saya bilang, bahwa kriteria penilaian keren untuk seseorang itu berbeda. Namun, di sini, saya akui, beliau keren. Dengan latar belakang keorganisasian dan kewibaannya. Hem, well, saya selalu berdoa agar beliau tetap menginspirasi di manapun beliau akan berdiri kelak.

Tetap keren dengan bagaimanapun potensi dasar yang dimiliki. Kembangkan dan terbanglah dalam koridor yang diatur secara 'mendasar'.

Saya keren, Anda keren, dan everyone dapat keren dengan cara yang unik. Be the best of you.

You Might Also Like

0 Comments

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)