Untuk Pria Berinisial #10

By Wednesday, October 01, 2014

Favim.com
Halo, Bintang. Sudah lama, ya, julukan itu tidak kusandangkan lagi untuk memanggilmu :). Sudah berapa lama kita tak bersua, tak berbincang, atau bahkan hanya untuk menanyakan kabar, kita sudah tak ada kesempatan lagi. Masihkah sesekali terselip tentang ingatan kita dulu?

Kamu, tahu? Kepergianmu, seakan membawa sajak cintaku pergi bersamamu. Aku dulu, begitu mudah menguraikan apa itu cinta dan menuliskannya dalam untaian kata romantis. Seakan tak ada lagi manusia yang hidup selain kita berdua. Lucu, ya. Ketika itu, entah di jaman, kapan, kan. Kamu pasti tak ingin aku menyebutkan waktu tepat kejadian yang akan aku ceritakan. Katamu, itu akan melukai hatinya yang sedang bersamamu kini dan hatinya yang sedang bersamaku kini :).

Kamu ingat tentang sajak yang pernah kutuliskan padamu? Aku dulu begitu cepat menyimpulkan tentang perasaanku padamu. Terlalu mudah mengartikan makna tentang cinta sejati. Terkadang, ketika kembali kubaca sajak itu, aku tertawa geli. Berlebihan saja, rasanya.

Sekarang aku begitu susah memaknai apa itu cinta, Bintang. Kamu tahu sebabnya, kan. Aku hanya bisa merangkainya dalam ingatanku dan kembali terkubur sebelum aku mengutarakannya padamu. Maaf, aku bukan lagi wanita yang seromantis dahulu. Maaf pula, jika tak mampu kuuntai keromatisan layaknya paragraf indah karangan namarrappucino, kesukaanmu. Atau, selayak karya Dwitasari, wanita yang seringkali membuatmu tertegun. Kamu lucu, ya, tapi aku suka.

Sekali ini saja. Tolong aku untuk mengartikan semua ini. Perasaan sederhana yang kumiliki untuk priaku sekarang. Apakah ini cinta? Perasaan samar apa ini, yang begitu nyata kurasa, namun sulit untuk kumaknai? Aku hanya tahu, entah apapun sebutannya, aku hanya ingin tetap memilikinya. Priaku yang sekarang, dan semoga untuk selamanya.

Kamu, iya kamu :)


Selamat ulang tahun, Bintang, yang dulu

You Might Also Like

2 Comments

  1. kepada pria inisial #10 selamat ultah moga sehat dan bahagia selalu.

    ReplyDelete
  2. cerpennya mbak Happy selalu rasanya nyata, kayak curhatan.
    apa memang sebenarnya curhat yang dirangkai dalam bentuk cerpen? ^.^

    ReplyDelete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)