Resolusi Hijau 2015 ala Mahasiswa Indekos

By Friday, January 23, 2015 ,

Menjaga lingkungan untuk tetap hijau, asri, dan tetap nyaman ditinggali merupakan kewajiban manusia sebagai wujud timbal balik terhadap alam. Namun, bagi mahasiswa indekos, mewujudkan lingkungan hijau dengan tanam-menanam adalah hal yang sulit dilakukan, terutama bagi mahasiswa yang jarang pulang kampong. Jadi, bagaimana cara kita untuk berterima kasih pada alam? Yuk, wujudkan #ResolusiHijau2015 ala mahasiswa indekos yang murah meriah.

[1] Penghematan Listrik di Kamar Kos

Hingga saat ini, saya masih sering lupa mematikan kipas angin ataupun lampu kamar ketika saya keluar dari kamar kos. Rasanya, memang terbilang sepele, tapi kebiasaan menyepelekan listrik pasti akan berdampak pada borosnya pasokan listrik Indonesia.

Berdasarkan data yang terdapat di situs earthhour.wwf.or.id, kebutuhan listrik rumah tangga (sample di daerah Tangerang) memiliki kecenderungan mengalami kenaikan yang drastis. Perhatikan grafik perkembangan kebutuhan listrik per-sektor dari tahun 1999 hingga 2002 berikut :
Grafik Kebutuhan Listrik Tangerang | nenghepi
Grafik Kebutuhan Listrik Tangerang (via earthhour.wwf.or.id)
Bayangkan jika saya dan Anda berhasil membiasakan diri untuk disiplin mematikan listrik yang tidak terpakai? Akan berapa banyak konsumsi yang dapat kita hemat? Oke, point pertama ini, fix saya jadikan resolusi hijau 2015 untuk listrik Indonesia yang lebih hemat!

[2] Penghematan Air Keran untuk Cuci Baju

Saya seringkali geregetan dengan teman-teman kos yang seringkali membiarkan air mengguyur di bak yang pecah. Ingin sekali rasanya memberi peringatan pada mereka untuk tidak menggunakan bak pecah untuk mencuci pakaian dalam jumlah banyak. Bayangkan, berapa banyak air yang terbuang percuma, bukan? Oke, target tahun ini adalah memberanikan diri membuat tulisan peringatan!

Salah satu yang bikin saya salut dengan kos saya adalah mereka telah menggunakan keran isi bak mandi dengan metode keran apung. Jadi, ketika air telah mencapai batas tertenu, maka air akan berhenti mengisi. Saya perkirakan, penggunaan keran ini sangat membantu dalam penghematan air.

Ingat, Badan Perserikatan Bangsa‐Bangsa (PBB) mencatat, setidaknya ada 780 juta orang di dunia yang tidak memiliki akses terhadap air bersih dan hampir 2,5 miliar tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang memadai. Ada banyak saudara kita yang membutuhkan akses air bersih. Yuk, berhemat!

[3] Cegah Mahasiswa Lain untuk Merokok di Kampus

Saya seringkali kesal dengan rekan-rekan mahasiswa yang dengan seenaknya menjadikan kantin sebagai tempat merokok. Ini sangat mengganggu dan membuat sesak kehidupan kampus saya yang menyenangkan XD. Well, sebenarnya saya sangat setuju jika di kampus saya diterapkan peraturan seperti Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Berikut adalah sangsi yang dikenakan bagi mahasiswa yang tertangkap basah merokok di area kampus UI :
Peraturan Pelarangan Merokok di UI | nenghepi
Peraturan Pelarangan Merokok di UI (via Official Universitas Indonesia Page)
Dr. Hakim, mantan anggota DPR Komisi IX, pernah mengatakan bahwa kematian akibat rokok memiliki jumlah korban yang sama dengan jumlah korban tsunami.
Tsunami itu kematiannya unpreventable, tetapi itu terjadi 150 tahunan sekali. Ini tiap tahun 239 ribu," tegasnya. (sumber : health.detik.com)

Mungkin, saya tidak memiliki kapasitas untuk membuat kebijakan seperti di atas. Namun, resolusi tahun ini adalah mampu mengingatkan kawan dekat saya yang perokok atau minimal berakting batuk-batuk untuk membuatnya tersindir. Oke, keluarkan keberanian, Happy, untuk kampus PENS lebih bersih tanpa asap rokok!

[5] Wisata Alam Perairan

Resolusi hijau saya yang kelima adalah berwisata alam perairan di daerah pelosok. Sebenarnya, saya belum begitu paham mengenai wisata alam di daerah Surabaya. Tapi, wisata alam saya di Pantai Lenggoksono beberapa waktu lalu, membuat saya ketagihan untuk melakukan camping ala backpacker. Wisata alam dapat menjadi cara kita untuk selalu mencintai kekayaan Indonesia. Sepakat?

Salah satu resolusi hijau saya di point ini adalah mengunjungi Laut Sawu. Saya tertarik untuk menjadikan Taman Nasional Perairan (TNP) ini setelah membaca ulasan yang ditulis oleh The Nature Conservancy Program Indonesia. Pada tulisan tersebut, terlihat bahwa terumbu karang di Laut Sawu begitu terjaga dan indahnya, men, surgaaaa! Saya jadi tidak sabar untuk mencoba snorkeling ataupun hanya menikmati pemandangan paus, lumba-lumba, dan burung laut yang berkeliaran di taman tersebut.
Pemandangan Bawah Laut Sawu | nenghepi
Pemandangan Bawah Laut Sawu (via www.nature.or.id)
Pulau Sawu ini terletak di sebelah selatan perairan Laut Sawu di sebelah timur Pulau Sumba dan sebelah barat Pulau Rote. Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Luasnya adalah 414 km². Pulau ini selain disebut pulau Sawu, juga disebut sebagai pulau Sabu. Sedangkan penduduk setempat menyebut pulau ini dengan Rai Hawu (pulau Hawu). (sumber : wikipedia)

Dari situs The Nature Conservancy Program Indonesia, dijelaskan bahwa terumbu karang ini sangat penting bagi Indonesia yang notabennya adalah wilayah laut. Dr. Michael Beck dari TNC mengatakan bahwa kekuatan terumbu karang dalam memecah ombak mencapai 86%. Lebih dari 80 negara, termasuk Indonesia, dapat terancam jika terumbu karang tidak dilindungi dan dipulihkan. (sumber : nature.or.id)

[6] Mengikuti Kegiatan Perlindungan Alam

Masih berhubungan dengan point 5. Resolusi keenam ini adalah resolusi yang sebenarnya sudah saya rencanakan sejak lama. Kalau menilik point sebelumnya, sebenarnya menjadi volunteer di konservasi terumbu karang terdengar menyenangkan. Namun, bagi mahasiswa yang memiliki jadwal kuliah padat (karena paketan) adalah hal yang sepertinya mustahil.

Jika pada tahun 2014 saya berkesempatan menjadi Orang Utan Warrior di lembaga perlindungan alam WWF, tahun ini saya berencana untuk berpartisipasi dalam kegiatan sejenis. Bedanya, tahun ini yang ingin saya ikuti adalah Hilo Go Green. Sepengamatan saya di tahun kemarin, kegiatan yang diadakah oleh Hilo Go Green benar-benar mengajak kami untuk menjaga alam. Mulai dari penanaman mangrove ataupun upaya pemanfataan kertas-kertas bekas skripsi. Menurut saya, ini akan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Jadi, bolehlah target untuk mengikuti kegiatan perlindungan alam dari Hilo Go Green ini masuk dalam #ResolusiHijau2015 saya.

Oh, ya, beberapa hari lalu saya mengunjungi taman wisata mangrove di daerah Bosem, Surabaya. Jika kalian berkesempatan ke Surabaya, sempatkan untuk mengunjungi lokasi ini. Lokasinya sangat indah dengan rindangnya mangrove dan spot untuk seni fotografi :) #promoteeverywhere :v

***

Well, itulah keenam #ResolusiHijau2015 yang dapat dilakukan oleh saya dan teman-teman yang berstatus mahasiswa indekos. Tidak memerlukan dana yang mahal, namun tetap memiliki arti dalam perlindungan bumi. Mari cintai bumi dari hal kecil dan dari lingkungan terdekat kita. Jadikan resolusi hijau 2015 ini menjadi resolusi berkelanjutan untuk tahun ke depannya.

Selamat menjaga lingkungan agar tetap hijau!



Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Challenge Resolusi Hijau 2015


***

Referensi :
  • Ardiwijaya, Rizya. 2014. Terumbu Karang Peredam dan Adaptasi Bencana. (diakses 23 Januari 2015)http://www.nature.or.id/blog/terumbu-karang-peredam-dan-adaptasi-bencana.xml
  • Earth Hour. nd. Kenapa Harus Hemat Listrik?.http://earthhour.wwf.or.id/kenapa_hemat_listrik.php#.VMGiA9KsX1Z (diakses 23 Januari 205)
  • Fibi, Happy. 2014. 3 Langkah Kecil Kita, Selamatkan Air Indonesia. http://nenghepi.blogspot.com/2014/01/3-langkah-kecil-kita-selamatkan-air.html (diakses 23 Januari 2015)
  • nn. nd. Pulau Sawu. http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Sawu (diakses 23 Januari 2015)
  • Purwanto. 2014. Penilaian Kesehatan Terumbu Karang di Taman Nasional Perairan Laut Sawu 2014: Survei Ekologi di Taman Nasional Perairan Laut Savu 2014. http://www.nature.or.id/blog/survei-ekologi-di-taman-nasional-perairan-laut-savu-2014.xml (diakses 23 Januari 2015)
  • Wahyuningsih, Marry. 2012. Jumlah Kematian Akibat Rokok Sama dengan Korban Tsunami. http://health.detik.com/read/2012/12/18/162548/2121616/763/jumlah-kematian-akibat-rokok-sama-dengan-korban-tsunami (diakses 23 Januari 2015)

You Might Also Like

10 Comments

  1. Resolusinya go green banget :D
    peduli peduli peduli

    ReplyDelete
  2. hemat listrik dan matikran kran air kalo nggak perlu ya..dulu masih kuliah aku paling bandel dalam hal ini gegara pengan nggak rugi...tapi lama kelamaan sadar diri kalo spt itu nggak baik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha. wah, kita samaan, mbak. tapi selama kos di tempat baru, kudu beneran hemat gegara pakek token :"(

      Delete
  3. Kereennn resolusinya... Aku juga ngekos, meski bukan mahasiswa lagi :D. Kalau aku sih kayaknya selain hemat listrik, pengen nyoba ngurangin beban sampah (plastik) terutama. *Tapi masih harus banyak belajar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya, mbak. Bener juga tuh, berhemat plastik. Sampah plastik juga sering numpuk di kos :)

      Delete
  4. Poin pertama saya juga sering kelupaan matikan kipas angin, hihi. kadang ditinggal kuliah, atau setelah ke luar kamar juga lupa. pulang2nya kipas angin masih nyala :D. jadi resolusinya perlu kesadaran kita semua, mbak. andai semua kalangan, tak hanya mahasiswa, bisa mewujudkan. pasti dampak besarnya terasa.

    ReplyDelete
  5. Hemat listrik dan air nih yang rada susah. But, i'll try.

    ReplyDelete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)