Kota Blitar : Wisata Rohani ke Makam Bung Karno

By Monday, February 16, 2015 , , , ,

Assalamualaikum.

Pada tanggal 14 Februari 2015, saya, Lina Pratiwi (Tiwi), Ulfa Sutria (Ulfa) , Zaim Zainuri (Zaim) dan Ziadhatul Ulumiyah (Zia) melakukan wisata rohani ke kota Blitar. Tujuan utama kami adalah ke kawasan Makam Bung Karno yang terletak tepat di Kota Blitar. Berbekal tiket kereta Rp 11.000 (tiket pulang-pergi Surabaya-Blitar), kami menghabiskan sehari liburan kerja praktik kami ditemani tour guide dari Blitar asli, Zaim.

Kami berangkat dari Surabaya, stasiun Gubeng dengan kereta Penataran Dhoho, sekitar pukul 04.30 WIB. Kami memang memesan tiket dengan keberangkatan terpagi dengan alasan kami hanya akan melewatkan sehari di Blitar. Dalam artian, kami akan langsung kembali ke Surabaya pada waktu sore. Tiket ini sendiri kami beli pada hari Senin, 9 Februari 2015, dan ternyata kami berlima mendapatkan tiket keberangkatan tanpa tempat duduk (read : tiket berdiri).

Stasiun Kota Blitar
Stasiun Kota Blitar bersama Zaim

Mendapatkan Tiket Kereta Berdiri itu ... 

Bagi saya, Ulfa, dan Zia, yang belum pernah merasakan mendapatkan tiket berdiri, kami merasa sedikit bingung. Tapi, Tiwi mengatakan pada kami bahwa kami akan tetap mendapat tempat duduk dengan menduduki tempat duduk kosong para penumpang yang batal atau belum menduduki kursinya. Toh, ya, kami pun harus siap-siap untuk digusur ketika penumpang asli telah datang. Saya dan Zia saja digusur sekitar 2x. Hehe.

Stasiun Kota Blitar
Stasiun Kota Blitar

Alun-Alun Kota Blitar

Dari jadwal kereta yang tertera di tiket kami, seharusnya kami tiba di Kota Blitar pukul 10.20 WIB, nyatanya kami tiba di Kota Blitar sekitar pukul 11.00 WIB. Menurut saya, ini tidak terlalu molor dari estimasi waktu yang kami rancang. Jadi, setibanya di stasiun, yang kami lakukan adalah berfoto ria di depan stasiun dan langsung melanjutkan perjalanan ke Alun-Alun Kota Blitar, sekitar jarak 1 KM. 
Alun-Alun Kota Blitar yang Keren
Alun-Alun Kota Blitar yang Keren

Es Dawet Pleret dan Bakso Kota Blitar

Menurut saya, Kota Blitar memiliki tatanan kota yang rapi dan bersih. Seperti di Alun-Alunnya saja, terlihat bahwa kota ini menyimpan catatan sejarah. Dari bangunan pagar dan gapuranya, terlihat apik. Di Alun-Alun, kami segera mencari pengganjal perut, yaitu bakso kota dan es dawet pleret. Menurut Iqbal, penumpang dari Blitar yang kami temui di kereta, es pleret adalah minuman khas dari Kota Blitar. Harga jajajan di sini terbilang murah bila dibandingkan dengan Surabaya. Dengan merogoh kocek Rp 9.000,- , kami mendapatkan bakso dengan harga Rp 6.000,- dan es pleret seharga Rp 3.000,-.

Es Dawet Pleret khas Kota Blitar
Es Dawet Pleret khas Kota Blitar

Ada yang berbeda dengan bakso dan es dawet pleret di sini. Baksonya memiliki kuah kuning dan tidak terlalu bercita rasa vetsin. Menurut teman saya, serasa makan bakso berkuah soto. Sedangkan, untung es dawet pleret-nya ini, yang unik adalah tambahan pleret di es dawetnya. Pleret merupakan olahan tepung beras yang dibentuk agak bulat. Ketika menghidangkannya, pleret ini diisi dengan gula merah cair, tapi ketika diminum, gula merah ini terkadang keluar dari pleretnya. Menurut saya, pleret ini hampir sama seperti klepon, kue dengan isi gula merah cair di dalamnya. Bedanya, pleret ini akan terasa seperti klepon yang tidak memiliki isi karena gula merah cairnya akan keluar dulu sebelum saya memakan pleret ini -___-“ Well, saya menikmati dua sajian khas Kota Blitar ini :D

Zaim dan kedua teman kembarnya akhirnya datang dengan membawa tiga sepeda motor mereka. Motor merekalah yang akan menjadi pengantar kami ke area makam Bung Karno. Kami beruntung mendapat pinjaman sepeda motor gratis dari kedua teman Zaim ini, si Upin Ipin ini :p. Sebelum kami berangkat ke Makam Bung Karno, kami memutuskan untuk Sholat Dhuhur di Masjid Agung Kota Blitar.

Nah, perjalanan selanjutnya adalah perjalanan menuju tempat sasaran kami, area Makam Bung Karno. Bagi pengunjung berkendaraan pribadi, hanya perlu merogoh kocek Rp 2.000,- untuk tiket parkir sepeda motor. Sedangkan bagi pengunjung yang datang dari jauh, disediakan becak daerah. Harganya sih, saya kurang paham, ya. Hehe. Tapi, dari area tempat parkir kendaraan umum (seperti bus pariwisata) ke tempat makam lebih jauh jika dibandingkan dengan tempat parkir sepeda motor ke tempat makam.

Museum Bung Karno

Di kawasan Makam Bung Karno, pengunjung akan disuguhi 3 destinasi foto yang bisa dikunjungi. Bagi penggemar sejarah, bolehlah berkunjung ke (1) Museum Bung Karno. Di tempat ini, banyak sekali galeri foto dari perjalanan hidup Bung Karno. Selain itu, ada pula lukisan dari Bung Karno, baik lukisan tangan maupun lukisan yang terbuat dari rajutan. Ada lagi koleksi uang kuno dengan seri Bung Karno, koleksi perangko seri Bung Karno, dan keris milik Bung Karno juga ada. Oh, ya, di museum Bung Karno ini juga terdapat miniatur 4 tempat pengasingan Bung Karno di luar pulau yang mewah. Ya, menurut saya, miniatur rumah tersebut menggambarkan betapa mewah dan teduhnya tempat pengasingan Bung Karno tersebut. Di museum Bung Karno ini juga terdapat patung wajah Bung Karno dan patung Burung Garuda Pancasila. Kami pun banyak sekali mengambil gambar di area ini.

Patung Bung Karno
Patung Bung Karno
Patung Garuda Pancasila di Museum Bung Karno
Patung Garuda Pancasila di Museum Bung Karno
Galeri Foto di Museum Bung Karno
Galeri Foto di Museum Bung Karno

Museum Bung Karno terletak di lantai 1 di gedung yang sama dengan perpustakaan. Sayangnya, kami lupa untuk ke tempat ini karena terlalu hebohnya mengambil gambar di museum Bung Karno. Keluar dari museum, kami akan disuguhi beberapa penjual yang menjajakan pernak pernik kecil, seperti replika sepeda motor dari kayu, gelang, ataupun kacamata hitam. Di luar area museum ini juga terdapat kolam ikan kecil dan relief besar yang menceritakan tentang perjalanan hidup Bung Karno. Ada yang saya suka dari sini, di gedung tempat museum dan perpustakaan tersebut, ada tullisan besar yang bertuliskan “Soekarno untuk Indonesia”. Dan dari relief yang dibuat oleh tim Studio Sunaryo (Bandung 2005) ini terdapat tulisan ‘Konferensi Asia Afrika’ yang dituliskan ‘Konperensi Asia AfrikaXD


Relief yang Menceritakan Perjalanan Panjang Bung Karno
Relief yang Menceritakan Perjalanan Panjang Bung Karno

 Soekarno : Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya.


Gong Perdamaian

Perjalanan selanjutnya, masih di kawasan makam, kami menuju (2) Gong Perdamaian yang untuk mencapainya ke sana, kami perlu menaiki beberapa anak tangga. Gong ini terletak di area yang lebih tinggi dibandingkan dengan area museum dan perpustakaan. Di gong ini, terdapat banyak sekali bendera dunia dengan berbagai macam simbol agama, dan pada bagian tengahnya terdapat globe dunia. Sayangnya, di area Gong Perdamaian ini, beberapa masyarakat Blitar membuatnya sebagai area pacaran. Terutama bagi siswa SMA yang masih mengenakan seragam sekolah. Please, deh -_____-“
Gong Perdamaian
Gong Perdamaian
Wahana Memadu Kasih :p

Makam Bung Karno

Setelah dari Gong Perdamaian ini, kami menuju (3) Makam Bung Karno. Di tempat ini, pengunjung harus menulis di daftar tamu dan menuliskan berapa rombongan yang dibawa, sama seperti di museum Bung Karno. Nah, di area makam ini, banyak penjual bunga dan beberapa penjual mainan, seperti balon air sabun ataupun layangan pesawat.
Bersama Pak Wahyu (tour guide Makam Bung Karno)
Bersama Pak Wahyu (tour guide Makam Bung Karno)
Makam Ibunda - Bung Karno - Ayahanda
Makam Ibunda - Bung Karno - Ayahanda

Begitu memasuki makam, terdapat 2 rombongan selain rombongan kami. Tahlil mereka bersahut-sahutan satu sama lain, sedangkan kami hanya berdoa dan membaca al-Fatihah dalam hati. Di makam Bung Karno ini, juga terdapat makam Ibunda dan Ayah Bung Karno. Jadi, makam Bung Karno diapit oleh kedua makam orang tuanya. Oh, ya, di Makam Bung Karno ini terdapat batu besar, yang saya kurang paham itu apa, dan dua bendera. Satu bendera adalah bendera Merah Putih dan satu benderanya, saya kurang paham juga itu apa. Hehe.

Bersama Tour Guide Makam Bung Karno
Bersama Tour Guide Makam Bung Karno

Jajaran Pedagang Oleh-Oleh Makam Bung Karno

Untuk keluar dari area makam Bung Karno ini, kami harus melewati perjalanan panjang yang dipenuhi penjual daster, batik, makanan, dan berbagai macam oleh-oleh khas Bung Karno. Tentu saja, pengunjung bebas menawar. Tenang saja, jika tidak cocok dengan harga pedagang di awal, masih banyak pedagang di belakang lagi. Saya mendapatkan dua daster untuk mama saya dengan harga masing-masing Rp 25.000,- . Mahal atau murah, ya, saya kurang paham juga -___-“

Berbelanja Daster Murah di Jalan Keluar Makam Bung Karno
Berbelanja Daster Murah di Jalan Keluar Makam Bung Karno

Waktu telah menunjukkan sekitar pukul 15.00 WIB ketika kami keluar dari area makam. Perjalanan kami selanjutnya adalah ke rumah Zaim, guide tour kami yang juga sekelas dengan kami. Kami beruntung dia bersedia menemani kemanapun kami pergi. Hehe. Rumah Zaim terletak di daerah Sukorejo (atau Sukoharjo atau Sutorejo, ya -___-“ ) atau di dekat MAN Kota Blitar. Di sana, kami juga menunaikan Sholat Ashar dan menikmati es campur hidangan dari Ibunda Zaim.

Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB ketika kami telah selesai bersantai di rumah Zaim dan kembali ke stasiun Kota Blitar. Kami tiba di stasiun sekitar pukul 16.30 WIB dimana seharusnya kereta sudah datang. Untunglah kereta tidak terlalu datang terlambat, yakni datang sekitar pukul 17.00 WIB. Perjalanan kami berakhir di Surabaya, stasiun Gubeng, sekitar pukul 23.00 WIB.

Akhirnya, ini adalah liburan kedua kami yang menyenangkan. Tidak sabar menanti liburan selanjutnya :D


Keterangan
Pengeluaran
Tiket pulang pergi Surabaya-Blitar
Rp 11.000,-
Tiket parkir motor di St. Gubeng
Rp 3.000,-
Tiket parkir motor kawasan Makam Bung Karno
Rp 2.000,-
Bakso Kota Blitar
Rp 6.000,-
Es dawet pleret khas Blitar
Rp 3.000,-
Parkir motor di masjid Agung Kota Blitar
Rp 1.000,-
Total
Rp 26.000,-

Ps : Liliana seharusnya ikut bersama kami XD

You Might Also Like

8 Comments

  1. udah lama banget nih ga wisata ke museum..
    di subang juga ada museum yang sering jadi tempat pacaran di beberapa sudutnya. miris emang kalo liat mereka masih seragaman sekolah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak, mirisnya mereka pacaran masih pakek seragam gitu, mbak :")
      Ayok mbak, wisata ke museum Subang, nanti tulis di blog ya mbak ^ ^

      Delete
  2. Sayang kalau enggak mampir di istana gebang yang lokasinya berada di tengah-tengah stasiun - makam bung karno :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Weh, berarti ada yang kelewatan saya, mas :") Thanks infonya, mas :)

      Delete
  3. Seminggu lagi rencananya saya mau ke Blitar. Semoga bisa berkunjung ke makam Sang Proklamator itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loh, welcome back in Indonesia, mas :)

      Delete
  4. assalamualaikum.. hmm.. kaa kami anak kelas 2 SMA, nah kami berasal dari bekasi, kami mau ke makam bung karno juga tapi kami bingung gimana caranya dapetin guide tour nya.. boleh dikasih tahu ga caranya ? makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikum salam. Wah, untuk hal tersebut, saya kurang tau, dek 😢. Tapi, di sana, memang banyak tour guide berseragam. Entah piye cara menghubungi mereka. Maafkan yak

      Delete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)