Jangan Terlalu Lantang Mengkritik, Tanpa Koreksi Diri

By Sunday, April 05, 2015 ,

"Jangan meruncing ke bawah, namun menumpul ke atas."
Saya rasa, belakangan ini saya seringkali mendengar ungkapan kritik tajam terhadap pemerintah. Tentang darah aktivis yang masih tercetak sangat tebal di beberapa rekan mahasiswa. Tentang darah perjuangan dan penyambung lidah rakyat yang masih terkancingkan sangat rekat di almamater. Sejujurnya, saya salut dengan mereka.

Namun, tidak semua yang terlihat sangat garang di luar, memiliki nilai kebaikan diri yang segarang penampilan luarnya. Banyak yang bilang, "Ah, cupu lah, kuliah kalau cuma kampus-kos-kampus-kos. Mahasiswa apaan lu? Aku, donk, aktivis keren". Tapi, di sisi lain, ada pula yang dengan prinsipnya berkata, "Karena saya masih memiliki tanggung jawab kepada orang tua. Jadi, lu bilang cupu, ah terserah lah."

Sampai pada paragraf ini, saya tersenyum karena menilai diri saya sendiri. Termasuk yang manakah saya ini? Yang aktivis kah? Ah, terlalu horor jika saya mengatakan saya aktivis. Yang mementingkah studykah? Terlalu suci rasanya jika saya mengatakan saya study oriented, toh nyatanya saya masih seringkali hang out untuk sekedar menonton film keluaran terbaru.

Jadi, di sini saya tidak hendak menyalahkan pihak manapun. Memilih menjadi aktivis kah atau menjadi seorang pelajar seutuhnya, saya mengagumi keduanya. Serius!

Tapi, di sini saya ingin sedikit mengusik ketenangan hati mahasiswa yang mengaku aktivis. Saya ingin menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kecil yang bahkan terkesan sangat sederhana untuk seorang aktivis yang pandai berorasi. Seriusan. Bahkan, pertanyaan yang akan saya lontarkan nantinya, akan sangat mudah Anda jawab dengan mata tertutup.

Pertanyaan pertama, "Hei, para aktivis, sudahkah Anda beribadah tepat waktu hari ini?"

Ah, ya, eh, maaf. Bukankah urusan akhirat tak boleh dicampur adukkan dengan urusan duniawi? Eh, apa pertanyaan ini terlalu sulit dijawab hingga terlalu banyak kilah yang pada akhirnya dapat menyelamatkanmu dari jawaban memalukan bahwa "Eh, um, aku belum ibadah tepat waktu." Jadi, masih ingin mengatakan bahwa "Hei, akulah 'aktivis', yang akan dengan tepat waktu membangun negeri ini".

Pertanyaan kedua, "Hei, para aktivis, berapa nilai IP-mu?"

Woops, maaf, sepertinya saya salah menanyakan ini. IP bukanlah segalanya bagi seorang aktivis, bukan? Jadi, bagaimana orang tua-mu tahu bahwa kamu telah menjalankan kewajibanmu sebagai mahasiswa dengan baik? IP itu semacam raport, 'kan? Lalu, seandainya pemerintah memiliki raport merah dan ketika kritik pedasmu terlontar, mereka akan dengan santainya mengatakan, "Ah, raport bukanlah segalanya bagi kami". Sesantai saat kamu menjawab perihal IP saat ini. Ya, nantinya, akan sesantai itu kamu akan menjawab tuntutan rakyat ketika kamu menjadi pejabat kelak.

Atau pertanyaan sederhana lagi, "Hei, para aktivis, dari mana kamu selama ini mendapatkan IP?"

Saya salah bertanya lagi? Pasti iya. Kejujuran adalah hal yang sangat langka. Selangka saya bertemu para senior yang tersenyum ramah pada junior di masa-masa orientasi. Aha!

Kembali pada pertanyaan sederhana saya. Hei, jawab, donk. Saya sudah habis secangkir nescafe dalam penantianku menunggu jawaban indahmu. Jadi, darimana nilai IP-mu itu? Hei, hei, jangan berkilah terlalu banyak untuk ketidakjujuranmu. Katakan saja. Katakan selantang kamu berteriak pada pemerintah, "Hapus korupsi, hapus! Tangkap para koruptor! Tangkap!!" Hei hei, cepatlah bersembunyi, para 'aktivis'. Mungkin, 5 tahun lagi, kamulah yang akan diteriaki seperti itu oleh para penerus 'aktivis'mu nanti.

Entah ini pandangan saya atau bagaimana, masih tuh ada yang memandang sebelah mata mahasiswa yang berpredikat non aktivis. Jadi, saya ingin bertanya lagi.

Mungkin, pertanyaan terakhir, "Hei, para aktivis, apa arti dari aktivis itu sendiri?"

Apakah mereka yang dengan lantang ingin mengubah dunia? Ataukah mereka yang dengan gigih ingin memperjuangkan masa mudanya untuk berkonsentrasi penuh dalam keilmuan? Ataukah mereka yang dengan jiwa sosialnya turun pada masyarakat? Atau mungkinkah aktivis adalah mereka yang dengan kepintaran dan strateginya berusaha memperoleh prestasi?

Jangan terlalu mengkritik, tanpa mengoreksi diri.

Oh, ya, bagi saya, semua mahasiswa dapat menjadi aktivis dengan cara masing-masing, kok. Tidak harus memaksa mereka yang tak bisa turun di lapangan untuk turun di lapangan. Tidak harus memaksa mereka yang tak bisa mengatur strategi menjadi seorang planner handal. Tidak harus memaksa mereka yang tidak doyan pulang malam (?) untuk berbetah lama di kampus. Tidak harus. Pasti masih ada cara lain di luar itu semua.

Mahasiswa bolehlah berbangga dengan gelar 'maha', tapi janganlah terlalu me-maha-kan. Toh, ya, masih ada yang masih Maha. Jangan terlalu meminta kejujuran dan keterbukaan, jika masih seringkali menghalalkan segala cara.

Jadi, mahasiswa iki kudu piye sakjane?

Meruncing ke luar, namun tetaplah meruncing ke dalam. Mengkritik tajam ke luar, namun tak bosannya untuk berbenah diri.

"Menjadi pemimpin itu, ya, harus pintar juga di bidang akademis. Harus jujur! Malu jadi pemimpin, tapi ora pinter lan ora jujur. " -(sebut saja) Vin Diesel-

Selamat berproses, para jiwa muda~


*) Ps : tidak bermaksud memandang sebelah mata pihak manapun :)

You Might Also Like

3 Comments

  1. ternyata sama saja ya, dulu atau sekarang, kalo ga jadi aktivis yang sehari2 demo atau apalah dibilang cupu..ato istilah kami dulu cemen... saya bukan aktivis, dan saya ga menyesali itu..karena saya yakin medan juang untuk bisa berkontribusi positif buat bangsa ini banyak alternatifnya... melalui pendidikan misalnya..(dan alhamdulillah tercapai juga cit2 yang satu nini) :) Salam bloofers :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya juga bukan aktivis, mas :) hehe. wah, setuju mas. ada banyak cara untuk berkontribusi positif. Salut mas ^_^ (y)

      Delete
  2. bener banget ini. saya rasa semua masyarakat Indonesia harus meruncing ke luar dan runcing ke dalam juga. karena pada faktanya, nggak cuma mahasiswa (aktivis) yang koar-koar mengkritik pemerintah tapi diri pribadi nggak dibenahi, masyarakat kita pada umumnya saat ini banyak yang pinternya cuma mengkritik, tapi giliran ditanya udah berbuat apa untuk negeri ini baru deh gelagapan :)

    ReplyDelete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)