Sesaat Menikmati Tanjung Papuma, Jember

By Thursday, May 14, 2015 , , , , ,

Menikmati liburan weekend pasca ujian tengah semester (UTS) beberapa waktu lalu, saya dan 7 kawan saya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Jember. Destinasi utama kami adalah Tanjung Papuma dan Watu Ulo, dimana menurut kawan saya, Bayu, merupakan salah satu ikon wisata Jember. Untuk menuju Jember, kami memilih transportasi yang murah dan menyenangkan, yaitu kereta api ekonomi. Jadi, perjalanan pp Surabaya-Jember, membutuhkan biaya Rp 114.000,-. Selama 3 hari 2 malam, kami menginap di rumah Bayu, sebagai putra daerah Jember, sekaligus sebagai fasilitator tranportasi. Jadilah, kami tidak terlalu mengeluarkan banyak dana untuk menginap dan transportasi menuju dua destinasi wisata kami.

Akses Jalan Pedesaan yang Mudah Dijangkau

Papuma terletak di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, sekitar 1 jam dari Kota Jember. Akses jalan menuju Tanjung Papuma (Pasir Putih Malikan) dapat ditempuh dengan roda 4 ataupun roda 2. Walaupun akses jalan bergeronjal, tidak mengurangi kepuasan saya selama menuju perjalanan Papuma. Pasalnya, selama perjalanan, kami disuguhi pemandangan pedesaan yang jarang sekali terlihat di Surabaya. Di sisi kanan-kiri, terlihat sawah, hutan, ataupun beberapa bukit yang rasanya membuat teduh pandangan mata. Bagi yang kurang paham jalur menuju Papuma, tidak perlu bingung. Tanjung ini sudah cukup terkenal di masyarakat sekitar, kok :).

Tiket masuk yang harus dikeluarkan oleh pengunjung tergantung dari hari berkunjung dan kendaraan yang digunakan. Di bawah ini adalah harga tiket masuk pada Mei 2015 :

Harga tiket masuk  Papuma
Harga tiket masuk  Papuma

Jangan Lewatkan Goa Lowo, Goa Jepang, dan Wihara...

Pintu masuk Tanjung Papuma
Pintu masuk Tanjung Papuma

Dari loket masuk, perjalanan masih sekitar 20 menitan menuju lokasi tujuan. Nah, selama perjalanan menuju lokasi, ada dua goa yang dapat dikunjungi, yaitu Goa Lowo dan Goa Jepang. Saran saya, jika memang ingin mengunjungi dua goa ini, kunjungilah saat perjalanan menuju Papuma, bukan saat pulang dari Papuma. Sebab, rute menuju Papuma adalah jalan satu arah yang menanjak dan untuk rute turunnya juga satu arah yang menurun. Jadi, agak ribet aja, sih, kalau mengunjungi goa saat perjalanan pulang :3. Selain itu, terdapat wihara merah, yang hanya bisa saya lihat dari sepeda motor -___-"

Wihara merah yang saya lihat selama perjalanan
Wihara merah yang saya lihat selama perjalanan

Tanjung Papuma yang Surut

Bermain di bebatuan Papuma
Bermain di bebatuan Papuma

Saya bersyukur ketika mengunjungi Papuma, kondisi air laut sedang surut. Ini membuat kami lebih bebas bermain dengan air laut. Pesisir Papuma berbeda dengan Pantai Bolu-Bolu yang 'hanya' terhampar pasir pantai. Di area ini, terdapat banyak sekali gugus bebatuan dengan ombak yang tidak terlalu tinggi. Sehingga, ketika saya dan Lina bermain di pesisir, kami dapat bermain tangkap ikan. Seriusan, ada ikan yang terjebak di bebatuan dan kami senang sekali menangkapnya! :D 

Bermain di bebatuan Papuma
Bermain di bebatuan Papuma (2) dan ikon Papuma "Batu Kajang"

Ikon Panorama Papuma dari Siti Hinggil

Setiap kali saya melihat foto teman-teman saya yang berkunjung ke Papuma, mereka seringkali menggunakan background bebatuan tinggi yang berada di tengah laut. Ternyata, bebatuan tersebut memang merupakan tanjung (red : daratan yang menjorok ke laut, atau daratan yang dikelilingi oleh laut di ketiga sisinya) yang menjadi ikon dari Papuma.

Oleh masyarakat sekitar, tanjung tersebut disebut Siti Hinggil yang berarti daratan tinggi. Siti Hinggil ini berupa bukit rindang yang dapat dijangkau dengan menaiki puluhan anak tangga di antara rindangnya pepohonan. Dari bukit ini, kami dapat melihat Papuma secara keseluruhan.

Bukit Siti Hinggil
Bukit Siti Hinggil
Perjalanan menuju puncak Bukit Siti Hinggil
Perjalanan menuju puncak Bukit Siti Hinggil
Ikon Papuma "Batu Kajang" dari puncak bukit
Ikon Papuma "Batu Kajang" dari puncak bukit
Gazebo yang menyediakan minuman dingin di puncak bukit
Gazebo yang menyediakan minuman dingin di puncak bukit

Legenda Gugusan Batu Karang Papuma

Konon, batu-batu di Malikan dapat mengeluarkan bunyi-bunyian khas seperti musik bila terkena ombak. Ada tujuh batu karang besar di pantai itu. Tujuh batu karang disebut sebagai pulau kecil oleh warga setempat. Enam dari tujuh pulau itu memiliki nama yang sesuai dengan bentuknya.

Selain itu, satu dari antara pulau tersebut dihuni oleh ratusan ular berbisa sehingga tidak ada masyarakat atau wisatawan yang bisa berkunjung ke pulau tersebut. Deretan gugusan pulau tersebut, yakni Pulau Batara Guru, Pulau Kresna, Pulau Narodo, Pulau Nusa Barong, Pulau Kajang, dan Pulau kodok. Bentuk enam pulau tersebut sangat khas. Seperti Pulau Kodok yang bentuknya mirip seperti kodok raksasa, sedangkan Pulau Narodo bentuknya mirip dengan topi dewa Narada. Pengunjung yang datang ke pulau-pulau batu karang itu, bisa duduk di atas Batu Malikan asalkan ombak laut tidak tinggi. [1]

Yang Disayangkan dari Papuma...

Secara pribadi, saya sangat menikmati pemandangan indah di Papuma. Tapi, banyaknya coretan di anak tangga ataupun gazebo dan beberapa tempat lainnya, membuat mata saya sedikit risih. Selain itu, kurangnya kesadaran pengunjung untuk menjaga kebersihan, membuat sedikit gregetan.

Kalau kata teman pecinta alam  :
"Jangan tinggalkan jejak lain selain jejak kaki." ^____^

Nih, jejak kaki saya di beningnya air Papuma :v

Yuk, jaga kebersihan Tanjung Papuma. Cintai wisata alam Indonesia! Selamat berlibur dan mensyukuri kekayaan alam yang berlimpah :D.

Baca Cerita Lainnya tentang Jember, yuk!
Wisata Pantai Jember : Pantai Watu Ulo, Indahnya Kemistisan

Tim Hore
Thanks to Tim Hore :
Lina Khoirunnisa, Maulana Akbar, Moniska Lukis, Yunira K. Hapsari, Haris Hidayatullah, Bayu Jaya, dan Aan Cahyo
***



Reference :
[1] http://banyuwanger.blogspot.com/2014/11/pantai-papuma.html

You Might Also Like

15 Comments

  1. aaaak, papuma! beberapa waktu lalu aku sempat lewat jember sepulang dari Argopuro, tapi nggak sempat main ke papuma karena ngejar kereta :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Argopuro :o ? Saya justru belum pernah ke Argopuro, mbak :")
      Semoga next time, mbak bisa ke Papuma dan saya bisa ke Argouro :D

      Terima kasih kunjungannya, mbak :)

      Delete
  2. Jember, salah satu daerah yang pengen saya kunjungi. dan Papuma adalah salah satu yang harus saya kunjungi kalau ke Jember :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeah :D Ayo ke Jember, mbak ^_^ Jawa Timur banyak pantai bagusnya :D Seriusan ~

      Terima kasih kunjungannya, mbak :)

      Delete
  3. Wah, sayang sekali, ya, kalau di tempat seindah itu banyak coretannya.

    ReplyDelete
  4. Kalo aja itu di kota cirebon.. , mungkin banyak yang tau kota cirebon kali ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya belum pernah ke Cirebon, Kak. Tapi, next time. Wish list buat jalan2 Cirebon blm tau kapan nih :"

      Delete
  5. ini tho yang kata temen Saya itu tempatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo kang, jangan cuma kata temen. Sok mampir ke sana, kang :)

      Delete
  6. saran saya kapan kapan harus ke sana lagi, nginep pakai tenda, pasti sangat seru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Camping selalu lebih seru daripada just holiday jeprat jepret, ya, Kak. Setuju deh XD

      Delete
  7. Mbak bus besar bisa sampai di pantai papuma?

    ReplyDelete
  8. Mbak bus besar bisa sampai di pantai papuma?

    ReplyDelete
    Replies
    1. InshaAllah bisa, mas. Dulu keluarga ada yang ke sana naik bus. Papuma itu semacam wisata terpelihara, fasilitas lengkap, lahan luas buat parkir :3

      Delete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)