Urban Social Forum : Perkenalkan Konsep Urban Social pada Masyarakat

By Thursday, December 24, 2015 , ,

3rd Urban Social Forum 2015 (USF) merupakan acara tahunan yang digagas oleh Kota Kita dan bekerja sama dengan beberapa NGO (Non Goverment Organization) di bidang social ataupun tata kota. Forum ini mendatangkan pemerintah Kota Surabaya, aktivis social, dan organisasi masyarakat untuk berbagi pemikiran dengan para peserta. Setelah dua tahun berturut-turut diadakan di Kota Solo, tahun ini USF digelar di Surabaya bertempat di Universitas 17 Agustus (Untag) pada tanggal 19 Desember 2015. Acara ini berhasil menyedot perhatian 1500 pendaftar, baik via online ataupun on the spot, dari seluruh Indonesia.

Fyi, Surabaya merupakan wilayah kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 2.806.306 jiwa. Sebagai ibukota provinsi, kota ini menjadi pusat migrasi bagi masyarakat pedesaan di daerah Jawa Timur untuk mencari pekerjaan. Tentu saja, semakin tahunnya kota ini semakin padat dengan pertumbuhan gedung di sana sini.

Konsep dari acara ini lebih ke diskusi dengan tipe forum utama dan forum kecil. Forum utama (Plenary I dan II) yang bertempat di venue utama, sedangkan forum kecil bertempat di beberapa ruang untuk berdiskusi sesuai minat pilihan peserta. Forum kecil dibagi dalam 3 paralel panel, dimana panel 1 terdapat 6 forum kecil, panel 2 terdapat 7 forum kecil, sedangkan panel 3 terdapat 6 forum kecil. Seorang peserta yang telah memilih 1 forum kecil, tidak bisa mengikuti forum lain dalam 1 panel karena diadakan secara paralel atau diadakan dalam waktu yang sama, tapi tempat berbeda. Untuk forum yang memiliki banyak peserta, diadakan di venue utama dan lainnya diadakan di kelas.

Opening 3rd USF 2015 yang Memukau

Acara dibuka dengan sambutan dari Rektor Untag dan John Taylor sebagai Direktur Kota Kita. Sayangnya, saya telat mengikuti opening ini dan baru datang ketika hiburan alat musik tabuh yang heboh. Mereka menyanyikan lagu-lagu daerah dengan iringan tabuhan ala perkusi. Kurang paham juga, sih, aliran yang mereka tampilkan, tapi saya benar-benar menikmati tampilan mereka. Untunglah, saya mendapat tempat kosong di baris kedua, sehingga cukup mudah bagi saya mengambil gambar.

Opening Perkusi yang Heboh
Opening Perkusi yang Heboh
Lihatlah betapa penuhnya peserta yang menghadiri acara tersebut. Bayangkan saja betapa acara yang megah ini terselenggara dengan gratis dengan menampilkan pembicara kece. Sejauh yang saya lihat, peserta tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa saja, namun ada juga dari pemerintahan, komunitas, ataupun masyarakat umum.

Antusiasme Penonton USF 2015
Antusiasme Penonton USF 2015

Plenary I : Another City is Possible

Pada plenary ini mendatangkan Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), Wicaksono Sarosa (Kemitraan Habitat), Sandyawan Sumardi (Director of Ciliwung Merdeka), dan dr. Gamal Albinsaid. Semua pembicara diberi waktu memaparkan pemikirannya sekitar 7 menit dan dilanjutkan dengan tanya jawab. Sejujurnya, saya merasa beruntung mengikuti kegiatan ini karena saya memang penasaran seperti apa dr. Gamal Albinsaid dan sudah ada rencana menuliskan profil beliau. Jadi, kedatangan beliau ini adalah suprise bagi saya karena di jadwal yang tertera tidak tercantum nama beliau :D

Tri Rismaharini (Walikota Surabaya)
Tri Rismaharini (Walikota Surabaya)
Sandyawan Sumardi (Director of Ciliwung Merdeka) dan Wicaksono Sarosa (Kemitraan Habitat)
Sandyawan Sumardi (Director of Ciliwung Merdeka) dan Wicaksono Sarosa (Kemitraan Habitat)
Bagi saya, ada perdebatan yang menarik antara Bu Risma dan Bapak Wicaksono. Dalam pemaparannya, Bapak Wicaksono menyebutkan bahwa akan ada pertimbangan migrasi masyarakat desa ke kota untuk kesejahteraan masyarakat. Namun, ketika dalam sesi diskusi, Bu Risma menampik pemaparan beliau. Menurut Bu Risma, program migrasi tak semudah seperti yang dikatakan oleh beliau karena mengubah pola pikir masyarakat pedesaan tidaklah mudah. Selain kendala migrasi hewan ternak yang juga akan terjadi, perlu kerja keras untuk mengajak masyarakat desa untuk lebih produktif di lingkungan urban. Dengan nada menggebu, seakan Bu Risma dan Bapak Wicaksono larut dalam diskusi 'panas' tersebut.

dr. Gamal Albinsaid
dr. Gamal Albinsaid
dr. Gamal Albinsaid, dokter 'sampah' yang berasal dari Malang, memberikan pandangan dari sisi pemuda dalam menanggapi isu urban. Dari awal sapaan saja, beliau mampu mengundang tepuk tangan penonton. Selain pembawaan yang religius, beliau menyampaikan bahasan dengan bahasa yang sesuai dengan usia mayoritas penonton, yaitu mahasiswa. Beliau menceritakan bagaimana perjalanan beliau merintis Klinik Asuransi Sampah (KAS) untuk pengobatan masyarakat 'kurang beruntung' di Malang. Beliau juga mengisahkan ketika beliau mengajukan proposal pada sebuah instansi, namun proposal tersebut langsung diacuhkan. Sebuah kebetulan ketika beliau mendapatkan international award dan duduk di depan instansi yang pernah menolak proposal beliau dulu.

Ada quote yang saya ingat dari pemaparan beliau :

"Jadi pemuda itu memiliki dua pilihan. Pilihan pertama, kita menjadi pemuda yang bangun tidur, lalu kuliah, nongkrong, pola hidup hedon, dan tidur lagi. Atau pilihan kedua adalah menjadi pemuda yang bermanfaat bagi orang lain. Sekarang, sharing is cool, men." *dan semua penonton langsung tepuk tangan*
"Janganlah jadi pemuda yang hanya mewacana bagai langit, namun mengambang pada realita." *dan semua penonton kembali tepuk tangan*

Saatnya, Istirahat dan Berkeliling Barisan Stand

Usai plenary I, peserta diberi waktu beberapa menit untuk move ke ruang sesuai forum yang dipilih. Sebagian peserta, seperti saya, memilih untuk berjalan-jalan ke stand sebelum mengikuti forum selanjutnya. Maklum, perut sudah mulai keroncongan. Dan, kebetulan ada Bu Risma lewat di depan saya :3. Hehe. Sebenarnya, saya ingin berfoto dengan Bu Risma dan dr. Gamal, tapi melihat beliau kecapaian, cukuplah foto-foto ini menjadi penghibur bahwa saya pernah melihat mereka secara langsung.

Bu Risma yang Kebetulan Berjalan di Depan Saya
Bu Risma yang Kebetulan Berjalan di Depan Saya XD
Di sini, stand yang dihadirkan sangat beragam dan tidak hanya dari NGO. Beberapa di antaranya berasal dari komunitas hijau, gerakan kepemudaan yang peduli isu politik dan sosial, komunitas peduli pendidikan, hingga stand dari Kebun Binatang Surabaya pun ada! Uniknya, peserta stand tidak hanya dari lingkungan Surabaya, melainkan dari seluruh Jawa. Saya sempat mendatangi stand Urban Citizenship Academy (UCA) yang bergerak di Solo dan Jogja dimana mereka membuat program yang berkaitan dengan kepedulian lingkungan sungai serta pendidikan di kalangan masyarakat kurang beruntung. Menurut cerita mereka, rencananya sekitar bulan Februari, UCA akan hadir di Surabaya. Wuhuuu! Can't wait it.

Kampoeng Sinaoe yang Bergerak di Pembelajaran IT
Stand Kampoeng Sinaoe yang Bergerak di Pembelajaran IT
Stand Kota Kita Solo
Stand Kota Kita Solo
Stand Urban Citizenship Academy
Stand Urban Citizenship Academy
Jajaran Stand dan Antusiasme Pengunjung
Jajaran Stand dan Antusiasme Pengunjung


Stand Turun Tangan yang Bergerak di Politik dan Sosial
Stand Turun Tangan yang Bergerak di Politik dan Sosial

Paralel Panel I

Pada paralel panel ini, saya memilih panel 5 dengan bahasan "A Space to Grow; Creating Child Friendly Cities". Panel ini membahas tentang bagaimana sebuah lingkungan menjadi layak dihuni oleh anak-anak, sehingga panelis yang didatangkan adalah aktivis yang peduli pada pendidikan anak. Beberapa yang saya tangkap dari panel ini adalah :
  • Indonesia belum mencapai negara layak, namun pengupayaan tersebut terus diusahakan.
  • Masih adanya anggapan bahwa belajar haruslah duduk di kelas dengan papan tulis dan seragam, padalah pendidikan bisa terjadi di mana saja dengan berbagai cara yang lebih menyenangkan.
  • Perlu pengupayaan pendidikan murah, namun dengan fasilitas yang baik dan layak.
  • Harus adanya tanggapan dari berbagai elemen mengenai pengaruh narkoba dan isu berita di dunia maya tentang pornografi ataupun pornoaksi.

Panelis Panel 5 dari Aktivis Pendidikan Layak Anak
Panelis Panel 5 dari Aktivis Pendidikan Layak Anak
Panelis yang paling mengena bagi saya adalah Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM). Panelis mengatakan bahwa sekolah ini dibentuk dengan peraturan yang menyenangkan bagi setiap anak didik. SAIM berupaya membentuk lingkungan sekolah dan kompleks mereka sebagai rumah bersama dalam artian, mereka dibentuk nyaman di lingkungan tempat tinggal tersebut. Panelis juga mengatakan bahwa ketika hari libur pun, SAIM tak pernah sepi anak didik karena mereka seringkali berkunjung ke sekolah untuk bereksperimen ataupun membuat suatu project. Menurut saya, pemaparan tersebut terdengar seperti sekolah alam yang sangat dinantikan bagi anak-anak.

Paralel Panel II

Di paralel panel kedua ini, saya memilih panel 13 dengan pembahasan "SymbioCity – Sustainability by Sweden" dimana dipaparkan kerja sama antara Sweden dan Indonesia untuk reduce-reuse-recycle di lingkungan urban. Sebagai langkah awal, Sweden bekerja sama dengan Kota Palu dan Probolinggo. Pemaparan dilakukan oleh pihak SymbioCity dari Sweden dan pemerintah Kota Palu.

Dari Kota Palu, perubahan yang terjadi adalah dibentuknya kawasan biogas di lingkungan TPA. Biogas yang digunakan berasal dari sampah-sampah yang terkumpul dan diproses dalam 3 fase dan akhirnya dihasilkan tenaga listrik sekitar 800 Kilowatt yang menjangkau sekitar 2.000 rumah warga[1]. Ke depannya, Kota Palu berencana untuk mengkombinasikan biogas tersebut dengan panel surya, sehingga dapat dihasilkan energi listrik yang lebih besar. 

Panelis SymbioCity : Membahas Kerja Sama Sweden dan Kota Palu

Istirahat Lagi dengan Tampilan 3 Bujang Ganong

Setiap pergantian panel, selalu diselipi waktu untuk istirahat, makan, dan sholat. Nah, istirahat kali ini diselipi dengan tarian dari 3 penari cilik. Kalau dari kostum dan topengnya, sih, sepertinya mereka adalah Bujang Ganong (salah satu pemeran dalam tampilan Reog Ponorogo). Oh, ya, ada yang unik, loh. Sepertinya, mereka adalah anak jalanan atau anak didik dari salah satu komunitas. Ini terlihat dari dandanan mereka yang bertindik dan rambut disemir. Maaf, bukan menyinggung, tapi saya sangat mengapresiasi mereka. Seriusan, keren, euy!

Tampilan 3 Bujang Ganong

Tampilan 3 Bujang Ganong

Tampilan 3 Bujang Ganong

Paralel Panel III

Di panel ini, saya memilih untuk mengikuti panel 15 yang membahas "Connectivity, Technology and The City of Ideas". Sejujurnya, saya memilih panel ini karena ada John Taylor dari Kota Kita :D. Salut saja, sih, ada orang yang bukan keturunan Indonesia, tapi peduli dengan Indonesia kita. Panelis yang didatangkan berasal dari bebassampah.id dari Bandung, Peta Jakarta, dan pembuat peta real time kemacetan.

John Taylor, Direktur Kota Kita
John Taylor, Direktur Kota Kita
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya saya menghadiri pemaparan dari bebassampah.id. Kali pertama, saya menghadiri pemaran bebassampah.id di Universitas Padjajaran ketika acara IES 2015, tapi saya belum terlalu ngeh peran dari komunitas ini. Jadi, pada acara ini saya baru paham bahwa komunitas ini berusaha membuat peta real time mengenai aset persampahan di Kota Bandung. Aset ini berupa tempat pembuangan akhir (TPA), tempat pengelolaan sampah, ataupun lokasi sampah yang sangat menumpuk di suatu daerah. Ke depannya, mereka berharap dapat menjangkau seluruh daerah di Indonesia. Yak, mari kita doakan bersama :D

Panel 15 : Membahas Urbanisasi dan Menyelesaikannya dengan Teknologi

Plenary II : Reflections and Perspectives: The New Global Agenda and Habitat III

Pada plenary terakhir ini, lebih membahas tentang pengaruh adanya USF bagi masyarakat dan sharing mengenai kondisi urban di negara lain. Selain dari Indonesia, panelis berasal dari Brazil dan India dengan bahasa Inggris yang sedikit berlogat -___-. Bagi saya yang low banget kemampuan berbahasa, agak kesulitan mencerna. Haha. Tapi, secara keseluruhan, pesan yang saya tangkap adalah mengenai pentingnya peran pemuda terhadap pembangunan right humanity dan pengembangan pendidikan inklusif untuk kebermanfaatan masayarakat luas.

Panelis pada Plenary II : Reflections and Perspectives: The New Global Agenda and Habitat III

Network Dinner and Music Performance

Menjelang acara malam, peserta semakin sepi saja. Sejujurnya, acara malam yang disuguhkan benar-benar keren dengan penampilan 2 teater, musikalisasi puisi, dan syiar syair. Semuanya ditampilkan dengan memukau, penuh persiapan, dan iringan musik yang nyess. Tetap berbalut moral humanity dan unsur tradisional-modern yang tidak membosankan. 

Musikalisasi Puisi
Musikalisasi Puisi

Tampilan Teater Berpadu Tarian, Drama, Life Music, dan Pencak Silat
Tampilan Teater Berpadu Tarian, Drama, Life Music, dan Pencak Silat
Teater dari Sanggar Sapulidi dan Life Music
Teater dari Sanggar Sapulidi dan Life Music


Teater dari Sanggar Sapulidi dan Life Music
Mas Kribo yang Jago Mainin Saxophone, Terompet, dan Alat Tiup Lainnya XD
Teater dari Sanggar Sapulidi dan Life Music

Teater dari Sanggar Sapulidi dan Life Music

Kondisi Penonton Ketika Acara Malam
Kondisi Penonton Ketika Acara Malam
Tampilan Iringan Musik dengan Animasi Urban City
Tampilan Iringan Musik dengan Animasi Urban City


Tampilan Penutup dengan Syiar Syair
Tampilan Penutup dengan Syiar Syair
See, keren banget, kan, acara USF 2015! Jadi, mengutip dari perkataan dr. Gamal, sebagai pemuda, kita bisa memilih menjadi nothing atau do something untuk lebih bermanfaat terhadap sesama. Sekarang bukan lagi jamannya menjadi pemuda berpola hidup hedon dan acuh terhadap lingkungan sekitar. Sekarang saatnya, berprinsip "sharing is cool". Yuk, mulai dari yang kecil, dari diri sendiri, dan dari sekarang. Selamat berproses, pemuda Indonesia (9 ^ ^)9


***


Reference :
[1] http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/14/05/23/n60rsq-pemkot-palu-dan-swedia-bangun-pembangkit-listrik-biogas

You Might Also Like

4 Comments

  1. Wow, keren nih konsep acaranya, memadukan berbagai unsur dalam satu kesatuan. Nunggu hadir di Bandung ah, kayaknya Walkot Bandung pas juga jadi pembicaranya. Tapi kayaknya sih enggak bakalan jadi diskusi panas, malah jadi diskusi "lemas", karena pasti cape dengerin lawakannya Kang Emil. Hehehe

    Salam kenal, mba.
    http://penjajakata.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha. Seriusan saya pengen dateng ke acara yang mendatangkan Kang Emil, mas. Penasaran dengan beliau XD

      Delete
  2. Acaranya keren banget, terlihat dari foto-foto yang ditampilkan..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak, acaranya alhamdulillah keren dan bersyukurnya gratisan :D

      Delete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)