Melebur Sejenak di Pewayangan Tirta Satria Negari

By Saturday, December 12, 2015 ,

Menonton pertunjukan seni, bagi sebagian orang adalah salah satu cara untuk melepaskan penat. Begitu pula bagi saya, mahasiswa semester akhir yang ugh butuh hiburan sesaat dan pementasan seni Tirta Satria Negari menjadi pilihan saya. Bagi saya, pementasan yang digelar oleh Universitas Airlangga pada tanggal 10 Desember 2015 ini memang tergelar dengan menakjubkan. Acara ini mengemas pertunjukan wayang orang dan wayang kulit dengan sangat apik.

Dari jadwal yang terdapat pada poster, acara yang digelar di ACC (Airlangga Convention Center) ini dimulai pukul 18.00 WIB. Tapi, saya baru berangkat ke tempat acara sekitar pukul 20.00 WIB karena tujuan utama saya adalah pertunjukan wayang kulit. Pertimbangan saya, okelah, saya mengajar dulu sekalian menanti pertunjukan wayang orang usai, barulah berangkat ke lokasi dan duduk tenang menonton pertunjukan wayang kulit tersebut :3 Etapi, sepertinya acara baru saja dimulai ketika saya tiba di lokasi. Hehe. Beruntunglah, saya dapat mengikuti serangkaian acara tersebut.

Begitu memasuki ACC, kesan pertama yang ada dalam benak saya adalah betapa megahnya pagelaran tersebut. Err, tapi terkesan terlalu besar untuk jumlah kursi penonton yang disediakan. Selain itu, sejauh pengamatan, sebagian besar penonton adalah dari intern kampus UNAIR dan kalau dilihat dari registrasi, beberapa berasal dari komunitas seni di Surabaya.

Tata Panggung di Tirta Satria Negari
Tata Panggung di Tirta Satria Negari
Terlalu 'Lengang' untuk Acara Seni Megah
Terlalu 'Lengang' untuk Acara Seni Megah

Perpaduan Wayang Orang dan Reog Ponorogo...

Pertunjukan pertama adalah wayang orang yang menceritakan tentang asal-usul reog Ponorogo. Sebenarnya, saya baru ngeh kalau pementasan itu mengangkat tema tersebut. Pasalnya, maaf, dialog para lakon tidak terdengar dengan baik (karena masalah mic) dan ini sedikit membuyarkan konsentrasi saya :'). Tapi, dari keseluruhan, pementasan berjalan dengan baik dari segi para pemainnya yang sangat menjiwai. Ini sedikit cerita yang saya tangkap pada pertunjukan tersebut dan, tentu saja, dengan bantuan materi-materi dari internet :p

Sedikit cerita tentang asal-usul reog Ponorogo...

Pada dahulu kala, hiduplah Dewi Sanggalangit yang karena kecantikan dan sifatnya, membuatnya diperebutkan oleh Raja Singabarong dari Kerajaan Lodaya dan Raja Kelanaswandana dari Kerajaan Bandarangin. Raja Singaborang digambarkan sebagai raja bengis yang mempunyai banyak selir, sedangkan Raja Kelanaswandana digambarkan sebagai raja tampan dan gagah.

Dewi Sanggalangit memberi persyaratan pada para kandidat suami untuk mengadakan pertunjukan megah yang dapat mendatangkan banyak penonton. Dalam usahanya, Raja Singabarong membunuh orang tua Dewi Sanggalangit, melakukan kecurangan lain, dan menangkap Dewi Sanggalangit. Singkat cerita, Raja Kelanaswandana menyelamatkan Dewi Sanggalangit dan menghukum Raja Singabarong dengan menjadikannya makhluk berkepala harimau dan merak[1]. Dalam pernikahan tersebut lah, diadakan pertunjukan reog Ponorogo yang megah seperti keinginan Dewi Sanggalangit.

Di bawah ini adalah dokumentasi selama pementasan wayang orang "Asal Usul Reog Ponorogo"
Dewi Sanggalangit Bersama Kedua Orang Tuanya
Dewi Sanggalangit | Tirta Satria Negari
Dewi Sanggalangit
Raja Singaborang Bersama Para Selir dan Prajurit
Raja Singaborang Bersama Para Selir dan Prajurit (Mahasiswa Asing)
Pertarungan antar Dua Kerajaan | Tirta Satria Negari
Pertarungan antar Dua Kerajaan
Raja Kelanaswandana dan Reog
Dewi Sanggalangit dan Raja Kelanaswandana

Wayang Kulit yang Ditunggu pun Tiba...

Pertunjukan wayang kulit yang ditunggu pun tiba. Seperti biasanya, diawali dengan penyerahan gunungan dari pihak UNAIR kepada Ki Sunyoto Labdo Carito, dalang asal Bojonegoro. Sebenarnya, saya belum mengerti sepenuhnya jalan cerita dari pewayangan tersebut. Hanya, beberapa pesan yang saya dapatkan ketika Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong berdialog.

Negara yang merdeka ini bukan dilihat dari uangnya.
Sebagai mahasiswa itu diharapkan peduli dengan cara uri-uri budaya (misal, menonton wayang) dan urip-urip budaya (misal, menghidupkan wayang dengan terus menanggapnya).
Yang bisa membenahi orang-orang atas adalah mahasiswa sebagai aktor pengubah. 

Penyerahan Wayang dari UNAIR ke Dalang
Penyerahan Wayang dari UNAIR ke Dalang
 Pertunjukan Wayang Kulit Tirta Satria Negari

Pertunjukan Wayang Kulit Tirta Satria Negari
Indah Siluet Wayang XD

***

Sejauh saya mengamati, di kalangan mahasiswa, pagelaran seni, khususnya wayang kulit sudah jarang diminati. Buktinya, ketika acara ini berlangsung, kursi yang disediakan tidak ada satupun yang kosong, tapi ketika acara wayang kulit mulai, satu persatu mulai pergi dan bersisa beberapa kepala saja. Oh, ya, rasa salut saya sampaikan untuk UNAIR karena sering mengadakan pagelaran seni ^_^

Yuk, lestarikan warisan budaya Indonesia. Walaupun belum bisa nanggap wayang, paling tidak sukai wayang. Yah, walaupun belum paham bahasanya, rasa cinta budaya akan timbul seiring berjalannya waktu, kok :p 

Ps. Dokumentasi lainnya dari Reog Ponorogo di artikel selanjutnya, ya :))



Reference :
[1] http://www.bali-directory.com/education/folks-tale/AsalMulaReogPonorogo.asp

You Might Also Like

2 Comments

  1. "mahasiswa semester akhir yang UGH butuh hiburan sesaat"
    kok kayaknya menderita banget jadi mahasiswa semester akhir, mbak :)

    lama gak blogging nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan menderita, sih, dek. Tepatnya berputar pada kebosanan -_- Thanks ya udah mampir :)

      Delete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)