Lilis, si Penjual Kain dari Suku Sasak

By Saturday, June 04, 2016 , , , , ,

Pagi itu adalah hari terakhir langkah saya dan ayah di Lombok. Mengakhiri perjalanan dengan check out penginapan di tepi Pantai Kuta dan memilih menghabiskan waktu dengan menikmati panasnya pantai. Tak lama mengambil tempat di sebuah gazebo pantai, kami langsung didatangi oleh sekelompok pedagang kain dan pakaian khas Lombok. Mayoritas dari mereka adalah wanita paruh baya dan hanya seperempat dari mereka adalah lelaki.

Suasana pantai sangat sepi di hari itu. Mungkin, kamilah satu-satunya pengunjung dari Indonesia dan hanya beberapa pengunjung internasional. Terang saja, bagi masyarakat Indonesia, sudah barang tentu malas untuk berliburan di hari terik dan dalam keadaan puasa. Jadilah, kami menjadi target utama mereka untuk mencari rejeki. Bak artis yang dikerumuni para fans.

***

Lilis, si Penjual Kain dari Suku Sasak
Lilis, si Penjual Kain dari Suku Sasak

Adalah Lilis, wanita suku Sasak yang mengenalkan saya tentang kehidupannya. Dia adalah seorang muslim berjilbab, sama seperti saya. Menurutnya, mayoritas suku Sasak memang beragama Islam dan religious. Benar saja, saya memang sangat mudah menemui masjid di pulau 1000 Masjid ini.

"Umur saya 21 tahun, Mbak," katanya ketika saya tanyakan berapa usianya.

Ada rasa bahagia dan sedikit miris ketika mengetahui angka itu. Dia seumur saya, tapi sudah berhenti sekolah sejak SMP dan dengan sedikit meriang, dia membuka lembaran hidupnya.

"Saya sudah menikah dari usia 17 tahun, Mbak. Sudah tidak mau sekolah sejak SMP, tidak ada uang. Masyarakat Lombok itu miskin-miskin, Mbak."

Saya terdiam. Membingkai kalimatnya dalam tatapan binar yang menahan tangis. Betapa beruntungnya kehidupan yang saya miliki sekarang. Sedangkan, Lilis harus bekerja di usia yang begitu belia. Seharusnya, dia memiliki kesempatan yang sama seperti saya, belajar di bangku perguruan tinggi. Belajar apapun yang dia suka dan mencoba memperbaiki hidupnya agar jauh lebih baik. Sayangnya, biaya menjadi tembok penghalang yang sangat tebal baginya dan bagi keluarga besarnya.

Mengalirlah kisah "Kawin Culik" itu...

Di Lombok, terkenal istilah kawin culik, suatu adat untuk menikahi wanita lokal secara tradisional dimana pihak lelaki membawa 'kabur' pihak wanita tanpa sengetahuan keluarga besar. Pernikahan dengan cara itulah yang juga dialami oleh Lilis dengan lelaki yang dicintainya. Dia menceritakan bagaimana dia dipinang beberapa tahun lalu, ketika di umur tersebut, saya masih kelas XII.

Sebenarnya, tujuan utama dia menikah adalah ingin bekerja. Kembali pada kendala ekonomi yang membelit keluarganya. Bekerja adalah jalan keluar yang terbaik, begitu menurutnya, dan menikah adalah kunci untuk membuka jalan tersebut.

Singkat cerita, ketika peristiwa kawin culik itu, Lilis berada di suatu tempat bersama lelakinya hingga sekitar pukul 09.00 waktu Lombok. Menurutnya, ibu dan bapaknya sangat panik ketika peristiwa itu. Di antara perasaan cemas apakah sang putri benar-benar diculik oleh lelaki yang ingin menikahinya ataukah diculik oleh orang jahat. Semua pikiran itu menjadi satu dalam kecemasan berlarut sepanjang malam.

"Suami saya sedang tidur kalau jam segini, Mbak. Di sini, hampir semua wanita mencari biaya untuk keluarga. Ada yang menenun ataupun menjual kain. Sedangkan suami biasanya di rumah, minum kopi atau tidur. Tapi, tergantung juga, Mbak. Sebentar, Mbak, saya jualan dulu."

Lilis segera berlari meninggalkan saya dan bergabung dengan para penjual lain untuk menjajakan kainnya. Di Lombok, ada semacam peraturan tak tertulis di antara para pedagang. Pedagang di sini berjualan secara berkelompok, namun tidak ada pembagian secara baku dengan aturan kelompok ini. Sekelompok pedagang dikatakan dalam satu kelompok, ketika mereka datang dalam saat yang sama dan berusaha merayu calon pembeli dalam waktu yang sama.

Kelompok pedagang di sana, tidak saling menjatuhkan dalam menjajakan barangnya. Sehingga, ketika calon pembeli menyetujui harga dan mengambil beberapa barang, pedagang dalam satu tim akan membagi keuntungan tersebut. Untuk barang dari pedagang manapun, asal masih dalam satu kelompok.

"Ayo harga kain cuma Rp 50.000,00. Udah semuanya obral-obral," tiba-tiba terdengar teriakan dari pedagang kain lain.

Jika sekelompok pedagang yang mengerumimu terlebih dahulu dan kamu membeli kain pada pedagang yang bukan dalam kelompoknya, mereka akan sedikit menyindir dengan kalimat yang agak menohok. Tujuannya agak pembeli merasa rugi dan menyesal karena mereka tidak membeli dari kelompok pedagang tersebut

"Wah, gak dapet, Mbak. Udah keduluan yang lain," kata Lilis setelah kembali dari perburuannya.

"Loh, mereka masih jualan gitu, Mbak."

"Iya, lah, saya di sini saja. Agak gak enak badan, Mbak. Beda kelompok juga."

"Gitu itu kalau tidak berhasil dibeli, memang digituin ya, Mbak?"

"Iya, Mbak. Biar kapok itu mereka."

Dan kami tertawa berdua. Bersama. Dalam hembusan angin Lombok yang memadu kasih dengan pemandangan romantis ini.

Lilis menghela nafas panjang dan mengambil tempat untuk kembali berbincang. Sesekali, matanya mencoba mencari calon pembeli lain. Sesekali, tangannya tampak memegang-megang pasir pantai dengan pandangan kosong. Apa yang kamu pikirkan, Lis?

Tiba-tiba Lilis mengajak saya mencoba untuk berjualan seperti dirinya. Ya, dia mengajak saya untuk mengunjungi salah satu calon pembeli yang sudah dikerumuni oleh pedagang lain. Kami hanya melihat dari jauh saja dengan alunan cerita mesra yang terus Lilis lontarkan. Dia memberikan seikat kain dagangannya pada saya dan meminta saya untuk meletakannya di kepala. Persis yang biasa dia dan pedagang lain lakukan. Kamu tahu, kepala saya tak mampu menahannya! It was so heavy if you want to know about that.

Lilis, si Penjual Kain dari Suku Sasak
When I tried and failed XD

Dari Lilis, saya belajar hal baru dari suku lain, di luar suku Jawa. Bagaimana hak wanita tidak selamanya setara dengan lelaki. Dimana masih ada mereka, di luar sana yang masih harus berjuang untuk menghidupi keluarganya dengan menarik-narik baju para pembeli. Menempatkan diri bagaikan seorang pengemis yang meminta-minta. Mereka yang putus sekolah dan perkara menikah adalah sebuah perkara yang seakan mudah. Mereka yang harus mengayuh sepeda dari desa seberang ke desa lain dan berharap mendapatkan keuntungan lebih.

Lilis berasal dari Desa Sade yang memiliki jarak lumayan jauh dari wilayah Pantai Kuta. Saya perlu menyewa mobil untuk menempuhnya. Tapi, Lilis dan pedagang lainnya menggunakan sepeda pancal dengan bawaan yang cukup berat.

Hei, Lilis, masih ingatkah dengan saya? Mungkin kamu tak akan membaca catatan ini. Tapi, apa yang kamu ceritakan ke saya, masih saya ingat dengan baik. Semoga Tuhan melapangkan langkah saya untuk kembali ke Lombok, mengunjungimu lagi. Semoga dalam keadaan kamu yang lebih baik daripada tahun lalu. Semoga.

"Mbak, nanti kalau nikah, fotonya di Lombok saja. Beli kain di saya. Saya masih jualan di sini, Mbak. Di Pantai Kuta Lombok ini," tutupnya.

Lilis, si Penjual Kain dari Suku Sasak


***

You Might Also Like

6 Comments

  1. Replies
    1. Iya, mbak :( Kalau inget Lilis jadinya sedih juga :"

      Delete
  2. yup , aku juga peranh mengunjungi kampung suku sasak, wanita menenun dan banyak suaminya pergi ajdi TKI.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata ada sisi lain Suku Sasak yg bisa kita jadikan pelajaran, ya, Mak :') Salut sama wanita Sasak :)

      Delete
  3. Mendengar curhatan Lilis aku jadi lebih bisa memaklumi kenapa para penjual di lokasi pariwisata kita begitu gigih membujuk calon pembeli ... kadang aku ngerasa terganggu kalo dirubung dan dipaksa-paksa gitu ... tapi skarang jadi lebih berempati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sendiri awalnya juga gitu, mbak. Seperti, 'Ya Tuhan, jualan kok maksa banget'. Tapi, ternyata terpaan hidup mereka juga berat banget :") Huhu

      Delete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)