Fenomena Jembatan Cincin di Jatinangor yang Bersejarah

By Saturday, July 23, 2016 , , , , ,

Travelling bukanlah tentang destination, tapi tentang pembelajaran yang kita dapatkan selama perjalanan tersebut.

Saya beberapa kali mendengar kalimat tersebut dari para pejalan yang saya kenal. Saya bukanlah traveller sejati, tapi saya penikmat alam, terutama pantai dan hamparan bintang. Rasanya, romantis, dan tidak terlalu banyak tenaga jika dibandingkan dengan pendaki gunung :v

Jadi, cerita yang saya ingin bagikan kali ini adalah tentang perjalanan menuju Jembatan Cincin di Jatinangor. Di mata saya, jembatan ini bergaya Eropa dan etnik. Terlihat nyentrik jika dibandingkan dengan bangunan lain, yang merupa gedung tinggi dan rumah masyarakat bergaya Indonesia. Dugaan awal saya adalah jembatan ini dibangun sudah berabad-abad, mungkin saat masa penjajahan.

***
Fenomena Jembatan Cincin di Jatinangor yang Bersejarah
Jembatan Cincin Jatinangor

Sedikit Sejarah Jembatan Cincin

Ternyata, benar saja, dari artikel yang saya baca, jembatan ini memang dibangun di masa penjajahan, sekitar tahun 1918. Perusahaan Kereta Api Belanda, bernama Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf bermaksud membuat akses jalan untuk menunjang kelancaran dari kegiatan perkebunan karet.

Mungkin, asal kata spur untuk bahasa Jawa dari kereta api, berasal dari kata Spoorwagen atau Spoorwegbedrijf ini, kali, ya. Haha. Dugaan pribadi aja, sih :3

Di masa itu, perusahaan Belanda memanfaatkan jembatan ini sebagai jalur kereta api yang menghubungkan daerah Rancaekek dan Tanjungsari. Kereta api yang melalui jembatan ini dimaksudkan sebagai pembawa hasil dari perkebunan karet di daerah Jawa Barat (Jatinangor ke Bandung). Seiring berjalannya waktu, kereta api juga difungsikan sebagai alat transportasi untuk masyarakat.

Pembangunan jembatan ini tidaklah berjalan mulus. Awalnya, masyarakat sekitar tidak menyetujui adanya projek ini karena ditakutkan merusak daerah sekitar. Namun, pihak Belanda secara paksa mengklaim jembatan tersebut dan akhirnya rakyat memberi ijin bersyarat untuk pembangunannya. Syarat yang diajukan adalah Belanda tidak mengganggu komplek pemakaman yang ada di sekitar jembatan tersebut. Setelah syarat ini disetujui, barulah pihak Belanda memulai projek tersebut.

Fenomena Jembatan Cincin di Jatinangor yang Bersejarah
Kompleks Makam di Sekitar Jembatan Cincin

Fyi, saya baru tahu bahwa komplek makam yang berada di sekitar jembatan tersebut merupakan komplek makam tua. Sebenarnya, tempatnya tidak terlalu berada di bawah jembatan, sih, tapi saya melewati makam tersebut sebelum akhirnya sampai di jembatan.

Di tahun 1942, bangsa Jepang mulai menduduki Indonesia dan mengambil alih fungsi dari Jembatan Cincin. Tiang dan besi tua sebagai landasan rel dibongkar dan dibawa paksa oleh pihak Jepang dan fungsi jembatan tidak lagi sebagai lintasan kereta api.

Pembangunan Jembatan Cincin di tahun 1918 oleh Belanda dimaksudkan sebagai jalur kereta api untuk memperlancar pendistribusian hasil dari kebun karet di Jatinangor ke Bandung. Namun, di tahun 1942, pihak Jepang membongkar rel kereta api dan menonaktifkan akses kereta api di sana.

Fenomena Mitos yang Masih Berkembang

Selain keindahan bangunanannya, Jembatan Cincin juga menyimpan kisah mistis. Diceritakan bahwa masyarakat sekitar sering melihat sosok wanita berbaju merah dan suka terbang melayang di jembatan tesebut dengan tawa bernada tinggi. Cerita lain mengisahkan bahwa ada wanita yang pernah mengakhiri hidup dengan melompat dari jembatan. Artikel lain juga menceritakan tentang sosok Mbah Jambrong, yang semasa hidupnya, menjadi orang yang disegani karena agama dan kewibawaannya.

Jembatan Cincin Sekarang

Sejauh mata memandang, menurut saya pribadi, jembatan ini terlihat masih cukup baik. Sekarang, jembatan ini lebih difungsikan warga dan mahasiswa kos di sekitarnya sebagai akses jalan yang menghubungkan daerah Cikuda dengan Universitas Padjajaran. Dari atas jembatan, saya dapat melihat kompleks makam (yang saya ceritakan di atas), pegunungan, terasiring, komplek rumah warga, ataupun beberapa fakultas di Universitas Padjajaran - Jatinangor. Sayangnya, saya juga dapat melihat tumpukan sampah di bawah jembatan :"(


Fenomena Jembatan Cincin di Jatinangor yang Bersejarah
Jembatan Cincin yang Mengintip
Fenomena Jembatan Cincin di Jatinangor yang Bersejarah
Menuju Jembatan Cincin di Atas Sana :v
Fenomena Jembatan Cincin di Jatinangor yang Bersejarah
What I saw there
Fenomena Jembatan Cincin di Jatinangor yang Bersejarah
Duh, Sampahnya!
Sebenarnya, akses jalan ke Jembatan Cincin tidak perlu seribet bagaimana saya ke sana, sih. Tapi, saya bersyukur, panitia IES 2015 melewatkan kami ke sawah, gunung, dan sungai. It was unforgettable moment that I have.
***

Penasaran ingin bertemu Jembatan Cincin secara langsung? Sok, neng akang, mampir ke Jembatan Cincin di Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Honestly, saya ketagihan kembali ke daerah Sumedang ataupun Bandung karena mereka memanggil saya dengan sebutan 'neng'. Psst, itu alasan mengapa saya memberi nama blog ini dengan tambahan 'neng' XD. Lol.


Fenomena Jembatan Cincin di Jatinangor yang Bersejarah
Salam Lestari dari Neng Geulis dan Akang :v

Nb : saya sering kesulitan ketika menyebutkan nama daerah di Sumedang yang menggunakan kata 'Ci' dan akhiran 'euy' -__-"



Reference :
http://www.wisatamistis.com/2012/09/expedisi-jembatan-cincin-dan-salah-satu.html
http://citizenmagz.com/?p=3683

You Might Also Like

2 Comments

  1. Tempat ini juga sering dipake acara-acara TV sebagai lokasi 'berburu' lho..

    Serem abis...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, iya kah? Saya baru tahu kalau serem ketika membaca artikel di internet. :D

      Delete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)