I am (Still) Freelancer

By Friday, September 16, 2016


Menjadi seorang freelancer, baik itu di media online ataupun media cetak, adalah salah satu impian saya. Bukan hanya sekedar mencari rupiah, namun belajar di bawah naungan editor, membuat tulisan saya dinilai dan saya jadi lebih banyak belajar.

Flashback ke belakang, sebenarnya saya pernah mengikuti seleksi untuk menjadi freelancer di dua media lumayan bagus, di mata saya. Sekitar 2 tahun lalu dan dengan dua seleksi yang berbeda. Di kampus dan di luar kampus. Untuk keduanya, saya sama-sama gagal. Namun, dari keduanya pula saya belajar untuk lebih berbesar hati.

Seleksi di media cetak, dulu membuat saya sempat bimbang ketika dikatakan tentang target artikel dalam seminggu. Keluarga dan kerabat berkali-kali mengatakan untuk kembali menimbang apakah benar ini tidak akan mengganggu aktivitas saya di kampus. Hingga menjelang h- sekian menit menuju meja wawancara, akhirnya keraguan saya memuncak dan saya sadar tidak memberikan jawaban yang cukup baik, saat itu.

Tahun ini, tepat setelah semua perihal skripsi selesai, Tuhan melalui semesta dan tangan-tangan kebaikan manusia, mendatangkan kabar bahagia itu pada saya. Masih berupa tawaran untuk melamar, memang, tapi rasanya semacam jawaban atas pinta selama ini.

Saya dengan bahagia mencapai ubun-ubun menerima telepon itu, kebetulan suara penelepon bak suara customer service (dalem bener), langsung mengabarkan pada Mama. Prinsip saya adalah pantang melangkah tanpa restu kedua orang tua. Dan pucuk dicinta ulampun tiba, kedua orang tua merestui langkah saya menjadi freelancer.

Berlebihan? Bagi saya, tidak juga. Saya memang menginginkan menjadi freelancer sejak lama. Entah, rasanya ingin saja menjadi penulis lepas tidak hanya di blog ini. Yang amburadul judulnya, yang entah tidak terlalu peduli SEO, yang gimana susunan katanya, menjadi nomor sekian yang saya perhatikan.

Pada titik ini, saya tak pernah tahu bagaimana cara Tuhan menjawab setiap doa hamba-Nya. Selalu dengan cara yang teramat romantis dan bermakna. Dan saya percaya, doa kedua orang tua sayalah yang lebih banyak berjasa di balik semua ini. Semoga panjang umur, Kesayangan :')

You Might Also Like

4 Comments

  1. wahahaha baru kali ini aku baca ada tulisan yg bercita-cita malah jadi freelancer :D

    Ya memang sih ya, jadi freelancer waktunya bebas dan cenderung bisa diatur sendiri, tapi penghasilannya gimana?
    Dan berbahagialah karena orang tua mendukung sepenuh hati, berbeda dgn orang tua yg masih tradisional pikirannya, dan bilang kalau freelance itu seperti orang yg tidak punya pekerjaan (gegara tak pernah ngantor) #pengalamanpribadi :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Freelance memang bukan untuk kerjaan utama, mas. Hehe. Itu kenapa ortu memang mengijinkan. InshaAllah kerjaan utama lagi on progress :') #jobseekermodeon

      Minta doanya ya masss. Hehe. Nuhun

      Delete
  2. Freelancer ki artine uwakeh :D . neng bidang opo awakmu saiki? hahaha long time no see

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Allah, mimpi apa aku dikunjungi Senpai XD
      Bidang nulis, mas :") Long time no see uga XD

      Delete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)