Pembicaraan Suatu Sore

By Wednesday, December 28, 2016

Bismillah.

Artikel ini, mungkin adalah tulisan terakhir di blog ini pada tahun ini. Beberapa alasan, membuatku agak enggan menulis. Melupakan sejenak kesenanganku di dunia maya dan memilih jalan lain untuk kehidupanku ke depannya.

Tulisan ini, akan kumulai dengan perkataanku singkat, "Pada suatu hari yang cerah itu..."

***

Ya, pada suatu hari yang cerah itu, dua orang wanita berbeda umur sedang bersantai di kasur. Menikmati hembusan kipas angin yang menjadi satu-satunya suara dalam ruang itu. Wanita itu, kupanggil Mama. Satunya, tentulah aku.

"Jika salah satu di antara kita tidak ada, maka akan sepilah rumah ini, Ma."

Suasana tiba-tiba hening. Aku dan Mamaku memang sangat terbuka. Membicarakan tentang bagaimana kehidupan setelah ini, bagaimana nanti jika salah satu di antara kami telah tiada, dan bagaimana-bagaimana lainnya yang membuat kami terkadang berlinang air mata. Yang pada akhirnya saling bercanda ketika Ayah datang, "Tadi Mama nangis pas cerita" dan berbalas, "Halah, tadi Nduk yang nangis".

"Nanti, kalau Mama meninggal, Ayah inshaAllah tidak akan menikah lagi. Mama pun begitu. Biarlah Mama atau Ayah ikut dengan Nduk. Carilah suami yang mengerti pada orang tua, Nduk."

Percakapan itu seakan menjadi pesan tersendiri untukku. Anak mana yang tidak memiliki mimpi untuk bersama dengan orang tuanya seumur hidup. Anak mana yang tidak memiliki keinginan mencium kaki kedua orangtuanya, memohon restu, ketika di hari pelaminan. Anak mana yang tidak berharap mendapatkan surga dari baktinya kepada orang tuanya.

Dan, anak mana yang tak pernah memiliki mimpi besar untuk selalu membahagiakan orang tuanya.

Beberapa hari lalu, di suatu waktu, seseorang bertanya padaku tentang pencapaian terbesar dalam hidup. Pertanyaan yang membuatku agak berpikir lama karena belum ada pencapaian terbesar sebesar bagaimana kawan-kawan seumuranku.

Aku menunduk. Mencoba mengatakannya dengan tegas. Semoga. Namun, rupanya aku tak mampu mengungkapkannya dengan jelas ketika beliau bertanya dan sambil tersenyum masih menunggu jawabanku tertata.

Aku sesenggukan seketika. Menceritakan bagaimana aku -yang orang biasa- mampu menghadiahi orang tuaku dari hobiku. Bukan pencapaian besar bagi sebagian orang. Tapi, ini benar-benar bermakna untukku.

"Ma, nanti kalau Nanda udah punya penghasilan, gaji pertama buat Mama Ayah. Nanda 'kan masih dapat sangu dari Mama Ayah, gaji berikut-berikutnya, Nanda buat tabung haji, ya."

Percakapanku pada hari lainnya tentang impianku dan sedikit janjiku pada diri sendiri. Terlalu besar apa yang mereka berikan padaku. Terlalu kecil apa yang telah kuberikan pada mereka. Tak akan mampu kubalaskan berapapun kuberikan.

Aku belum tahu ke mana nasib akan membawaku, siapa imamku, dan di mana aku akan hidup kelak. Namun, satu yang kuharapkan adalah aku dapat bertemu dengan dia yang memiliki rasa hormat pada orang tuanya dan tentu pada orang tuaku. Dia yang mampu berlaku adil pada akhirat dan dunianya, begitu pula pada orang tua dan saudara-saudaranya. Dia yang tak bernama, di manakah gerangan?

"Ma, Yah, ijinkan Nanda membahagiakanmu dan semoga akan selalu ada doa kalian dalam setiap langkah Nanda."

Ya, pada suatu sore yang cerah itu, pembicaraan ditutup dengan linangan air mata. Membayangkan betapa sepinya rumah ini tanpa salah satu di antara kami. Betapa aku akan merindukan bagaimana dengkuran yang kudengar ketika mereka terlelap, betapa aku akan merindukan dua cangkir kopi yang sering kubuat untukku dan untuk Ayahku, dan betapa hal-hal lain yang tak mampu kubayangkan akan kulewati seorang diri.

Dariku, yang menyangimu. 

Nanda


Dan membahagikan kalian adalah kecanduan tersendiri untukku. 😍😍

You Might Also Like

0 Comments