Malioboro, Tugu Jogja, dan Kawan Perjalanan

By Friday, January 20, 2017 , , ,

Malioboro, Tugu Jogja, dan Kawan Perjalanan

Jogja, di hari pertama.

"Qih, aku di Malioboro, nih. Kamu jadi gak ke sini?"

Ketar-ketir saya menanti kedatangan seorang kawan yang hendak menyapa di teriknya Jogja, siang itu. Ya, saya sedang berada di jalanan Malioboro kala itu, di depan sebuah plaza besar dengan dahaga yang mulai menyapa.

Beberapa kali saya mengecek ponsel, berharap jawaban dari kawan saya. Bingo! Dia akan datang dengan transportasi umum sejuta umat, Babang Gojek. Badannya tinggi kurus, sawo matang, dan masih dengan kesan pertama yang 'Ya Tuhan, orang ini rame amat, sih'.

Dia, kawan yang saya temui di sebuah kegiatan nasional di Jakarta, Nuclear Youth Summit 2014. Sebenarnya, itu pertemuan kami kedua, walaupun kami telah bercakap via facebook beberapa tahun silam. Dia pula yang menjadi teman perjalanan saya hari itu, siang hingga matahari mulai bersembunyi.

Sepanjang Kisah di Plaza Jogja

"Eh, mbak, temenin beli boneka dulu, ya," katanya sambil mengajakku ke sebuah plaza.

Dia adalah kawan yang sangat ramai. Bukan seorang yang malu-malu dan bingung mencari topik pembicaraan. Bahkan, hari itu banyak sekali percakapan yang kami lakukan. Walaupun, kami sebenarnya tak pernah mengobrol secara langsung, sebelumnya.

"Sekarang, loh, musim mainan kayak gini. Buat apa cobak?"

Dengan perasaan geli, dia memainkan sebuah squeeze berbentuk pisang. Menunggu mbak toko membungkus boneka yang telah dipilih sebelumnya. Kami memutari toko, melihat-lihat beberapa squeeze. Memencetnya dan menikmati kegelian yang entah dari mana asalnya, saya menyukai how I felt when I touched them. Rasanya geli-geli gimana gitu 😂.

Ngomong-ngomong, saya juga tertarik kumpulan dream catcher yang tergantung di satu sudut. Saya selalu ingat tetangga kos saya, si Upil, setiap kali melihat benda ini. Haha. Warnanya cantik rancak bana kali, lah~

Malioboro, Tugu Jogja, dan Kawan Perjalanan

Ada yang lucu dan masih saya ingat ketika kami di plaza. Jadi, saat kami selesai berbelanja, kami berhenti sejenak melihat event yang diadakan oleh sebuah Taman Kanak-Kanak. Jelas, hampir semua pesertanya adalah anak kecil yang didampingi oleh ibunya. Beberapa di antara mereka sedang menampilkan bakat masing-masing di panggung kecil. Sehingga, bila ingin keluar plaza, kami harus memutari panggung yang sebenarnya tidak terlalu jauh juga.

"Eh, Mbak, gak usah muter."

"Hah, maksudnya?"

"Lewat depan mereka aja, kayak artis gitu."

Usai mengatakan itu, dia ngeloyor dan dengan percaya dirinya melewati keramaian peserta yang sedang menikmati tampilan. Saya masih berdiri dan tidak percaya apa yang dia lakukan. Tersenyum simpul sejenak, saya memilih untuk memutar dan menemuinya di pintu plaza.

"Eh, gila kamu, Qih. Sumpah!"

"Bodo amat. Gak kenal juga, kan. Haha."

Kisah yang Terus Berjalan hingga Tugu Jogja

Kami melanjutkan perjalanan panjang ke Tugu Jogja. Sebuah ikon Jogja yang bagi saya 'belum ke Jogja kalau belum ke Tugu Jogja'. Kawan perjalanan saya memutuskan untuk berjalan kaki yang katanya 'Tugu Jogja loh cuma di depan situ. Jalan aja, ih' dan sejujurnya masih jauh.

"Qih, capek nih kakiku."

"Udah, nyeker aja, Mbak. Gak ada yang kenal juga, kok. Nyante aja."

Ide gila yang pada akhirnya menyelamatkanku dari kelelahan menggunakan sepatu dengan hak agak tinggi. Saya pun berjalan hanya beralaskan kaos kaki dari keramaian Malioboro hingga Tugu Jogja. 'Masa bodoh' yang membuat perjalanan itu lebih nyaman dengan selingan candaan hangat tanpa henti.

Beberapa kali saya disapa oleh masyarakat lokal yang menawarkan tumpangan becak. Beberapa di antara mereka, hanya bercanda dengan tawa renyah 'Pegel ta, Mbak, kaki e'. Beberapa kali, saya tersenyum karenanya. Namun, dalam beberapa kali itu, saya tidak malu sama sekali.

Saya tiba di sekitar Tugu Jogja ketika matahari akan tenggelam. Kami, menikmati pancaran lampu dan keindahannya, dari sebuah tempat makan tepat di sampingnya. Tidak terlalu tepat, hanya saja, dari sana, kami bisa langsung melihat tugu tanpa terhalangi.

There is it, we are in Honje Restaurant...


Malioboro, Tugu Jogja, dan Kawan Perjalanan

"He, Mbak, lihat anak-anak itu. Mereka ketawa-ketawa liatin menunya. Kayak kita tadi."

Saat itu, kami berada di depan sekumpulan remaja yang tampak asyique membawa sebuah kamera mirror less. Mungkin, mereka memang datang ke tempat makan itu untuk mencari angle foto yang baik. Kami berdua tertawa berbisik melihat mereka bingung membalik-balik laman menu. Sama seperti yang kami lakukan tadi. Mencoba mencari menu dengan harga 'termurah', namun tetap mengenyangkan.

Suasana Jogja malam itu, benar-benar romantis. Ditambah, saya berada di tempat makan yang memang memiliki interior dengan lampu-lampu pijar dan stop kontak yang tersedia di beberapa sudut. Jujur, kami memang memilih tempat makan yang kira-kira menyediakan stop kontak mengingat ponsel kami telah lama mati.

Malioboro, Tugu Jogja, dan Kawan Perjalanan
My Right Side
Malioboro, Tugu Jogja, dan Kawan Perjalanan
My Left Side

Mungkin, lebih dari satu jam kami habiskan di tempat itu. Mulai dari cerita tentang Gio, salah satu peserta ekspedisi yang ternyata juga satu kampus dengannya. Tentang keluarganya yang rupanya dia telah lama tinggal dengan nenek kakeknya dan berasa 'berbeda' dibandingkan dua saudara prianya. Tentang kebiasaannya yang dulu sakit hati ketika dipanggil 'asu' dan sekarang malah kebiasaan dengan kata tersebut.

Dan, perkataan ayahnya padanya di moment kemerdekaan Indonesia, "Qih, apa itu arti kemerdekaan?"

"Maksud Ayah gimana?"

"Kemerdekaan itu, ketika kamu bahagia keluar dari Hukum dan masuk jurusan Sosiologi. Sesuai pilihan hatimu."

Entah kenapa, perkataan ayahnya membuat saya trenyuh. Katanya, ayahnya adalah seorang yang tegas, terutama perihal urusan agama. Yang melarangnya menggunakan celana pendek ketika pergi ke warung depan guna menutup aurat. Dan 'yang yang' lainnya yang membuatnya trenyuh pula ketika mendengar perkataan ayahnya tersebut melalui telepon.

Baterai ponsel merupakan parameter kami untuk segera pergi dari tempat makan tersebut. Kami sudah cukup lama menghabiskan waktu di sana. Cukup banyak pula cerita yang mengalir. Walaupun sebenarnya, lebih banyak saya mendengar kisah yang begitu seru darinya.

Saya suka sekali dengan interior tempat makan ini. Di setiap sudutnya, memiliki desain ala-ala klasik dan instagram-able (halah).

Malioboro, Tugu Jogja, dan Kawan Perjalanan

Malioboro, Tugu Jogja, dan Kawan Perjalanan

Malioboro, Tugu Jogja, dan Kawan Perjalanan

Angkringan dan Gerimis Malam Itu...

Kami berjalan ke luar tempat makan dan menuju Tugu Jogja, tujuan kami sebenarnya. Tugu Jogja tidak terlalu bagus untuk berfoto, malam itu. Terlalu ramai dan ponsel benar-benar kurang mendukung untuk mengambil gambar pada malam hari. Jadilah, I was just watched Tugu Jogja.

Kami menyeberang ke jalanan seberang. Melihat monumen dan peta ikon wisata Jogja yang terdapat di sana. Ikon wisata Jogja, rupanya dibangun segaris. Dimulai dari Gunung Merapi, Keraton, dan Tugu Jogja. Informasi yang baru saya tahu malam itu.

Rintikan hujan membuat kami segera mencari angkringan untuk berteduh. Sebenarnya, kami tidak bermaksud untuk membeli makanan. Namun, kondisi harus memaksa kami untuk membeli makanan sebagai 'tiket masuk' berteduh. Dia membeli beberapa bungkus nasi kucing, segelas susu, dan beberapa menu khas angkringan. Sedangkan saya, ditemani dengan menu yang sama pula, walau tanpa nasi kucing.

"Qih, udah selese nih, hujannya."

"Oh, iya, Mbak. Aku tak pesen Gojek, ya."

"Yoi. Ati-ati di jalan, Qih. Makasih loh udah ditemenin."

"Iya, Mbak, sama-sama. Ati-ati juga."

Dan tepat pukul 20.30 WIB, kami pun mengakhiri perjalanan malam itu. Saya kembali ke daerah Kaliurang dan dia kembali ke kosnya. Dari dia, saya belajar bahwa perjalanan memang tak selamanya beramai-ramai. Terkadang, berjalan sendiri dan bertemu dengan kawan baru, dapat membuat pengalaman kita lebih luas. Bertemu kisah baru yang tak kalah menyenangkannya.

Terimakasih, Jogja.

Malioboro, Tugu Jogja, dan Kawan Perjalanan

Jogjakarta, Jum'at, 16 Desember 2016

You Might Also Like

1 Comments

  1. Wah ceritanya seru-seru... senangnya bisa melihat jogja dari sisi tulisanmu mbak...

    ReplyDelete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)