My Sweet Seventeen (?)

By Friday, January 12, 2018 ,

.
My Sweet Seventeen (?)
My Sweet Seventeen (?)
Sebenarnya, tulisan ini akan ditulis tepat di hari berkurangnya usia. Kemarin, 22 Desember 2017. Tapi, karena satu dan lain hal, akhirnya membuat saya hanya merebahkan badan di kasur semalaman.

Ada beberapa yang ingin saya kenang di amazing 20-sekian kemarin. Semoga memberi pelajaran tentang hidup. Lagi, kenapa judulnya "Sweet Seventeen"? Lebih karena saya feel like reborn gitu, loh. Masa dimana saya memulai kehidupan baru. Haha. Oke, then, let's start it.

1. Keluarga masih di atas segalanya

Menjadi anak perantauan lebih dari 4 tahun yang pulang dua minggu sekali, saya merasa masih saja merindukan rumah. Ah, saya ingin mendeskripsikan panjang lebar, tapi saya tak ingin merintikkan air mata. Intinya, kemanapun anak akan berjalan, doa orang tua adalah segalanya.

Masih ingat, ketika di wawancara, Ayah berpesan, "Ingat, Yasin ayat 82. Percaya saja, kun fayakun, Nduk."

Adem bener rasanya. Walaupun jarang bertemu, yang terpenting adalah komunikasi tetap lancar. Yang selalu bikin saya terharu, setiap kedatangan dan kepergian saya di terminal, selalu ada lambaian tangan mereka. Selalu dari dulu, hingga usia saya yang sekarang.

2. Ladang rejeki pertama

Ini semacam titik pertama saya dalam belajar benar-benar mandiri. Dari mulai mencari ladang rejeki, wawancara, cari kosan, dan lain-lain. Alhamdulillah, puji syukur di temukan dengan orang-orang baik nan bersahaja yang akhirnya dimudahkan segala-galanya.

Inget banget, dalam perjalanan pulang tes kerja diguyur hujan dan sampai kosan yang lama, CV sudah luntur. Sampai sekarang, dokumen CV dan lain-lainnya yang terguyur hujan di hari itu, masih saya simpan untuk pengingat perjuangan di masa itu. Haha.

Di hari wawancara user, dengan full Inggris, sempet down tidak diterima karena ekspresi pewawancara yang memang sedikit jutek. Nangis di toilet pun pernah saya lakukan. Pertama kenal dengan orang yang sekarang udah jadi temen deket, panggil aja Icak. Si cewek asal Lampung yang dulu terlihat begitu kalem.

Di hari pertama kerja, sempet bimbang karena ternyata diharuskan berkerudung ikat. Dengan posisi saya memang kurang percaya diri untuk mengikat kerudung di atas payudara. Yah, begitulah.~

Well, jika dihitung-hitung, dari bulan Maret 2017, ini adalah bulan ke 9 saya bekerja di sini. Karena terlalu nyaman dengan lingkungan dan income-nya, saya jadi terjebak di zona nyaman.~

Pst, sebelumnya saya pernah bekerja sebagai freelancer di startup. Next time akan saya tulis, sih. Sekilas juga pernah saya tulis curhatan ini di sini.

3. Bekenalan dengan Pria sekarang

Sekarang saya dekat dengan pria yang bener memiliki latar belakang sangat berbeda. Kami bertemu di warung lesahan yang lumayan cozy dan terletak di seberang rel kereta. Saya bersama Zia saat itu, dia bersama kawannya.

Cerita dari versi dia, baru saya tahu belakangan ini. Pertama, saya ceritakan dulu dari versi saya. Jujur, saya bercerita ini pun dengan tersenyum-senyum. Let's start from my version.


❤❤❤

Dia di mata saya....
Saya adalah ambivert, yang terlalu takutnya dengan pria-pria berbadan tegap, tinggi, dan besar. Saya duduk berdua dengan Zia, di pojok bangku. Secangkir kopi dan susu jahe adalah pilihan kami malam itu sebagai saudara yang lama sekali tak bertemu.

Ada sekumpul pria yang di samping kami. Dengan laptop, sebatang rokok di tangan mereka, stick games, dan beberapa cangkir minuman. Selang beberapa waktu, ada dua pria berjalan. Satunya sedikit tambun, satunya sangat tinggi.

Pria tambun, yang kemudian saya kenal dengan nama Dhika, menggunakan jaket hitam. Berpiak pinggir. Sedangkan yang tinggi, menggunakan celana sobek-sobek, setelan hitam. Dialah yang pertama tersenyum ketika mata kami berpapasan, yah, sontak ya, saya juga senyum.

"Gila, Kak, tinggi banget!" kata Zia tetiba.

"Iyo e."

Si pria tinggi, yang kemudian kusebut Pria dengan huruf awal besar, akhirnya duduk tepat di samping saya berada. Sangat berdekatan dan beberapa kali bahu kami bergesekan. Baik saya dengan Zia tidak sama sekali membahasnya lagi. Kami berada di dunia kami masing-masing.

Tapi, dalam hati, saya berkata, "Mas samping keren pek."

Di penghujung waktu kami akan pulang, pria tambun menanyakan pin bbm saya. Yah, saya gak ada, donk. Haha. Dan dilanjutkan meminta no whatsapp saya. Astaga, kalau whatsapp terlalu rawan untuk diberikan. Pertama, status online susah disembunyikan. Pemblokiran no tetap akan membekas di aplikasi. Dan saya lebih memilih memberi ID Line dengan alasan mendasar tersebut.

❤❤❤

Saya di matanya....
Katanya, sebelum masuk ke tempat makan, dari jejauhan dia sudah melihat saya dan Zia. Yah, saya akuin, memang dia memiliki penglihatan yang tajam.

"Dhik, aku pengen duduk dekete arek iku," menurut ceritanya, dia berkata begitu.

"Tenang ae, Mas, iku konco-koncoku seng cedeke arek iku."

Mereka pun masuk dengan padangannya menatap mata saya dan tersenyum. Katanya, saya membalas senyum itu sambil menunduk. Terlihat sopan. Haha. Sekarang, saya mengingat-ingat apakah saya memang menunduk padanya. Saya ada nilai 'plus' di kesan pertamanya.

Lagi, ketika saya bercakap dengan Zia, katanya dia mencuri-curi pandang pada saya. Berharap saya menoleh. Dan sampailah pada percapakan Dhika meminta pin bbm.

"Dhik, kamu cobao minta pin bbm. Nyauto, engko tak sauti," katanya ketika bercerita pada saya, dia yang meminta Dhika melakukan itu.

Dan entah kenapa, Dhika menurut.

"Mbak, ada pin bbm atau wa ta?" kata Dhika.

"Wah, egak ada, Mas."

"Ada ID Line ta?" sahut Pria.

"Ya ada, sih. Line aja, deh," kata saya setelah menyerah karena terlalu banyak berbohong.

Katanya sekarang, ketika dia mengenang, "Kamu waktu itu keliatan banget bohongnya. Matamu keliatan. Udah, gak bisa bohong kamu itu."

Dan dari sanalah kisah roller coaster saya-dengannya yang bagaikan cerita dongeng dimulai, dari Juli 2017. Dari mulai tiba-tiba ke Paralayang, kejambretan, ke Pacet, ke Trawas, dan segala hal yang spontanitas seringkali kami lewati. Termasuk, tiba-tiba dia datang ke kos bawa hadiah jauh sebelum hari kelahiran saya kemarin.

Dia tipikal orang yang membumi, romantis sikapnya (tapi saya yakin dia gak nyadar -...-), pelindung, dan okelah skip skip. Saya takut terlalu jumawa mendeskripsikannya di posisi saya belum terikat secara resmi. Haha.

4. Saya belajar bahwa ada yang namanya "Lelaki Buaya Darat Kadal"

Yah, seumur-umur hidup, saya belum pernah mengenal pria yang -naudzubillah- sepertinya. Semoga saya dan keluarga dijauhkan dari pria-pria berkedok 'alim', tapi saya bilang sangat labil dan tidak konsisten.

Jadi, saya mengenalnya di bulan Februari 2017 dengan 'janji manis' yang beliau berikan. Dan bulan Maret 2017, akhirnya dia memilih pergi --dengan meninggalkan janjinya setelah memberikan banyak 'trauma'. Hingga beberapa kali dia menghubungi dan menceritakan bahwa dia dekat dengan wanita lain, yang saya 'iya-iya'in aja, lah, ya.

Terakhir, bulan November akhir, dia ke tanah Jawa dan kembali 'meminta' saya. Eh, sebenarnya ingin sekali saya katakan, "Ndak malu ta, layaknya habis manis sepah dibuang, ditelen lagi? Ini hati, bukan mainan yoyo."

Dari dia, let me call him a 'boy' not men, saya baru menyadari memang benar ada tipikal cowok yang mudah memberi janji. Mudah sekali tidak konsisten. Baiklah, mari mendamaikan hati dengan memaafkan dan berbijaksana dengan keadaan.

5. Tentang syukuran ulang tahun

Karena pola kerja yang shifting, saya memutuskan untuk merayakan syukuran kecil-kecilan dengan kerabat terdekat saja. Syukuran pertama dimulai tanggal 21 Desember 2017 dengan mendatangi sebuah yayasan panti asuhan di sekitar Sidoarjo. Tentu saja bersama Pria.

Yah, singkat cerita, saya akhirnya datang berempat bersama dengan adik-adik ponakan. Pertimbangan dari Abah (pengurus) adalah karena kami belum ada ikatan di mata agama. Lucunya dari kegiatan tersebut adalah ketika Abah menanyakan padanya tentang kapan rencana pernikahan kami berlangsung.

Sontak, donk, saya kan ya bingung. Tapi, dengan mantap, Pria menjawab, "InshaAllah doakan Mei, Pak." Baiklah, mari kita aminkan. Haha.

Oh, sebelum ke yayasan, saya, Pria, dan satu adik ponakan makan bersama di Mie Setan. Karena saya dan Pria bukan tipe pasangan yang suka kuliner di tempat "beginian", ini terbilang mewah. Haha ~

Tentang hadiah ulang tahun, Pria adalah yang pertama memberikan ucapan dan hadiah. That's so romantic. Mengingat saya dulu memang pertama yang mengucapkan kepadanya, tapi tidak berani memberi hadiah besar karena saat itu sedang masa berkabungnya :(

Saya jadi merasa sedikit nyesel kenapa dulu gak memberinya kejutan lebih. Yah, baiklah, berlalu sudah. 

Ditambah syukuran di tanggal 24 Desember. Ini juga tanpa rencana banget. Saya dan Pria akhirnya memutuskan untuk ke rumah Probolinggo dengan sepeda motor. Itu yang saya suka darinya. Dia orangnya spontanitas!

Bersyukurnya, kedua orang tua saya juga sudah menganggapnya sebagai anak. Sehingga, liburan kecil-kecilan ke BJBR dan makan malam ala-ala pun berjalan dengan lancar. Benar-benar penutup syukuran ulang tahun yang membahagiakan 😘

❤❤❤

Yah, sekian refleksi hari ini. Semoga bertambah dewasa, bijaksana, bahagia dalam kehidupan. Juga bertambah sabar. Terima kasih untuk yang sudah mengasihi dan memberi arti. Terima kasih telah membuat hidup saya lebih bermakna. Teruntuk keluarga, Pria, dan sahabat-sahabat saya lainnya 😍


Salam hangat,


dari Surabaya yang sering sumuk


...dan rupanya saya pernah menuliskan tulisan ulang tahun semacam ini di usia ke 18 tahun. Haha. 

You Might Also Like

0 Comments