Bersahabat dengan Dengung

By Friday, March 09, 2018 ,


Belakangan ini, telinga kanan saya sering sekali terasa berdengung. Awalnya, dimulai bulan Oktober 2017, saya memang merasakan nyeri yang lumayan. Di bulan Desember 2017, saya kira nyeri yang saya rasakan itu dikarenakan ada serangga yang masuk di lubang telinga. Nyatanya, menurut penglihatan Ayah, tidak ada apapun di dalam telinga saya.

Hingga sekarang, jika saya rasa-rasa, sebenarnya juga terdengar dengungnya. Namun, jika tidak dirasakan, saya sekarang sudah cukup nyaman dengan telinga saya. Mungkin, karena sudah terbiasa dengan dengung ini. Atau, kerennya sudah cukup 'bersahabat' dengannya.

Apa yang saya tulis di bawah ini, adalah history pemeriksaan telinga saya. So far, sekarang pendengaran saya sudah membaik, walaupun kadang masih berdengung. Bersyukurnya, di setiap kesempatan, saya selalu didukung oleh kedua orang tua tercinta dan teman dekat saya sekarang~

**I am blessed I live with em**

Jadi, inilah perjalanan singkat saya dari pengobatan awal hingga akhirnya mulai bersahabat. Di sini, kata ganti kamu adalah untuk menginisialkan temen dekat saya saat ini. Sebab, catatan ini memang sudah saya buat sejak lama dan tersimpan di notes. Hehe.

***

14 Oct 2017 -- Telinga kanan mulai berdering keras dan nyeri. Itu rasanya sakit telinga yang paling parah. Esoknya, Mamamu berpulang.

24 Des 2017 -- Aku bilang ke Ayah telingaku seperti kemasukan hewan bersayap. Seperti ada bunyi gemerisik beberapa saat. Ayah menyinari telingaku, katanya tak ada apapun di sana.

10 - 11 Feb 2018 -- Aku bilang ke Ayah, telingaku masih sama. Ayah meneteskanku obat telinga. Rasanya memang lebih baik, tapi tetap saja masih sama.

12 Feb 2018 -- Kami mencari dokter THT dan hasilnya nihil. Cari di google, rasanya zonk sekali. Adapun, ternyata sekarang sudah menjadi klinik fisioterapi anak.

13 Feb 2018 -- Kamu mengajakku ke Pacet, setelah pulang kerja, kita kembali mencari dokter THT. Syukurlah ketemu, di RS Bunda. Katamu, mungkin berendam air panas bisa melancarkan perederan darah.

14 Feb 2018 -- Kamu mengajakku mencari dokter THT di Pacet, sayangnya nihil. Sorenya, kamu mengajakku berendam air panas.

15 Feb 2018 -- Aku ke RS Bunda sendiri, hujan deras saat itu. Kata dokter, aku diminta ke laboratorium untuk pemeriksaan lebih lanjut.

19 Feb 2018 -- Tiba-tiba badanku menggigil dan meriang. Aku tertidur dari sore hingga malam. Rasanya, aku akan berakhir malam kemarin.

20 Feb 2018 -- Sesak nafasku semakin hari tetap saja sama. Hari ini, riakku kembali berdarah. Lebih banyak dari sebelumnya. Tapi, tetap saja riak yang berdarah adalah riak di pagi hari. Sampai aku mengetik ini, aku masih bisa mendengar nafasku.

22 Feb 2018 -- Akhirnya kamu mengantarku ke A Kasoem untuk pemeriksaan telinga. Hasilnya, pendengaranku kanan kiri memang menurun drastis. Ditambah, telinga kananku ada infeksi dan pembengkakan gendang telinga. Kamu, tergolong sabar menunggu pemeriksaanku dan mengantarkanku ke apotek berbeda-beda hanya untuk membandingkan harga obatnya. Habisnya lumayan: 200rb (dokter radiologi)+ 150rb (tes pendengaran) + 435500 (obat di K24). Terima kasih :")

Memang orang tuaku adalah penyokong utamaku, tapi sekarang, kamu masuk dalam list yang selalu mendukungku.

23 Feb 2018 -- Riakku sudah tidak sebanyak sebelumnya. Aku tidak terlalu sesak nafas lagi. Btw, aku sudah cerita ke TL dan Mbak Lisda (bagian support) tentang kendalaku. Akhirnya, untuk sementara waktu, aku murni di layanan hasanah yang tidak terlalu banyak telpon.

1 Maret 2018 -- Setelah libur 5 hari, dari tanggal 25, hari ini aku kembali kontrol. Hasilnya, aku dirujuk ke dr Artanto yang officially praktek di Rs PHC Surabaya.

***

Terakhir pemeriksaan 1 Maret 2018 tersebut, sampai sekarang saya belum periksa lagi. Selain karena pendengaran sudah lumayan membaik, saya sudah tidak terlalu terganggu dengan telinga saya. Semoga akan tetap begitu.

By the way, selain orang tua dan teman dekat saya, ada yang juga sangat membantu. Team Leader saya yang biasa kami panggil Umik. Beliau bener-bener membantu saya mengijinkan libur dan menawarkan solusi cuti 1 bulan. Tapi, saya rasa, libur 5 hari pun sudah sangat cukup.

Sejauh ini, karena saya adalah anak rantau, saya sangat merasakan beruntungnya memiliki teman dekat yang alhamdulillah sangat sabar seperti dia. Dari dukungan moral, moril, ataupun antar-tunggu-jemput ke tempat pemeriksaan atau apotek, seluruhnya saya bersama dia.

So, terima kasih banyak untuk kedua orang tua, 'kamu', Team Leader, dan rekan-rekan kantor. Blessed have them.

***

Oh, ya, di next artikel, saya ingin juga me review tentang A Kasoem Hearing Center, tempat saya tes pendengaran. Saya rasa, ini cukup bermanfaat buat temen-temen yang mengalami gangguan pendengaran. Juga, lagi-lagi sebagai jurnal saya pribadi. Hehe.



Salam hangat,





dari Surabaya yang panas, tapi sering ujan~

You Might Also Like

0 Comments

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)