Surabaya, 15 Mei 2018

By Tuesday, May 15, 2018 ,

Surabaya, 15 Mei 2018

Bismillah.

Dear, diri sendiri di masa mendatang.

Saat menuliskan ini, aku berada di usia matang dalam segi pemikiran. Semoga, ini akan berimbas pula dalam perilakumu di keseharian.

Kamu, saat ini sudah mulai belajar untuk berpola pikir terbuka. Sejujurnya, aku sedikit berbangga hati dengan bagaimana Kamu mencoba berusaha untuk berpikir seperti itu. Haha.

Dulu, seringkali ketika ada orang yang memiliki pendapat ataupun perilaku yang tidak berada dalam koridormu, Kamu seringkali berpikir 'negatif'. Judgmental thinker.

Aku sedikit bersyukur, Kamu yang sekarang belajar mulai berpikir bahwa setiap orang memiliki hak untuk menentukan pilihan hidupnya. Selalu ada alasan di balik sikap yang ditunjukkan. Kamu sudah mulai menerima perbedaan secara perlahan.

Aku tahu, belajar menjadi bijaksana memang tidaklah mudah. Tapi, manusia memang seorang pembelajar dalam hidupnya. Aku harap, Kamu ketika membaca tulisan ini di kemudian hari, mengenang bagaimana sulitnya di fase kedewasaan ini. :)

Aku yang sekarang, merasakan bagaimana 'sawang sinawang' memang selalu ada. Namun, manusia adalah makhluk yang tak akan pernah puas. Manusia tak akan pernah bahagia, jika tak pernah bersyukur. Kamu, saat ini mulai belajar untuk bersyukur lebih banyak, semoga selalu seperti itu.

Aku yang sekarang, mulai memahami mana teman yang memang bisa menemani sampai nanti, mana yang memang sekedar teman lalu pergi. Kamu, harus tetap belajar ini. Manusia datang dan pergi, tapi orang tua tidak.

Dan dengan alasan itu pula, saat ini, aku belajar memilih teman yang memang bisa menjadi kubuat sandaran kelak. Aku, memang belum dalam ikatan sah saat ini. Namun, Kamu harus tahu, aku menemukan teman yang memang menjadi pantulanku saat ini. Jodoh ataupun tidak, semoga bagi kami yang terbaik.

Aku yang sekarang, belajar mengucapkan, "Aku menganggapmu saudaraku, aku memberimu nasihat dari pola pandangku. Namun, aku tak menentukan kebahagiaanmu. Kamu yang berhak menentukan. Karena aku tak tahu bagaimana perjuanganmu."

Ketika kalimat itu kuucapkan pada salah satu kawanku, dia setuju denganku. Memang, manusia bukan tempatnya menggantung harapan terlalu tinggi. Karena jatuh berdebam tak pernah akan baik-baik saja rasanya.

Dan hanya manusia yang pernah jatuh, kemudian bangkit, baru benar-benar percaya bahwa Allah S.W.T. sebaik-baiknya harapan. Tapi, semoga dengan membaca ini, Kamu tak perlu merasakan jatuh yang ke sekian kali karena manusia.

Kata temanku yang sekarang, aku adalah manusia yang cenderung sabar. Jika memang seperti itu, aku bersyukur adanya. Tapi, ini tetaplah sulit. Sabar itu kebiasaan. Dan kebiasaan yang selalu tertimpa kehidupan yang memang keras ini, seringkali pula menciut.

Ketika aku sudah mulai kehilangan kesabaran, kataku pada diri sendiri, "Cobalah sabar, sabar itu sulit. Itu kenapa hadiahnya surga."

Itu pula yang kuucapkan pada diriku ketika aku sulit sekali memaafkan orang lain. Saat aku menulis ini saja, aku dalam kondisi mengingat kesalahan orang lain.

Yang aku pelajari juga adalah, "Manusia seringkali melupakan kesalahan dirinya pada orang lain, namun seringkali mengingat kesalahan orang lain pada dirinya."

Ini manusiawi yang tak bisa dimaklumi. Tapi, memang harus dimaklumi karena susah benar adanya. Aku yang sedang belajar menjadi dewasa ini, masih terus berusaha untuk menjadi manusia pemaaf itu. Semoga, Kamu saat ini, menjadi manusia pemaaf.

Aku yang sekarang mulai belajar mengkondisikan keadaan. Terutama tentang mimpi-mimpi yang pada akhirnya harus mulai dilunakkan dengan beberapa pertimbangan. Belajar menjadi lunak itu tidaklah suatu hal yang buruk.

Tulisan ini aku akhiri dengan senyuman. Sungguh. Ketika di beberapa part tadi, aku sempat meneteskan air mata. Bukan bersedih, lebih ke arah lega melihat bagaimana aku terus berproses dari waktu ke waktu.

Jadi, Kamu, aku yakin jalanmu pun tak mulus. Tapi, hei, aku yakin Kamu tak pernah berhenti berjuang untuk memperbaiki diri, kan. Kamu tetap harus tahu bagaimana tulisan bisa memberitahumu tentang prosesmu dari waktu ke waktu.

Kamu masih kurang suka difoto, kan? Sudah, Kamu lebih cocok menjurnalkan prosesmu dalam tulisan, bukan dalam photograph. Lol.

Semoga, Kamu bisa menjadi dewasa yang bijaksana. Aku yakin Kamu bisa.

Salam hangat,

dari Surabaya yang sedang was-was karena teror bom :(

You Might Also Like

1 Comments

  1. Tulisan yang sangat menarik dan secara tidak langsung membuat pembaca introspeksi diri. Semangat berkarya kak.

    ReplyDelete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)