Pengalaman (Semi) Mistis di Jalan

By Friday, September 21, 2018

Pengalaman (Semi) Mistis di Jalan

Pernah mengalami hal 'mistis' selama perjalanan ke suatu tempat? Saya sepertinya baru mengalami semalam, entah ini hanya perasaan atau memang benar terjadi. Ini kejadian semalam, ketika perjalanan dadakan ke rumah mbah di Pacet, Mojokerto. Saya bersama teman ke sana dengan sepeda motor dan kecepatan yang stabil.

Saya ini tipe orang yang gampang sekali berimajinasi atau tiba-tiba saja di pikiran saya seringkali membayangkan suatu cerita. Jadi, saya yakin sekali saat itu tidak dalam posisi pikiran kosong.

Saya ingat, saat itu kami melewati sebuah jalan persimpangan, entah itu pertigaan entah itu perempatan. Yang saya lihat, di sana sangat ramai sekali dan terang di area kiri. Mungkin itu semacam warung, tapi entahlah. Tapi, saat itu, tiba-tiba seperti 'hilang'.

Perasaan ini semacam tidak bisa dideskripsikan. Yang saya rasa, tiba-tiba badan saya kurang enak di beberapa bagian, bingung mau ngapain, tiba-tiba semacam 'membatu', dan saya beberapa kali berpikir, "Kenapa aku ini". Saya memang semacam tidak berjalan di koridor seharusnya, tapi saya yakin saya memang tidak berpindah jalur.

Saya sempat 'membatu' sedikit lama. Mau bilang teman yang menggonceng pun, rasanya masih belum sanggup. Saya terus saja mengucap apapun doa yang bisa saya baca dalam hati. Semacam lemas mau bilang, tapi perasaan sudah sangat tidak enak.

Saat itu, saya merasa, seperti nyawa tidak terkumpul secara penuh. Tapi, saya memang dalam keadaan sadar. Berkali-kali saya bertanya dalam diri tentang kenapa ini-kenapa ini. Berkali-kali pula saya mencoba untuk kembali mengumpulkan 'nyawa' saya.

Saya ingin berhenti di Indomaret terdekat, mungkin membeli minum, intinya berhenti. Badan saya masih agak lemas dan bingung juga gimana jelasin ke teman saya saat itu. Tapi, saya memang harus berhenti. Tetap dalam kondisi motor berjalan pun, kondisi saya sudah 'tidak enak'.

Jadi, ketika saya sudah mulai bisa tenang, saya bilang ke dia untuk menepikan motor ke Indomaret terdekat.

"Bi, ke Indomaret terdekat, ya," kataku.

"Ngapain? Kamu haus ta?"

"Egak. Nyawaku kayak gak kekumpul. Gak tau kenapa."

Mendengar perkataan saya, dia sudah bingung gak karuan, mencoba menggenggam tangan saya yang memang lebih dingin dari tangannya. Mengingatkan saya untuk tetap berdoa dalam hati.

"Sek, tahan tahan."

Tiba-tiba, entah ini halusinasi atau suatu hal lainnya, tapi kaki kanan saya berasa menghangat dengan pundak yang serasa begitu tidak nyaman. Dan intinya, badan bagian belakang berbeda dari biasanya. Kami berhenti di Indomaret terdekat yang lumayan terang.

"Kamu kenapa, to?"

"Gak tau, badanku kayak gak enak," kataku sambil menggerak-gerakkan pundak, kaki, dan tangan -yang agak kesemutan-.

"Kenapa? Mulai dari mana?"

"Gak tau, kayak gak kekumpul aja nyawaku tiba-tiba, Bi. Dari persimpangan yang sana. Sek, to."

Saya masih berusaha menggerak-gerakkan badan, mencoba mengenakkan kembali perasaan yang mulai ketakutan sendiri. Sudah mulai agak tenang, kami membeli minuman dan duduk sebentar. Dia pun mulai interogasi dengan apa yang terjadi.

"Kenapa, to?"

"Gak tau akunya. Kayaknya apa kita tadi ngelewatin hal 'gak baik', ya. Duh, gak bisa deskripsikan akunya. Pokok gak enak."

"Yaudah, doa dulu. Kalau udah tenang, baru cerita lagi."

Malam itu pun berlalu dengan -alhamdulillah- baik-baik saja. Keesokan harinya, saya menemui rekan kerja saya yang indigo dan menceritakan apa yang saya alami. Seyakin saya, dia pasti lebih paham apa yang saya rasakan tanpa perlu deskripsi panjang lebar.

Jadi ini katanya, "Ya iya, Bik, kerasanya kayak halusinasi gitu, kan, terus lemes. Kayak ngelewati suatu tempat yang sebenarnya biasa dilewati, tapi jadi begitu asing, kan? Ya gitu itu. Mungkin kamu emang kayaknya 'nerobos' aja. Kalau di jalan itu jangan terlalu fokus dan jangan terlalu kosong, lah, Bik."

Dari apa yang dia jelaskan, kesimpulan yang saya dapat adalah, mungkin memang baik tidak kosong dalam perjalanan. Tapi, memikirkan hal lain selain jalan pun juga tidak baik. Jatuhnya fokus ke hal lain dan bisa jadi hal yang saya kemarin rasakan terulang kembali.

So, kesimpulan terakhir, tetap lah fokus apa yang dihadapi di jalan saja. Naudzubillah, lah, kalau mengalami pengalaman seperti kemarin lagi 😭. Bingung mau ngapainnya 😭.

Regards,

Surabaya


You Might Also Like

0 Comments

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)