Yah, Udah Dewasa Awal Aja~

By Friday, October 05, 2018 ,


Di usia yang semakin hari semakin matang dalam hitungan angka, ada banyak hal yang menjadi tidak semudah dulu lagi. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Tidak bisa semua bisa dilakukan dengan sekenanya.

Kadang terlalu overthinking, kadang terlalu santai tapi rupanya pun tak bisa sesantai itu. Kadang begitu bergairah. Kadang begitu takut. Dan pernyataan 'kadang kadang' lainnya yang pada akhirnya mengingatkan saya bahwa saya memang harus mulai berbijaksana.

Argh! Baiklah, agar tidak jenuh juga, saya ingin menulis beberapa pemikiran-pemikiran yang menjadi ketakutan dan kebahagiaan di setiap harinya. Btw, saya menulis ini di sela-sela jam kerja agar sedikit otak 'nakal' saya bisa tertuang dengan jelas.

Tentang Karir.

Sekarang, jadi tak semudah "Ah bosan. Ah udah ah." Segampang ketika hidup tidak sekeras sekarang. Harus ada pemasukan setiap bulannya, untuk melewati masa indah di umur 20+ ini. Sesuai fase hidup, kan. Juga, lebih susah berkata, "Ah aku menyerah" daripada "Aku harus  berjuang sampai mendapat yang baru".

Saya memang bekerja di sebuah tempat yang menyimpang dari jurusan kuliah. Sejauh ini, saya bersyukur berada di posisi ini, berada di tempat kerja yang kondusif, saya inginkan, dan dengan lingkungan kerja yang begitu kekeluargaan.

Beberapa hal menjadi pertimbangan saya untuk bertahan, terlebih memang sangat nyaman di tempat ini. Namun, ada hal lain yang memang mengetuk saya untuk keluar dari zona nyaman. Itu pun, banyak pula yang harus dipikirkan, dari lokasi, income, pressure, ataupun posisi kerja.

Yah, hidup, ya begitu. Sawang sinawang. Sedikit bersyukur, banyak nuntutnya. Makanya, sabar aja ya hidup di bumi manusia yang memang penuh keingintahuan. Banyakin syukurnya, jangan lupa.

Tentang Jodoh.

Dulu gampang banget, bilang, "Cie jones. Cie jojoba." ataupun "Cie cie" lainnya yang menginisialisasikan tentang status. Bahkan, candaan "Nikah kapan?" atau "Kapan nyusul?" dan lainnya yang juga berbau tentang relationship bukan lagi candaan yang selucu dulu.

Dulu, yang gampang banget kepo tentang hubungan percintaan orang, sekarang, lebih mengetahui mana yang privasi mana yang bukan. Lebih suka bilang, "Nanti kalau sudah fix jodohnya, kabarin ya. Selama masih mencari, kalau memang perlu cerita, aku siap dengerin."

Bukan ke sisi tidak peduli lagi, tapi privasi adalah privasi dan hubungan adalah privasi. Saya pun begitu, yang dulu mungkin sering bercerita tentang kisah asmara ke ('sembarang') circle link, sekarang lebih membatasi diri. Sebenarnya, saya dari dulu memang bukan tipe yang show off tentang hubungan, pun untuk sekedar pasang profil picture di sosial media, saya berpikir cukup panjang. 

Pasangan saya yang sekarang seringkali mengatakan bahwa "Bertahan jauh lebih indah dan menyenangkan daripada harus mencari yang baru dan beradaptasi kembali". Dia, salah satu yang membuat saya menyadari apa arti sangat diperjuangkan dan ingin dimiliki, selain dari kedua orang tua saya:") ~

Tentang Plesir x Nabung x Hedon x Pertimbangan Lain.

Kalau dipikir, ketika sudah (alhamdulillah) bisa mencari pemasukan setiap bulan, ajakan something to do yang berbau happiness dan membutuhkan dana sedikit menguras, merupakan pertimbangan yang tak lagi mudah. Termasuk di antaranya plesir, nonton film, nongkrong, belanja, dan lainnya.

Dulu, ketika di pihak mudah sekali meminta kepada orang tua, ajakan plesiran, selama ada waktu semacam "It's okay cao aja".  Sedangkan sekarang, sering mikir, plesir gini habis berapa. Nabung sudah cukup gak buat ini itu, yang memang sudah ter plan. Sering juga mikir, "Uang segini nabung dikit, bisa kali buat liburan sekeluarga."

Begitu juga dengan ajakan nonton ataupun nongkrong. Dari dulu saya bukan tipe anak yang suka nongkrong hedon dan memang tidak mau dibiasakan. Mungkin karena dari pola keluarga yang saya tipe anak rumahan kali, ya. Yang lebih suka makan ya di rumah aja sama keluarga :".

Jadi, dengan pola hidup Surabaya yang mau gak mau juga beberapa kali harus nongkrong, saya membatasi dengan budget. Kalau low, ya oke aja. Kalau sudah masuk ke high, saya sering kali mikir,"Mama Ayah pernah ga ya, nongkrong dan makan mahal kayak gini" dan pikiran itu seringkali mengurungkan niat saya buat nongkrong.

Saat kuliah, saya tipe anak yang kalau bisa sebulan sekali lah nonton. Dan sekarang, bahkan saya bisa hitung jari berapa kali saya nonton dalam beberapa bulan terakhir. Uang tiket nonton, bisa lah buat nabung. Kalau pengen nonton, bisa lah cari gratisan, bisa lah uangnya dibuat sangu untuk sowan ke keluarga dekat.

Terkesan membosankan hidup tanpa hiburan, ya? Tapi, bagi saya yang sekarang, menghabiskan uang yang awalnya untuk kesenangan pribadi, lebih menyenangkan jika digunakan untuk berkumpul dan 'berfoya-foya' dengan keluarga. Tipe anak rumahan sekali, ya. Haha.  

***

Sometimes, yang saya dan teman dekat saya sering katakan adalah di fase dewasa awal yang sangat menegangkan ini adalah, "Kami belum siap menjadi manusia dewasa. Argh!" Banyak kali yang harus jadi pemikiran. Se enjoy - enjoy nya mencoba menjalani hidup, tetap saja lebih banyak hal yang menjadi pikiran dibanding fase sebelumnya.

Kembali lagi, saya yakin akan melalui fase ini dengan baik. Semoga selalu berusaha sebaik-baiknya. Juga kamu, yang sedang berjuang untuk kebersamaan kita. Chu~


Salam dari Surabaya,

yang semalam sangat panas dan banyak nyamuk.

You Might Also Like

2 Comments

  1. Ouw, Neng Hepi tinggal di Sby kah?
    kindly visit my blog: bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak, posisi di Sby. Salam kenal ya, mbak :) Kunbal done ^ ^

      Delete

Pembaca yang budiman, kindly gimme apapun pendapat atau komentar kamu tentang artikel saya. Tulisan ini tanpa komentar kamu, kayak mahasiswa akhir tanpa skripsi. Ada yang kurang gitu, yak.

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Selamat berkarya :)