Dunia realita kembali mengajarkanku tentang makna hidup tentang menjadi manusia dengan segala kisah hidupnya. Terjatuh pada satu masa, lalu dapat kembali bangkit karena alasannya. Menjadi manusia ternyata lucu dan menyenangkan, ketika pada akhirnya kita mampu memahami segalanya dengan pikiran yang lebih lapang.

Tidak semua keinginan dan harap bisa diraih dalam satu waktu. Tidak semuanya bisa tercapai pada waktu yang diinginkan. Dan bahkan, tidak semuanya dapat tercapai. Manusia sebaik-baiknya perencana, namun seringkali lupa ada Yang Maha Sebaik-Baiknya Pemutus. Itupun tentu tak apa, kita sudah punya garisnya masing-masing.

Menyadari bahwa manusia bukanlah pusat tata surya untuk seluruh umat, yang bahagianya dapat teramat menerangi. Atau remuknya harus dapat teramat meredupkan dunia. Jadi, teranglah sewajarnya, mereduplah pada saatnya, lalu kembali terang sebagaimana mestinya. Tidak harus terburu, pakailah waktu sebagaimana kamu membutuhkannya untuk kembali terang. Setidaknya, menerangi diri sendiri.

Maafkan dirimu yang pernah menyakiti diri sendiri karena impian semua orang (pada dirimu) yang tak kunjung kamu wujudkan. Berterima kasihlah pada dirimu untuk semua usaha terbaik yang selalu coba kamu berikan terhadap hidupmu. Kamu telah melakukan banyak hal hebat selama ini, hanya saja kamu tidak mau menyadarinya.

Kalau kata temanku, "Jangan pernah terlena dengan kenikmatan dunia. Ini hanya sementara." 
 
Kadang, mencoba memaklumi banyak hal adalah cara terbaik untuk tetap membuat kita menjadi orang baik. Kita memang tidak bisa menjadi pusat tata surya bagi seluruh manusia, tapi bisa jadi kita adalah pusat tata surya bagi orang tertentu dan menjadi alasannya untuk tetap hidup. Jadi, kamu harus tetap bertahan dan berjuang, ya! Kamu, loh, hebat pol. 
 
Masih ada koma, di bawah titik, that's semicolon (;). Itu artinya, kamu masih bisa berhenti sejenak sebelum berhenti sepenuhnya.

---

Source pic: favim.com
Semicolon

Pada akhirnya, di usia yang semakin hari semakin berkurang, banyak sekali hikmah dari semua perjalanan dan cerita yang telah kulalui. Semua ekspresi mungkin belum kujajaki seluruhnya. Tapi, ini kembali ke keadaan dimana aku mulai berusaha menata kembali target hidup. Mau dibawa ke mana langkahku ke depannya?

Hidupku sekarang bukan lagi tentang ambisi diri semata. Tentang pencapaian yang harus diraih pada rentang tertentu. Atau pada nominal yang harus dimiliki. Secara benang merah, aku mulai bisa memaknai bagaimana hidup seharusnya dijalankan. Nahkoda diriku adalah diri sendiri. Bukan orang lain.

Dalam usia sekarang, aku mulai berpikir, bahwa harus mulai banyak tabungan yang kumiliki untuk hidupku di masa tua. Kerja kerasku hari ini, bukan untuk diriku di hari ini. Tapi, untuk diriku di masa mendatang saat usia tak lagi mampu produktif. Paling tidak, aku masih bisa sedikit membeli kebutuhanku kelak di masa mendatang.
 
Aku mulai berpikir apakah asuransiku cukup untuk membiayaiku ketika aku dalam kedaan berisiko dengan kesehatan. Apakah uang pertanggungan yang akan keluar jika aku tutup usia, mampu membantu keluargaku untuk mengurusku kelak yang tak lagi dapat banyak meminta.
 
Sekarang, lebih banyak kumaknai hidupku untuk mereka yang berjuang bersama denganku. Waktu tidak akan pernah dapat terulang, pun begitu dengan usia. Sejauh aku bisa mendengar suara mereka, berarti duniaku masih tetap bisa urup.

Meski begitu, ketika aku dalam keadaan tidak terdeskripsikan, hidupku tidak akan pernah langsung berakhir dengan titik (.). Akan selalu ada koma (,) yang membuatku bisa beristirahat sejenak dan mengingatkan kembali tentang kehidupan.
 
Karena hidup bukan hanya tentang di dunia ini.
Bukan hanya tentang raga ini.
Kita bertanggung jawab atas jiwa kita pada kehidupan selanjutnya.
 
Jadi, untuk itu, bagi kamu yang membaca ini dan dalam keadaan apapun, aku berharap kamu tetap baik-baik saja. Berbahagialah dengan dirimu. Sederhanakan pikiranmu dengan melakukan segala sesuatu tidak dalam satu waktu. Perlahan saja, kamu tidak harus menyelesaikan semuanya di satu kesempatan pertama.
 
Dan, beri tahu padaku, siapa alasanmu untuk tetap berbahagia dan hidup? Jika kamu belum punya, mungkin "diri sendiri" adalah jawabannya. Kamu lebih dari sekedar jawaban yang kamu cari selama ini. Terima kasih telah bertahan dan mencoba segala cara untuk menjadi yang terbaik menurut versimu. Kamu hebat.
 
Pst, kamu tidak harus menjadi jahat untuk membuktikan pada dunia seberapa hebatnya kekuatanmu. Hidup adalah pertanggungjawaban di kehidupan selanjutnya.

Untuk Pria Berinisial #10

Pada akhirnya, aku berhenti untuk mengikuti segala jejakmu. Memutus mata rantai penantianku yang dulu pernah tertanam dengan sangat apik di chapter-mu. Kukira, aku bisa menyusun cerita baik bersamamu, nyatanya tidak.

Kamu bukan tak lagi menarik untuk kuterka dan kucari tahu. Mungkin pesonamu masih ada, tapi aku tak lagi melihatnya dan aku tahu itu pasti dapat dilihat oleh puanmu sekarang. Begitu pula dengan pesonaku. Atau jika kamu masih beberapa kali melihat kabarku dari bilik sosial media, itu bukan lagi untuk memancingmu berinteraksi kembali.

Berkenalan denganmu, nyatanya hanya merupa kos bagiku. Sederhana, nyaman, tapi sementara. Tidak untuk selamanya dan tidak pula untukku selalu.

Aku tidak sedang mengenang siapapun secara khusus. Terlebih jika kamu menerka bahwa tulisan ini tentangmu, maaf, aku tak mengijinkanmu untuk mengklaimnya. Aku bahkan tidak terbayang untuk siapa tujuanku menulis. Minatku membaca buku tentangmu tak lagi ada. Bahkan, untuk mengetahui kabarmu pun aku tak ada lagi hasrat.

Rupanya, aku dulu hanya penasaran tentangmu. Bukan sedang mengharapkanmu.

---END---

Pertemuan Pertama dengan Rumah Sinchan

Flashback ke masa berpetualang mencari calon hunian untuk keturunan kami (dan neneknya), seringkali membuatku banyak bersyukur. Dari mulai lika liku perjalanan dan bagaimana semua fase terlewati dengan (hamdalah) baik. Menuliskan ini serasa ingin menangis karena mengingat kebesaran Tuhan tentang takdir dan segala jalan-Nya ketika sudah berkata "Kun".

Menurutku, sangat penting, ya, bagi kita untuk memiliki alasan kuat membeli rumah dan akan dibangun seperti apa ke depannya. Bagaimana pola pikirku yang sederhana ini membuatku memutuskan (bismillah) yakin dengan rumah mungil yang sekarang? Begini.

Menyusun Kriteria Awal Rumah Impian

Aku mulai dengan checklist pertanyaan-pertanyaan sederhana di bawah ini:

  1. Berapa budget yang aku miliki sekarang?
  2. Berapa keluarga yang berencana akan tinggal bersamaku? Apakah orang tua akan tinggal?
  3. Berapa ukuran rumah dan/atau tanah yang kamu harapkan? (Jika berencana ditinggali oleh 2 keluarga (misal, mengajak orang tua), apakah terasa cukup? Apakah rumah bisa bertumbuh?)
  4. Lingkungan seperti apa yang kuinginkan? Pedesaan, perumahan, atau kavlingan?
  5. Fasilitas apa yang kuharap ada di sekitar rumahmu? (Apakah dekat dengan fasilitas umum, dekat kuburan, dekat masjid, dekat sekolah, dll)
  6. Apakah aku akan terasa nyaman jika tinggal di rumah tersebut dalam waktu yang lama atau bahkan menua di rumah tersebut?

Pertanyaan tersebut nantinya akan berkembang sampai ke berapa jarak rumah dengan sekolah (TK s.d Perguruan Tinggi), jarak fasilitas kesehatan, jarak ke kota, jarak ke jalan umum, dan lain sebagainya. Tapi, di awal seleksi, 5 pertanyaan tersebut yang menjadi checklist-ku saat melihat flyer atau iklan agen real estate.

Jadi, kalau sedang mencari iklan rumah, aku mulai dulu dari filter budget, barulah melihat luas dan lokasi rumah. Tentu tidak mudah mencari rumah dengan kriteria yang sesuai ngepleketiplek dengan keinginan kita, sehingga tetap perlu adanya batasan toleransi kriteria mana saja yang boleh "tidak terpenuhi".

 

Apa yang Memang Digariskan Rejeki (InshaAllah)....

Kami cukup lama melakukan survey rumah, sebelum akhirnya bertemu dengan yang sekarang. Sampai suatu hari, suami mengirimkan foto pembangunan perumahan yang menarik untuk disurvey. Ini pun tanpa direncanakan karena suami awalnya hanya penasaran dan jalan-jalan ke area sekarang.

Rumah referensi suami ini termasuk rumah yang agak terakhir dicek karena kami mengecek beberapa titik dan berurutan dari lokasi terdekat dengan rumah suami. Perumahan ini termasuk satu-satunya rumah (yang kami cek) dengan agen real estate yang tidak bekerjasama dengan pihak ketiga.

Rumah ini cocok bagi kami, baik dari segi lokasi, bentuk rumah, luas tanah, dan pertimbangan lainnya. Tentu, kami tidak serta merta memutuskan rumah ini sebagai pilihan karena setelah dari rumah tersebut, kami melanjutkan survey ke lokasi lain. Setelah melakukan pertimbangan dan diskusi yang cukup lama, kami (beserta Mama) sepakat untuk membeli rumah tersebut.

Kami menghubungi agen real estate perumahan dan unfortunately.... rumah sudah dibooking oleh orang lain.

Mak kratak hati kami, Bung. Sulit mencari rumah yang sesuai dengan kriteria dan budget (sekaligus).

Qadarullah, ternyata calon pembeli tidak lolos BI checking dan kami dihubungi agen real estate untuk menawarkan rumah tersebut kembali. Terharu bener dan semakin yakin bahwa "Rezeki dan takdir Allah itu nyata, tidak akan tiba-tiba datang jika tidak dijemput dan akan datang di waktu yang tepat. Kun Fa Ya Kun."

Kalau kata Ayah dulu,

"Ibarat menjolok buah mangga. Dijolok gimanapun, kalau bukan rejeki tidak akan akan bisa, sekalinya bisa, dapetnya yang asem. Tapi, kalau udah rejeki, pasti dapat mangga yang manis dan baik."

*) Jolok = mengambil buah dengan galah.

Finally, alhamdulillah sudah berada di titik mengenang kisah ini dengan banyak syukur. Kita akan tahu mana orang yang benar ada untuk kita ketika kita butuh bantuan. Mana yang saudara, mana yang berusaha menjatuhkan. Pelajaran hidup yang bisa dipetik dari perjalanan panjang ini. Sebenarnya, dari kami tidak terlalu menargetkan memiliki hunian di tahun ini. Tapi, bersyukur Allah S.W.T. memberikan kemudahan untuk bisa mendapatkan rejeki lebih cepat❤.

Terakhir, bagi kamu yang sedang mengusahakan untuk memiliki rumah impian ataupun target lainnya, tetap semangat, banyak usaha, dan perkuat doanya, ya. Pastikan telah mendapatkan restu ikhlas dari orang tua, terutama ibu. Terkadang, rejeki memang tidak diduga-diduga dan datang di waktu lebih cepat dari dugaan.

Disclaimer

Blog ini tidak merepresentasikan instansi tempat dimana penulis mengabdi, karena mayoritas konten adalah hasil kolaborasi dengan manusia-manusia baik hati :). Penulis tidak bertanggungjawab jika terdapat tulisan mengatasnamakan penulis (alias copas) di luar blog ini dan ini.
Blogger Perempuan