Tentang Obrolan Lelaki dan Kenapa Skin Care Lebih Penting dari Make Up
Tentang Obrolan Lelaki dan Kenapa Skin Care Lebih Penting dari Make Up
Hari ini, saya duduk di sebelah wanita yang baru saja cuti karena menikah dan bulan madu. Si mbak ini sedang bercengkerama dengan wanita lain yang berada di sisi depannya. Mereka membicarakan tentang pengalaman pernikahan si mbak yang baru berumur beberapa hari.

Di tengah pembicaraan, tiba-tiba si mbak, saya sebut saja Mayang, menyeletuk santai kepada kawannya.

"Eh, gila, gue waktu honeymoon kemarin gak dibolehin make up-an," celetuk Mayang.

"Gak papa kali, Mbak."

"Yaelah, gak pede kan gue. Tau, kan, minimal alis, lah, sama lipstik. Pada kagak boleh pake. Lebih cakep gak make up katanya."

"Coba tanya ke bang Rohim (sebut saja begitu)."

"Bang, elu gimane? Enakan liat wanita yang make up full atau yang no make up?"

"No make up, lah," jawaban singkat bang Rohim.

---

Pembicaraan sampai situ saja. Dari sini, sudah dapat disimpulkan bahwa make up memang hanyalah sebuah additional belaka. Memang tidak bisa digeneralisasi bahwa semua lelaki menyukai wanita yang tampil natural. Tapi, ini hanya 1 pertanyaan yang diajukan secara gambling saja.

Dari sini, juga dapat ditarik kesimpulan, kan, sebenarnya yang lebih penting adalah skin care. Karena make up bisa luntur terhempas hujan, angin, debu, dan polusi Jakarta yang terlalu parah. Tapi, wajah yang terawat juga memiliki nilai tambah.

Jadi, jika memang ada rejeki untuk memilih antara make up atau skin care, pilih mana? Saya, mungkin lebih condong ke skin care dengan beberapa pertimbangan lain, yaitu:
1. Skin care ini untuk jangka panjang. Merawat kulit dari penuaan dini dan untuk menjaga kulit dari radikal bebas.
2. Kulit yang terawat lebih terlihat lebih bersih. Bukan dari skin tone, tapi memang lebih segar dibandingkan kulit yang hanya dibasuh oleh air saja.

Tapi, untuk pemilihan skin care ini juga kembali kepada jenis kulit dan kondisi keuangan masing-masing. Jangan pula menjadikan skin care sebagai kebutuhan utama, di atas sandang pangan papan. Hehe. Dan juga, jangan lupa memperhatikan BPOM ataupun kandungan dari produknya.

Beberapa produk skin care teruji klinis mengandung bahan berbahaya yang tidak tampak di jangka waktu pendek. Tapi dengan pemakaian rutin dan jangka waktu panjang, ada kerusakan yang akan bisa terjadi di kulit kita.

Begitulah, memang skin care itu penting. Mudahnya, jangan lupa untuk membasuh muka dengan sabun wajah dan membersihkan muka dangan cleanser. Sedangkan, vitamin, serum, essense, krim malam/pagi, dan sejawatnya adalah tambahan saja jika memang ada rejeki lebih.

Pst, saya baru melakukan kroscek dengan seorang wanita, kawan kos, dan kami sepakat, yang disukai lelaki bukan wanita yang "natural" tanpa make up. Tapi, lebih kepada menyukai "wanita dengan make up natural". Dapat menarik benang merahnya, kan?

Dan selamat merawat wajah, wahai wanita! Love your beauty first, karena sejatinya wanita lebih dihargai jika wawasannya luas, bukan karena tampilan fisik semata. Karena kita adalah pembentuk pola pikir anak di masa depan.


Apa, sih, yang membuat orang cenderung insecure atau merasa tidak percaya diri dengan kondisinya? 

Salah satunya adalah karena seringkali membandingkan dirinya dengan orang lain. Dari segi body goal, wawasan, keuangan, atau dari segi keduniawian lainnya. Btw, di sini saya membahas tidak terlalu bersinggungan sama hubungan vertikal, ya, karena itu memang sangat rentan untuk dibandingkan :)

Nah, kembali. Sis, sayangi hati, waktu, dan pikiranmu dengan tidak terlalu membandingkan apa yang ada di dirimu dengan orang lain. Membandingkan itu baik, jika terarah dan tidak berlebihan. Baik jika untuk memotivasi diri. Tapi, tidak baik jika pada akhirnya membuatmu tersiksa dan tidak mensyukuri apapun yang ada pada dirimu.

"Aduh, wawasan dia luas banget, dah! Pengen, nih, aku!"

Itu celetukan yang baik. Itu boleh, sangat boleh. Wawasan luas itu membentuk pola pikir dan perilaku yang tidak terkotak pada satu sisi. Lebih bisa melihat dari segala arah. Juga, lebih mampu berbijaksana dengan keadaan. Kalau untuk ini, bolehlah bandingkan dengan yang baik.

Tapi, untuk hal yang memang tidak bisa diubah, misal fisik, kamu cukup harus bersyukur dengan keadaanmu dengan melakukan yang terbaik untuk merawat tubuhmu. Kalau kamu tidak ingin terlihat over weight, maka olahraga, lah. Atau jika kamu nyaman dengan penampilanmu sekarang yang over weight, ya, gak papa, asal tetap ingat dengan kesehatan.

Dan lainnya. Yang intinya, kalau kita terus membandingkan fisik kita dengan lainnya, pasti tidak akan ada habisnya. Kamu pasti sepakat dengan yang aku katakan, bukan.

Sistur, pesan yang ingin aku sampaikan di sini tentang hal saling membandingkan dan semoga bisa membuatmu (dan aku) lebih tenang menghadapi ke-insecure-an hidup adalah:


  1. Jadilah diri sendiri yang terbaik dalam versimu, bukan apa adanya. Baik dari segi wawasan, membawa diri, ataupun merawat diri.
  2. Kurangi melihat yang 'terlihat' mewah di sosial media. Ingat, kadang yang membuatmu sakit hati adalah ekspektasimu yang terlalu tinggi. Dan belum tentu yang terlihat mewah di sosial media, pada aslinya mewah juga.
  3. nanti aku tulis kalau ada ide lainnya XD

And the last, kamu adalah masterpiece yang tercipta secara unik, memukau, dan berbeda dari lainnya. Jadi dirimu yang terbaik dan berbahagialah. Banyakin beryukur, kurangi mengeluh, dan semangat untuk terus meng-upgrade diri.


Salam,

Sistur online yang selalu mendukungmu {}

---

Ngomong-ngomong, tulisan ini disponsori oleh salah satu status seseorang yang mengkritik temannya yang hidup di luar kemampuan keuangannya dan hidup dengan berganti-ganti pasangan. Itu hati apa tempat tinggal, kok, nomaden? Serius. Semoga kita tetap selalu mengingat dimana kaki kita berpijak. InshaAllah.
Sisi Gelap Jakarta, Apa ini Benar?
Sisi Gelap Jakarta, Apa ini Benar?

Kemarin, iseng mencari artikel tentang sisi gelap hidup di Jakarta karena memang perlu sekali mengadakan riset untuk bertahan hidup di sini. Yang sebenarnya, tidak perlu terlalu overthinking, tapi perlu dikenali untuk bisa bersahabat tanpa adanya pegangan kuat, kan. 

Dan saya menemukan artikel menarik yang saya ambil dari Quora. Berikut saya lampirkan tanpa ada yang saya kurangi agar menjadi wacana untuk pembaca.

---

Apa Sisi Gelap Hidup di Jakarta?

Saya akan sharing (lagi) karena sepertinya cukup banyak yang saya ketahui tentang kota kelahiran saya yang megapolitan ini. Dan… sepertinya cukup banyak pula yang saya ketahui tentang sisi gelap hidup di Jakarta yang dirasakan sendiri oleh rekan saya.

Sebelumnya, saya mau bilang bahwa biaya hidup di Jakarta sebenarnya cukup dengan UMR. Tinggal di kost/kontrakan non AC 3x3 meter, mobilisasi menggunakan moda transportasi umum, & makan sehari-hari di warteg terdekat atau masak sendiri untuk versi iritnya. Tanpa personal wi-fi & TV berlangganan. Tanpa menggenggam cup Starbucks. Tanpa menghirup udara segar Plaza Indonesia.

Namun, untuk biaya hidup enak di Jakarta butuh lebih dari itu. Jauh sekali.

Sebut saja Gina. Mahasiswi Fakultas Hukum di salah satu Universitas Big 5 di Indonesia. Kuliahnya memang bukan di Jakarta, tapi ‘hidupnya’ di Jakarta. Gina sangat cantik. Darah Pakistan mengalir deras di dalam dirinya. Tubuhnya lean, putih, mulus dengan tinggi semampai. Modal yang mumpuni. Gina sebenarnya berasal dari sebuah kota kecil dengan kelas sosial menengah. Gina sendiri sudah mengendarai mobil pribadi sejak SMP. Jadi, terbayang ya status sosialnya di sana? Mapan.

Ketika Gina keluar dari kota itu untuk menimba ilmu di salah satu Perguruan Tinggi Negeri Top di Indonesia, Gina mulai sadar bahwa ternyata biaya (gaya) hidup di Jakarta sangatlah mahal. Ayahnya mampu mem-provide gaya hidupnya di kota kecil itu, namun tidak dengan Jakarta.

Mari kita buat checklist hidup Gina di Jakarta:

  • Tempat Tinggal? Check.
  • Mobil? Check.
  • Duit? Check.
  • Tampang? Check.
  • Media sosial ber-followers banyak? Check.

Kalau kita lihat lagi, seharusnya sudah cukup untuk Gina hidup mudah & nyaman di Jakarta. Tapi setelah Gina perhatikan sekelilingnya, ternyata di Jakarta (dan di Instagram orang-orang Jakarta, tentunya) banyak sekali yang lebih mentereng dari dirinya. She’s a small fish in a big pond, now.

Gina yang tinggal di kos-kosan, mendadak ingin menghuni sebuah apartemen. Gina yang punya Honda CR-V keluaran saya jaman SMA, mendadak ingin berkendara dengan Lexus RX 300. Gina yang punya tabungan cukup untuk jajan, mendadak ingin menggesek sebuah credit card dengan limit banyak. Gina yang sudah cantik walau tanpa bedak, mendadak rajin bertamu ke klinik kecantikan ahli vermak wajah. Dan, Gina yang feeds Instagram-nya selama ini hanya berisi foto selfie, mendadak ingin feeds Instagram yang banyak foto liburan ala selebgram travel blogger.

Betul, Jakarta menawarkan segudang kemudahan bagi penduduknya — yang mampu. Sekaligus, Jakarta menawarkan cara mudah untuk mencapai kemudahan itu sendiri; bagi penduduknya — yang mau tapi belum mampu.

Gina menghabiskan hampir setiap malam untuk ‘bersosialisasi’ dan clubbing di tempat-tempat hits di Jakarta & tak lupa open table untuk teman-teman udiknya yang panjat sosial. Terakhir bertemu, tampilan Gina tak ubahnya sosialita kelas wahid. Saya taksir, dari ujung kepala sampai ujung kaki bernilai sekitar Rp500.000.000; mengingat ada iPhone XS, Chanel, Louis Vuitton, Bottega Veneta, & Rolex menempel manis pada dirinya. Gina kembali ke kediamannya di Menteng Bintaro bersama dengan Lexus RX 300 yang sangat maskulin dengan plat nomor kombinasi angka yang mengartikan namanya.

Ia sempat memberitahu bahwa ia menggunakan produk make up (mulai dari face primer sampai face setting spray) dari Chanel, Dior, Kat Von D, Urban Decay, Shu Uemura, Anastasia Beverly Hills, beserta jajarannya. Cukup mengejutkan, mengingat saat kami masih sama-sama sekolah, ia menganggap lipbalm L’Occitane yang saya beli itu keren.

Apa kabar Instagram miliknya? Foto selfie alay lenyap seketika berganti dengan foto-foto dirinya yang sedang plesiran di Gurun Sahara, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Switzerland, Cappadocia, termasuk seluruh negara di Eropa, & Alaska di Kutub Utara

Menginap di sebuah kamar Presidential Suite salah satu Hotel Bintang 5 dengan fasilitas kolam renang di dalam kamar. Padahal, dulu paling jauh ke Malaysia. Itu pun hanya sekali selama hidupnya dulu. Dan sekarang ia berkeliling dunia secara nonstop selama 2 tahun terakhir ini. Catat ya, nonstop.

Semuanya ini tentu berbanding terbalik dengan kakaknya yang baru saja menikah secara sederhana di salah satu Aula Masjid di kampungnya.

Bayangkan.

Memang inilah sisi gelap Jakarta.

Di Jakarta, orang harus kelihatan ‘mahal’ untuk bisa dipandang, direspek, & dipindahkan ke kelas sosial atas. Setelah berada di sana, barulah orang tersebut akan dinomor satukan di public places atau bahkan di (lagi-lagi) lingkaran pertemanan orang itu sendiri.

Agar segera berada di kelas A, Gina bersedia menjadi pacar kepala suatu instansi (yang jika saya sebutkan namanya akan menggemparkan Indonesia) dan menjadi simpanan salah satu Pengusaha Batu Bara di Kalimantan. Bahkan diberikan sebuah jabatan prestisius: Komisaris. Lucunya, saat itu Gina belum lulus. Ia lebih tua dari saya tapi saya duluan yang memakai toga. Tapi ia duluan yang menjadi Komisaris di Perusahaan Tambang. How fun.

Langkah yang sungguh berani, Gina.

Ini aku tulis sebagai penghargaan dariku untukmu berupa true story yang aku bagikan kepada rekan-rekan terbaikku di Quora.

Moral of this story:

Jakarta itu tergantung cara kita menghadapinya; sadar siapa kita & mau jadi apa kita. Sisi gelap Jakarta dengan tangan terbuka selalu menerima siapa saja yang bersedia menukar harkat & martabat sebagai tiket masuknya. Semua yang Anda lihat di kehidupan nyata & di dalam social media, terkadang hanyalah sebuah persona yang sudah di-filter sampai sempurna. Kita tak pernah tahu, apa yang harus ditukar seseorang demi mendapatkan apa yang ada pada dirinya sekarang.

Harga diri ciptaan Tuhan yang paling luhur semestinya tidak senilai clutch cantik seri fall/winter dari Fendi, bukan?

Dijawab oleh Natalie, melalui Quora, tanggal 4 Februrari 2019. Akses dari : https://id.quora.com/Apa-sisi-gelap-hidup-di-Jakarta
Spesifikasi Honda Brio, Mobil Murah yang Tak Murahan
Spesifikasi Honda Brio, Mobil Murah yang Tak Murahan
Tahun lalu, Honda memperkenalkan Brio generasi kedua di Indonesia. Meski secara general, spesifikasi Honda Brio dinilai masih sama dan membawa konsep major facelift. Namun, dari segi eksteriornya, Brio versi terbaru ini mengalami perubahan total jika dibandingkan dengan pendahulunya.

Mesin Empat Silinder yang Meminimalisir Getaran

Bicara soal fun to drive, di segmen LCGC, Brio Satya lebih unggul ketimbang mobil lain di kelasnya. Salah satu faktor yang membuat Brio Satya menyenangkan saat dikendarai adalah lantaran menggunakan mesin empat silinder yang minim getaran berlebih saat kondisi idle. Sounds good, kan!

Dapur Pacu Honda Brio yang Oke!

Spesifikasi Honda Brio di sektor dapur pacu dijejali mesin bensin versi facelift tahun 2016. Mesin ini berkapasitas 1.199 cc i-VTEC empat silinder. Berkat mesin ini, Brio mampu 'ngacir' dengan menghasilkan tenaga mencapai 89 hp pada 6.000 rpm dan torsi 110 Nm pada 4.800 rpm. Berkaitan dengan spesifikasi Honda Brio tersebut, tipe transmisi yang disodorkan pun ada dua: manual dan otomatis CVT.

Masih berkaitan dengan spesifikasi Honda Brio di sektor dapur pacu, situs jual beli kendaraan bekas dan baru (Carmudi.co.id) menyoroti dari segi performany, yaitu dari sisi tarikan awal. Tarikan awal Honda Brio cukup mengesankan, tarikan bawah cukup bertenaga tapi tidak terlalu agresif.

Jika dibandingkan, spesifikasi Honda Brio yang mendukung akselerasi dan ledakan torsi tidak 'segalak' milik Suzuki Ignis ataupun Toyota Agya versi 1.200 cc. Spesifikasi Honda Brio pada transmisi CVT-nya pun patut diacungi jempol. Tarikan Brio dapat naik hingga kecepatan tinggi dan terasa smooth khas CVT banget!

Dilengkapi Fitur yang Menarik!

Pembahasan spesifikasi Honda Brio selanjutnya bergeser ke fitur. Untuk mobil sekelas LCGC, fitur auto down electric power window adalah suatu hal yang menarik. Spesifikasi Honda Brio di dalam kabin lainnya juga perlu disorot, yaitu USB port dan sebuah head unit keren dari Pioneer FH-S505BT. Ada juga CD Player, koneksi Bluetooth dan colokan USB serta kabel AUX.

Spesifikasi Honda Brio pada fitur keamanannya juga cukup baik. Honda Brio sudah dilengkapi immobilizer di setiap varian, jadi tidak bisa pakai sembarangan kunci duplikat untuk menghidupkannya. Kelebihannya lagi, kunci pakai keyless entry, jadi buka kunci pintu tidak usah putar-putar lagi di lubang kunci manual.

Spesifikasi Honda Brio, Mobil Murah yang Tak Murahan

Spesifikasi Honda Brio

  • Mesin: L12B
  • Jumlah Silinder: 4, Segaris
  • Teknologi Mesin: SOHC, i-VTEC
  • Kapasitas Mesin: 1.199 cc
  • Tenaga Maksimum: 89 hp (90 ps) @ 6.000 rpm
  • Torsi Maksimum: 110 Nm @ 4.800 rpm
  • Transmisi (Manual): Manual 5-Percepatan
  • Transmisi (Otomatis): CVT 4-Percepatan
  • Layout Mesin: Mesin Depan Penggerak Roda Depan
  • Kapasitas Tangki: 35 liter

Nah, itu tadi sedikit ulasan tentang spesifikasi Honda Brio. Untuk lebih jelas dan lengkap langsung kunjungi situs jual beli kendaraan Carmudi.co.id, yuk. Ci vediamo!

My Alakadabra

12 Oktober 2019 : Semesta akan memberikan jawaban yang baik di waktu yang baik.

Blogger Perempuan