Bromo (Lagi), Seruni Point, dan Escorting Ambulans #2

By Wednesday, January 09, 2019 , , , , , , , ,

Perjalanan kali ini terhitung sebagai touring pertama di tahun 2019 yang (as usual) menjadi kejutan buatku. Dari tujuan ataupun pengalamannya. Terima kasih.

Part 2 : Kawasan Bromo dan Seruni Point di 9 Januari 2019 -

Bromo (Lagi), Seruni Point, dan Escorting Ambulans #2
Bromo (Lagi), Seruni Point, dan Escorting Ambulans #2
Perjalanan menuju lokasi utama lebih minim penerangan, lebih sepi, dan lebih dingin dari sebelumnya. Dalam perjalanan, tak hentinya sholawat kupanjat dan berbagai doa yang kuharap bisa membuatku tetap fokus.

Oh, ya, di warung pemberhentian sebelumnya, pemiliki warung sudah menjelaskan bahwa ada point view baru, bernama Seruni Point. Kata beliau juga, harga tiket masuk ke lokasi utama Bromo adalah Rp 42,500,- per orang dan biaya sepeda motor adalah Rp 15,000,-. Jadi, 1 sepeda motor dengan 2 orang akan kena sekitar Rp 100,000,-. Ini info dari si Ibu yang tidak pernah membayar tiket masuk, ya, karena penduduk lokal. Nanti kami buktikan.

Kami akhirnya tiba di gerbang loket utama dan ternyata, harga per kepala adalah Rp 30,000,- dan sepeda motor adalah Rp 25,000,-. Jadi 1 sepeda motor dengan 2 orang adalah Rp 85,000,-. Yah, lumayan bersyukur, sih, karena info yang didapat lebih mahal, setidaknya harga aslinya lebih murah. Haha. Ini harga di hari biasa, ya, kurang paham kalau di hari libur.

Harga tiket masuk mencakup wisata pasir berbisik, akses ke Bromo langsung (dengan anak tangga), bukitTeletubbies, dan beberapa wisata lain yang tertera di papan petunjuk. Maaf, tidak bisa membaca jelas karena minim penerangan dan belum sempat search artikel terkait wisata ini.

Kami berjalan berdasarkan arahan plang dan sampailah kami di pasir berbisik yang begitu sepi. Hanya kami berenam dan tidak ada penerangan sama sekali. Perjalanan itu mungkin tersesat, mungkin tidak. Karena kami sudah sampai di lokasi utama, tapi bukan ini yang dicari.

Rombongan memutuskan untuk kembali ke loket dan menanyakan lokasi baru yang diinfokan oleh Ibu Warung, Seruni Point. Yang nyatanya berada di luar tiket masuk ini. Tujuan berubah ke Seruni Point, karena memang lebih terlihat jelas arah jalannya.

Dan yang bikin sedikit nyesek, ketika kami datang di loket, hanya kami berenam yang masuk ke wilayah itu. Namun, ketika kami akan ke Seruni Point dan lewat kembali di loket, coba tebak, banyak sekali rombongan yang akan masuk ke lokasi utama. Hah!

Jalan menuju Seruni Point, point view yang (katanya) hits dan baru...

Gerbang masuk Seruni Point ini ternyata berada jauh sebelum loket masuk. Jadi, bagi kamu yang akan ke Seruni Point, maka mohon tetap menengok kanan dan pastikan tidak terlewat. Karena lokasi ini berada di persimpangan, yang mana kalau ke kanan bertujuan ke Seruni Point dan kalau lurus bertujuan ke lokasi utama.

Akses ke Seruni point juga minim pencahayaan dan jalanan berbatuan. Lebih sulit dari sebelumnya, tapi masih bisa dilewati dengan sepeda motor, pun dengan matic. Kami merasa tersesat. Tapi, tetap meneruskan ke tujuan yang katanya sekitar 2 km dari loket.

Mas memang terbilang kencang dalam menyetir dan kami berada agak jauh dari 2 rombongan lainnya. Kami berputar kembali ketika mendapati begitu lama mereka menyusul kami. Dan nyatanya, ke Ferry beserta Zaenab terjatuh. Kami mendapati mereka sedang menuntun motor ke pinggiran.

Mereka, memutuskan untuk meneruskan perjalanan kembali untuk mengejar moment matahari terbit, tapi kataku, “Kenapa gak kita menikmati mataharinya di sini aja. Daripada jauh, gak dapat momentnya. Lagian, itu sudah keliatan, kan. Mas Ferry sama Mbak Zaenab bisa istirahat juga.”

Entah kenapa, mereka menyetujuinya. Rombongan mengatur motor lebih rapi dan memutuskan untuk mengabadikan moment sun rise di sana. Aku sedikit terenyuh mengingatnya. Kami mulai naik untuk ke Seruni Point ketika matahari sudah mulai terang, sekitar pukul 05.00 wib.

Jalan Menuju Seruni Point Bromo 
Jalan Menuju Seruni Point Bromo
Lumayan oke, kan, pemandangannya?

Meski berfoto di jalan, tidak terlalu berbahaya karena sepinya kendaraan yang berlalu lalang. Di sana indah, foto yang kami hasilkan terlihat dramatik karena siluet berpadu dengan matahari terbit.

Tiba di Seruni Point...

Ternyata, di Seruni Point sudah rama saja pengunjung yang parkir dan mengabadikan gambar. Jika kamu tipe yang suka mencari titik view, disarankan parkir dulu dan melanjutkan dengan jalan ke puncak bukit yang berjarak 1 – 2 km. Katanya, di sana lebih terlihat seperti ‘Eropa’.

Kami, cukup di area parkiran saja, mah, udah seneng. Lihat matahari terbit yang sudah mulai tinggi dan pemandangan Bromo dari situ, sudah Alhamdulillah banget. Di sini memang indah, tapi hanya bisa dilihat dari jauh. Jadi, bagi yang suka menjepret Bromo dengan lebih dekat dan wisata lainnya, boleh melanjutkan perjalanan ke lokasi utama.

Fyi, di Seruni Point tidak ditarik biaya masuk, hanya uang parkir senilai Rp 5,000,-

Pemandangan dari Seruni Point Bromo
Terbatas pagar dan jarak yang begitu jauh

Pemandangan dari Seruni Point Bromo


Kami, sih, sudah tepar dan memilih mencari rest area buat istirahat, Shay. Cerita selanjutya tentang perjalanan pulang dan masih berhubungan, tapi dipisah karena ini sudah terlalu panjang.


Salam dari kami,

yang diunggah secara bersamaan biar masih hangat XD

You Might Also Like

0 Comments

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Silakan tinggalkan pesan di kolom komentar jika memang ada yang perlu didiskusikan ^ ^

Jika memerlukan informasi urgent, boleh sapa saya di email karena saya cukup aktif pula di sana :).

My Alakadabra

12 November 2019 : Thanks, God.

Blogger Perempuan