Tentang Perempuan : Cerita dari Yang Sudah Menikah

By Sunday, March 24, 2019 , ,

Tentang Perempuan : Cerita dari Yang Sudah Menikah
Tentang Perempuan : Cerita dari Yang Sudah Menikah

"Dulu, di awal menikah itu kami gak settle. Perjuangkan kita dari bawah, Bik. Tapi, aku gak pernah menyesal memilih untuk menikah."

Tutupnya di pembicaraan kami siang itu. Saya sedang duduk dengan seseorang yang senasib dalam urutan keluarga ataupun kendala yang secara garis besar ada kesamaan. Saya baru menyadari itu kemarin.

Pembahasan kami kemarin lebih kepada sharing bagaimana pernikahan di usia muda. Bukan dini, tapi sudah dalam range pernikahan. Si Mbak menikah di usia 24 tahun dan suami di usia 25 tahun. Sekarang sudah berusia 30 tahun, dan suami berusia 31 tahun.

Si Mbak ini merupakan salah satu rekan kerja saya, yang pada saat dipinang, sudah bekerja di sini. Suami adalah seorang programmer lepas. Dibilang settle, kata si Mbak, lebih tepatnya bisa dibilang sudah memiliki pendapatan masing-masing yang mencukupi.

Dan cerita si Mbak ini mengalir...

Aku, pada akhirnya tinggal bersama orang tuaku...

"Aku dari awal sudah diminta orang tuaku tidak meninggalkan rumah. Jadi, di awal kami dekat, Ibuku sudah bilang padanya bahwa aku harus tinggal di rumah itu.

Ibu dan Bapakku tinggal di rumah yang sama. Tapi, rumahku berbentuk panjang, depan rumah utama dan belakang adalah kosan. Aku, semenjak menikah tinggal di rumah belakang. Ibu Bapak tinggal di rumah depan."

Suamiku pekerja lepas...

"Suamiku pekerja lepas, dia programmer, tapi tidak mau berada dalam naungan instansi. Jadi, dia bekerja dengan kawannya mencari project. Karena pekerja lepas, income dari suami pun tidak tentu, seperti kita yang bekerja di instansi.

Programmer lepas memang terlihat akan mendapatkan income yang besar, tapi nanti akan terpotong dengan lain-lain. Dan pembayaran ini dicicil. Jadi, mungkin akan sama saja jika dipikir-pikir. Jadi, akan ada suatu hari, dia tidak mendapatkan project dan income kami berasal dariku seorang."

Beratnya masa pernikahanmu, hadapi dengan suami...

"Aku pernah di masa hanya mendapatkan income dari sisiku, karena suami sedang tidak dapat proyek. Jadi, untuk membutuhi hidup, kami hidup dari hutang dan aku bayar ketika aku gajian. Di tengah bulan, aku hutang lagi, lalu aku bayar lagi ketika gajian. Itu berlangsung sampai 6 bulan di awal pernikahan kami.

Aku pernah di suatu hari, aku bahkan sampai bingung besok akan makan apa. Karena hanya ada uang 5000 atau 10000 yang itu hanya bisa untuk biaya transportasi. Aku dan suamiku pernah di masa itu. Aku tinggal bersama orang tuaku, tapi aku berusaha orang tuaku tidak mengetahui permasalahanku."

Di suatu hari yang berat...


"Punya tabungan sebelum nikah itu memang penting. Tapi, aku dulu tidak ada tabungan sama sekali. Sampai di suatu titik aku tidak punya uang bahkan untuk melahirkan. Untung saja, aku ikut arisan yang total sekitar Rp 12jt.

Itu sangat membantuku.

Di suatu hari, aku pernah juga sampai tidak beli susu untuk anakku. Waktu Ibuku bertanya kenapa aku tak beli susu untuknya, aku hanya jawab bahwa 'aku masih belum sempat, Buk'. Padahal, di saat itu aku memang tidak memiliki uang."

Pembicaraan hari itu diakhiri karena memang sudah waktunya kami pulang. Dan dengan wajah tersenyum, dia mengakhiri, "Pernikahan itu jangan dianggap berat, Bik. Aku tidak pernah menyesal memilih untuk menikah. Jangan pernah takut menikah."



Salam dari rumah,

sambil nonton debat Cawapres 2019


Source: https://www.foxnews.com/lifestyle/bride-divides-opinion-over-cringy-maths-quiz-at-wedding

You Might Also Like

1 Comments

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Silakan tinggalkan pesan di kolom komentar jika memang ada yang perlu didiskusikan ^ ^

Jika memerlukan informasi urgent, boleh sapa saya di email karena saya cukup aktif pula di sana :).

My Alakadabra

12 Oktober 2019 : Semesta akan memberikan jawaban yang baik di waktu yang baik.

Blogger Perempuan