Hello, Jakarta!

By Friday, September 13, 2019 , , ,

- Review Hidup 2 Bulan di Jakarta - 

Hello, Jakarta!

Compare Jakarta x Surabaya from Me as Anak Rantau


Bismillah.

Terhitung dari bulan Juli 2019, saya resmi menempuh pendidikan di ibukota, DKI Jakarta. Dan ini akan berlaku sampai setahun kedepan, tergantung penempatan nantinya apakah tetap stay di ibukota ataukah berpindah ke daerah. Semoga yang terbaik. Amin.

Saya sudah 7 tahun menjadi anak rantau, yah, walaupun sebelumnya stay cool saja 6 tahun di kota Surabaya. Terhitung dekat dan bisa pulang kampung kapanpun semaunya karena jarak yang tidak terlalu jauh. Sekarang, jarak Jakarta ke kampung halaman bisa jadi 12 jam perjalanan pakai kereta atau 1 jam pakai pesawat + 2 jam bus.

Fyi, di sini perlu sangat digaris bawahi bahwa konten ini bukan berisi keluhan, nggeh, saudara pembaca yang budiman. Pure sekedar compare between 3 cities that I have lived in. Juga, karena ini memang pilihan hidup dan sudah atas ijin orang tua, I really enjoy and gratefull with my life 💓.

Jakarta x Surabaya from My Side

1. Transportasi Umum Sehari-Sehari

Pertama kali yang saya rasakan ketika tiba di Jakarta adalah ketersediaan transportasi umum sehari-hari yang begitu banyak pilihan. Masyarakat bisa memilih kemana saja menggunakan ojek konvensional, ojek online, KRL, MRT, busway, ataupun omprengan (semacam angkutan umum yang tidak berplat kuning). Nanti saya tambah lagi jika khazanah saya bertambah. 

Memang, ketika di Surabaya saya membawa sepeda motor sendiri, sehingga mungkin lebih mudah kemana-mana. Tapi, di Jakarta pun, rasanya kemana-mana juga mudah. Harga tiket transportasi umum dapat sangat terjangkau.

Katakanlah, KRL bisa dijangkau pp total adalah Rp 8,000,-; tiket pp busway Rp 7,000,-, ataupun ojek online yang lagi banyak promo. Kindly, corret me if I'm wrong, Guys.

2. Biaya Tempat Tinggal dan Biaya Hidup

Biaya tempat tinggal di Jakarta memang jauh lebih mahal dengan fasilitas yang sepadan dengan Surabaya. Jika dibandingkan, kamar kos di Surabaya, dengan kamar mandi luar, fasilitas kasur, almari, kaca sebadan, saya bisa dapat Rp 525.000,-/bulan. Di Jakarta, dengan fasilitas yang sama, mungkin bisa jadi di bawahnya, dapatnya di nominal Rp 800,000,-/bulan.

Di Jakarta memang harus banget lebih selektif memilih tempat tinggal. Di sini, minim sekali kos yang dikhususkan untuk 1 gender alias hampir rata-rata campur. Walaupun campur, juga harus diseleksi lagi, nih, siapa saja mereka. Ini menentukan tingkat keamanan dan kenyamanan, gitcu.

Tips buat mencari kos di Jakarta:
  1. Coba gunakan aplikasi pencari kos, antara lain : olx (beneran ada yang nawarin kosan di sini, btw) atau mamikos. Googling juga bisa;
  2. Jangan malu bertanya door to door ke warga sekitar;
  3. Datangi daerah terdekat dengan kantor dan putari lokasi yang diinginkan;
  4. Pertimbangan yang saya dulu pertimbangkan : ventilasi, latar belakang calon penghuni kamar lainnya, kemanan lingkungan, kumuh atau tidak, kebersihan kamar mandi, jauh dari tempat makan atau tidak, akses ke kantor, dll.

Berbicara biaya hidup, pengeluaran terbesar, saya rasa ada di transportasi. Kalau untuk makanan dan kebutuhan hidup lainnya, saya akui memang tidak jauh beda dengan Surabaya. Dengan kata lain, tetap ada pilihan "Kamu bisa hidup layak dengan tetap bisa menabung atau kamu bisa hidup mewah tanpa menabung".

3. Ketertiban dan Kemacetan Lalu Lintas

Jakarta dan Surabaya, saya rasa 11 : 12 untuk ketertiban lalu lintas. Di Jakarta ada istilah "Barbar" yaitu kondisi pengguna kendaraan sangat ingin didahulukan dan tidak tertib lalu lintas. Yah, setelah ditelusuri, ternyata tidak semua wilayah Jakarta memiliki warga "Barbar" ini. Banyak juga wilayah yang warganya cukup teredukasi dan sabar menghadapi kemacetan.

Kemacetan? Oh, hampir lupa! Di Jakarta istilahnya macet sudah menjadi "Say hello in everytime", beda sama Surabaya. Memang, kemacetan hanya terjadi di titik-titik tertentu, tapi ada banyak titik. Nah, loh. Di sinilah saatnya kita mulai menumpuk pahala, Guys, sabar dalam menghadapi kemacetan daripada cepet tua. Haha.

4. Keberadaan Mall dan Gedung-Gedung Tinggi

Bener, di Jakarta rasanya kanan kiri ada mall. Jalan sedikit ada mall, ke mana sedikit ada mall lagi. Juga, ada banyak sekali gedung tinggi di sini. Harap maklum, lahan terbatas, tapi pembangunan tetap berjalan. Akhirnya, semakin ke atas lah pembangunannya. It's not a big problem, maybe.

Di Surabaya, karena saya memang tinggal dekat mall, akses ke mall juga cukup mudah. Walaupun gedung pencakar tidak setinggi dan sebanyak di Jakarta. Masih cukup bisa ditemui bangunan 2 lantai. Begitu.

5. Keberadaan Lahan Hijau

Di Jakarta, lahan hijau banyak. Sungguh. Hanya saja, di jalanan, sudah mulai tidak dinaungi oleh pepohonan tinggi. Sebagai pecinta lingkungan, sedikit miris, ya, tapi ya yaudah :") . Di Surabaya, saya masih sangat salut dengan pemerintahannya yang sangat peduli dengan pepohonan pun di jalanan.

6. Suhu Ruang dan Polusi Udara

Saya rasa, suhu ruang di Jakarta dan Surabaya lumayan sama dan sama-sama I need turn on my fan all day long. Ini bukan hal yang menganggu bagi saya. Karena saya juga bukan pecinta suhu ruang dingin, lebih suka yang summer day, walaupun tetap butuh kipas. Hehe.

Polusi udara menurut pantauan AirVisual (11 September 2019, pukul 10.45 wib), untuk Jakarta terbilang "tidak sehat". Sedangkan Surabaya masuk "tidak sehat bagi kelompok sensitif". Dilihat secara kasat mata pun, polusi udara di Jakarta terlihat dari banyaknya asap yang berseliweran di langitnya.

Polusi Udara Jakarta dan Surabaya
Polusi Udara via AirVisual, 11 September 2019

Di Surabaya, sejauh mata memandang, langit masih berwarna biru, yang artinya asap masih belum terlalu menutup langit keseluruhan. Di Jakarta, langit lebih sering berwarna abu-abu. Bahkan, di pagi hari, saya bisa melihat matahari dengan lingkaran penuh alias memang cahayanya sudah teredam dengan polusi udara.

Pertama kali saya datang, saya kira langit abu-abu yang selalu saya sapa setiap hari ini adalah kabut. Ternyata, semakin ke sini saya baru sadar bahwa yang saya sapa adalah asap kendaraan bermotor. So, don't forget to use mask. Paru-parumu punya hak untuk mendapatkan udara yang baik.

8. Pekerja Seni Jalanan dan Ragam Makanan

Di sini, banyak ditemukan pekerja seni jalanan menggunakan ondel-ondel. Kalau di Surabaya, rata-rata lebih ke menyanyi, beberapa lainnya memang menggunakan perkusi. Di sini, memang ada pula yang menyumbang suara ala Surabaya, tapi ondel-ondel mudah sekali ditemui di berbagai sudut lokasi.

Yah, begitulah. Saya rasa, Jakarta dan Surabaya tidak terlalu jauh berbeda. Perbedaan mendasar yang saya rasakan lebih ke "jarak tempuh antara tanah rantau dan tanah asal". Begitulah. Surabaya pasti jauh lebih dekat ke rumah daripada dari Jakarta, kan. So far, rindu yang tertuang dari doa tanpa pertemuan intens, masih sedikit menyesakkan.

Salam,


dari Jakarta, yang lagi kerja di ruang co working space-

You Might Also Like

0 Comments

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Silakan tinggalkan pesan di kolom komentar jika memang ada yang perlu didiskusikan ^ ^

Jika memerlukan informasi urgent, boleh sapa saya di email karena saya cukup aktif pula di sana :).

"Journey from May 2009 and still counting down. People come and go, parents don't, memories don't." - hf
Blogger Perempuan