Jak Japan Matsuri 2019 : Heboh Kolaborasi Warga Jepang dan Indonesia

By Monday, September 09, 2019 , , , , ,

Jak Japan Matsuri 2019 : Heboh Kolaborasi Warga Jepang dan Indonesia

Festival Jak Japan Matsuri 2019 diadakan di tanggal 7-8 September 2019 dengan tema "Indonesia & Japan Always Together". Kegiatan ini merupakan event tahunan untuk memperingati 61 tahun kerjasama Jepang dan Indonesia. Kata mbak Dita, tahun lalu juga diadakan di tempat yang sama, di Plaza Tenggara Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Baru tahu setelah baca artikel tetangga, nih, kalau ternyata di event ini dibagi 3 zona, yairu stage area, exchange, dan experience. Tadi, kami serasa hanya mengikuti arus saja, gitu, nikmatin acaranya tanpa aware ke pembagian zona ini. Haha.

Jadi, tanpa memikirkan zona, I wanna tell you from my side, yak. Pengunjung yang hadir lumayan rame, walaupun kata mbak Dita, tahun lalu lebih rame. Mungkin karena hari ini hari kedua kali, ya. Yang baru saya sadari ketika datang, ternyata banyak pula orang Jepang yang ikut berpartisipasi, baik sebagai panitia ataupun penonton.

Harga Tiket yang Sangat Terjangkau

Saya datang bersama mbak Dita dan Haris. Eh, kami rasa kami sudah masuk hitungan dewasa, donk, ya. Tapi, mengejutkannya kami masih masuk tiket pengunjung “pelajar” seharga Rp 20.000,- saja. Sebenarnya, untuk dewasa seharga Rp 30.000,- dan anak di bawah 5 tahun tidak dikenakan htm.

Harga Tiket Masuk Pelajar
Harga Tiket Masuk Pelajar

Kesan Pertama : Keren, Crowded, dan Sangat Terkonsep

Pertama datang, pengunjung sudah disuguhkan dengan “gerbang” yang terbuat dari pohon bunga sakura buatan. Di sini, feel free langsung ambil gambar. Sejauh mata memandang, banyak sekali pengunjung yang menggunakan cosplay dan lainnya banyak pula yang pakai masker. Lokasi dihias dengan banyaknya lampion, pernak-pernik, kuliner, asuransi, informasi beasiswa, dan budaya Jepang.


Gerbang Bunga Sakura Buatan yang Cantik

Suasana Jak Japan Matsuri 2019, Pukul 16.51 wib
Suasana Jak Japan Matsuri 2019, Pukul 16.51 wib

Atraksi Arak-Arakan : Kerjasama yang Solid dari 2 Negara

Saya baru masuk lokasi sekitar jam 16.30wib dan sekalinya masuk, saya disuguhkan atraksi parade bidaya Jepang. Atraksi ini diikuti oleh warga Indonesia dari berbagai kalangan usia, warga Jepang, dan untuk leader-nya adalah orang Jepang asli.

Atraksi ini merupakan arak-arakan yang terdiri dari beberapa grup. Dimana setiap grupnya sekitar 15-20 orang dan rata-rata terdiri dari 1) Leader dari warga Jepang, 2) pembawa kipas besar (biar tidak gerah), dan 3) tim, gabungan warga Jepang dan Indonesia.

Grup paling depan adalah pembawa minuman, dilanjutkan dengan rombongan kostum (mungkin semacam harajuku, but cmiiw, please), dan rombongan-rombongan lainnya mengangkat sebuah pagoda yang terlihat cukup berat. Rombongan paling belakang berisi penabuh “gendang” yang tersiru sari anak kecil ataupun sudah berusia.


Satu dari Sekian Leader dari Warga Jepang Langsung
Satu dari Sekian Leader dari Warga Jepang Langsung
Selama perjalanan, mereka meneriakkan kata semangat yang terdengar seperti, “Zoya zoya zoya” atau “busway busway busway”. Anyway, mungkin boleh dikoreksi jika ada yang tau pastinya, ya.
Arak-Arakan Pagoda

Arak-Arakan Pagoda

Mereka jalan dari start sampai finish, melewati pengunjung dengan penjagaan tali pembatas yang ketat. Arak-arakan ini dilakukan di sore hari dan malam hari, sekitar jam 19.00wib.


Arak-Arakah Gendang Khas Jepang
Arak-Arakah Gendang Khas Jepang

Anak Kecil yang Ikut Terlibat
Anak Kecil yang Ikut Terlibat
Arak-Arakan Pagoda sampai Malam
Arak-Arakan Pagoda sampai Malam

Jajaran Kuliner Jepang yang Mantab

Apa yang saya cari pertama kali? Gurita! Em, sebenernya ini inspirasi dari mbak Dita juga, sih. Walo, yah, saya juga menginginkannya. 

Gurita bakar di sini dibanderol Rp 40.000,- cukup worth it, lah, bagi orang yang penasaran dari lama. Untuk kuliner lain, saya rasa lebih mudah dijumpai di tempat makan Jejepangan yang menjamur.


Penjual Gurita Bakar
Penjual Gurita Bakar

Pelepas Penat bagi Penggemar JKT 48 - Team T

Saya bukan penggemar JKT 48, tapi berjoget adalah hobi saya. Haha. Dan saya harap bergabung dengan wota lainnya bisa membuat saya berjoget.

Penonton JKT 48 mayoritas adalah pria yang memang hafal lagunya. Sangat antusias dan niat banget, dah, sampai bawa perlengkapan wota dan 3 bendera yang dikibaskan di tengah penonton.

Asyik, sih, liat mereka berjoget mengikuti irama sambil sesekali menerikkan, “Hoya hoya” or something yang kurang familiar di telinga saya. Huhu. Maafkan :(

Fasilitas yang Lengkap

Oh, ya, saya salut buat panitianya yang melengkapi musholla di tengah event. Ini benar-benar sangat menghormati agama aja, gitu. Biar sibuk tetep ingat Yang Maha Kuasa.


Ditambah, sangat mudah ditemui tempat sampah di sini. Meminimalisir masyarakat yang sudah selesei berkuliner ria, tapi bingung membuang sampahnya dimana. Btw, tempat sampahnya juga sudah disortir menjadi sampah basah dan daur ulang.

Kesimpulan...

In my honestly opinion, bagi yang memang penasaran dengan budaya dan kuliner Jepang, event ini sangat menjawab keingintahuan itu. Karena dengan harga terjangkau, masyarakat dapat melihat perpaduan solid antara warga Jepang dan Indonesia. Acara dilengkapi dengan budaya, kuliner, permainan khas Jepang, dan lainnya.

So many thank you for saudara seperguruan mbak Dita Vernanda dan Haris Hidayatullah sebagai teman perjalanan kali ini. Cao~


Salam,

Yang sedang merindukan rumah~

You Might Also Like

0 Comments

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Silakan tinggalkan pesan di kolom komentar jika memang ada yang perlu didiskusikan ^ ^

Jika memerlukan informasi urgent, boleh sapa saya di email karena saya cukup aktif pula di sana :).

"Journey from May 2009 and still counting down. People come and go, parents don't, memories don't." - hf
Blogger Perempuan