Jakarta di Malam Hari

By Sunday, September 29, 2019 , ,

Jakarta di Malam Hari
Jakarta di Malam Hari
Jakarta, seperti yang saya katakan sebelumnya, memang secara garis besar bisa saya nilai 11 - 12 dengan Surabaya. Kota yang sebelumnya saya tinggali begitu lama dan sangat banyak kenangannya. Begitu pun dengan Jakarta di malam hari.

Semalam, saya sempat merasakan hiruk pikuk Jakarta yang tak kunjung sepi, bahkan di saat mall sudah tutup, jam 22.00pm. Stand outlet sudah tidak lagi ramai oleh pengunjung yang hendak memborong dagangan. Mereka sudah tak lagi berjejal di dalam mall.

Pengunjung yang mayoritas adalah anak muda, mulai menikmati ramainya taman tengah, di salah satu mall yang saya kunjungi semalam. Mereka duduk santai mengambil tempat, beberapa duduk di lantai tanpa alas, beberapa lainnya duduk beralas tikar dengan bantal angin yang sudah disediakan.

Musik elektronik berdengung kencang, tanpa live music - pun, nyatanya pengunjung juga tetap mendorong diri untuk melepas penat di malam tadi. Sabtu malam yang memang terasa sekali suasanya. Berbeda dengan Surabaya-ku dulu, yang sudah sepi jika waktu sudah beranjak jam 22.00pm.

Mungkin, karena di Surabaya dulu, saya tinggal di dekat mall yang berdekatan dengan sekolah ataupun instansi perbankan, kali, ya. Dan mall yang semalam saya kunjungi, memang di kawasan mall. Ini yang beda dari Surabaya. Di sini, mall pun bisa berada di kawasan yang sama, bahkan tetanggaan.

Saya pulang sedikit larut, walaupun terbilang masih sore, jika waktu Indonesia bagian mahasiswa teknik (hah). Tapi, ramainya Jakarta masih tetap hidup. Dengan di salah satu sisi, dentuman musik khas clubbing sudah diputar. 

Saya melewati beberapa cafe yang memang masih buka di dalam mall tersebut. Menawarkan sisha dan beberapa minuman beralkohol, mungkin dengan kadar rendah atau apalah yang saya kurang paham. Sebenarnya, sejak di Surabaya, saya sudah sangat mulai memaklumi wanita-wanita yang dengan santainya merokok dan tidak ada batasan gender untuk masalah ini. Dan ini sangat mudah ditemui di Jakarta.

Jakarta Surabaya masih 11 - 12, masih kota yang menurut saya dapat hidup 24 jam dengan segala tingkat kebisingannya. Eh, tapi, sampai saat ini, saya masih sering rindu Surabaya - Probolinggo dan seisinya. Sungguh, Jakarta memang surga bagi beberapa orang, tapi dekat dengan keluarga adalah surga terbesar bagi saya. Aih, jadi rindu!

Begitu, lah.

Jakarta memang tak pernah tidur, dari kami yang semalam bertemu untuk membahas persoalan lain selain pekerjaan. Ternyata, bertemu dengan kawan-kawan lama memang memberikan nuansa baru.
Jakarta di Malam Hari
Jakarta, 28 September 2019

You Might Also Like

0 Comments

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Silakan tinggalkan pesan di kolom komentar jika memang ada yang perlu didiskusikan ^ ^

Jika memerlukan informasi urgent, boleh sapa saya di email karena saya cukup aktif pula di sana :).

My Alakadabra

12 Oktober 2019 : Semesta akan memberikan jawaban yang baik di waktu yang baik.

Blogger Perempuan