The Power of Dream - Perjalanan Mencari Kerja

By Sunday, September 13, 2020 , ,

The Power of Dream - Perjalanan Mencari Kerja

Membaca catatan Aul tentang perjalanannya di Latsar CPNS, jadi mengingatkanku tentang meraih posisi sekarang ini. Yang beneran gak diduga banget. Singkat cerita, aku masuk di salah satu anak perusahaan BUMN dari jalur ODP (Officer Development Program) dan baru lulus tahun ini sebagai karyawan tetap. Jelasnya apa itu ODP (ini semacam Management Trainee (MT), GPTP, atau istilah serupa lainnya), bisa coba di search tentang program ini di google atau nanti kalau gak males, aku bahas di artikel lain.

Tulis Mimpinya Aja Dulu...

Ini yang mulai dulu masuk banget di otakku. Ya, menulis mimpi dan bermimpi. Aku dulu pernah bilang ke temen deketku, "Suatu hari, aku kerja di perusahaan itu (salah satu BUMN)." Mimpiku dulu sesederhana pengen kerja cuma bawa tas isi make up dan kerja di gedung tinggi. Satu lagi, kerja di tempat yang banyak orang tahu (impian terbesar banget karena alasan pribadi).

Mulus? Egak. Dari aku lulus, aku sempet idle 6 bulan dan kerja sebagai freelancer sambil nunggu panggilan kerja. Mencari kerja itu gampang-gampang sulit. Lowongan kerja banyak banget, tapi gak semua lowongan sesuai dengan preferensi kita, kan. Pasti ada banyak pertimbangan dalam memilih pekerjaan karena ada yang bilang, "Pekerjaan utamamu adalah cermintan pekerjaanmu selanjutnya." 

Entah kenapa, kalimat tersebut bener-bener terpatri di ingetanku kala itu. 

Jadi, kalau sekarang ada yang bilang, "Aku sulit banget cari kerjaan. Aku terlalu pemilih orangnya."

Jujur, aku sangat memaklumi. Karena aku pernah ada di masa tersebut. Tapi, tetap jangan lupa untuk menentukan limit kapan harus tetap memegang idealisme tersebut dan tentukan juga tujuan mencari kerja. Tujuan? Bukannya kerja tujuannya mencari uang? Iya, bener. Tapi, lebih spesifik.

Setiap orang pasti punya impian dan tanggung jawab beda-beda dan kita memang harus menghargainya. Gak bakal ada yang sama! Impian kita yang idealis, tetap harus memiliki batasan mengingat ada persyaratan usia dalam melamar kerja dan tanggung jawab pada keluarga (jika ada). Alasan ini karena aku memang impianku adalah di BUMN dan anaknya, CPNS, dan international company/government dimana posisi yang kulamar selalu memberi batasan usia dan larangan menikah✌. Oh, ya, saat itu aku tidak berstatus sebagai tulang punggung keluarga juga.

Aku pernah sampai di titik, "Pokok kalau aku gak kerja di bulan X, aku bakal nerima kerjaan apapun, lah". Ya, sampai di titik memang harus realistis. Karena masa status "lulusan freshgraduate" itu juga ada masanya dan mengingat teman-teman lulusanku kala itu juga mayoritas sudah bekerja. Nyesek juga, sih, kalau diinget. Huhu.

Inget banget, di hari aku wawancara di tempat kerjaku sekarang, aku nangis di toilet gara-gara interviewer mau pake full bahasa Inggris dan tanya tentang materi kerjaan banget yang bener-bener aku baru di bidang tersebut. Keluar dari ruangan, aku langsung ke toilet dan nangis sesenggukan sambil nelpon orang tua. Inget banget, orang tua cuma bilang, "Percaya aja. Kun fayakun. Ingat, kalau memang itu rejekimu inshaAllah dapat. Tapi kalau memang belum rejeki, dikejar seperti apapun tetap tidak bisa." Waktu itu, kalimat tersebut bener-bener nguatin banget, sih.

Wawancara di tempat kerja pertamaku itu beberapa tahap. Di tahap sebelumnya, aku pulang wawancara dalam keadaan basah kuyup gegara hujan tiba-tiba dan lembar curriculum vitae-ku yang basah, masih kusimpen sampai sekarang. Bener-bener, kalau ada yang bilang, "Udah, keluar aja dari kerjaan sekarang. Cari kerja lagi aja, kalau rejeki pasti cepet dapetnya". Serius, karena aku pernah di tahap mencari kerjaan bener-bener yang seberjuang itu, ini yang bisa kukatain, sih.

Ya, iya, kalau rejeki bakal cepet. Tapi, rejeki semua orang beda-beda, ada yang seret, ada yang gampang. Sebelas dua belas sama ujian, kan. Kita gak tau kenapa orang mengambil pekerjaan tersebut ataupun kenapa masih bertahan di sana. Karena ya prioritas orang beda-beda. Dan ini harus banget saling menghargai. Biar damai tentram sejahtera.

Qadarullah, pekerjaan pertamaku sesuai dengan harapan. Dari sana, aku mulai menyusun target lagi untuk tidak segera pindah kerjaan dan maksimal bekerja adalah usia sekian. Kembali, karena ada batasan usia dan status, aku harus banget menjadwal kapan aku harus mencari kerja lain yang bisa jadi karyawan tetap. Tapi, banyak sekali pembelajaran yang kuambil dari kerjaan pertamaku. Tentang bagaimana menghargai jerih payah dan tanggung jawab orang lain. Kita punya peran masing-masing, berbijaksana dengan tidak terlalu memusingkan pilihan orang mungkin bisa menjadi cara untuk berbuat baik dari langkah kecil, kan.

Dan, akhirnya, sesuai dengan impian! Aku get it!

Alhamdulillah. Sesuai dengan yang aku tuliskan di lembar mimpiku, aku berhasil mendapatkan pekerjaan yang aku semogakan di pekerjaanku kedua ini. Tepat sebelum aku menikah dan dengan benefit yang memang kuharapkan. Sudah berhenti untuk membandingkan dengan lainnya, karena percaya ga percaya. Semakin belajar bersyukur adalah cara untuk menikmati hidup dan berbahagia. Aku bersyukur menjadi salah satu bagian dari perusahaan ini dengan jalur ODP dan ditempatkan sesuai dengan harapanku juga. Qadarullah.

Jadi, percaya aja dulu. Diusahakan, didoakan, disiplin, fokus, dan minta ridho orang tua. Bener, dah, sekalinya orang tua ridho, inshaAllah bakal barokah jalannya. Berbuat baik juga jangan lupa. Karena bermaksud baik sama orang saja, bisa salah persepsi, apalagi berniat berbuat buruk, ye kan. Dan, mulai belajar bijaksana mengatur mana yang harus daftar prioritas. Jangan membuang energi terlalu banyak untuk memikirkan yang tidak masuk di daftar prioritasmu. Kalau memang kamu mudah terbawa perasaan, serius, cuek adalah salah satu cara mudah untuk lebih bisa fokus. You deserve to be happy and get your dream!

Demikian, jangan pernah meragukan kekuatan mimpi! Semua orang punya kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Kamu akan berharga di tempat yang memang bisa melihat value-mu. Bermimpilah dengan tetap mensyukuri apapun yang sudah kamu capai ❤

Aku sering bilang ke ke temen deketku ataupun ke diriku sendiri :
"Jangan lupa bersyukur. Banyakin beryukur. Mencari duniawi gak akan habis. Saatnya menikmati dan memikirkan hal lain. Bersyukur biar bahagia dan gak ngeluh aja."

You Might Also Like

0 Comments

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Silakan tinggalkan pesan di kolom komentar jika memang ada yang perlu didiskusikan ^ ^

Jika memerlukan informasi urgent, boleh sapa saya di email karena saya cukup aktif pula di sana :).

Disclaimer

Blog ini tidak merepresentasikan instansi tempat dimana penulis mengabdi, karena mayoritas konten adalah hasil kolaborasi dengan manusia-manusia baik hati :)
Blogger Perempuan