Puncak Bayangan Gunung Penanggungan : Puncak Pertamaku!

By Friday, March 12, 2021 , , ,

Puncak Bayangan Gunung Penanggungan : Puncak Pertamaku!

Tanggal 28 Agustus 2020 lalu adalah pengalaman pertamaku dan suami berpetualang kembali dengan status baru sebagai partner sah! Sejak dekat, suami memang seorang yang sungguh spontan, jadilah rencana mendaki ini baru terpikir di siang hari di tanggal 27 Agustus 2020 dan berangkat di malam harinya. Ini adalah pengalaman pertamaku mendaki, tapi bukan yang pertama bagi suami karena Mas memang sesekali muncak.

Pemilihan gunung pun, Mas dan kakak sepupu merencanakan secara mendadak. Ada beberapa pilihan gunung yang ditawarkan padaku, tapi dengan pertimbangan adanya aku yang masih noob, jadilah kami memutuskan untuk Gunung Penanggungan. Yang katanya, medan pendakian tidak terlalu curam untuk pemula. Kami akhirnya berangkat dari Sidoarjo sekitar ba'da isya', setelah melakukan pembagian barang bawaan di tas gunung Mas dan kakak sepupu.

Lokasi Gunung Penanggungan

Gunung Penanggungan atau yang memiliki nama kuno Gunung Pawitra, memiliki ketinggian 1.653 m dpl dan berada di perbatasan dua kabupaten, yaitu Kabupaten Mojokerto (sisi barat) dan Kabupaten Pasuruan (sisi timur). Gunung Penanggungan ini sering dianggap sebagai miniatur dari Gunung Semeru, karena memiliki hamparan puncak yang berpasir dengan banyak batuan yang luas. Selain itu, gunung ini merupakan salah satu dari sembilan gunung yang dianggap suci di Jawa[1].

Trek Perjalanan

Menurut info, ada beberapa jalur yang bisa dilalui untuk menuju puncak Gunung Penanggungan, yaitu Jalur Tamiajeng, Jalur Jolotundo, dan Jalur Tetek Belahan[2]. Aku kurang paham sebenernya jalur pendakian yang kami lalui karena aku tidak terlibat dalam perencanaannya. Jadi, aku yang selalu jadi 'panitia penyusun acara' dalam travelling bareng temen-temenku sebelumnya, kali ini aku cuma manut aja. Haha.

Kami tiba di pos I sekitar pukul 21.00 wib dan tiba di puncak Bayangan sekitar pukul 00.00 wib. Di pos I ini, kami memarkirkan sepeda motor dan perjalanan dimulai. Suasana bener-bener gelap karena memang minim pencahayaan. Tapi, sepanjang perjalanan, sangat banyak pendaki yang kami temui, walaupun dalam kondisi Covid-19 begini.

Karena dulu pernah menonton film 5cm, ekspektasi pendakianku adalah banyak pendaki yang memberi salam kepada sesama pendaki. Realitanya, memang benar banyak yang memberi salam. Tapi, banyak pula yang tidak punya etika, semacam etika sederhana kalau mau menyalip, mereka ini tidak ada permisi sama sekali, mengbrol ke sesama tim dengan bahasa yang kurang baik, cat calling, dll. Wis, ekspektasiku tentang setiap pendaki punya tata krama yang tinggi, langsung buyar. Meski begitu, jika kamu sedang membaca part ini, aku harap, bagaimanapun manusia berperilaku kurang baik padamu, tetap usahakan untuk menjaga tata krama dimanapun berada, ya.

Buatku, pengalaman selama perjalanan tetap sangat berkesan, sih. Karena dari sekian yang memberi salam, juga banyak yang memberi semangat. Terutama women support women juga terjadi di sesama pendaki wanita. Dan dari mereka, aku sadar, di antara penghancur ekspektasiku, masih banyak yang melestarikan etika kesopanan dan membuatku ingin kembali mendaki.

Tibalah Kami di Puncak Bayangan...

Kami tiba di Puncak Bayangan (sekitar 1.200 mdpl) dan langsung disambut dengan penjual cilok dan minuman. Semacam kantin dadakan yang disediakan oleh warga sekitar. Air mineral ukuran besar bisa dibeli dengan harga Rp 10.000,- dan cilok sebutir dihargai Rp 1.000,-. Masih wajar di harga wajar, ya.

Kami cukup lama mencari lahan kosong karena suasana Puncak Bayangan yang lumayan padat malam itu. Sekalinya dapat, eh, tetangga kami zuper berizik yang menghidupkan radio semalaman dengan volume zuper kencang. Tolong, buat pendaki senior, punten, nih, emang menghidupkan radio sepanjang hari sampai waktu tidur itu adalah budaya yang selama ini ada? 

Dari lokasi yang kami pilih, kami bisa melihat pancaran lampu rumah di wilayah Mojokerto dan bentangan sinar bintang yang sangat memukau. Mas paham betul kalau aku pecinta cahaya lampu begini. Karena emang indah dan melihat cahaya lampu ataupun bintang di malam hari adalah surga dunia banget!

Pemandangan malam dari Puncak Bayangan Gunung Penanggungan
Bentangan Cahaya Lampu yang Tidak Tertangkap Kamera Hp

Kami mulai menghabiskan malam dengan membuat mie rebus dan kopi. Mie rebus adalah makanan wajib yang ada di hawa dingin. Valid no debat, rasa mie rebus di hawa dingin jauh lebih nikmat! Kami memilih untuk tidak melanjutkan ke Puncak Penanggungan, mengingat kondisiku yang tidak boleh terlalu lelah karena harus segera kembali ke tanah rantau. Jadi, malam itu kami bisa tidur lebih lama di tenda sambil diiringi bunyi radio yang sungguh tidak ada akhirnya dan langkah kaki pendaki lain yang menuju puncak.

Sunrise di Puncak Bayangan

Pemandangan pagi hari benar-benar membuatku tercengang! Karena kami berangkat di malam hari dan aku belum punya referensi bagaimana view dari Gunung Penanggungan, pemandangan ini jadi kado pernikahan yang berkesan. Terharu banget melihat pemandangan pagi dari Puncak Bayangan!

Sunrise di Puncak Bayangan Gunung Penanggungan
Pemandangan Pagi di Puncak Bayangan Gunung Penanggungan

Begitu membuka tenda, aku melihat sunrise dari arah kiriku (Timur), menyisir mata ke arah kanan, aku melihat rangkaian gunung lain. Gunung Penanggungan ini sejatinya masih berada pada satu kluster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang yang jauh lebih besar. Melihat sunrise sampai langit jadi terang benderang sambil minum kopi hangat, rasanya seperti escape dari aktivitas padat selama di kota.


Ternyata, memang benar, banyak sekali yang melakukan pendakian di hari itu. Riuh pendaki yang kutemui selama perjalanan semalam, memang sepadan dengan banyaknya tenda yang kulilhat jelas di pagi harinya. Banyak pendaki wanita dengan berbagai style, dari yang stylish sampai yang berpenampilan casual kayak aku. Beberapa pendaki mengambil gambar ala kadarnya, beberapa mengambil gambar dengan sangat proper dan properti yang lengkap. Memang, mendaki gunung saat ini sudah jadi konsumsi umum, yang harus dicoba, meskipun satu kali!

Sekitar pukul 12.00 wib, kami memutuskan untuk mulai beberes dan turun gunung. Nah, ketika turun gunung inilah aku baru sadar ternyata bebatuan yang kulewati semalam, agak terjal dan sedikit sulit pula dilalui. Pendakian semalam berasa biasa aja karena tidak ngeh dengan kondisi medannya. Tapi, dengan begini, aku jadi lebih bisa menikmati suasana pegunungan di siang hari. Melewati pos IV, III, II, dan I yang semalem cuma asal lewat aja, sekarang jadi lebih tahu gimana suasananya.

Kesan Positif yang Kurasa...

Gunung Penanggungan, khususnya trek menuju Puncak Bayangan, kubilang cocok untuk dicoba bagi pemula sepertiku, yang gak pernah naik gunung sama sekali. Bebatuannya lumayan terjal, tapi masih cukup aman karena treknya sudah jelas dan ada pegangan bambu di beberapa lokasi. Di Puncak Bayangan, ada kantin dadakan yang memungkinkanku buat njajan atau beli minuman, selain itu di pos pemberhentian, juga terdapat penjual makanan, salah satunya cilok. Sepertinya, cilok adalah panganan yang selalu ada di lokasi ini.

Pengeluaran yang kami keluarkan selama perjalanan, sekitar Rp 100.000,- s.d. Rp 200.000,- kali, ya, dengan perincian: 
1. Rp 10.000,- untuk parkir;
2. Sisanya beli cilok, air, dan makan pagi di pos I;
3. Bensin.

Pelajaran Berharga Buatku adalah...

Rasanya, pelajaran berharga yang harus kami ambil adalah persiapkan air minum lebih banyak untuk masing-masing pendaki itu penting! Kami cuma bawa masing-masing 1 botol besar dan beberapa botol kecil, dampaknya sampai Puncak Bayangan, kami sudah bingung bukan kepalang karena kekurangan air. Beruntungnya kami masih bisa beli minum di kantin Puncak Bayangan. Ternyata, ini juga tidak kami alami sendiri, karena selama perjalanan, ada pula pendaki yang harus turun untuk mengambil air dan membawanya ke puncak lagi demi timnya. Satu lagi, kalau bisa, mendakilah dalam kondisi suci alias tidak dalam keadaan haid.

Kalau merasa artikel ini kurang informatif dari segi penjelasan trek, bisa langsung cek di referensi ini, ya. Penulisnya lumayan mencatat setiap perjalanannya dengan baik dan lengkap. Semoga next pendakian, aku bisa lebih mencatat setiap perjalanannya dan lebih well prepare. Haha. So far, pendakian dadakan ini beneran surprise yang menyenangkan! Terimakasih Mas dan orang tuaku, so grateful to have you all in my life ❤.


Salam hangat,


dari kami ❤
Puncak Bayangan Gunung Penanggungan
---

Referensi:
[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Penanggungan
[2] https://majapahitunesa.wordpress.com/2016/11/25/majapahit-unesa-gunung-penanggungan-1653-mdpl/

You Might Also Like

0 Comments

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Silakan tinggalkan pesan di kolom komentar jika memang ada yang perlu didiskusikan ^ ^

Jika memerlukan informasi urgent, boleh sapa saya di email karena saya cukup aktif pula di sana :).

Disclaimer

Blog ini tidak merepresentasikan instansi tempat dimana penulis mengabdi, karena mayoritas konten adalah hasil kolaborasi dengan manusia-manusia baik hati :). Penulis tidak bertanggungjawab jika terdapat tulisan mengatasnamakan penulis (alias copas) di luar blog ini dan ini.
Blogger Perempuan