Ekspektasi dalam Cerita Dongeng

By Wednesday, March 16, 2022

Menyelesaikan Cerita Dongeng Ini

Hi, Teman Bertumbuh.

Sudah sampai mana hidup di dunia dongengnya?

Aku menulis ini bukan karena aku telah menyelesaikan cerita dongengku dengan sangat baik. Bukan pula berusaha menguatkan diri sendiri dan menipu keadaan bahwa semuanya sedang dalam jalur yang benar. Aku hanya ingin mengingat ini untuk diriku di masa datang dan mungkin untuk kamu yang sedang di fase terbawahmu. 

Apa yang seringkali menyakiti diri sendiri sangat dalam?

Mungkin, bukan manusia lain, tapi ekspektasi kita terhadap semesta dan bagaimana kita mencerna kehidupan lainnya. Seringkali menganggap bahwa hidup pasti akan berjalan seperti apa yang kita inginkan dan menganggap manusia lain akan bertingkah sebagaimana yang kita harapkan. Sayangnya, itu hanya ekpektasi kita yang tidak selalu bisa diungkapkan. Unspoken words. Haha.

Sangat valid ketika seseorang merasa ingin menyerah ketika menemukan batu hidup yang cukup besar. Pundak kuatnya seakan tidak bisa menopang dengan sempurna. Tapi, seringkali lupa bahwa ada bumi untuk bersujud dan bercakap dengan Yang Maha Kuasa.

Sangat valid bahwa tidak semua mental manusia adalah sama karena kita hidup di buku yang berbeda, latar belakang keluarga dan lingkungan yang beragam, ataupun ambisi hidup yang tak bisa disamakan pula. Walaupun, pada nantinya, bisa jadi bukuku atau bukumu saling berkaitan.

Manusia diajarkan untuk dapat memaklumi keadaan orang lain, tapi terkadang juga tidak memiliki hak untuk dimaklumi oleh orang lain.

 

Terkadang, memang ekspektasi hidup yang membuat dinding penjara terlihat begitu kuat. Sampai di titik, pada akhirnya hanya bisa menguatkan hati dan pikiran dengan kalimat paling bijak "Yaudah, show must go on".

Tapi, aku yakin, aku dan kamu bisa melalui setiap fasenya dengan baik. Tidak perlu sempurna, Sayang. Cukup lalui semuanya dengan sebaik-baiknya dan libatkan Tuhan saat menjalaninya. Sebaik-baiknya penilai dan penentu kehidupan adalah Tuhan, bukan manusia.

Tenang tenang, kita bisa melalui fase ini, sebagaimana kita melalui ujian semester saat sekolah, bimbingan dan tugas akhir saat kuliah, ataupun tangisan saat mencari kerja. See, sebenarnya kamu telah membaca buku hidupmu dengan banyak mengambil hikmah, bukan.

Ekspektasi kita saja kadang yang terlalu tinggi bahwa semesta akan memberikan happy ending secepat keingingan kita.

 

Aku minta kamu bertahan sedikit lagi untuk menyelesaikan buku dongeng ini, ya, kisahmu belum usai. Jika tak ada yang mampu mendengarmu, berbicaralah dengan dirimu sendiri dalam tulisan. Aku pun mau membacanya jika kamu ijinkan. Tidak ada yang salah dalam seni berproses, kita hanya berbeda cara memandang hidup dan itu tidak apa❤.

Maka, berekspektasilah dengan tetap memberikan batasan kapan harus berhenti. Beri ruang untuk diri dapat lebih berbahagia mendapatkan apa yang telah dimiliki. Karena hidup bukan saja tentang balap lari.

You Might Also Like

0 Comments

Terimakasih atas kunjungan dan segala apresiasinya. Silakan tinggalkan pesan di kolom komentar jika memang ada yang perlu didiskusikan ^ ^

Jika memerlukan informasi urgent, boleh sapa saya di email karena saya cukup aktif pula di sana :).

Disclaimer

Blog ini tidak merepresentasikan instansi tempat dimana penulis mengabdi, karena mayoritas konten adalah hasil kolaborasi dengan manusia-manusia baik hati :). Penulis tidak bertanggungjawab jika terdapat tulisan mengatasnamakan penulis (alias copas) di luar blog ini dan ini.
Blogger Perempuan